;
Tags

Ekspor

( 1052 )

Ekspor Alas kaki Tumbuh Pesat

KT1 17 Oct 2024 Investor Daily
Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengatakan ekspor alas kaki Indonesia tumbuh 64,5% selama 10 tahun kepemimpinan Presiden Jokowi. "Selama 10 tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo, alas kaki Indonesia meningkat pesat, sebesar 64,5%, meskipun seharusnya bisa mencapai dua kali lipat," ujar Eddy. Keyakinan itu, kata dia, tercermin pada pertumbuhan ekspor yang sempat menyentuh US$ 7,7 miliar pada 2022. Angka ini melejit, 88% dibandingkan dengan kondisi awal Presiden Jokowi kali pertama  menjabat dengan nilai ekspor US$ 4,1 miliar pada 2014. Eddy mengatakan, ekspor alas kaki bisa meningkat dua kali lipat apabila tidak terjadi penurunan permintaan global akibat adanya perang  di Eropa antara Rusia dengan Ukraina pada 2022. Menurutnya, tahun ini ekspor alas kaki mulai stabil dan diproyeksikan tumbuh positif meskipun masih kecil. "Estimasi Aprisindo pada tahun 2024 ekspor akan mencapai US$ 6,7 miliar atau tumbuh 5% dibandingkan tahun 2023," kata dia. (Yetede)

Melemahnya Kinerja Ekspor Nonmigas

KT3 16 Oct 2024 Kompas
Kinerja ekspor nonmigas Indonesia pada September 2024 turun di tengah pelemahan kinerja industri manufaktur di sejumlah negara mitra dagang utama. Penurunan itu disebabkan penurunan ekspor sektor industri manufaktur dan pertambangan. Namun, penurunan ekspor nonmigas itu tertopang kenaikan ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (15/10/2024), merilis, total ekspor nonmigas Indonesia pada September 2024 senilai 20,91 miliar dollar AS atau sekitar Rp 326,21 triliun. Nilai ekspor tersebut turun 5,96 persen secara bulanan. Pelaksana Tugas Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, penurunan nilai ekspor nonmigas itu disebabkan penurunan ekspor sektor industri manufaktur dan pertambangan. Pada September 2024, nilai ekspor industri manufaktur dan pertambangan turun masing-masing 6,38 persen dan 5,36 persen secara bulanan.

Komoditas di kedua sektor tersebut yang mengalami penurunan nilai ekspor adalah minyak sawit, logam dasar mulia, pakaian jadi, dan bijih tembaga. Ekspor minyak sawit dan produk turunannya, misalnya, nilainya turun 21,46 persen dari 1,77 miliar dollar AS pada Agustus 2024 menjadi 1,38 miliar dollar AS pada September 2024. Di tengah penurunan ekspor kedua sektor itu, lanjut Amalia, nilai ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan justru naik 2,95 persen. Sejumlah komoditas yang berkontribusi besar terhadap kenaikan ekspor sektor tersebut adalah lada hitam, pisang, kelapa, manggis, udang tangkap, dan mutiara budidaya. ”Bahkan, sepanjang Januari-September 2024, nilai ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh paling tinggi, yakni 38,76 persen secara tahunan. Sementara ekspor sektor industri pengolahan dan pertambangan turun masing-masing 7,11 persen dan 9,03 persen,” ujarnya.

Menurut Amalia, penurunan ekspor nonmigas itu tidak terlepas dari pengaruh pelemahan Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia. Pada September 2024, (PMII) manufaktur Kinerja tur China, Amerika Serikat, dan Jepang berada di zona kontraksi, yakni masing-masing 49,3, 47,3, dan 49,7. Meskipun demikian, BPS mencatat, neraca perdagangan nonmigas Indonesia pada September 2024 masih surplus 4,61 miliar dollar AS. Indonesia telah membukukan surplus neraca perdagangan nonmigas secara berturut-turut selama 53 bulan sejak Mei 2020. Neraca perdagangan nonmigas Indonesia pada Januari-September 2024 juga surplus 37,02 miliar dollar AS. Dalam Forum Pangan Dunia yang digelar Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) di Roma, Italia, 14 Oktober 2024 WTO menyeruan peran penting perdagangan di sektor pertanian  dan ketahanan pangan. (Yoga)

Industri Perhiasan Capai Ekspor US$ 3,94 Juta

KT1 16 Oct 2024 Investor Daily (H)
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Reni Yanita menerangkan,  data BPS yang diolah Kemepenrin menunjukkan capaian nilai ekspor barang perhiasan dan barang berharga Indonesia pada Januari-Agustus 2024 sebesar US$ 3,94 juta. Hasil tersebut mengalami peningkatan sebesar 15,98% secara kumulatif jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di 2023 yang sebesar US$ 3,4 juta. "Peningkatan ini menunjukkan bahwa sektor industri perhiasan berpotensi untuk terus  bertambah," kata dia. Apalagi, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya manajemen keuangan, dengan salah satunya melakukan melalui investasi juga ikut berperan pada meningkatnya permintaan pasar dan industri perhiasan. Reni menerangkan, selain sebagai perhiasan, emas dalam bentuk logam mulia semakin digemari oleh masyarakat sebagai salah satu intrusmen investasi  yang dinilai aman dan menguntungkan, terutama dari sisis nilai jual kembali. (Yetede)

Bungkil Inti Sawit Tetap Menjadi Komoditas Utama Ekspor

HR1 10 Oct 2024 Bisnis Indonesia

Indonesia berhasil menjadikan Selandia Baru sebagai pasar utama ekspor bungkil inti sawit atau palm kernel expeller (PKE), dengan penyerapan mencapai 74% dari total ekspor PKE, yaitu sekitar 26 juta ton pada 2023. Direktur Standar Karantina Tumbuhan Badan Karantina Indonesia, AM Adnan, menyebut bahwa selain Selandia Baru, PKE juga diekspor ke Australia, China, Jerman, Prancis, Jepang, dan Belanda. Namun, untuk dapat memasuki pasar Selandia Baru, eksportir harus memenuhi standar ketat terkait sanitasi dan fitosanitasi sesuai kesepakatan antara Kementerian Pertanian Indonesia dan Kementerian Industri Primer Selandia Baru sejak 2013.

Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatra Selatan, Kostan Manalu, menambahkan bahwa pihaknya terus mendampingi perusahaan sawit di Sumatra Selatan untuk memenuhi persyaratan ekspor PKE melalui diskusi kelompok terarah (focus group discussion) agar dapat meningkatkan volume ekspor. Data menunjukkan bahwa ekspor PKE dari wilayah tersebut meningkat dari 157.000 ton pada 2022 menjadi 169.000 ton pada 2023.

Selain itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti potensi pasar minyak sawit mentah (CPO) di Bulgaria, yang mendorong adanya penjajakan hubungan sister city antara Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan salah satu kota di Bulgaria. Sri Mulyani menyebut bahwa pertemuan ini dapat membuka peluang kerjasama bilateral di sektor pangan, sawit, dan pariwisata antara kedua wilayah.

Bangkitkan Industri Hilir Sehingga Ekspor Meningkat

KT1 03 Oct 2024 Investor Daily (H)
Hilirisasi sumber daya alam (SDA) berjalan sukses selama 10 tahun pemerintahan Jokowi. Investasi mengalir deras ke proyek hilirisasi, sehingga ekspor berbasis komoditas SDA meningkat yang pada ujungnya  meningkatkan ketahanan ekonomi dari gejolak eksternal. Kini waktunya pemerintahan baru yang dipimpin Prabowo Subianto melanjutkan program ini dengan membangun industri hilir yan bisa menyerap produk hilirisasi. Tujuannya agar nilai tambah yang diperolah Indonesia dari hilirisasi makin besar. Hal itu juga bisa memacu industrialisasi secara besar-besaran, sehingga porsi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) bisa kembali di atas 20%. Selama ini, hilirisasi mineral baru menyentuh produk setengah jadi, dimana pengolahannya didalam negeri baru sampai ke feronikel, nickle pig iron (NPI), hingga mixed hydroxide precipitate (MHP). Ketika produk turunan nikel itu lantas di ekspor, kebanyakan China untuk diolah kembali untuk produk manufaktur jadi. (Yetede)

Penambangan Pasir Laut, Berdampak Buruk Bagi Kelautan

KT1 01 Oct 2024 Tempo
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan tidak kendur dalam melanjutkan rencana membuka keran ekspor pasir laut melalui kebijakan pengelolaan sedimentasi laut. Kebijakan ini menuai kritik publik karena dapat merusak lingkungan. Bahkan kebijakan ekspor pasir laut dinilai bakal melenyapkan potensi karbon biru yang tersimpan dalam ekosistem pesisir dan laut. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira menjelaskan, laut Indonesia berpotensi menyumbang 17 persen dari total cadangan karbon biru yang ada di bumi. “Artinya, kalau ada eksploitasi pasir laut, potensi karbon biru itu pasti berkurang. Penambangan pasir laut pasti berdampak pada ekosistem pesisir dan mangrove,” kata Bhima ketika dihubungi pada Senin, 30 September 2024.

Bhima lantas mengingatkan bahwa pemerintah memiliki target ambisius mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) nasional. Merujuk pada dokumen Nationally Determined Contributions (NDC), Indonesia menetapkan target pengurangan emisi sebesar 32 persen atau 912 juta ton setara dengan karbon dioksida (CO2e) dengan kemampuan sendiri pada 2030. Dokumen ini dibarengi peta jalan emisi nol bersih (net zero emission) yang akan dicapai pada 2060. NDC merupakan komponen utama Perjanjian Paris 2015 yang mensyaratkan negara-negara, tak terkecuali Indonesia, menahan peningkatan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celsius. Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) mewajibkan Indonesia menyampaikan dokumen Second NDC paling lambat pada Maret 2025. (Yetede)
  

Ekspor Kelapa Nasional Ditargetkan US$ 5,23 Miliar pada 2045

KT1 01 Oct 2024 Investor Daily (H)
Ekspor kelapa nasional ditargetkan US$ 5,23 miliar pada 2045, atau meningkat 235.26% dibandingkan realisasi 2023 yang hanya US$ 1,56 miliar. Guna mencapai target itu, Indonesia harus  menggenjot hilirisasi dengan fokus pada produk-produk turunan kelapa yang bernilai tambah tinggi, seperti karbon aktif, nanoselulosa, dan biovtur. Sebagai pedoman, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan bersinergi meluncurkan Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025-2045. Dokumen Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan nasional (PPN/Bappenas) menyebutkan, produktivitas kelapa nasional stagnan 1,1 ton per hektare (ha), lalu 98.95% perkebunan berupa kebun rakyat tradisional tanpa  pengorganisasian dan regenerasi, serta 378.191 ha tanaman tidak menghasilkan/tua/rusak/dengan kemampuan replanting (peremajaan) 6.000-10.000 ha per tahun. Di sisi lain, sebanyak 756,98 juta kelapa bulat masih diekspor dengan pajak 0%, lalu 52,34% pemanfaatan dalam bentuk kopra guna diolah menjadi minyak, kemudian 3,68 juta ton air kelapa  di tanam diperkebunan rakyat dengan pola budi daya tradisonal sehingga produktivitasnya rendah. (Yetede)

2025, Pemerintah Buka Peluang Perpanjangan Relaksasi Izin Ekspor Konsentrat Tembaga

KT1 26 Sep 2024 Investor Daily (H)
Pemerintah buka peluang perpanjangan relaksasi izin ekspor konsentrat tembaga. Hal ini dengan memperhatikan tingkat kemampuan produksi smeleter tembaga. Adapun kelonggaran izin ekspor ini berlaku hingga akhir 2024. kelongggaran hingga akhir tahun ini lantaran smelter tembaga ditargetkan  beroperasi penuh pada Desember 2024. Tercatat ada dua smelter tembaga yang sudah mulai tahap produksi yakni milik PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Secara teknis produksi smelter harus dilakukan  secara bertahap menuju kapasitas penuh. Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan  (PUSHEP) Bisman Bakhtiar    mengatakan relaksasi izin ekspor sudah berulang kali dilakukan pemerintah. Seharusnya izin ekspor konsetrat tembaga berakhir pada Juni 2023. Namun pemerintah memberikan rileksasi hingga Mei 2024 dengan mempertimbangkan penyelesaian pembangunan smelter. (Yetede)

Ekspor Pasir laut Dapat Merusak Lingkungan

KT3 23 Sep 2024 Kompas

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mengklaim ekspor pasir laut akan berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kendati demikian, anggota Dewan dan pengamat masih mengecam kebijakan tersebut karena akan merusak lingkungan dan tidak sesuai dengan prinsip pembangunan ekonomi berkelanjutan. Pemerintah kembali membuka keran ekspor pasir laut setelah 20 tahun dibekukan seiring dengan berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2023 tentan Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut. Dalam hal ini, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan akan membentuk tim khusus yang bertugas mengawasi kegiatan ekspor pasir laut sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 

PP No 26/2023 telah mengamanatkan revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 20/2024 tentang Perubahan Kedua atas Permendag No 22/2023 tentang Baran yang Dilarang untuk Diekspor serta Permendag No 21/2024 tentang Perubahan Kedua atas Permendag No 23/2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Ekspor guna mendukung ekspor pasir laut. Selain itu, ketentuan lain juga diatur dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) No 47/2024 tentang Spesifikasi Pasir Hasil Sedimentasi di Laut untuk Ekspor. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Askolani mengatakan, material yang akan diekspor bukanlah pasir laut, melainkan sedimentasi. Ini merujuk pada ketentuan yang telah dibuat oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kementerian Perdagangan (Kemendag).

”Sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan, misalnya, pada satu titik akan dilihat apakah di situ layakuntuk bisa diekspor sedimen tadi? Nanti akan diverifikasi oleh banyak unit kementerian, KKP dan Kemendag, untuk memastikan sedimen yang diambil itu tidak menyalahi ketentuan,” katanya saat ditemui di Kantor Pusat DJBC, Jakarta, Jumat (20/9/2024). Dalam Permendag No 21/2024 yang merujuk pada Kepmen KP No 47/2024, misalnya, terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi sebagai prasyarat ekspor pasir laut. Prasyarat tersebut meliputi ditetapkan sebagai eksportir terdaftar, memiliki persetujuan ekspor, dan terdapat laporan surveyor. (Yetede)

Ekspor Perhiasan Melonjak 18,66%

KT1 23 Sep 2024 Investor Daily (H)

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kinerja ekspor perihasan pada Januari-Juli 2024 telah menyentuh US$ 3,67 miliar atau melonjak 18,66% dibandingkan periode yang sama pada 2023. Sepanjang 2023, ekspor barang perhiasan dan barang berharga mencapai US$ 5,6 miliar atau naik 46,88% dibandingkan 2022 yang berada di angka US$ 3,8 miliar. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Yenita menerangkan, pihaknya aktif mendorong kemudahan akses untuk perluasan pasar bagi para pelaku industri perhiasan, khususnya sektor  industri kecil dan menengah (IKM).

"Tren positif ini tentunya menjadi pelecut bagi pelaku industri perhiasan dalam negeri untuk terus mengembangkan produk dan ekspansi pasarnya," kata dia. Dirjen IKMA menuturkan bahwa berdasarkan data Trademap.org, Indonesia sendiri menduduki peringkat ke-12 sebagai negara eksportir terbesar produk perhiasan ke dunia, dengan angka market share 2,4%. "Angka ini harus terus kita dorong dan maksimalkan, serta kita harus melibatkan pelaku IKM agar turut merasakan dampak positif dari tren peningkatan ekspor produk perhiasan dalam negeri," ucap dia. (Yetede)