Ekspor
( 1052 )Masih ada China dan India yang Memiliki Potensi Ekspor yang Besar
Masih ada China dan India yang Memiliki Potensi Ekspor yang Besar
Tarik Ulur Tarif & Keadilan Perdagangan Global
Perang Tarif antara AS dan China Kembali Memanas
Target Ekspor Tak Tergoyahkan oleh Tarif AS
Pemerintah menyatakan kebijakan tarif baru yang diterapkan AS terhadap produk asal Indonesia tidak akan memengaruhi target pertumbuhan ekspor Indonesia sebesar 7,1 % pada 2025. Berdasar data BPS, kinerja perdagangan Indonesia sepanjang 2024 meraih surplus 31,04 miliar USD dari akumulasi nilai ekspor sebesar 264,7 miliar USD, dikurangi volume impor tahunan sebesar 233,6 miliar USD. Awal tahun ini, Kemendag menargetkan kinerja ekspor pada 2025 akan tumbuh 7,1 % dari capaian akumulasi nilai ekspor sepanjang 2024. Artinya, akumulasi nilai ekspor sepanjang 2025 ditargetkan mencapai 283,5 miliar USD.
Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono tidak memungkiri hasil simulasi internal menunjukkan implementasi tarif bea masuk Pemerintah AS berdampak pada penurunan kinerja ekspor ke negara adidaya tersebut. Namun, penurunan ini dapat terkompensasi dengan berbagai kesepakatan baru yang Indonesia jalin dengan negara mitra perdagangan di luar AS. Selain itu, sejumlah perjanjian dagang yang sudah lama diimplementasikan dengan negara mitra juga ada yang diperbarui untuk menopang pertumbuhan kinerja ekspor. ”Dengan adanya perjanjian perdagangan yang baru, kita harapkan target (pertumbuhan ekspor 7,1 % pada 2025) yang sudah ditetapkan bisa tercapai,” ujarnya dalam media briefing ”Kebijakan Tarif AS” di Jakarta, Senin (21/4). (Yoga)
Percepat Diversifikasi dan Hilirisasi Pasar
Sektor Perikanan Siap Hadapi Dampak Tarif Trump
Mahalnya Harga Sawit
Harga minyak kelapa sawit kian mahal lantaran produksi turun dan menguatnya permintaan biodiesel. Banyak pihak menilai sudah saatnya melakukan reindustrialisasi dengan hilirisasi sektor pertanian. Dorab Mistry, Direktur India Godrej International, perusahaan barang konsumen terbesar di India, mengungkap, pada November 2022 minyak sawit dijual dengan diskon 782 USD per ton, lalu turun pada 2024 menjadi 400 USD per ton. Kini, diskon itu terancam hilang. Ancaman itu kian nyata dengan komitmen Indonesia yang menggunakan minyak sawit lebih banyak untuk membuat biodiesel. ”Hari-hari diskon 400 USD per ton sudah berakhir. Minyak kelapa sawit tidak akan semurah itu lagi selama Indonesia terus memprioritaskan biodiesel,” katanya, dikutip dari Reuters, Kamis (10/4).
Komitmen biodiesel itu diwujudkan Indonesia dengan meningkatkan campuran wajib minyak kelapa sawit dalam biodiesel menjadi 40 % tahun ini dan bakal meningkat menjadi 50 % pada 2026 serta campuran 3 % untuk bahan bakar jet tahun depan, untuk membatasi impor bahan bakar. Ini membuat India, pasar sawit terbesar RI, menaikkan bea masuk impor minyak nabati mentah serta produk turunannya. Pada September 2024, Pemerintah India menaikkan bea masuk dasar komoditas-komoditas tersebut sebesar 20 % guna melindungi para petani dan industri di dalam negeri.
Apalagi negara itu telah memiliki peta jalan pengembangan minyak nabati nasional, yakni Misi Nasional Minyak Nabati-Kelapa Sawit (NMEO-OP) 2024-2031. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono memperkirakan, dorongan biodiesel akan mengurangi ekspor Indonesia menjadi hanya 20 juta metrik ton pada 2030, turun sepertiga dari 29,5 juta pada 2024. Apalagi selama ini produksi kelapa sawit di Indonesia juga lambat, bahkan cenderung turun. Hal ini menyebabkan meningkatnya harga minyak kelapa sawit. (Yoga)
Ruang Surplus Neraca Perdagangan Menyempit
Tekanan Trump Jadi Ujian Ketahanan Ekonomi RI
Pilihan Editor
-
Startup Bukan Pilihan Utama
24 Jan 2023 -
Mendag Pastikan Minyak Kita Tetap Diproduksi
30 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023 -
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023








