Ekspor
( 1052 )Ekspor Sawit Masih Diandalkan
Kadin Menangkap Banyak Peluang Dagang Antara Indonesia dan Amerika Serikat
Panasonic, Mengumukan Rencana PHK Terhadap 10.000 Karyawan Global
Gerbang Ekspor-Impor Indonesia Timur melalui Terminal Petikemas Bitung
Terminal Petikemas Bitung di Sulut berpeluang besar menjadi gerbang ekspor-impor di Indonesia bagian timur. Selain letaknya strategis, terminal ini mampu menampung ratusan ribu peti kemas per tahun. Hanya butuh waktu 30 menit dari Kota Manado ke Terminal Petikemas (TPK) Bitung di Kota Bitung, Sulut, pagi, Rabu (7/5) lewat tol. Jarak terminal yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Petikemas ini hanya 20 menit dari Kawasan Ekonomi Khusus Bitung. Laut Bitung juga dilintasi alur laut kepulauan Indonesia atau ALKI II dan III, yang merupakan alur perdagangan dari dan ke Asia Pasifik. ”Jadi, lokasi Bitung sudah strategis untuk perdagangan,” ujar Manajer Pengelolaan Operasi TPK Bitung. Muhammad Habibi. Siang itu, kapal Tanto Sejahtera dan Selat Mas yang berukuran besar tengah bersandar di dua dermaga dengan panjang 355 meter dan 327 meter.
Menurut Habibi, Pelabuhan Bitung mampu menampung kapal ”Post Panamax”, yang ukurannya raksasa dan tidak bisa melalui Terusan Panama. Sebab, kedalaman dermaga di pelabuhan bisa mencapai minus 15 meter low water spring. ”Di sini hampir tidak ada pengerukan,” ujarnya, berbeda dengan perairan di wilayah Jawa yang kerap menghadapi masalah sedimentasi. Lebar laut menuju pelabuhan pun mencapai 600 meter, jauh lebih lebar dibanding pelabuhan lainnya yang berkisar 150 meter. Tidak heran, kapal banyak bersandar. Triwulan pertama 2025 ini saja, tercatat 98 kapal yang berlabuh atau naik dari periode serupa tahun lalu, yakni 81 kapal. Tahun lalu, sebanyak 391 kapal bersandar atau meningkat dibanding 2023 dengan 306 kapal. Volume bongkar muat peti kemas pun terus bertambah. Triwulan pertama tahun ini, aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal tercatat 74.928 TEUs. (Yoga)
PT Sumber Global Energy Teken Kontak Batu Bara US$ 10 Juta
Emiten perdagangan komoditas, PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) menandatangani kontrak ekspor batu bara bernilai US$ 10 juta atau setara Rp165,25 miliarm bersama COALIMEX, perusahaan di bawah Kementerian Listrik dan Batu Bara Vietnam. Kontrak tersebut diteken pada Senin (5.5.2025 oleh konsorsium TGS yang dipimpin oleh SGER. Adapaun jenis batu bara yang dikapalkan merupakan antrasit berkualitas tinggi sesuai paket pengadaan No 01/2024/TNK-CLM. "Kontrak ini merupakan hasil proses pengadaan yang telah melalui evaluasi dan disetujui Keputusan No 30T tertanggal 23 Januari 2025," kata Direktur Utama SGER Welly Thomas. Welly menjelaskan, nilai kontrak sebesar US$ 10 juta tersebut berpotensi terus bertambah seiring permintaan energi yang tinggi dari Vietnam. Dia juga menyebutkan bahwa kontrak ini adalah bagian dari upaya memperkuat kerja sama energi antara Indonesia dan Vietnam. COALIMEX sendiri merupakan pemain lama dalam batu bara dunia dengan pengalaman lebih dari 40 tahun. Sejak didirikan pada 1982, perusahaan ini telah mengalami transformasi kelembagaan dan kini berada di bawah naungan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam. (Yetede)
Ekspor China Melampaui Proyeksi April 2025
Ekspor China Melampaui Proyeksi April 2025
Rayuan Pulau Kelapa Tanpa Kelapa
Ketika Ismail Marzuki menciptakan lagu "Rayuan Pulau Kelapa" pada tahun 1944 sebagai penghormatan bagi para pejuang kemerdekaan, mungkin yang dibayangkan sang komponis besar negara ini adalah sebuah negeri kepulauan yang tidak saja merdeka, tetapi tampak begitu indah dengan dedauanan pohon kelapa melambai ramah kepada siapapun yang mencintai Indonesia. Bicara tentang pohon kelapa, ini adalah anugrah ciptaan Tuhan yang begitu bermanfaatnya. Akarnya yang berserabut merupakan pengikat tanah sekitarnya dari erosi pantai dan sungai. Batangnya dapat dimanfaatkan untuk membuat jembatan, atau diolah menjadi berbagai furniture dan perabot rumah tangga. Serabut dari kulit kelapa dapat digunakan sebagai fiber, sementara batok buah kelapa biasa digunakan sebagai arang bakar. Daunnya yang muda-biasa disebut janur- dapat dimanfaatkan untuk membuat ketupat dengan aromanya yang khas. Bandingkan dengan ketupat plastik yang di Negeri Jiran disebut nasi imbit.
Namun, buah kelapa sungguh menawarkan banyak pilihan untuk diolah. Dalam beberapa bulan terakhir, harga kelapa di dalam negeri melonjak tajam. Pada Agustus 2024, harga kelapa untuk kebutuhan industri masih berada dikisaran Rp 3.500 per kg. Namun per April 2025, harga tersebut melonjak drastis menjadi Rp 8.500 per kg. Penyebab kenaikan harga yang begitu drastis itu bukan berasal dari satu faktor saja, melainkan merupakan akumulasi dari dinamika permintaan global yang melonjak. Permintaan global terhadap produk kelapa, terutama dari RRT. Negara tersebut mengalami ledakan konsumsi minuman berbasis kelapa seperti coconut latte, coconut milk, dan produk siap minum seperti coconut juice. Sementara aturan ekspor di Indonesia khususnya untuk kelapa bulat sangatlah lemah bahkan tidak jelas sehingga justru memperparah situasi. Negara-negara tetangga seperti Philipina dan Thailand sudah menerapkan berbagai regulasi seperti kuota, pajak ekspor yang tinggi, bahkan larangan ekspor untuk menjaga pasokan domestik dan menolong hilirisasi (Yetede)
Keijakan Tarif Trump Ancam Persaingan Usaha di Tanah Air
AS Jadi Pasar Krusial Bagi Produk Ekspor RI
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
Tren Thrifting Matikan Industri TPT
13 Mar 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023








