Ekspor
( 1052 )Ekspansi ke Pasar Ekspor
Emiten farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) terus melebarkan sayap ke pasar ekspor. Kali ini, KLBF tengah menyasar Afrika dan Timur Tengah, sembari tetap memperkuat kehadirannya di pasar Asia Tenggara. Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy mengatakan, sebagai langkah awal, KLBF perlu mendapatkan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di masing-masing negara. KLBF juga gencar memperkuat posisi di Asia Tenggara. Khususnya di Filipina, Myanmar dan Malaysia. Ketiga negara ini memberikan pertumbuhan yang baik terhadap penjualan KLBF di kawasan ASEAN. Untuk pasar ASEAN, KLBF mulai memperkuat posisi di Thailand. Pada pertengahan 2024, KLBF melalui anak usahanya Kalbe International Pt Ltd. telah mengakuisisi 49% saham Alliance Pharma Co Ltd.
Dengan aksi korporasi itu, peluang melakukan penetrasi pasar di Negeri Gajah Putih telah terbuka lebar. Kartika mengatakan, pasar Thailand khususnya obat resep sangat positif, khususnya obat-obatan khusus, onkologi dan kanker.
Demi menjaga margin, KLBF juga berupaya melepas ketergantungan dari bahan baku impor yang rentan dipengaruhi fluktuasi rupiah. KLBF pun berupaya meningkatkan kemampuan untuk memproduksi bahan baku obat sendiri. Terbaru, KLBF telah menjalin kerja sama dengan Livzon Pharmaceutical Group Inc dengan mendirikan perusahaan patungan untuk memproduksi bahan baku obat yang akan dimanfaatkan untuk pasar dalam dan luar negeri.
Equity Research
BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto memperkirakan, segmen obat
speciality
KLBF seperti onkologi dan biosimilar akan meningkat secara bertahap di masa mendatang. Natalia mempertahankan rekomendasi beli KLBF dengan target harga di Rp 1.800 per saham.
Hak Ekspor Produk Turunan Sawit Berpotensi Menumpuk
Pasar utama ekspor produk turunan kelapa sawit diperkirakan masih lemah hingga akhir tahun ini, yang berpotensi menyebabkan hak ekspor komoditas andalan utama Indonesia tersebut menumpuk lagi. Hak ekspor merupakan insentif pemerintah bagi para eksportir produk turunan sawit yang memenuhi kewajiban memasok kebutuhan pasar domestik (DMO) minyak goreng rakyat. Dengan hak ekspor itu, mereka bisa mengekspor CPO dan turunan sebanyak empat kali volume penyaluran DMO. Mereka juga bisa memperoleh pengali ekspor dari pengemasan dan distribusi minyak goreng ke luar Jawa masing-masing 2-2,25 kali dan 1,3-1,65 kali. Hal itu merupakan amanat Pasal 11 Permendag No 18 Tahun 2024 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat yang diundangkan pada 14 Agustus 2024.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, Rabu (21/8) mengatakan, saat ini, hak ekspor CPO dan produk turunan 3,6 juta ton, berkurang cukup signifikan dari Maret 2024 di 5,58 juta ton. ”Ini berkat lonjakan ekspor produk turunan sawit pada Juni 2024. Namun, peningkatan ekspor tersebut tidak bertahan lama dan justru turun pada Juli 2024,” ujarnya. BPS mencatat, volume ekspor CPO tertinggi sepanjang Januari-Juli 2024 hanya terjadi pada Juni 2024, yakni 2,67 juta ton. Selain itu, kisaran volume ekspornya hanya 1,4 juta-1,8 juta ton. Pada Juli 2024, volume ekspor CPO dan produk turunan hanya 1,62 juta ton, turun 64,81 % secara bulanan.
”Jika kondisinya tetap sama hingga akhir tahun ini, pertumbuhan ekspor CPO RI bakal melambat dan bakal menyebabkan hak ekspor menumpuk lagi,” katanya. Pada Maret 2024, hak ekspor produk turunan sawit menumpuk hingga mencapai 5,58 juta ton atau setara 2,5 bulan kebutuhan ekspor komoditas-komoditas tersebut. Penumpukan itu terjadi lantaran pasar ekspor CPO melemah (Kompas, 13/3/2024). Kendati begitu, ekspor CPO RI masih berpeluang tumbuh hingga akhir tahun ini. Utamanya jika ada gangguan panen raya biji bunga matahari dan rapeseed di UE pada akhir Agustus-September 2024. (Yoga)
Ekspor Ratusan Ton Kelapa ke China dari Sultra
Sebanyak 646 ton kelapa asal Sultra diekspor secara bertahap ke pasar China. Pengiriman ini menandakan besarnya potensi komoditas nontambang wilayah ini. Selama ini kekayaan hasil bumi Sultra tertekan masifnya pertambangan nikel dan belum adanya keseriusan pengembangan hingga hilirisasi. Pada Senin (19/8) sebanyak 54 ton kelapa bulat diekspor dari Pelabuhan Pelindo Kendari, Sultra. Ekspor ini bagian dari total 646 ton yang akan diekspor secara bertahap ke China. Nilai ekspor mencapai Rp 2,5 miliar. Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat Manaor Panggabean menuturkan, ekspor kelapa menjadi poin penting untuk pengembangan komoditas di daerah. Hal ini menunjukkan potensi hasil perkebunan menembus pasar dunia.
”Kita punya banyak sumber daya, salah satunya kelapa. Ikan juga besar potensinya, bahkan mencapai Rp 476 miliar. Kami berharap ekspor berbagai hasil pertanian, perkebunan, dan kelautan terus ditingkatkan. Ini menjadi tugas kita bersama,” kata Sahat, usai melepas ekspor tersebut. Kelapa merupakan komoditas yang banyak terdapat di Sultra hingga Kalimantan dan Sulawesi. Namun, potensinya belum banyak dikelola untuk pasar yang lebih luas. Padahal, selain kelapa bulat, santan hingga serabut kelapa juga sangat terbuka untuk diekspor. Karena itu, pihaknya terus berusaha menjembatani dengan kementerian teknis dan pemda agar hasil bumi dan laut berorientasi ekspor. Salah satu kendala yang sering dihadapi adalah persoalan kualitas dari hulu hingga ke hilir. (Yoga)
Optimalisasi Kinerja Ekspor
Strategi Baru Tingkatkan Ekspor Furnitur Lokal
Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan penetrasi produk furnitur asal Indonesia di negara tujuan ekspor baru guna menyiasati pelemahan permintaan yang terjadi di pasar tradisional produk nasional. Kementerian Perindustrian mengaku bakal menyusun strategi yang berfokus kepada lima hal, yaitu fasilitasi keter-sediaan bahan baku; fasilitasi ketersediaan SDM terampil; fasilitasi peningkatan pasar dan penguatan riset referensi pasar; fasilitasi peningkatan produktivitas, kapasitas, dan kualitas produk; serta fasilitasi iklim usaha kondusif dan peningkatan investasi. Selain itu, untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku industri furnitur, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan pemberian fasilitas insentif perpajakan berupa tax allowance, serta kemudahan prosedur ekspor produk hilir dan impor bahan baku atau bahan penolong. “Semua program tersebut merupakan wujud keberpihakan pemerintah agar industri dalam negeri dapat berdaulat, maju, dan berdaya saing,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika, Selasa (13/8).
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perindustrian dan di bawah kepemimpinan Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika, telah mengimplementasikan berbagai strategi komprehensif untuk meningkatkan daya saing dan penetrasi pasar global produk furnitur domestik. Dengan fokus pada fasilitasi bahan baku, pengembangan sumber daya manusia terampil, ekspansi pasar, peningkatan produktivitas dan kualitas produk, serta penciptaan iklim usaha yang kondusif melalui insentif perpajakan dan kemudahan prosedur ekspor-impor, sektor furnitur menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah dua tahun mengalami kontraksi. Upaya ini juga didukung oleh partisipasi aktif dalam pameran internasional seperti IndexPlus Delhi 2024 dan pemanfaatan peluang di pasar non-tradisional seperti India, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri furnitur Indonesia di kancah global.
Tumbuhnya Potensi Ekspor RI ke Jepang
Indonesia dan Jepang menandatangani Protokol Perubahan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang atau IJEPA. Melalui pembaruan IJEPA, ekspor RI ke Jepang pada 2025-2033 berpotensi tumbuh 11,6 % per tahun dan peluang Indonesia memasuki pasar tenaga kerja Jepang semakin bertambah. Tak hanya sebatas sektor keperawatan, manufaktur, serta pertanian dan perikanan, tapi juga perbankan, real estat, dan transportasi. Penandatangan Protokol Perubahan IJEPA dilakukan Mendag RI Zulkifli Hasan dan Menlu Jepang Kamikawa Yoko, Kamis (8/8) melalui konferensi video.
Proses ratifikasi Protokol Perubahan IJEPA ditargetkan kelar pada 2025. Zulkifli mengatakan, Protokol Perubahan IJEPA mencakup amandemen, peningkatan komitmen perdagangan barang dan jasa, serta e-dagang, juga pergerakan orang perseorangan (movement of natural persons/MNP), kekayaan intelektual, serta pengadaan barang dan jasa pemerintah. Di sektor perdagangan barang, Jepang akan memperbaiki akses pasar 112 pos tarif produk Indonesia, berupa produk segar dan olahan ikan tuna, cakalang, lobster, dan kerang; buah-buahan; makanan dan minuman; serta bahan kimia organik. Adapun Indonesia akan memperbaiki akses pasar 25 pos tarif produk Jepang, antara lain, produk besi dan baja serta otomotif.
”Pasca implementasi Protokol Perubahan IJEPA yang ratifikasinya ditargetkan kelar pada 2025, ekspor RI ke Jepang pada 2025-2033 diperkirakan meningkat 11,6 % per tahun. Nilai ekspor RI ke Jepang pada 2028 berpotensi naik 58 % menjadi 35,9 miliar USD dibanding tahun 2023, di 20,8 miliar USD,” ujarnya. Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono menambahkan, melalui Protokol Perubahan IJEPA, Jepang memberikan tambahan pengurangan dan penghapusan tarif bea masuk untuk produk-produk ekspor potensial Indonesia, termasuk produk perikanan segar dan olahan yang menjadi kepentingan nasional. (Yoga)
UKM Jakarta Capai Pasar Global Lewat Jitex 2024
Pemprov DKI Jakarta menyelenggarakan pameran Jakarta International Investment, Trade, Tourism, and SME Expo atau Jitex 2024 di Jakarta Convention Center, yang bertujuan menjadikan produk UMKM yang tergabung dalam program Jakarta Entrepreneur menembus pasar global. Pameran internasional yang diselenggarakan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (PPKUKM) DKI Jakarta bersama Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) berlangsung 7 hingga 11 Agustus 2024. Pada Rabu (7/8) ratusan pelaku UMKM dengan baju khas Jakarta berjaga di booth masing-masing menawarkan produk, mulai dari makanan, minuman, kain, manufaktur, jasa, produk rumah tangga, mode, otomotif, dan berbagai produk lainnya.
Kadis PPKUKM DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo mengatakan, sekitar 200 booth produk lokal berkualitas dipamerkan di Jitex 2024. Selain itu, ada juga pelaku UMKM perwakilan dari daerah lain di Indonesia. ”Event ini dalam rangka memasarkan beragam produk dalam negeri dengan menyasar buyer dan investor dari kawasan ASEAN,” ujarnya. Untuk menarik minat, Ratu mengaku telah menyiapkan akomodasi paket bagi investor dan buyer dari luar negeri yang hadir dalam kegiatan berupa menginap hotel gratis dua malam, tourist pass, dan akses telekomunikasi dengan kartu SIM yang disiapkan. Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan Jitex 2024 dibuat untuk menarik perhatian investor hingga wisatawan yang datang ke Indonesia, khususnya Jakarta.
Ahmad (45), pelaku UMKM di bidang makanan, merasa terbantu dengan hadirnya Jitex 2024. Menurut dia, penjualan makanan khas Jakarta makin kurang peminat. ”Kalau dihadirkan buyer dari luar negeri, kami dapat memperkenalkan jajanan khas DKI Jakarta, seperti biji ketapang, bir pletok, dan dodol, kepada mereka sehingga produk khas Jakarta dikenal lebih luas. Semoga nantinya ada investor yang tertarik untuk bekerja sama,” ujarnya. Ia berharap UMKM lokal semakin maju dan berkembang meskipun banyak produk luar yang masuk ke Indonesia, khususnya Jakarta. Ia mendorong Pemprov DKI gencar mengadakan event atau pameran secara rutin melibatkan UMKM lokal. (Yoga)
Teh dan Kopi Indonesia Menyasar Pasar Premium
Kemenperin mendorong industri makanan dan minuman olahan berbahan baku dasar teh, kopi, kakao, susu, dan buah-buahan untuk menciptakan produk spesial guna menyasar pasar premium. Indonesia punya keunggulan keanekaragaman hayati yang bisa terus dikembangkan untuk menghadirkan produk makanan dan minuman olahan berkualitas tinggi. Menperin Agus Gumiwang mengatakan, salah satu upaya untuk mengakselerasi produk makanan dan minuman olahan ini adalah dengan menghadirkan produk-produk specialty, merujuk pada produk dengan kualitas terbaik berdasarkan parameter tertentu, seperti aroma dan rasa serta diproses dengan standar ketentuan khusus.
”Standar kualitas yang tinggi memunculkan siklus produk premium, yang di dalamnya melibatkan sejumlah pihak, mulai dari petani selaku penyedia bahan baku, distributor, roaster, barista, hingga end-customer,” ujar Agus pada acara Business Matching dan Pameran Produk Olahan Kopi, Teh, Kakao, Buah, dan Olahan Susu ”Specialty Indonesia” di kantor Kemenperi, Jakarta, Senin (5/8). Ia menambahkan, saat ini terjadi peningkatan tren di mana konsumen akan lebih fokus pada konsep produk berkualitas tinggi atau premium yang diproses secara berkelanjutan (sustainable) dengan teknologi terkini. Hal ini menjadikan potensi produk premium sangat luas, didukung keberagaman hayati yang dimiliki Indonesia.
Pada pameran Specialty Coffee Expo tahun 2024 di AS, 12 pelaku industri kopi specialty Indonesia mempromosikan produk kepada mitra potensial dari sejumlah negara dengan potensi transaksi 27,1 juta USD. Agus mengatakan, produk olahan kakao, teh, buah, kopi, dan susu punya potensi besar yang belum dioptimalkan. Ekspor produk olahan teh Indonesia pada 2023 mencapai 37.878 ton, senilai 74,12 juta USD. Produk pengolahan kopi Indonesia mencapai 426.500 ton pada 2023, dengan 97.300 ton untuk ekspor ke mancanegara. Hal ini menjadikan Indonesia di posisi keempat penghasil kopi terbesar di dunia. Namun, variasi kopi Indonesia paling banyak di antara negara lain. Ini bisa menjadi modal utama pengembangan produk dari banyaknya varietas kopi Indonesia pada masa mendatang. (Yoga)
Mendongkrak Ekspor Dengan Program Orangtua Asuh Tuna
Karyawan sibuk mengatur gunungan karung putih berisi sisa olahan beragam jenis hewan laut di halaman pabrik pengolah ikan PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk, Tanjung Priok, Jakut, Kamis (25/7). Pabrik ini mampu menghasilkan 10-20 ton produk siap ekspor per hari. Dari sejumlah varian produk olahan, baik dalam bentuk fillet atau daging irisan beku maupun ikan segar tanpa insang, isi perut, dan sisik, produk tuna sirip kuning menjadi unggulan. Berdasar laporan keuangan perusahaan pada 2023, nilai penjualan tuna Rp 68 miliar dari total penjualan ekspor produk perikanan perusahaan senilai Rp 523 miliar. Pada 2022, penjualan tuna bahkan menyumbang Rp 105 miliar atau 20 % dari total nilai penjualan ekspor tahunan. Produk tuna diekspor, ke AS, Eropa, dan Jepang.
Dirut PT Dharma Samudera Fishing Industries (DSFI) Tbk Ewijaya mengatakan, peningkatan kualitas produksi tuna dari hulu ke hilir ikut menjadi tanggung jawab mereka. ”Hal kritikal yang kami lakukan untuk tuna adalah memastikan bahwa tuna kami adalah produk yang sustainable karena berasal dari perairan yang sustain dan dilakukan dengan penangkapan yang juga sustain,” katanya. Upaya industri seperti DSFI nyatanya masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Mereka menilai kebijakan perizinan kapal dan pajak membuat nelayan yang mereka bina tertekan. Saat ini adanya persaingan ketat dalam memperoleh pasokan bahan baku juga menjadi penghambat produksi.
Dosen Bidang Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dahri Iskandar, mengatakan, hal ini karena 70 % produk tuna Indonesia dihasilkan oleh nelayan kecil dibandingkan dengan nelayan skala industri. Persoalan klasik yang masih dihadapi nelayan kecil untuk memperoleh ikan dengan kualitas baik adalah kemampuan mempertahankan rantai dingin dan BBM murah. Sinergi swasta dengan pemerintah jika dapat direalisasikan melalui inovasi program orangtua asuh, yang didukung regulasi dan pendampingan yang tepat, akan meningkatkan ekspor perikanan ke depannya. (Yoga)
Pemerintah Dorong Ekspor Produk Premium Hasil Hilirisasi SDA
Produk premium hasil penghiliran sumber daya alam Indonesia menjadi fokus pemerintah untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor komoditas nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa Indonesia akan terus mengembangkan sumber daya alam melalui proses hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk yang berorientasi ekspor. Beberapa komoditas yang berpotensi menjadi andalan ekspor baru meliputi kopi, teh, buah, kakao, dan susu, yang diolah sesuai dengan standar kualitas terbaik agar dapat dipromosikan sebagai produk unggulan Indonesia.
Agus Gumiwang juga menekankan bahwa tren global saat ini bergerak menuju fase konsumen yang lebih fokus pada produk berkualitas tinggi dan diproses secara berkelanjutan dengan teknologi terkini. Contohnya, pada Specialty Coffee Expo di Amerika Serikat, 12 pelaku industri kopi specialty Indonesia berhasil mempromosikan produknya dengan potensi transaksi mencapai US$27,1 juta.
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa untuk mendorong konsumsi dan permintaan pasar produk olahan makanan dan minuman premium, pihaknya mengadakan pertemuan bisnis "Specialty Indonesia" pada 5—8 Agustus 2024 di Jakarta. Acara ini diikuti oleh 44 perusahaan industri sektor makanan dan minuman, dengan tujuan mendorong perkembangan produk unggulan serta mempertemukan pelaku usaha dengan para pembeli dan menarik minat masyarakat. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam substitusi impor, penguasaan pasar dalam negeri, pengembangan potensi ekspor, serta perkembangan produk specialty .
Pilihan Editor
-
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022









