;
Tags

Ekspor

( 1055 )

Mendag Menyampaikan Rencana Tinjau Ulang Rasio Ekspor Minyak Sawit Mentah

KT1 07 Jan 2025 Tempo
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan rencana meninjau kembali rasio ekpor minyak sawit mentah usai program Biodiesel B40 resmi berlaku. Biodiesel B40 merupakan bahan bakar minyak (BBM) dengan campuran 40 persen olahan minyak kelapa sawit atau bahan bakar nabati (BBN) dan 60 persen minyak solar. Budi mengatakan penyesuaian itu bertujuan menjaga kestabilan pasokan kebutuhan dan harga minyak goreng di dalam negeri. Menurutnya, Pemerintah akan lebih dulu memastikan kebutuhan dalam negeri. “Nanti kebutuhan CPO dalam negeri tentu akan kami lihat seberapa besar kebutuhannya,” ujar Budi dalam konferensi pers rencana Program Kerja Kementerian Perdagangan 2025 di kantor Kemendag, Jakarta, Pusat, Senin, 6 Januari 2025. Menurutnya, mengubah rasio ekspor minyak sawit mentah bukan hal yang sulit dilakukan. "Untuk mengubah rasio nanti gampang. Jadi kami lihat dulu, apakah perlu mengubah rasio pengalih ekspor," tuturnya. 

CSIS Sebut Program Biodiesel B35 dan B40 Gibran Berpotensi Rusak Lingkungan Sebelumnya, pada 1 Januari lalu Pemerintah resmi memberlakukan program mendatori B40. Mendatori ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM No 341.K/EK.01/MEM.E/2024 tentang Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel Sebagai Campuran Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar Dalam Rangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Sebesar 40 Persen.  Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan program ini merupakan salah satu cara Pemerintah menwujudkan ketahanan dan swasembada energ mendorong implementasi B50 pada 2026 dan kalau ini kita lakukan, maka impor kita terhadap solar, Insya Allah dipastikan sudah tidak ada lagi di tahun 2026. Jadi program (mandatori biodiesel) ini bagian daripada perintah Presiden tentang ketahanan energi dan mengurangi impor," ucap Bahlil saat konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat 3 Januari 2025.

Optimisme Baru untuk Kinerja Ekspor

HR1 07 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perdagangan, menargetkan pertumbuhan nilai ekspor sebesar 7,1% pada 2025 hingga mencapai US$294,45 miliar, sejalan dengan ambisi Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% pada 2029. Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan pentingnya peran perdagangan dalam mendukung ekonomi dan menciptakan lapangan kerja, dengan fokus menyelesaikan sejumlah perjanjian perdagangan internasional seperti Indonesia–EU CEPA yang ditargetkan rampung pada semester I/2025.

Meski neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 55 bulan berturut-turut, Ketua Umum GPEI Benny Soetrisno dan Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menyoroti dominasi ekspor komoditas tambang dan kelapa sawit mentah (CPO) dibandingkan kontribusi industri manufaktur. Benny menilai ekspor manufaktur perlu didorong karena memiliki nilai tambah yang lebih besar, menyerap tenaga kerja, dan memberikan kontribusi pajak.

Shinta juga mengapresiasi surplus perdagangan, namun menilai daya saing ekspor Indonesia masih stagnan dibandingkan negara-negara tetangga. Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto menambahkan bahwa diversifikasi pasar ekspor, terutama ke negara-negara yang tidak terdampak perang dagang, adalah langkah penting untuk meningkatkan daya saing global.

Langkah strategis ini, termasuk penyelesaian berbagai perjanjian perdagangan dan optimalisasi sektor manufaktur, diharapkan mampu mendukung target jangka panjang pemerintah dalam mencapai nilai ekspor hingga US$405,69 miliar pada 2029.

Soal Relaksasi Ekspor Tembaga Pemerintah Belum Tegas

KT3 04 Jan 2025 Kompas
Memasuki awal tahun 2025, pemerintah masih belum tegas memutuskan soal ada tidaknya perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat tembaga untuk PT Freeport Indonesia yang berakhir per 31 Desember 2024. Pemerintah masih berpotensi memperpanjang izin ekspor mineraltembaga mentahPTFreeport Indonesia (PTFI) akibat belum beroperasinya fasilitas smelter, imbas dari kebakaran unit pabrik pemisahan gas bersih pada fasilitas pemurnian milik perusahaan di Jawa Timur. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Jakarta, Jumat (3/1/2025), mengatakan, perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat tembaga PTFI baru akan diputuskan melalui rapat koordinasi antara Presiden, kementerian koordinasi, dan kementerian teknis terkait. ”Kajian diperlukan karena Freeport sudah punya smelter, tetapi kemudian ada musibah. Pabrik asam sulfatnya terbakar, membuat operasional smelter menjadi berhenti,” ujarnya.

Pemerintah secara bertahap melarang ekspor mineral mentah untuk mendorong hilirisasi di dalam negeri. Untuk dapat mengekspor, perusahaan tambang harus membangun smelter atau pusat pemurnian dan pengolahan mineral. Berbeda dengan komoditas bijih nikel yang sudah dilarang secara penuh mulai Januari 2020, konsentrat tembaga masih dapat diekspor sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 6 Tahun 2024 tentang Penyelesaian Pembangunan Fasilitas Pemurnian Mineral di Dalam Negeri. Berdasarkan beleid itu, perusahaan tembaga seperti Freeport boleh mengekspor konsentrat hingga 31 Desember 2024, diperpanjang dari yang seharusnya berakhir 31 Mei 2024. Pertimbangan pemerintah memperpanjang relaksasi ekspor konsentrat tembaga untuk Freeport merupakan buntut dari belum beroperasinya fasilitas pemurnian katoda tembaga yang berlokasi di Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur. (Yoga)

Investasi dan Ekspor Mesin Pendorong Perekonomian RI

KT1 30 Dec 2024 Investor Daily (H)
Indonesia saat ini menjadi salah satu destinasi investasi yang sangat menjanjikan bagi pengusaha asing dan domestik. Investasi sudah menjadi tulang punggung utama (backbone) pertumbuhan perekonomian nasional, penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah dan ekspor, serta penerimanaan negara. Adapun pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp1.650 triliun pada 2024. Perhitungan proyek tersebut bukan tanpa sebab. Pasalnya, pemerintah harus mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% pada 2024. Dalam hal ini investasi menjadi salah satu pendorong terbesar pertumbuhan ekonomi di Tanah Air. 

Sementara itu, kegiatan ekspor turut memberikan kontribusi besar terhadao perekonomian nasional pada 2024. Namun demikian, kinerja ekspor tidak terlepas dari fluktuasi harga komoditas di pasar dunia. Oleh karena itu, pemerintah konsisten melakukan diversifikasi ekspor untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas sumber daya alam. Pemerintah juga terus memperluas hubungan ekspor ke negara-negara tujuan ekspornon tradisional, sehingga pasar Indonesia bisa lebih ekpansif. 

Nilai Ekspor Sultra Menurun Akibat Permintaan Baja Tahan Karat Berkurang

KT3 27 Dec 2024 Kompas

Nilai ekspor Sulawesi Tenggara pada periode Januari-November 2024 menurun 9,45 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan itu terjadi karena berkurangnya permintaan baja tahan karat yang biasa diproduksi smelter di Sultra. Selain itu, ekspor produk pertanian dan kelautan juga stagnan. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra, volume ekspor dari provinsi itu pada Januari-November 2024 mencapai 2,61 juta ton. Angka itu meningkat sekitar 400.000 ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,24 juta ton. Meski volumenya bertambah, nilai ekspor Sultra justru menurun 9,45 persen. Hingga November 2024, total nilai ekspor Sultra mencapai 3,64 miliar dollar AS atau sekitar Rp 54 triliun pada kurs Rp 16.000 per dollar AS. Pada periode yang sama tahun lalu, nilai ekspor provinsi itu sebesar 4,02 miliar dollar AS. Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sultra Nur Adnan Hadi mengakui, secara rekapitulasi, nilai ekspor tahun ini turun dibandingkan tahun lalu. Hal ini ditengarai akibat turunnya permintaan baja tahan karat.

Penurunan permintaan baja tahan karat itu membuat smelter-smelter di Sultra lebih banyak memproduksi feronikel. Feronikel adalah produk smelter kategori ”kelas dua” yang merupakan bahan baku pembuatan baja tahan karat. Pada periode sebelumnya, produksi feronikel dan baja tahan karat hampir seimbang. ”Sekitar 83 persen ekspor tahun ini didominasi hasil industri pengolahan berupa feronikel. Ini berbeda dengan tahun sebelumnya di mana produk baja tahan karattinggi. Hal itu berimbas pada nilai ekspor yang turun,” tutur Hadi, Kamis (26/12/2024), di Kendari. Nilai ekspor feronikel di Sultra tahun ini mencapai 82,9 persen dari total ekspor. Jumlah tersebut mencapai 3,01 miliar dollar AS atau Rp 48,16 triliun.Adapun nilai ekspor baja tahan karat mencapai 17 persen. Di sisi lain, hasil kelautan perikanan dan pertanian terus melemah dan tertinggal jauh. Nilai ekspor produk kelautan perikanan dan pertanian kurang dari 1 persen. Produk perikanan dan pertanian seperti ikan beku, gurita, kepiting, dan pinang hanya memiliki persentase kurang dari 1 persen dari total ekspor Sultra. (Yoga)

Vietnam Ekspor Persenjataan

KT3 20 Dec 2024 Kompas

Vietnam telah menanam investasi selama bertahun-tahun untuk meningkatkan kemampuan pertahanan. Jerih payah itu kini membuahkan hasil. Setelah memperkuat industri pertahanan dalam negeri, prioritas Vietnam saat ini ialah mempromosikan ekspor peralatan militer. Itulah salah satu pesan dari perhelatan pameran senjata internasional Vietnam (International Defense Expo 2024) yang digelar di Bandar Udara Gia Lam di Hanoi, mulai Kamis (19/12/2024). Saat membuka pameran, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh mengatakan, pameran itu merupakan ”pesan perdamaian, kerja sama, dan pembangunan”. Chinh juga menyatakan ingin memperluas kerja sama pertahanan internasional dan mencegah peperangan. Vietnam selama ini dikenal sebagai importir utama senjata, terutama dari Rusia. Meski demikian, dalam waktu bersamaan, mereka berinvestasi pada penguatan kemampuan pertahanan. Chinh menegaskan, Vietnam menghargai perdamaian, kebenaran, hubungan, dan keadilan dalam kerja sama internasional. Vietnam konsisten mengikuti kebijakan luar negeri yang independen dengan penekanan pada multi lateralisme dan diversifikasi hubungan. ”Kami berusaha menjadi teman baik, mitra yang dapat diandalkan bagi semua negara, serta anggota masyarakat internasional yang aktif dan bertanggung jawab,” kata Chinh. Setelah mengalami banyak penderitaan, pengorbanan, dan kerugian akibat perang, menurut Chinh, Vietnam sangat memahami dan menghargai nilai persahabatan, perdamaian, kerja sama, dan pembangunan. (Yoga)

Dampak Trump pada UMKM Berorientasi Ekspor

HR1 18 Dec 2024 Bisnis Indonesia
Kebijakan proteksionis Donald Trump dengan slogan "America First" telah membawa tantangan baru bagi perdagangan internasional, termasuk bagi Indonesia. Dengan peningkatan tarif impor dan renegosiasi perjanjian dagang, ekspor Indonesia, khususnya dari pelaku UMKM yang menyumbang 15% dari total ekspor nasional, terdampak langsung. Penurunan ekspor ke AS sebesar 2,1% pada Oktober 2024 mencerminkan dampak kebijakan ini.

Ketegangan antara AS dan China juga menciptakan peluang dan tantangan bagi Indonesia. Trump's perang dagang memungkinkan Indonesia mengisi kekosongan pasar di AS, tetapi kenaikan tarif terhadap China juga meningkatkan harga bahan baku impor, yang berdampak pada biaya produksi UMKM. Menurut data BPS, nilai ekspor Indonesia mencapai US$22,36 miliar pada Oktober 2024, tetapi tantangan di pasar tradisional mendorong perlunya diversifikasi ke pasar non-tradisional seperti Afrika dan Timur Tengah.

Transformasi digital juga menjadi solusi mendesak. Pemerintah diharapkan membantu UMKM berorientasi ekspor dengan pelatihan teknologi digital dan akses ke platform e-commerce internasional, sebagaimana disampaikan dalam berbagai diskusi terkait perdagangan global. Selain itu, Kementerian Perdagangan menekankan pentingnya negosiasi perdagangan bilateral dan multilateral untuk melindungi produk UMKM di pasar internasional.

Pemerintah juga harus memperkuat fasilitas pembiayaan dan asuransi ekspor guna mengurangi risiko gagal bayar akibat ketidakpastian pasar global. Penyederhanaan regulasi, peningkatan infrastruktur logistik, dan penurunan biaya transportasi menjadi langkah penting untuk mendukung daya saing UMKM.

Dengan strategi seperti diversifikasi pasar, adopsi teknologi, dan penguatan diplomasi perdagangan, Indonesia dapat mengubah tantangan dari kebijakan proteksionis Trump menjadi peluang. Peran aktif pemerintah sebagai fasilitator dan pelindung UMKM sangat penting untuk menciptakan ekosistem perdagangan yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global.

Peluang Ekspor Indonesia Makin Menjanjikan

HR1 13 Dec 2024 Bisnis Indonesia
PT Faicheung Birdnest Industry di Ketapang, Kalimantan Barat, mengekspor sarang burung walet ke China sebanyak 39,75 kilogram (kg). Dikutip dari Bisnisindonesia.id, Sarang burung walet merupakan produk unggulan Ketapang yang memiliki permintaan besar di pasar internasional.

Sarang burung walet adalah rajutan liur burung walet yang berbentuk mangkok dan memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Harga sarang burung walet mahal karena proses pembuatannya yang panjang dan rumit. Selain itu, sarang burung walet juga langka karena hewan ini biasanya hanya membuat sarang 3 kali dalam setahun. Sejumlah daerah juga menjadikan sarang burung walet sebagai sumber cuan, seperti Kepulauan Riau (Kepri) dan Yogyakarta.

Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepri mencatat ekspor sarang burung walet pada Januari—Agustus 2024 mencapai 2.350 kg, dengan tujuan Singapura, China, Australia, Amerika Serikat (AS), dan Jepang. Kepala Karantina Kepri Herwintarti, mengatakan harga pasar ekspor sarang burung walet bervariasi mulai dari Rp11 juta, Rp13 juta, hingga Rp35 juta per kg. China menempati urutan pertama pasar dengan harga beli tertinggi.

“Ekspor ke China punya harga paling bagus. Namun, persyaratannya lebih detail. Kita sudah ada kerja sama, kami siap bantu eksportir,” katanya, Rabu (14/11). Djoko Hartyanto, CEO PT Waleta Asia Jaya, mengatakan hampir seluruh pelaku industri sarang burung walet berorientasi ekspor. Tantangan yang dihadapi di antaranya food fraud dan risiko keamanan pangan.

Strategi Menyeimbangkan Ekspor dan Impor

HR1 09 Dec 2024 Bisnis Indonesia

Kementerian Perhubungan dan Polri, sedang mematangkan kebijakan pembatasan operasional truk dengan tiga sumbu selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025 di beberapa jalur strategis. Meskipun kebijakan ini bertujuan mengurangi kemacetan, sejumlah kalangan dunia usaha, terutama eksportir dan importir, mengkhawatirkan dampak negatifnya. Mereka menyatakan bahwa pembatasan truk sumbu tiga akan meningkatkan biaya logistik dan mengganggu aktivitas perdagangan, termasuk ekspor-impor, dengan potensi penundaan pengiriman barang dan meningkatnya biaya distribusi.

Benny Soetrisno, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), berharap pemerintah tidak melarang truk sumbu tiga, melainkan memberikan izin dengan ketentuan tertentu. Subandi, Ketua Umum GINSI, juga menyarankan agar penanganan lalu lintas selama Nataru dibedakan dari Idulfitri, karena lalu lintas cenderung lebih sepi. Iman Gandi, Sekjen ALFI, menekankan bahwa pembatasan ini dapat menaikkan biaya logistik hingga lebih dari 30%, dan mengganggu aktivitas manufaktur dan distribusi barang. Pemerintah juga sedang melakukan evaluasi untuk mengantisipasi masalah transportasi terkait pelarangan truk, meskipun fokus evaluasi saat ini lebih kepada angkutan manusia, bukan barang.

Para pelaku industri berharap agar pemerintah melakukan pengelolaan lalu lintas secara lebih efektif dan mempertimbangkan kebutuhan ekspor-impor dalam kebijakan ini.


China Larang Ekspor Mineral Penting ke AS

KT3 05 Dec 2024 Kompas

Beijing segera membatasi ekspor mineral yang vital untuk produksi semikonduktor dan peralatan militer ke AS. Pembatasan ini diumumkan sehari setelah Washington mengumumkan pembatasan ekspor semikonduktor canggih ke perusahaan China. Langkah China dinilai sebagai balasan telak atas kebijakan AS. ”Untuk menjaga kepentingan keamanan nasional dan memenuhi kewajiban internasional, seperti nonproliferasi, China memutuskan untuk memperkuat kontrol ekspor pada barang-barang penggunaan ganda yang relevan ke AS,” kata pernyataan Kemendag China yang diumumkan di Beijing, China, Selasa (3/12). Bahan-bahan yang dilarang untuk diekspor, antara lain logam galium, antimon, dan germanium. Untuk ekspor grafit, pembatasan ekspor akan dilakukan dengan peninjauan lebih ketat terkait siapa pengguna dan penggunaan akhirnya.

Grafit termasuk komponen utama untuk pembuatan semikonduktor dan kendaraan listrik. Kemendag China juga menegaskan, setiap organisasi atau individu di negara atau wilayah mana pun yang melanggar peraturan yang relevan akan dimintai pertanggungjawaban menurut hukum. Sebelumnya, Washington mengumumkan pembatasan penjualan semikonduktor canggih kepada 140 perusahaan China, di antaranya perusahaan cip China Piotech dan SiCarrier. Pembatasan itu semakin mengekang kemampuan China untuk memproduksi cip yang merupakan komponen utama pembuatan sistem persenjataan canggih dan akal imitasi (AI) atau kecerdasan buatan. Pernyataan Kemendag China menambahkan, AS telah memolitisasi dan menggunakan isu-isu ekonomi, perdagangan, dan teknologi sebagai senjata dalam pembatasan ekspor mereka.

Selama ini, China menguasai pasokan mineral penting. Menurut laporan dari Uni Eropa yang diterbitkan tahun 2024, China menyumbang 94 % produksi galium dunia pada 2023. Logam ini vital dalam pembuatan sirkuit terpadu, LED, dan panel fotovoltaik yang digunakan dalam panel surya. Tahun lalu, China menyumbang 83 % produksi germanium dunia. Logam Germanium sangat penting untuk pembuatan serat optik, teknologi inframerah, dan panel surya. China juga menyumbang 48 % suplai antimon dunia pada 2023. Antimon digunakan dalam pembuatan peluru, senjata nuklir, misil berpemandu inframerah, baterai, dan fotovoltaik atau teknologi yang mengubah sinar matahari menjadi listrik. (Yoga)