;
Tags

Ekspor

( 1052 )

Produksi Perikanan bertumbuh

KT3 26 Nov 2024 Kompas

Pekerja terlihat sedang memasukkan ikan cakalang yang telah dipilah berdasarkan ukuran di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta, Senin (25/11/2024). Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, nilai ekspor hasil perikanan sampai September 2024 tercatat mencapai 4,23 miliar dollar AS atau bertumbuh dan naik 3,1 persen dibandingkan periode serupa pada tahun lalu. (Yoga)

Sokong Pertumbuhan dengan tiga syarat ekspor

KT3 22 Nov 2024 Kompas

Ekonomi Indonesia bisa tumbuh 8 % pada 2029 jika tiga prasyarat ekspor terpenuhi. Untuk mencapainya, pemerintah bakal menggulirkan dua langkah konkret, yakni hilirisasi komoditas dan menjadikan industri kecil menengah menjadi bagian rantai pasok industri besar. Deputi Bidang Ekonomi Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, Kamis (21/11) mengatakan, ekspor menjadi bagian strategi utama pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 % pada 2029. Ada tiga prasyarat utama ekspor dapat mendukung target pertumbuhan itu tercapai. Pertama, ekspor produk manufaktur bernilai tambah tinggi harus meningkat. Targetnya, nilai ekspor nonmigas Indonesia bisa naik dari 259 miliar USD pada 2023 menjadi 400 miliar USD pada 2029.

”Dalam kurun waktu itu, target pangsa ekspor global harus tumbuh dari 1,1 % menjadi 1,4 %,” ujarnya dalam Seminar Nasional ”Proyeksi Ekonomi Indonesia” yang digelar Institute for Development of Economics and Finance (Indef) secara hibrida di Jakarta. Prasyarat kedua, partisipasi Indonesia dalam rantai pasok global harus semakin kuat. Targetnya, partisipasi tersebut dapat tumbuh dari 0,8 % pada 2022 menjadi 1,2 % pada 2029. Ketiga, Indonesia juga harus meningkatkan ekspor jasa. Ekspor jasa ditargetkan naik dari 23,2 miliar USD pada 2022 menjadi 42,2 miliar USD pada 2029. ”Ketiga prasyarat itu perlu ditopang dengan peningkatan daya saing serta penguatan diplomasi ekonomi dan promosi ekspor,” katanya. (Yoga)


Target Ekspor RI dibayangi Efek Trump

KT3 21 Nov 2024 Kompas

Target ekspor nasional 2025-2029 untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 % pada 2029 menghadapi tantangan berat. Dua di antaranya adalah kebijakan perdagangan AS di era kepemimpinan Donald Trump dan deindustrialisasi akibat serbuan produk-produk impor. Kemendag telah membuat target tahunan pertumbuhan ekspor seiring target tahunan pertumbuhan ekonomi 2024-2029. Agar ekonomi RI tumbuh 5,06 % pada 2025, ekspor ditargetkan tumbuh 7,01 % atau senilai 294,45 miliar USD. Target pertumbuhan ekonomi dan ekspor tersebut terus meningkat setiap tahun. Hingga 2029, ekspor ditargetkan tumbuh 9,64 % menjadi 405,69 miliar USD agar ekonomi RI dapat tumbuh 8 %.

Anggota Komisi VI DPR, Amin AK, Rabu (20/11) mengatakan, kinerja neraca perdagangan Indonesia memang masih surplus. Namun, dari waktu ke waktu tren surplus tersebut cenderung turun. ”Di tengah kondisi itu, tantangan sektor perdagangan makin berat. Apalagi Trump akan menaikkan tarif semua produk impor yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekspor Indonesia ke AS,” ujarnya dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR dengan Kemendag di Jakarta. Trump berencana menaikkan tarif impor 10-20 % terhadap semua barang yang masuk pasar AS. Bahkan, tarif impor barang asal China akan dinaikkan 60-100 %. Trump juga berencana mengevaluasi kembali sistem tarif preferensi umum (GSP). Kebijakan itu berpotensi menghilangkan keistimewaan bea masuk barang tertentu ke pasar AS yang didapat negara berkembang, termasuk Indonesia. (Yoga)


Dorong Ekspor Nonkomoditas untuk Diversifikasi Ekonomi

HR1 21 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Upaya Kementerian Perdagangan (Kemendag) di bawah kepemimpinan Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam mengatasi tantangan ekspor dan impor Indonesia. Dalam menghadapi ketidakpastian pasar global dan fluktuasi harga komoditas, Budi Santoso menekankan pentingnya peningkatan ekspor nonkomoditas, dengan fokus pada sektor industri dan produk bernilai tambah, serta mempertahankan momentum pertumbuhan ekspor sektor pertanian yang meskipun kecil, memberikan sinyal positif bagi diversifikasi ekspor Indonesia. Ekspor sektor industri, yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, menunjukkan pertumbuhan yang signifikan meskipun sektor pertambangan dan migas terdampak oleh tantangan global.

Namun, Budi juga mengakui bahwa Indonesia masih bergantung pada impor untuk mendukung produksi dan investasi, terutama impor bahan baku dan barang modal yang menunjang aktivitas industri domestik. Meski demikian, ketergantungan pada impor barang konsumsi juga mengalami kenaikan, yang menunjukkan adanya tantangan dalam menekan impor barang konsumsi.

Di sisi lain, pemerintah menghadapi masalah serius terkait dengan banjir impor ilegal, khususnya dalam sektor tekstil. Dalam rapat dengan Komisi VI DPR, Budi Santoso mendapat sorotan tajam terkait efektivitas Satgas Pengawasan Barang Impor Ilegal yang dibentuk untuk menanggulangi masalah ini. Meski telah melakukan penyitaan terhadap barang-barang ilegal, seperti 90.000 rol kain tekstil ilegal asal China, DPR mempertanyakan mengapa impor ilegal masih terus membanjiri pasar Indonesia. Anggota DPR, seperti Darmadi Durianto dan Amin, menilai bahwa regulasi yang diterbitkan Kemendag sering berubah-ubah, dan hal ini menyebabkan kebingungan serta ketidakefektifan dalam pengawasan.

Menteri Budi Santoso menjelaskan bahwa tindakan penyitaan barang-barang ilegal dilakukan karena tidak memenuhi syarat administratif yang ditetapkan, dan ia berjanji akan terus berkoordinasi dengan tim Satgas untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, ia juga menyadari perlunya kebijakan yang lebih stabil dan lebih terkoordinasi agar dapat mengurangi ketergantungan pada impor serta mengatasi penyelundupan barang ilegal yang merugikan industri domestik.

Secara keseluruhan, meskipun Kemendag berupaya memperkuat ekspor nonkomoditas dan mengurangi ketergantungan pada impor, tantangan yang dihadapi, terutama terkait dengan impor ilegal dan ketidaktepatan regulasi, masih menjadi hambatan besar dalam menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.



Ambisi Tinggi Pertumbuhan Ekspor Nasional

HR1 20 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag), yang dipimpin oleh Fajarini Puntodewi, menargetkan pertumbuhan ekspor Indonesia yang ambisius dalam beberapa tahun mendatang. Target pertumbuhan ekspor Indonesia untuk 2025 dipatok antara 7,1% hingga 9,64%, dengan tujuan mencapai ekspor sebesar US$405,69 miliar pada 2029. Kemendag optimis bahwa neraca perdagangan Indonesia akan tetap surplus pada akhir tahun 2024, didukung oleh kinerja ekspor yang terus meningkat, seperti tercatat dalam data BPS yang menunjukkan kenaikan ekspor nonmigas.

Namun, tantangan datang dari kebijakan perdagangan internasional, terutama dengan kembalinya Donald Trump sebagai Presiden AS. Fajarini mengingatkan bahwa kebijakan proteksionis yang diterapkan Trump, seperti penambahan tarif impor terhadap berbagai barang dari negara mitra utama Indonesia seperti China, dapat berdampak pada kinerja ekspor Indonesia. Meskipun demikian, ia berharap kebijakan tersebut tidak mengganggu pertumbuhan ekspor Indonesia yang terus menunjukkan hasil positif sejak masa pemerintahan Trump sebelumnya. Selain itu, kebijakan tarif ini berpotensi menaikkan harga barang global, yang mungkin memberikan peluang bagi Indonesia untuk mengisi celah pasar, terutama dalam sektor barang-barang yang terpengaruh oleh tarif tinggi.

Di sisi lain, ekonom Yusuf Rendy Manilet mengingatkan bahwa meskipun Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan pada periode Januari hingga Oktober 2024, pencapaian tersebut masih jauh dari target yang lebih tinggi. Pelemahan rupiah dan berkurangnya aliran mata uang asing dapat memperburuk kondisi ini, yang pada gilirannya bisa memicu kenaikan harga barang impor.

Secara keseluruhan, meskipun terdapat tantangan geopolitik dan perdagangan global, target Kemendag yang optimistis untuk pertumbuhan ekspor Indonesia tetap ada, dengan harapan bahwa Indonesia dapat memanfaatkan peluang dalam dinamika perdagangan global yang berubah.



Kemendag Memasang Target Ambius

KT1 20 Nov 2024 Investor Daily (H)

Kementerian Perdagangan (Kemendag) memasang target ambisius dalam rangka mendukung target pertumbuhan  ekonomi besar 8%. Ekspor ditargetkan mencapai US$ 405,69 miliar dengan pertumbuhan 9,64% pada 2029. Kepala badan kebijakan Perdagangan Kemendag Fajarini Puntodewi merinci, pada tahun depan, pihaknya menargetkan pertumbuhan ekspor 7,1% atau US$ 294,45 miliar. Lalu, pada 2026, pertumbuhan ekspor ditargetkan mencapai 7,09% atau US$ 315,31 miliar. Selanjutnya, pada 2027, target ekspor naik menjadi 7,89% atau US$ 340,20 miliar. 

Sementara pada 2028, pertumbuhan ekonomi ditargetkan 7,26%, maka ekspor perlu berkontribusi 8,77% atau US$ 370,04 miliar. Puncaknya pada 2029, target ekspor naik 9,64% untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8%. "Jadi (target ekspor) antara 7,1% hingga 9,64%. Nah ini merupakam satu target yang cukup luar biasa," kata dia di Gambir Trade Talk (GTT). Fajarini mengakui target tersebut sangatlah besar, namun, dia tetap optimistis target ini akan tercapai mengingat ekspor  Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Data Kemendag mencatat, nilai ekspor Indonesia periode Januari-September 2024, mencapai US$ 192,85 miliar atau naik 0,32% dibandingkan tahun sebelumnya. (Yetede)

Ekspansi Pasar Ekspor untuk Pertumbuhan Berkelanjutan

HR1 16 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Indonesia berhasil mempertahankan tren positif neraca perdagangan selama 54 bulan berturut-turut hingga Oktober 2024, meskipun upaya pemerintah untuk memperluas pasar ekspor dan mencapai target surplus yang lebih tinggi masih diperlukan. Neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2024 mencatatkan surplus sebesar US$2,48 miliar, dengan sektor nonmigas memberikan kontribusi terbesar, yaitu US$41,82 miliar, meskipun sektor migas mengalami defisit US$17,39 miliar. Namun, target surplus pemerintah yang diharapkan berkisar antara US$31,6 miliar hingga US$53,4 miliar untuk tahun ini masih belum tercapai, sehingga diperlukan strategi yang lebih jitu dan penguatan sektor usaha.

Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya meningkatkan kerja sama antarnegara dan membuka peluang pasar baru, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dalam hal ini, langkah agresif pemerintah untuk menjaring pasar ekspor baru sangat dibutuhkan. Sektor industri pengolahan, yang menjadi penyumbang terbesar dalam ekspor Indonesia, mengalami peningkatan yang signifikan pada Oktober 2024, dengan ekspor industri pengolahan naik 12,04% dibandingkan bulan sebelumnya.

Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait dengan masalah dalam sektor tekstil yang masih menghadapi banyak pabrik yang tutup. Penyelesaian masalah di sektor-sektor tertentu, termasuk tekstil, dan peningkatan kapasitas industri dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor menjadi agenda penting. Pemerintah diharapkan untuk terus mendorong pertumbuhan ekspor dan memperkuat daya saing industri domestik agar dapat mengatasi tantangan tersebut dan mencapai surplus perdagangan yang lebih tinggi di masa depan.



Kemenperin Proyeksikan Pasar Ekspor Industri Tekstil Tumbuh 3,17 Persen

KT1 16 Nov 2024 Tempo
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksikan pasar ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dan alas kaki akan tumbuh sebesar 3,17 persen pada 2024 hingga 2028. Sedangkan pasar ekspor pakaian jadi diproyeksikan akan tumbuh sebesar 2,81 persen. Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kemenperin, Andi Rizaldi, menilai ekspor itu akan mendatangkan pendapatan hingga USD 798,4 miliar pada 2028. Di antara berbagai kawasan, ia menilai Asia akan menjadi pasar terbesar ekspor tekstil dari Indonesia. “Saat ini, Korea Selatan menjadi negara tujuan ekspor TPT yang menduduki urutan ketiga setelah Amerika Serikat dan Jepang, dengan nilai ekspor tahun 2023 sebesar USD492,77 juta, dengan pangsa pasar 4,24 persen,” kata Andi melalui keterangan tertulis, Sabtu, 16 November 2024.

Potensi pasar ekspor TPT nasional ke Korea Selatan saat ini terus meluas. Andi mengatakan, kondisi ini perlu disambut positif para pelaku industri. Mereka dapat terus mengembangkan produk-produk lokal yang mampu memenuhi permintaan buyer internasional. Andi berujar, Kemenperin terus mendorong industri TPT untuk memperluas akses pasarnya ke negara-negara nontradisional yang potensial. Kemenperin juga memfasilitasi industri TPT dapat memanfaatkan perjanjian kerja sama perdagangan yang saat ini telah terjalin dengan berbagai negara. Namun, potensi itu tak selaras dengan kondisi industri tekstil dalam negeri yang saat ini belum membaik. Sekretaris Jenderal Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) Emelia Yanti Siahaan mengatakan sudah sekitar dua tahun pabrik tekstil tutup karena merosotnya pasar ekspor. Padahal industri tekstil nasional masih didominasi perusahaan-perusahaan yang bergantung pada pasar ekspor. (Yetede)

China Ingin Selesaikan Perbedaan dengan AS

KT1 08 Nov 2024 Investor Daily (H)

Ekspor China melonjak tajam hingga mencapai laju tercepat dalam dua tahun lebih pada Oktober 2024. Pabrik-pabrik di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut memacu pengiriman untuk mengantisipasi tarif lebih besar dari Amerika Serikat, dan juga Uni Eropa. Hal ini menggaris bawahi ancaman meletusnya kembali perang dagang antara China dan AS. Negara ekonomi terbesar dunia. Kemenangan besar Donald Trump dalam pemilihan presiden (pilpres) AS 5 November 2024 langsung mencuatkan janji kampanyenya untuk mengenakan tarif pada impor lebih dari 60% atas produk-produk China.

Ancaman ini kemungkinan akan memacu perpindahan stok ke gudang-gudang di pasar ekspor nomor satu di China. Ancaman tatif Trump menguncang pemilik pabrik maupun para pejabat Pemerintahan China. Karena jika ancaman tersebut berlaku, barang ekspor yang mencapai sekitar US$ 500 miliar setiap tahunnya akan berdampak. Pada saat yang sama, ketegangan perdagangan UE, yang tahun lalu mengambil barang-barang dari China senilai US$ 466 miliar, juga telah meningkat. Sehingga momentum ekspor telah menjadi satu titik cerah bagi negara Tirai Bambu. Di saat ekonominyua berusaha bangkit dari rendahnya kepercayaan konsumen maupun sektor bisnis, yang terpuruk oleh krisis properti berkepanjangan. (Yetede)

Ekspor Furnitur Rotan Gen Z Jabar

KT3 22 Oct 2024 Kompas (H)

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, UMKM yang digawangi generasi Z di Cirebon, Jabar, mampu mengekspor furnitur rotan. Meski tak mudah, kisah ini menunjukkan anak muda bisa ikut membangkitkan industri rotan domestik. Abdullah Fikri Ashri Rana Azizah (26) masih sibuk bergelut dengan persiapan ekspor produk rotan, Senin (21/10) sore. Ia bahkan tak sempat mengangkat ponselnya yang terus berdering. Ia hanya sempat membalas pesan. ”Besok ada stuffing (pemuatan barang) untuk ekspor,” kata Rana. Ekspor ke Perancis itu dilakukan PT Masagena Maruarar Salawasna dengan jenama (brand) Molja Furniture. Molja diambil dari penyebutan kata mulia. Molja dalam bahasa Swedia artinya petarung. Rana adalah salah satu pendiri sekaligus pemilik perusahaan furnitur itu. Produk yang diekspor berupa sofa bed berukuran panjang 200 cm, lebar 93 cm, dan tinggi 76 cm.

Produk itu berupa anyaman rotan berwarna krem dengan sofa putih di atasnya. Ia tak menyebut jumlah item-nya. Menurut rencana, satu kontainer berukuran besar atau 45 high cube akan diekspor ke Perancis pada Selasa (22/10). ”Kapalnya berangkat 25 Oktober,” ucap Rana. Ekspor kali ini merupakan yang ketiga pada tahun 2024. Sebelumnya, September lalu, Molja mengirim tiga container ukuran 20 kaki ke Perancis. Bagi Molja, ekspor ke negara yang dikenal sebagai pusat mode dunia ini sudah ketujuh kali sejak 2023. Total yang diekspor mencapai lebih dari 18 kontainer. Setiap container berisi puluhan produk. Nilai produk setiap kali ekspor pun mencapai ratusan juta rupiah. ”Kalau sudah deal (setuju), kami bisa ekspor ke Slowakia, AS, dan Malaysia. Nilai per order 10.000 USD,” ucapnya. (Yoga)