;
Tags

Ekspor

( 1052 )

TEMPE, MEMBALIK NASIB PENGIMPOR KEDELAI

KT3 01 Dec 2023 Kompas

Tidak pernah terbayang oleh Cucup Ruhiyat, usaha pembuatan tempe tradisional yang digelutinya sekarang menjelma menjadi industri skala ekspor bervolume puluhan ton per bulan. Bahkan, salah satu pasarnya adalah AS, negara asal kedelai yang mereka impor untuk bahan baku tempe. Dengan merek dagang Azaki, tempe beku produksi Rumah Tempe Azaki itu telah menembus pasar di empat negara. Selain AS, Azaki sudah merambah konsumen di Jepang, Korsel, dan Taiwan. ”Tanggal 30 November nanti, kami ekspor 3 ton tempe ke pasar baru, Hong Kong,” ujar Cucup yang juga menjabat Direktur Utama Rumah Tempe Azaki saat dihubungi, Senin (27/11). Melalui pabrik di Bogor, Jabar, Rumah Tempe Azaki menapaki cerita sukses ekspor tempe sejak 2021. Total ekspornya kini mencapai 40-50 ton setiap bulan. Ini sekaligus menjadi pabrik tempe terbesar di dunia, dengan kapasitas produksi 135 ton per bulan.

Cucup pun tengah membidik sejumlah negara lain untuk pemasaran produknya, antara lain China dan India. Selain itu, perusahaannya juga mengembangkan produk lain untuk diekspor, yakni keripik tempe. Di tengah masih bergantungnya Indonesia pada impor kedelai, ekspor tempe yang dilakukan Azaki menjadi salah satu ”obat penawar”. Bahan baku yang diimpor diberi nilai tambah, kemudian diekspor. Berdasarkan data BPS, pada 2022, volume impor kedelai sebesar 2,3 juta ton. Dari jumlah itu, 1,9 juta ton (83 %) berasal dari AS. Adapun produksi kedelai dalam negeri hanya sekitar 300.000 ton. Melalui ekspor tempe, kedelai jadi pengungkit nilai tambah yang akan dinikmati di dalam negeri. Cucup menjelaskan, profit ekspor bisa 2-3 kali lipat lebih besar daripada penjualan di dalam negeri. Keuntungan lain bagi perekonomian nasional adalah penyerapan tenaga kerja dan perputaran uang dari rantai produksi. (Yoga)

PERDAGANGAN INTERNASIONAL, RI Semakin Bergantung kepada China

KT3 28 Nov 2023 Kompas

Di saat sejumlah negara maju mengurangi ketergantungan dagang kepada China, Indonesia justru semakin bergantung kepada negara itu. Ada keuntungan sekaligus risiko bagi Indonesia semakin bergantung kepada ”Negeri Tirai Bambu” itu. AS pelan-pelan meninggalkan China sejak Donald Trump memulai perang dagang dengan negara itu pada tahun 2018. Sejumlah langkah terkait dengan sektor perdagangan dan industri telah dan sedang ditempuh. Hal itu mulai dari merelokasi industri yang dilakukan ke sejumlah negara di Asia dan Eropa Timur. AS juga menggulirkan kebijakan rendah karbon yang salah satu tujuannya adalah mengurangi kekuatan China atas bahan baku kunci kendaraan dan baterai listrik, seperti litium, kobalt, nikel, dan magnesium. AS bahkan membuat UU Cip dan Ilmu Pengetahuan untuk meningkatkan daya saing AS terhadap China dengan mengalokasikan anggaran miliaran USD untuk produksi semikonduktor, riset, dan sumber daya manusia.

Berdasarkan data Survei Geologi AS (USGS), pada 2022, China menyumbang 44 juta ton dari 115,82 juta ton atau 62,01 % produksi tambang logam tanah jarang (rare earth) dunia. Dominasi China itu memunculkan kekhawatiran. Beijing akan membatasi ekspor untuk merusak saingan ekonomi atau politiknya. ”Semula ancaman itu hanya tersirat selama beberapa waktu terakhir. Kini, ancaman itu sudah terjadi,” kata Robert Dujarric, Co-Director Institute of Contemporary Asian Studies di Temple University, Tokyo. Sejak menggulirkan hilirisasi di sektor besi-baja dan nikel, ekspor Indonesia ke China semakin meningkat. Diversifikasi produk ekspor juga makin beragam dengan semakin menguatnya produk olahan berbasis bijih logam. China in the World mencatat, tingkat pengaruh China terhadap Indonesia cukup tinggi. Indonesia menempati peringkat ke-16 dari 82 negara. Sektor di Indonesia yang paling terpengaruh China adalah kebijakan luar negeri dengan indeks 41 %, teknologi (40,38 %), kebijakan dalam negeri (37,2 %), dan ekonomi (33,6 %). Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, Minggu (26/11) menuturkan, proporsi nilai ekspor Indonesia ke China pada 2012 sebesar 11 % dari total nilai ekspor Indonesia. Hingga Juli 2023, proporsi nilai ekspor itu meningkat menjadi 24 persen. Nilai ekspor besi-baja RI ke China terus meningkat sejak 2016 hingga Juli 2023. Begitu juga dengan nilai ekspor nikel dan produk turunannya yang mulai tumbuh pada 2022 hingga Juli 2023. (Yoga)

Komoditas Dunia Menuju Harga Fundamental

KT3 25 Nov 2023 Kompas

Komoditas dunia dan ekspor unggulan Indonesia, seperti CPO, batubara, dan nikel, tengah berproses menuju pembentukan harga fundamentalnya. Tren harga sejumlah komoditas itu diperkirakan akan tetap turun, tetapi tidak akan serendah harga sebelum pandemi Covid-19. Kenaikan harga terjadi sejak pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. Vice President for Industry and Regional Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani mengatakan, saat ini, normalisasi harga komoditas dunia tengah terjadi. Normalisasi yang terjadi sejak awal 2023 itu diperkirakan berlangsung hingga 2025. ”Kendati masih bergejolak, tren harga komoditas akan terus turun meskipun tidak akan lebih rendah dari harga pada 2019,” ujarnya ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (24/11).

Menurut Dendi, tim ekonom Bank Mandiri memperkirakan harga CPO pada 2024 dan 2025 sekitar 761,8 USD per ton dan 771,7 USD per ton. Harga perkiraan pada 2024 dan 2025 itu lebih rendah dibandingkan perkiraan harga pada 2023, yakni 869,4 USD per ton. Namun, harga tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada 2019, yakni 524,5 USD per ton. ”Kami melihat ada beberapa faktor risiko ke depan yang bisa menekan harga CPO. Di sisi lain, ada juga faktor lain yang tidak akan membuat harga CPO turun drastis,” katanya. Risiko tersebut adalah pelemahan ekonomi dan tingginya tingkat suku bunga global yang bisa menciptakan sentimen negatif di pasar CPO. (Yoga)

Gempor Akibat Lesunya Pasar Ekspor

HR1 25 Nov 2023 Kontan

Emiten saham furnitur, PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD), tengah berjuang mempertahankan bisnisnya di tengah pelemahan permintaan mebel dan komponen bangunan ( building component ) di pasar ekspor. Pada kuartal III-2023, kinerja keuangan WOOD lesu darah. Penjualan bersih WOOD turun 56,04% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 1,71 triliun. Penjualan building component turun terdalam, sebesar 62,74% yoy, menjadi Rp 898,43 miliar. Bersamaan dengan itu, laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk WOOD juga terjun 80,33% yoy menjadi Rp 59,14 miliar. Fajar Andika, Investor Relation Integra Indocabinet bilang, penjualan furnitur dan building component memiliki korelasi yang kuat dengan kondisi ekonomi Amerika Serikat. Ini mengingat mayoritas ekspor WOOD ditujukan ke Negeri Paman Sam. Dalam catatan KONTAN, Integra Indocabinet memangkas proyeksi penjualannya menjadi turun sekitar 40%--50% pada tahun ini. Walau demikian, manajemen WOOD optimistis perekonomian AS bisa berangsur-angsur pulih. Jika ekonomi pulih, permintaan furnitur di pasar Amerika Serikat juga bisa bangkit lagi. "Sebab, titik terendah penurunan industri furnitur AS sebenarnya berlangsung ada di semester kedua tahun lalu," kata Fajar, Jumat (24/11). Menurut data Trade Map, pada tahun 2022, AS menjadi negara pengimpor furnitur terbesar di dunia dengan nilai US$ 86,73 miliar atau setara dengan 29,1% dari total nilai impor furnitur secara global. "Oleh sebab itu, kami masih berusaha untuk melakukan penetrasi pasar ke AS dengan menambah portofolio pelanggan," ujar Fajar. Sembari menunggu pulihnya pasar ekspor, Integra Indocabinet menempuh sejumlah diversifikasi untuk menekan risiko. Upaya yang bisa dilakukan perusahaan ini adalah dengan menggenjot penjualan produk-produk furnitur di pasar domestik. Meski begitu, pilihan menggenjot pasar dalam negeri juga sama-sama menantang lantaran juga sedang melambat. Merujuk laporan keuangan WOOD, penjualan produk building component turun 58,70% yoy menjadi Rp 14,75 miliar pada kuartal III-2023. Berdasar catatan KONTAN, tahun ini WOOD menyiapkan capital expenditure (capex) atau belanja modal sebesar Rp 100 miliar hingga Rp 150 miliar. Dari alokasi tersebut, WOOD sudah membelanjakan sekitar Rp 50 miliar hingga mendekati akhir tahun ini.

Diversifikasi Pasar Stagnan, Ekspor RI Bakal Melambat

KT3 24 Nov 2023 Kompas

Kinerja ekspor Indonesia pada 2024 diperkirakan akan melambat seiring dengan perlambatan ekonomi AS dan China. Hal itu terjadi di tengah stagnasi diversifikasi pasar ekspor Indonesia dalam 12 tahun terakhir ini. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, Kamis (23/11) mengatakan, tahun depan ekonomi global diperkirakan tumbuh lambat dibandingkan   tahun ini. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi global pada 2024 tumbuh 2,9 % atau lebih rendah dari 2023 yang sebesar 3 %. Hal itu terutama dipengaruhi perlambatan ekonomi di AS dan China yang pada 2024 diperkirakan tumbuh 1,4 % dan 4,2 %. Angka itu lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi AS dan China pada 2023 yang diperkirakan masing-masing 2,1 % dan 5 %.

Menurut Faisal, konsumsi rumah tangga di kedua negara tersebut diproyeksikan masih lemah sehingga berpengaruh terhadap permintaan domestik. Di AS, pendapatan masyarakat masih stagnan dan simpanan bantuan pandemi mereka semakin menipis. Adapun di China, pemulihan pascapandemi Covid-19 tertekan krisis bisnis properti yang berkontribusi 25-30 % terhadap perekonomian negara tersebut. Utang pengusaha juga menumpuk karena Pemerintah China membatasi kredit. ”AS dan China merupakan pangsa pasar utama ekspor Indonesia. Jika konsumsi kedua negara itu melemah, maka permintaan ekspor akan turut melemah. Kondisi itu akan berpengaruh besar terhadap kinerja ekspor Indonesia,” ujarnya dalam acara Gambir Trade Talk #12: ”Outlook Perdagangan Luar Negeri Indonesia Tahun 2024” yang digelar secara hibrida. (Yoga)

Ekspor Nonmigas Diprediksi Tembus US$ 300 M

KT1 24 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Ekspor non migas masih akan terus melanjutkan pertumbuhannya pada tahun depan, diperkirakan akan mencapai kisaran 3,3%-4,5% atau antara US$ 295,9-US$ 303,9 miliar. Pemerintah diharapkan bakal menekan menekan dampak negatif dari perlambatan ekonomi mitradagang utama, yaitu China dan Amerika Serikat di 2024. Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Mendag) Didi Sumedi mengatakan, dalam laporan World Economi Outlook (WEO) Oktober 2023, International Monetery Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melambat dari 3,5% dan turun lagi ke angka 2,9% pada 2024. Meski demikian, Indonesia masih memiliki peluang untuk terus bangkit, sebab pertumbuhan ekonomi nasional mampu mencatatkan angka 5% selama tujuh kuartal berturut-turut. "Ekspor nonmigas diperkirakan tumbuh di kisaran 3,3-4,5% atau antara US$ 295,9-US$ 303,9 miliar. Untuk negara perdagangan , diramal menyentuh , diramal menyentuh antara US$ 22,5-US$ 47,1 miliar. Sementara rasio jasa terhadap PDB diperkirakan tumbuh ,0% di 2024," ucap dia. (Yetede)

KINERJA EKSPOR : China Terpikat Sawit Sumbar

HR1 22 Nov 2023 Bisnis Indonesia

China kian terpikat dengan produk minyak sawit asal Sumatra Barat (Sumbar).Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang mencatat bahwa selain China, CPO asal wilayah ini juga dikirim ke Aljazair, Arab Saudi, dan Brasil.Keempat pasar ini mendominasi pengiriman minyak sawit Sumbar pada periode Januari hingga November 2023.Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang Iswan Haryanto mengatakan bahwa ekspor minyak sawit mengalami peningkatan yang cukup tinggi pada 2023.Dia menjelaskan bahwa pada periode Januari hingga 20 November 2023 tercatat telah ada pengiriman ke pasar internasional sebanyak 76 kali dengan jumlah tonase sebesar 235.000 ton senilai Rp2,8 triliun. Dengan demikian, realisasi pengiriman hingga 20 November 2023, naik 74.000 ton. Nilai ekspor juga meningkat lebih dari Rp2 miliar dan frekuensinya juga naik 14.”Jadi dari segi frekuensi naik, tonase naik, dan nilainya juga naik, bila dibandingkan antara 2022 dan hingga 20 November 2023,” katanya. Dia menilai bahwa komoditas minyak sawit ini kontributor ekspor tertinggi Sumbar dibandingkan komoditas lainnya seperti karet, cangkang sawit, dan gambir.”Minyak sawit ini komoditas unggulan Sumbar. Dengan adanya peningkatan ekspor tahun ini, berarti kondisi perkebunan sawit di Sumbar lagi baik,” jelasnya.Kendati demikian, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (Pemprov Sumbar) mengungkapkan bahwa ada perkebunan kelapa sawit seluas 98.727 hektare (ha) yang perlu diremajakan.Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatra Barat mengungkapkan bahwa dari 98.727 ha, kebun kelapa sawit itu, terdapat 66.522 ha yang merupakan kebun plasma dan 33.955 ha berupa kebun swadaya. Sekretaris Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumbar Ferdinal Asmin menjelaskan bahwa hingga tahun lalu program peremajaan sawit telah menjangkau sebanyak 31.000 ha. Hanya saja, pihaknya mematok target bahwa sepanjang tahun ini terdapat replanting kelapa sawit pada lahan seluas 5.300 ha yang tersebar di tujuh kabupaten. Target ini, imbuhnya, hanya khusus untuk perkebunan sawit rakyat (PSR), sedangkan untuk plasma akan dilakukan oleh pihak perusahaan atau mitranya.

Alarm Ekspor Nonmigas

KT3 17 Nov 2023 Kompas

Ekspor nonmigas Indonesia terus menunjukkan tren penurunan sejak Oktober 2022. Perlambatan ekonomi dan permintaan global juga masih berpotensi menekan kinerja ekspor. Nilai ekspor nonmigas pada Oktober 2023, menurut BPS, adalah 20,78 miliar USD, naik 7,42 % dibandingkan September 2023, tetapi turun11,36 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ekspor nonmigas yang menyumbang 72,37 % total ekspor ini menyebabkan nilai ekspor Indonesia per Oktober 2023 turun 10,43 % dibandingkan periode sama 2022, menjadi 22,15 miliar USD, kendati meningkat 6,76 % dibandingkan September 2023. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Oktober 2023, yakni 214,41 miliar USD, juga turun 12,15 % dibandingkan dengan periode yang sama pada 2022, dengan ekspor nonmigas turun 12,74 %.

Penurunan nilai ekspor Indonesia yang lebih dipicu oleh penurunan harga komoditas ketimbang volume ini tampaknya sejalan dengan fenomena normalisasi harga komoditas global. Harga komoditas di pasar dunia sempat melonjak ke rekor tertinggi pada 2022, terutama sebagai akibat disrupsi rantai pasok global menyusul perang Rusia-Ukraina dan Covid-19. Berlanjutnya tekanan terhadap ekspor masih harus terus kita waspadai, terutama dengan masih tingginya ketidakpastian dan perlambatan ekonomi dunia karena bisa menekan pertumbuhan ekonomi nasional. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,7 % di triwulan II menjadi 4,94 % di triwulan III-2023 (terendah dalam dua tahun terakhir) juga karena kontraksi ekspor, selain akibat melemahnya konsumsi rumah tangga. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global menyebabkan turunnya pula permintaan barang dan jasa.

Dari sisi fundamental, kinerja ekspor Indonesia selama ini menunjukkan rapuhnya posisi kita karena masih sangat tingginya ketergantungan kita pada ekspor komoditas sehingga rentan terhadap fluktuasi dan gejolak harga komoditas global. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya diversifikasi ekspor, hal yang sudah lama kita sadari, tetapi belum sepenuhnya berhasil kita lakukan hingga sekarang. Alarm lain yang perlu kita perhatikan adalah pertumbuhan ekonomi kita yang semakin didominasi sektor jasa, sedangkan sektor industri pengolahan terus menurun, sejalan dengan tren deindustrialisasi yang terjadi sejak 2002. (Yoga)

Kinerja Ekspor Manufaktur Melemah

KT3 17 Nov 2023 Kompas

Kinerja ekspor industri pengolahan atau manufaktur pada periode Januari-Oktober 2023 menurun 10,30 % dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dikarenakan pelemahan permintaan dunia dan melandainya sejumlah harga komoditas global. Mengutip data BPS, nilai ekspor industri pengolahan sesuai harga barang (free on board/FOB) Januari-Oktober 2023 mencapai 155,16 miliar USD, merosot 10,30 % ketimbang periode yang sama tahun lalu yang sebesar 172,97 miliar USD. Penurunan terbesar dicatat oleh komoditas produk lemak dan minyak hewani/nabati olahan yang pada periode Januari-Oktober 2023 merosot 19,52 % secara tahunan.

Komoditas besi dan baja juga mencatat penurunan kinerja ekspor. Pada Januari-Oktober 2023, ekspor besi dan baja bernilai 22,13 miliar USD, menurun 4,35 % secara tahunan. Komoditas lainnya yang mencatatkan penurunan ekspor cukup dalam adalah alas kaki. Pada Januari-Oktober 2023 ekspor alas kaki mencapai 5,33 miliar USD, menurun 18,86 % secara tahunan. Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri, Kamis (16/11) menjelaskan, penurunan kinerja ekspor industri pengolahan itu disebabkan gabungan dari permintaan ekspor yang melemah dan harga komoditas yang kian melandai. Hal itu dipicu oleh melambatnya perekonomian negara-negara tujuan ekspor Indonesia. (Yoga)

Didominasi Nikel, Ekspor Sultra Merosot

KT3 17 Nov 2023 Kompas

Nilai ekspor dari Sultra hingga triwulan III-2023 terus merosot dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Masih didominasi olahan nikel, nilainya turun hingga 32,3 % atau lebih dari 1,4 miliar USD. Data BPS Sultra menyebutkan, total nilai ekspor Sultra selama Januari-September 2023 mencapai 2,884 miliar USD, turun 32,3 % dibandingkan periode yang sama tahun 2022 yang 4,26 miliar USD. Kondisi ini beriringan dengan volume ekspor kumulatif yang turun 14,73 % pada periode yang sama, yakni dari 1,967 juta ton menjadi 1,678 juta ton.

Kabid Perdagangan Luar Negeri di Dinas Perdagangan dan Perindustrian Sultra, Nur Adnan Hadi menuturkan, penurunan ekspor terjadi selama 2023. Bahkan, periode hingga triwulan III tahun ini juga lebih rendah dibandingkan periode sama tahun 2021. ”Berdasarkan informasi, memang terjadi penurunan permintaan di China, dan harga nikel sedang turun. Jadi, volume dan nilai ekspor di Sultra turun,” kata Adnan, Kamis (16/11) di Kendari. (Yoga)