Ekspor
( 1052 )Investasi dan Ekspor Mesin Pendorong Perekonomian RI
Nilai Ekspor Sultra Menurun Akibat Permintaan Baja Tahan Karat Berkurang
Nilai ekspor Sulawesi Tenggara pada periode Januari-November 2024 menurun 9,45 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan itu terjadi karena berkurangnya permintaan baja tahan karat yang biasa diproduksi smelter di Sultra. Selain itu, ekspor produk pertanian dan kelautan juga stagnan. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra, volume ekspor dari provinsi itu pada Januari-November 2024 mencapai 2,61 juta ton. Angka itu meningkat sekitar 400.000 ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,24 juta ton. Meski volumenya bertambah, nilai ekspor Sultra justru menurun 9,45 persen. Hingga November 2024, total nilai ekspor Sultra mencapai 3,64 miliar dollar AS atau sekitar Rp 54 triliun pada kurs Rp 16.000 per dollar AS. Pada periode yang sama tahun lalu, nilai ekspor provinsi itu sebesar 4,02 miliar dollar AS. Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sultra Nur Adnan Hadi mengakui, secara rekapitulasi, nilai ekspor tahun ini turun dibandingkan tahun lalu. Hal ini ditengarai akibat turunnya permintaan baja tahan karat.
Penurunan permintaan baja tahan karat itu membuat smelter-smelter di Sultra lebih banyak memproduksi feronikel. Feronikel adalah produk smelter kategori ”kelas dua” yang merupakan bahan baku pembuatan baja tahan karat. Pada periode sebelumnya, produksi feronikel dan baja tahan karat hampir seimbang. ”Sekitar 83 persen ekspor tahun ini didominasi hasil industri pengolahan berupa feronikel. Ini berbeda dengan tahun sebelumnya di mana produk baja tahan karattinggi. Hal itu berimbas pada nilai ekspor yang turun,” tutur Hadi, Kamis (26/12/2024), di Kendari. Nilai ekspor feronikel di Sultra tahun ini mencapai 82,9 persen dari total ekspor. Jumlah tersebut mencapai 3,01 miliar dollar AS atau Rp 48,16 triliun.Adapun nilai ekspor baja tahan karat mencapai 17 persen. Di sisi lain, hasil kelautan perikanan dan pertanian terus melemah dan tertinggal jauh. Nilai ekspor produk kelautan perikanan dan pertanian kurang dari 1 persen. Produk perikanan dan pertanian seperti ikan beku, gurita, kepiting, dan pinang hanya memiliki persentase kurang dari 1 persen dari total ekspor Sultra. (Yoga)
Vietnam Ekspor Persenjataan
Vietnam telah menanam investasi selama bertahun-tahun untuk meningkatkan kemampuan pertahanan. Jerih payah itu kini membuahkan hasil. Setelah memperkuat industri pertahanan dalam negeri, prioritas Vietnam saat ini ialah mempromosikan ekspor peralatan militer. Itulah salah satu pesan dari perhelatan pameran senjata internasional Vietnam (International Defense Expo 2024) yang digelar di Bandar Udara Gia Lam di Hanoi, mulai Kamis (19/12/2024). Saat membuka pameran, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh mengatakan, pameran itu merupakan ”pesan perdamaian, kerja sama, dan pembangunan”. Chinh juga menyatakan ingin memperluas kerja sama pertahanan internasional dan mencegah peperangan. Vietnam selama ini dikenal sebagai importir utama senjata, terutama dari Rusia. Meski demikian, dalam waktu bersamaan, mereka berinvestasi pada penguatan kemampuan pertahanan. Chinh menegaskan, Vietnam menghargai perdamaian, kebenaran, hubungan, dan keadilan dalam kerja sama internasional. Vietnam konsisten mengikuti kebijakan luar negeri yang independen dengan penekanan pada multi lateralisme dan diversifikasi hubungan. ”Kami berusaha menjadi teman baik, mitra yang dapat diandalkan bagi semua negara, serta anggota masyarakat internasional yang aktif dan bertanggung jawab,” kata Chinh. Setelah mengalami banyak penderitaan, pengorbanan, dan kerugian akibat perang, menurut Chinh, Vietnam sangat memahami dan menghargai nilai persahabatan, perdamaian, kerja sama, dan pembangunan. (Yoga)
Dampak Trump pada UMKM Berorientasi Ekspor
Peluang Ekspor Indonesia Makin Menjanjikan
Strategi Menyeimbangkan Ekspor dan Impor
Kementerian Perhubungan dan Polri, sedang mematangkan kebijakan pembatasan operasional truk dengan tiga sumbu selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025 di beberapa jalur strategis. Meskipun kebijakan ini bertujuan mengurangi kemacetan, sejumlah kalangan dunia usaha, terutama eksportir dan importir, mengkhawatirkan dampak negatifnya. Mereka menyatakan bahwa pembatasan truk sumbu tiga akan meningkatkan biaya logistik dan mengganggu aktivitas perdagangan, termasuk ekspor-impor, dengan potensi penundaan pengiriman barang dan meningkatnya biaya distribusi.
Benny Soetrisno, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), berharap pemerintah tidak melarang truk sumbu tiga, melainkan memberikan izin dengan ketentuan tertentu. Subandi, Ketua Umum GINSI, juga menyarankan agar penanganan lalu lintas selama Nataru dibedakan dari Idulfitri, karena lalu lintas cenderung lebih sepi. Iman Gandi, Sekjen ALFI, menekankan bahwa pembatasan ini dapat menaikkan biaya logistik hingga lebih dari 30%, dan mengganggu aktivitas manufaktur dan distribusi barang. Pemerintah juga sedang melakukan evaluasi untuk mengantisipasi masalah transportasi terkait pelarangan truk, meskipun fokus evaluasi saat ini lebih kepada angkutan manusia, bukan barang.
Para pelaku industri berharap agar pemerintah melakukan pengelolaan lalu lintas secara lebih efektif dan mempertimbangkan kebutuhan ekspor-impor dalam kebijakan ini.
China Larang Ekspor Mineral Penting ke AS
Beijing segera membatasi ekspor mineral yang vital untuk produksi semikonduktor dan peralatan militer ke AS. Pembatasan ini diumumkan sehari setelah Washington mengumumkan pembatasan ekspor semikonduktor canggih ke perusahaan China. Langkah China dinilai sebagai balasan telak atas kebijakan AS. ”Untuk menjaga kepentingan keamanan nasional dan memenuhi kewajiban internasional, seperti nonproliferasi, China memutuskan untuk memperkuat kontrol ekspor pada barang-barang penggunaan ganda yang relevan ke AS,” kata pernyataan Kemendag China yang diumumkan di Beijing, China, Selasa (3/12). Bahan-bahan yang dilarang untuk diekspor, antara lain logam galium, antimon, dan germanium. Untuk ekspor grafit, pembatasan ekspor akan dilakukan dengan peninjauan lebih ketat terkait siapa pengguna dan penggunaan akhirnya.
Grafit termasuk komponen utama untuk pembuatan semikonduktor dan kendaraan listrik. Kemendag China juga menegaskan, setiap organisasi atau individu di negara atau wilayah mana pun yang melanggar peraturan yang relevan akan dimintai pertanggungjawaban menurut hukum. Sebelumnya, Washington mengumumkan pembatasan penjualan semikonduktor canggih kepada 140 perusahaan China, di antaranya perusahaan cip China Piotech dan SiCarrier. Pembatasan itu semakin mengekang kemampuan China untuk memproduksi cip yang merupakan komponen utama pembuatan sistem persenjataan canggih dan akal imitasi (AI) atau kecerdasan buatan. Pernyataan Kemendag China menambahkan, AS telah memolitisasi dan menggunakan isu-isu ekonomi, perdagangan, dan teknologi sebagai senjata dalam pembatasan ekspor mereka.
Selama ini, China menguasai pasokan mineral penting. Menurut laporan dari Uni Eropa yang diterbitkan tahun 2024, China menyumbang 94 % produksi galium dunia pada 2023. Logam ini vital dalam pembuatan sirkuit terpadu, LED, dan panel fotovoltaik yang digunakan dalam panel surya. Tahun lalu, China menyumbang 83 % produksi germanium dunia. Logam Germanium sangat penting untuk pembuatan serat optik, teknologi inframerah, dan panel surya. China juga menyumbang 48 % suplai antimon dunia pada 2023. Antimon digunakan dalam pembuatan peluru, senjata nuklir, misil berpemandu inframerah, baterai, dan fotovoltaik atau teknologi yang mengubah sinar matahari menjadi listrik. (Yoga)
Prabowo Optimistis RI Tidak Impor Beras Lagi Tahun 2025
IKM Rendang dengan Pengemasan Standar Kualitas Ekspor
Pelaku industri kecil menengah (IKM) mengemas rendang di Sentra Rendang Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (28/11/2024). Pemerintah Kota Padang memfasilitasi IKM yang terseleksi untuk menggunakan gedung sentra rendang dalam memproduksi dan mengemas produk rendang mereka yang sesuai standar kualitas ekspor, dalam memenuhi standar kemasan dari negara-negara tujuan untuk menembus pasar ekspor. (Yoga)
Agustina Widayati Membawa Gerabah Pundong Menembus Pasar Export
Agustina Widayati (40) hanya lulusan SMA. Namun, kreativitas dan semangat ingin maju membuat perempuan asal Kecamatan Pundong, Bantul, DI Yogyakarta, ini bisa membawa kerajinan gerabahnya menembus pasar ekspor ke sejumlah negara. Bersama sang suami, Parjono (50), Agustina merintis usaha kerajinan gerabah atau keramik di Desa Srihardono, Pundong, pada 2003. Usaha yang diberi nama Parjono Keramik Jaya (PKJ) itu betul-betul dimulai dari nol. ”Awalnya kami memproduksi gerabah yang sangat standar, yakni gerabah yang habis dibakar kemudian dijual, tanpa dicat atau diproses. Istilahnya gerabah merahan,” kata Agustina di rumah sekaligus tempat usahanya, Senin (25/11).
Sebelum merintis usaha itu, sang suami telah memiliki bekal keterampilan dari pekerjaannya sebagai desainer di tempat usaha kerajinan gerabah serupa di Pundong. Kecamatan itu dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan gerabah di DIY, bersama Kasongan yang juga telah melegenda. ”Setelah menikah, suami membuat usaha gerabah sendiri karena kalau ikut kerja dengan orang terus penghasilannya tak bisa menghidupi keluarga secara layak,” ujar Agustina. Parjono mengurus produksi, Agustina menangani pemasaran dan desain. Dari produksi gerabah sederhana itu, keduanya terus meningkatkan keterampilan dan kualitas produk dengan memakai bahan baku tanah liat terbaik dari Kasongan berciri khas warna terakota. Selain itu, variasi jenis produk dan modelnya juga terus dia kembangkan.
Agustina rajin mengikuti tren gerabah terkini lewat berbagai pelatihan, pameran, ataupun sumber-sumber lain. Kini, jenis produk yang dibuat PKJ di antaranya mencakup guci, vas, kap lampu, tempat lilin, hingga mangkuk buah. Kapasitas produksinya mencapai 2.000 buah gerabah per bulan. Pada 2015, Agustina menyewa lahan di depan rumahnya untuk gudang produksi untuk memperluas pemasaran dan meraih kepercayaan sejumlah vendor di Yogyakarta, yang membeli dalam skala besar gerabah dari perajin kemudian mengekspornya. Agustina mengombinasikan gerabah dengan anyaman rotan. Metode tersebut dipakainya sejak 2018 dan menjadi salah satu spesialisasi PKJ. Selain itu, dia mengembangkan desain gerabah dengan cat bakar sehingga memunculkan tekstur permukaan yang unik, membuat gerabah memiliki tampilan rustik atau seperti fosil.
Pada 2018, Agustina mendapat penghargaan Satu Indonesia Awards tingkat Provinsi DIY dari Astra, karena dia juga mempekerjakan penyandang disabilitas dalam usahanya. Agustina mengikuti berbagai pelatihan untuk mempelajari seluk-beluk proses ekspor. Peluang muncul saat mengikuti pameran Indonesia International Furniture Expo (Ifex) di Jakarta pada 2023. ”Waktu itu produk saya diminati calon pembeli dari Yunani, Mauritius, dan Dubai (UEA). Yang pertama pesan pembeli dari Yunani sebanyak 1.000 vas yang diekspor Agustus 2023. Menyusul pesanan dari Mauritius,” katanya. Pasar ekspor berikutnya dia dapatkan saat mengikuti Jogjakarta International Furniture and Craft Fair (Jiffina) 2024. Waktu itu, dua calon pembeli dari Perancis dating langsung ke rumah dan tempat produksinya. Menurut Agustina, penghasilan dari ekspor langsung lebih tinggi ketimbang menjual ke vendor. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022 -
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022









