;
Tags

Ekspor

( 1055 )

Kodok dari Sumsel Diminati Pasar Eropa

KT3 09 Dec 2023 Kompas
Kodok dari Sumsel mendapatkan tempat tersendiri di pasar Eropa, antara lain Perancis, Belgia, dan Denmark. Namun, karena tergantung dari tangkapan di alam, volume ekspor kodok masih terbatas dan cenderung menurun dalam dua tahun terakhir. ”Kodok dari Sumsel ini sudah sering diekspor, antara lain ke Perancis. Kodok berpotensi besar menjadi primadona ekspor dari Sumsel karena geografinya yang sebagian besar berupa  lahan rawa. Tetapi, kita jangan terus bergantung pada tangkapan alam karena lama-lama bisa habis. Jadi, kami sarankan Sumsel bisa mengembangkan budidayanya,” ujar Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat Manaor Panggabean dalam pelepasan ekspor di Pelabuhan Boom Baru, Palembang, Sumsel, Jumat (8/12). Kodok diekspor dalam bentuk olahan berupa paha kodok beku. Kali ini, kodok diekspor ke Perancis dengan nilai  Rp 2,3 miliar, relatif besar dan menarik untuk terus dikembangkan. Apalagi, persyaratan ekspor itu relatif tidak sulit, yakni tinggal menjaga standar kelayakan konsumsi. 

”Kalau dalam bentuk hidup, banyak aspek yang harus dipenuhi, seperti kesehatan atau penyakitnya,” kata Sahat. Pengendali Hama Penyakit Ikan Ahli Muda, Balai Karantina Ikan Palembang, Mardian menuturkan, kodok yang diekspor itu berasal dari genus Fejervarya yang banyak hidup di sawah dan lahan rawa, antara lain di kawasan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, di seputaran Ogan Komering Ilir, dan Palembang. Ekspor produk olahan kodok itu sudah dilakukan Sumsel sejak 1980-an dan hampir setiap bulan. Negara tujuan ekspor sebagian besar di Eropa, seperti Perancis, Belgia, dan Denmark. Karena kodok berasal dari tangkapan alam, volume ekspor produk olahan kodok bergantung pada musim. Musim kemarau panjang tahun ini, volume ekspor pun turun. Pada 2022, ada 26 pengiriman ke Perancis, Belgia, dan Denmark sebesar 446,412 kg senilai Rp 55,66 miliar. Per 8 Desember 2023, turun menjadi 245,646 kg senilai Rp 53,235 miliar dari 25 pengiriman ke Perancis dan Belgia. (Yoga)

Aturan Devisa Ekspor Dievaluasi Lagi

HR1 04 Dec 2023 Kontan
Pemerintah memperpanjang masa evaluasi penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 36/2023 tentang Devisa Hasil Ekspor dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan dan Pengolahan Sumber Daya Alam. Perpanjangan masa eveluasi ini untuk menampung masukan para pelaku usaha atau eksportir terkait beleid tersebut. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyampaikan, evaluasi kebijakan ini akan berlangsung dalam tiga bulan ke depan sejak November 2023 hingga hingga Februari 2024. Ia meyakini perpanjangan evaluasi akan meningkatkan kepatuhan eksportir untuk menyimpan DHE dalam sistem keuangan dalam negeri minimal selama tiga bulan. Dari catatan pemerintah, berdasarkan hasil evaluasi oleh Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan, telah terjadi peningkatan ekspor SDA sejak Juli 2023 yang diikuti kenaikan pendapatan pada rekening khusus (reksus). Selain itu, pangsa ekspor SDA mengalami peningkatan hingga di atas 60%. Lebih lanjut, penerimaan DHE SDA pada rekening khusus turut mendorong peningkatan penyaluran kredit valas bank dan dana pihak ketiga (DPK) valas bank, sejalan dengan penempatan DHE ke deposito valas bank. Adapun penerimaan DHE SDA pada Agustus 2023 mencapai  US$ 10,5 miliar, kemudian pada September 2023 turun tipis menjadi  US$  9 miliar dan pada Oktober 2023 kembali naik menjadi sebesar US$ 10,2 miliar. Sementara nilai yang ditempatkan mencapai  US$ 2,7 miliar pada Agustus 2023, sebesar US$ 2,3 miliar pada September 2023, dan  US$ 2,9 miliar pada Oktober 2023. "Harusnya persentase penempatan sebesar 30% dari nilai penerimaan, namun saat ini kisarannya di angka 25% hingga 29%," tambah Susiwijono. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, tingkat kepatuhan aturan PP No. 36/2023 sudah baik. Menurut catatannya, yang tidak patuh hanya sekitar 1% saja. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, pemerintah masih perlu mendengar masukan atau keluhan pengusaha karena kemungkinan ada faktor lain yang menyebabkan penempatan DHE SDA masih minim. Sebab, insentif yang diberikan pemerintah seharusnya menarik bagi pengusaha. Sementara itu, Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi menilai, agar penerapan DHE SDA berjalan sesuai harapan, perlu ada insentif tambahan bagi pengusaha. Misalnya diskon pajak penghasilan (PPh) bunga dari penempatan DHE bisa diperbesar atau jangka waktu yang lebih menarik.

Jutaan Benur Ilegal Mengalir ke Vietnam

KT3 02 Dec 2023 Kompas

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan, kebutuhan benih bening lobster di Vietnam mencapai 600 juta ekor per tahun. Seluruh kebutuhan itu dipenuhi oleh benih bening lobster ilegal hasil selundupan dari Indonesia. Pengetatan patroli dan kerja sama industri tengah diupayakan untuk menghentikan penyelundupan tersebut. Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP Laksamana Muda Adin Nurawaluddin menyatakan, larangan ekspor benih bening lobster atau benur belum berjalan optimal. Benur diselundupkan melalui jalur darat, laut, dan udara, dan hingga kini terus berlangsung.

”Industri Vietnam mengakui semua benur berasal dari Indonesia. Padahal, Indonesia tidak membolehkan ekspor benur. Jadi, bisa disimpulkan, industri di Vietnam mendapatkan pasokan benur secara ilegal,” kata Adin di Pangkalan PSDKP Batam, Kepulauan Riau, saat membuka Operasi Terkoordinasi Pengawasan dan Penindakan Penyelundupan Benih Bening Lobster, Jumat (1/12). Ia menambahkan, permintaan benur untuk industri pembesaran lobster di Vietnam mencapai 600 juta ekor per tahun. Dengan asumsi penyelundup benur mendapat keuntungan Rp 5.000 hingga Rp 50.000 per ekor benur, penyelundupan itu menghilangkan potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berkisar Rp 3 triliun hingga Rp 30 triliun per tahun. (Yoga)

TEMPE, MEMBALIK NASIB PENGIMPOR KEDELAI

KT3 01 Dec 2023 Kompas

Tidak pernah terbayang oleh Cucup Ruhiyat, usaha pembuatan tempe tradisional yang digelutinya sekarang menjelma menjadi industri skala ekspor bervolume puluhan ton per bulan. Bahkan, salah satu pasarnya adalah AS, negara asal kedelai yang mereka impor untuk bahan baku tempe. Dengan merek dagang Azaki, tempe beku produksi Rumah Tempe Azaki itu telah menembus pasar di empat negara. Selain AS, Azaki sudah merambah konsumen di Jepang, Korsel, dan Taiwan. ”Tanggal 30 November nanti, kami ekspor 3 ton tempe ke pasar baru, Hong Kong,” ujar Cucup yang juga menjabat Direktur Utama Rumah Tempe Azaki saat dihubungi, Senin (27/11). Melalui pabrik di Bogor, Jabar, Rumah Tempe Azaki menapaki cerita sukses ekspor tempe sejak 2021. Total ekspornya kini mencapai 40-50 ton setiap bulan. Ini sekaligus menjadi pabrik tempe terbesar di dunia, dengan kapasitas produksi 135 ton per bulan.

Cucup pun tengah membidik sejumlah negara lain untuk pemasaran produknya, antara lain China dan India. Selain itu, perusahaannya juga mengembangkan produk lain untuk diekspor, yakni keripik tempe. Di tengah masih bergantungnya Indonesia pada impor kedelai, ekspor tempe yang dilakukan Azaki menjadi salah satu ”obat penawar”. Bahan baku yang diimpor diberi nilai tambah, kemudian diekspor. Berdasarkan data BPS, pada 2022, volume impor kedelai sebesar 2,3 juta ton. Dari jumlah itu, 1,9 juta ton (83 %) berasal dari AS. Adapun produksi kedelai dalam negeri hanya sekitar 300.000 ton. Melalui ekspor tempe, kedelai jadi pengungkit nilai tambah yang akan dinikmati di dalam negeri. Cucup menjelaskan, profit ekspor bisa 2-3 kali lipat lebih besar daripada penjualan di dalam negeri. Keuntungan lain bagi perekonomian nasional adalah penyerapan tenaga kerja dan perputaran uang dari rantai produksi. (Yoga)

PERDAGANGAN INTERNASIONAL, RI Semakin Bergantung kepada China

KT3 28 Nov 2023 Kompas

Di saat sejumlah negara maju mengurangi ketergantungan dagang kepada China, Indonesia justru semakin bergantung kepada negara itu. Ada keuntungan sekaligus risiko bagi Indonesia semakin bergantung kepada ”Negeri Tirai Bambu” itu. AS pelan-pelan meninggalkan China sejak Donald Trump memulai perang dagang dengan negara itu pada tahun 2018. Sejumlah langkah terkait dengan sektor perdagangan dan industri telah dan sedang ditempuh. Hal itu mulai dari merelokasi industri yang dilakukan ke sejumlah negara di Asia dan Eropa Timur. AS juga menggulirkan kebijakan rendah karbon yang salah satu tujuannya adalah mengurangi kekuatan China atas bahan baku kunci kendaraan dan baterai listrik, seperti litium, kobalt, nikel, dan magnesium. AS bahkan membuat UU Cip dan Ilmu Pengetahuan untuk meningkatkan daya saing AS terhadap China dengan mengalokasikan anggaran miliaran USD untuk produksi semikonduktor, riset, dan sumber daya manusia.

Berdasarkan data Survei Geologi AS (USGS), pada 2022, China menyumbang 44 juta ton dari 115,82 juta ton atau 62,01 % produksi tambang logam tanah jarang (rare earth) dunia. Dominasi China itu memunculkan kekhawatiran. Beijing akan membatasi ekspor untuk merusak saingan ekonomi atau politiknya. ”Semula ancaman itu hanya tersirat selama beberapa waktu terakhir. Kini, ancaman itu sudah terjadi,” kata Robert Dujarric, Co-Director Institute of Contemporary Asian Studies di Temple University, Tokyo. Sejak menggulirkan hilirisasi di sektor besi-baja dan nikel, ekspor Indonesia ke China semakin meningkat. Diversifikasi produk ekspor juga makin beragam dengan semakin menguatnya produk olahan berbasis bijih logam. China in the World mencatat, tingkat pengaruh China terhadap Indonesia cukup tinggi. Indonesia menempati peringkat ke-16 dari 82 negara. Sektor di Indonesia yang paling terpengaruh China adalah kebijakan luar negeri dengan indeks 41 %, teknologi (40,38 %), kebijakan dalam negeri (37,2 %), dan ekonomi (33,6 %). Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, Minggu (26/11) menuturkan, proporsi nilai ekspor Indonesia ke China pada 2012 sebesar 11 % dari total nilai ekspor Indonesia. Hingga Juli 2023, proporsi nilai ekspor itu meningkat menjadi 24 persen. Nilai ekspor besi-baja RI ke China terus meningkat sejak 2016 hingga Juli 2023. Begitu juga dengan nilai ekspor nikel dan produk turunannya yang mulai tumbuh pada 2022 hingga Juli 2023. (Yoga)

Komoditas Dunia Menuju Harga Fundamental

KT3 25 Nov 2023 Kompas

Komoditas dunia dan ekspor unggulan Indonesia, seperti CPO, batubara, dan nikel, tengah berproses menuju pembentukan harga fundamentalnya. Tren harga sejumlah komoditas itu diperkirakan akan tetap turun, tetapi tidak akan serendah harga sebelum pandemi Covid-19. Kenaikan harga terjadi sejak pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. Vice President for Industry and Regional Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani mengatakan, saat ini, normalisasi harga komoditas dunia tengah terjadi. Normalisasi yang terjadi sejak awal 2023 itu diperkirakan berlangsung hingga 2025. ”Kendati masih bergejolak, tren harga komoditas akan terus turun meskipun tidak akan lebih rendah dari harga pada 2019,” ujarnya ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (24/11).

Menurut Dendi, tim ekonom Bank Mandiri memperkirakan harga CPO pada 2024 dan 2025 sekitar 761,8 USD per ton dan 771,7 USD per ton. Harga perkiraan pada 2024 dan 2025 itu lebih rendah dibandingkan perkiraan harga pada 2023, yakni 869,4 USD per ton. Namun, harga tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada 2019, yakni 524,5 USD per ton. ”Kami melihat ada beberapa faktor risiko ke depan yang bisa menekan harga CPO. Di sisi lain, ada juga faktor lain yang tidak akan membuat harga CPO turun drastis,” katanya. Risiko tersebut adalah pelemahan ekonomi dan tingginya tingkat suku bunga global yang bisa menciptakan sentimen negatif di pasar CPO. (Yoga)

Gempor Akibat Lesunya Pasar Ekspor

HR1 25 Nov 2023 Kontan

Emiten saham furnitur, PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD), tengah berjuang mempertahankan bisnisnya di tengah pelemahan permintaan mebel dan komponen bangunan ( building component ) di pasar ekspor. Pada kuartal III-2023, kinerja keuangan WOOD lesu darah. Penjualan bersih WOOD turun 56,04% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 1,71 triliun. Penjualan building component turun terdalam, sebesar 62,74% yoy, menjadi Rp 898,43 miliar. Bersamaan dengan itu, laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk WOOD juga terjun 80,33% yoy menjadi Rp 59,14 miliar. Fajar Andika, Investor Relation Integra Indocabinet bilang, penjualan furnitur dan building component memiliki korelasi yang kuat dengan kondisi ekonomi Amerika Serikat. Ini mengingat mayoritas ekspor WOOD ditujukan ke Negeri Paman Sam. Dalam catatan KONTAN, Integra Indocabinet memangkas proyeksi penjualannya menjadi turun sekitar 40%--50% pada tahun ini. Walau demikian, manajemen WOOD optimistis perekonomian AS bisa berangsur-angsur pulih. Jika ekonomi pulih, permintaan furnitur di pasar Amerika Serikat juga bisa bangkit lagi. "Sebab, titik terendah penurunan industri furnitur AS sebenarnya berlangsung ada di semester kedua tahun lalu," kata Fajar, Jumat (24/11). Menurut data Trade Map, pada tahun 2022, AS menjadi negara pengimpor furnitur terbesar di dunia dengan nilai US$ 86,73 miliar atau setara dengan 29,1% dari total nilai impor furnitur secara global. "Oleh sebab itu, kami masih berusaha untuk melakukan penetrasi pasar ke AS dengan menambah portofolio pelanggan," ujar Fajar. Sembari menunggu pulihnya pasar ekspor, Integra Indocabinet menempuh sejumlah diversifikasi untuk menekan risiko. Upaya yang bisa dilakukan perusahaan ini adalah dengan menggenjot penjualan produk-produk furnitur di pasar domestik. Meski begitu, pilihan menggenjot pasar dalam negeri juga sama-sama menantang lantaran juga sedang melambat. Merujuk laporan keuangan WOOD, penjualan produk building component turun 58,70% yoy menjadi Rp 14,75 miliar pada kuartal III-2023. Berdasar catatan KONTAN, tahun ini WOOD menyiapkan capital expenditure (capex) atau belanja modal sebesar Rp 100 miliar hingga Rp 150 miliar. Dari alokasi tersebut, WOOD sudah membelanjakan sekitar Rp 50 miliar hingga mendekati akhir tahun ini.

Diversifikasi Pasar Stagnan, Ekspor RI Bakal Melambat

KT3 24 Nov 2023 Kompas

Kinerja ekspor Indonesia pada 2024 diperkirakan akan melambat seiring dengan perlambatan ekonomi AS dan China. Hal itu terjadi di tengah stagnasi diversifikasi pasar ekspor Indonesia dalam 12 tahun terakhir ini. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, Kamis (23/11) mengatakan, tahun depan ekonomi global diperkirakan tumbuh lambat dibandingkan   tahun ini. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi global pada 2024 tumbuh 2,9 % atau lebih rendah dari 2023 yang sebesar 3 %. Hal itu terutama dipengaruhi perlambatan ekonomi di AS dan China yang pada 2024 diperkirakan tumbuh 1,4 % dan 4,2 %. Angka itu lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi AS dan China pada 2023 yang diperkirakan masing-masing 2,1 % dan 5 %.

Menurut Faisal, konsumsi rumah tangga di kedua negara tersebut diproyeksikan masih lemah sehingga berpengaruh terhadap permintaan domestik. Di AS, pendapatan masyarakat masih stagnan dan simpanan bantuan pandemi mereka semakin menipis. Adapun di China, pemulihan pascapandemi Covid-19 tertekan krisis bisnis properti yang berkontribusi 25-30 % terhadap perekonomian negara tersebut. Utang pengusaha juga menumpuk karena Pemerintah China membatasi kredit. ”AS dan China merupakan pangsa pasar utama ekspor Indonesia. Jika konsumsi kedua negara itu melemah, maka permintaan ekspor akan turut melemah. Kondisi itu akan berpengaruh besar terhadap kinerja ekspor Indonesia,” ujarnya dalam acara Gambir Trade Talk #12: ”Outlook Perdagangan Luar Negeri Indonesia Tahun 2024” yang digelar secara hibrida. (Yoga)

Ekspor Nonmigas Diprediksi Tembus US$ 300 M

KT1 24 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Ekspor non migas masih akan terus melanjutkan pertumbuhannya pada tahun depan, diperkirakan akan mencapai kisaran 3,3%-4,5% atau antara US$ 295,9-US$ 303,9 miliar. Pemerintah diharapkan bakal menekan menekan dampak negatif dari perlambatan ekonomi mitradagang utama, yaitu China dan Amerika Serikat di 2024. Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Mendag) Didi Sumedi mengatakan, dalam laporan World Economi Outlook (WEO) Oktober 2023, International Monetery Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melambat dari 3,5% dan turun lagi ke angka 2,9% pada 2024. Meski demikian, Indonesia masih memiliki peluang untuk terus bangkit, sebab pertumbuhan ekonomi nasional mampu mencatatkan angka 5% selama tujuh kuartal berturut-turut. "Ekspor nonmigas diperkirakan tumbuh di kisaran 3,3-4,5% atau antara US$ 295,9-US$ 303,9 miliar. Untuk negara perdagangan , diramal menyentuh , diramal menyentuh antara US$ 22,5-US$ 47,1 miliar. Sementara rasio jasa terhadap PDB diperkirakan tumbuh ,0% di 2024," ucap dia. (Yetede)

KINERJA EKSPOR : China Terpikat Sawit Sumbar

HR1 22 Nov 2023 Bisnis Indonesia

China kian terpikat dengan produk minyak sawit asal Sumatra Barat (Sumbar).Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang mencatat bahwa selain China, CPO asal wilayah ini juga dikirim ke Aljazair, Arab Saudi, dan Brasil.Keempat pasar ini mendominasi pengiriman minyak sawit Sumbar pada periode Januari hingga November 2023.Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang Iswan Haryanto mengatakan bahwa ekspor minyak sawit mengalami peningkatan yang cukup tinggi pada 2023.Dia menjelaskan bahwa pada periode Januari hingga 20 November 2023 tercatat telah ada pengiriman ke pasar internasional sebanyak 76 kali dengan jumlah tonase sebesar 235.000 ton senilai Rp2,8 triliun. Dengan demikian, realisasi pengiriman hingga 20 November 2023, naik 74.000 ton. Nilai ekspor juga meningkat lebih dari Rp2 miliar dan frekuensinya juga naik 14.”Jadi dari segi frekuensi naik, tonase naik, dan nilainya juga naik, bila dibandingkan antara 2022 dan hingga 20 November 2023,” katanya. Dia menilai bahwa komoditas minyak sawit ini kontributor ekspor tertinggi Sumbar dibandingkan komoditas lainnya seperti karet, cangkang sawit, dan gambir.”Minyak sawit ini komoditas unggulan Sumbar. Dengan adanya peningkatan ekspor tahun ini, berarti kondisi perkebunan sawit di Sumbar lagi baik,” jelasnya.Kendati demikian, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (Pemprov Sumbar) mengungkapkan bahwa ada perkebunan kelapa sawit seluas 98.727 hektare (ha) yang perlu diremajakan.Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatra Barat mengungkapkan bahwa dari 98.727 ha, kebun kelapa sawit itu, terdapat 66.522 ha yang merupakan kebun plasma dan 33.955 ha berupa kebun swadaya. Sekretaris Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumbar Ferdinal Asmin menjelaskan bahwa hingga tahun lalu program peremajaan sawit telah menjangkau sebanyak 31.000 ha. Hanya saja, pihaknya mematok target bahwa sepanjang tahun ini terdapat replanting kelapa sawit pada lahan seluas 5.300 ha yang tersebar di tujuh kabupaten. Target ini, imbuhnya, hanya khusus untuk perkebunan sawit rakyat (PSR), sedangkan untuk plasma akan dilakukan oleh pihak perusahaan atau mitranya.