Ekspor
( 1055 )Kodok dari Sumsel Diminati Pasar Eropa
”Kalau dalam bentuk hidup, banyak aspek yang harus dipenuhi, seperti kesehatan atau penyakitnya,” kata Sahat. Pengendali Hama Penyakit Ikan Ahli Muda, Balai Karantina Ikan Palembang, Mardian menuturkan, kodok yang diekspor itu berasal dari genus Fejervarya yang banyak hidup di sawah dan lahan rawa, antara lain di kawasan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, di seputaran Ogan Komering Ilir, dan Palembang. Ekspor produk olahan kodok itu sudah dilakukan Sumsel sejak 1980-an dan hampir setiap bulan. Negara tujuan ekspor sebagian besar di Eropa, seperti Perancis, Belgia, dan Denmark. Karena kodok berasal dari tangkapan alam, volume ekspor produk olahan kodok bergantung pada musim. Musim kemarau panjang tahun ini, volume ekspor pun turun. Pada 2022, ada 26 pengiriman ke Perancis, Belgia, dan Denmark sebesar 446,412 kg senilai Rp 55,66 miliar. Per 8 Desember 2023, turun menjadi 245,646 kg senilai Rp 53,235 miliar dari 25 pengiriman ke Perancis dan Belgia. (Yoga)
Aturan Devisa Ekspor Dievaluasi Lagi
Jutaan Benur Ilegal Mengalir ke Vietnam
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan,
kebutuhan benih bening lobster di Vietnam mencapai 600 juta ekor per tahun.
Seluruh kebutuhan itu dipenuhi oleh benih bening lobster ilegal hasil
selundupan dari Indonesia. Pengetatan patroli dan kerja sama industri tengah diupayakan
untuk menghentikan penyelundupan tersebut. Dirjen Pengawasan Sumber Daya
Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP Laksamana Muda Adin Nurawaluddin menyatakan,
larangan ekspor benih bening lobster atau benur belum berjalan optimal. Benur
diselundupkan melalui jalur darat, laut, dan udara, dan hingga kini terus berlangsung.
”Industri Vietnam mengakui semua benur berasal dari
Indonesia. Padahal, Indonesia tidak membolehkan ekspor benur. Jadi, bisa
disimpulkan, industri di Vietnam mendapatkan pasokan benur secara ilegal,” kata
Adin di Pangkalan PSDKP Batam, Kepulauan Riau, saat membuka Operasi
Terkoordinasi Pengawasan dan Penindakan Penyelundupan Benih Bening Lobster,
Jumat (1/12). Ia menambahkan, permintaan benur untuk industri pembesaran
lobster di Vietnam mencapai 600 juta ekor per tahun. Dengan asumsi penyelundup
benur mendapat keuntungan Rp 5.000 hingga Rp 50.000 per ekor benur, penyelundupan
itu menghilangkan potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berkisar Rp
3 triliun hingga Rp 30 triliun per tahun. (Yoga)
TEMPE, MEMBALIK NASIB PENGIMPOR KEDELAI
Tidak pernah terbayang oleh Cucup Ruhiyat, usaha pembuatan
tempe tradisional yang digelutinya sekarang menjelma menjadi industri skala
ekspor bervolume puluhan ton per bulan. Bahkan, salah satu pasarnya adalah AS,
negara asal kedelai yang mereka impor untuk bahan baku tempe. Dengan merek
dagang Azaki, tempe beku produksi Rumah Tempe Azaki itu telah menembus pasar di
empat negara. Selain AS, Azaki sudah merambah konsumen di Jepang, Korsel, dan
Taiwan. ”Tanggal 30 November nanti, kami ekspor 3 ton tempe ke pasar baru, Hong
Kong,” ujar Cucup yang juga menjabat Direktur Utama Rumah Tempe Azaki saat
dihubungi, Senin (27/11). Melalui pabrik di Bogor, Jabar, Rumah Tempe Azaki menapaki
cerita sukses ekspor tempe sejak 2021. Total ekspornya kini mencapai 40-50 ton
setiap bulan. Ini sekaligus menjadi pabrik tempe terbesar di dunia, dengan
kapasitas produksi 135 ton per bulan.
Cucup pun tengah membidik sejumlah negara lain untuk pemasaran
produknya, antara lain China dan India. Selain itu, perusahaannya juga
mengembangkan produk lain untuk diekspor, yakni keripik tempe. Di tengah masih
bergantungnya Indonesia pada impor kedelai, ekspor tempe yang dilakukan Azaki
menjadi salah satu ”obat penawar”. Bahan baku yang diimpor diberi nilai tambah,
kemudian diekspor. Berdasarkan data BPS, pada 2022, volume impor kedelai
sebesar 2,3 juta ton. Dari jumlah itu, 1,9 juta ton (83 %) berasal dari AS. Adapun
produksi kedelai dalam negeri hanya sekitar 300.000 ton. Melalui ekspor tempe,
kedelai jadi pengungkit nilai tambah yang akan dinikmati di dalam negeri. Cucup
menjelaskan, profit ekspor bisa 2-3 kali lipat lebih besar daripada penjualan di
dalam negeri. Keuntungan lain bagi perekonomian nasional adalah penyerapan
tenaga kerja dan perputaran uang dari rantai produksi. (Yoga)
PERDAGANGAN INTERNASIONAL, RI Semakin Bergantung kepada China
Di saat sejumlah negara maju mengurangi ketergantungan
dagang kepada China, Indonesia justru semakin bergantung kepada negara itu. Ada
keuntungan sekaligus risiko bagi Indonesia semakin bergantung kepada ”Negeri
Tirai Bambu” itu. AS pelan-pelan meninggalkan China sejak Donald Trump memulai perang
dagang dengan negara itu pada tahun 2018. Sejumlah langkah terkait dengan sektor
perdagangan dan industri telah dan sedang ditempuh. Hal itu mulai dari merelokasi
industri yang dilakukan ke sejumlah negara di Asia dan Eropa Timur. AS juga
menggulirkan kebijakan rendah karbon yang salah satu tujuannya adalah
mengurangi kekuatan China atas bahan baku kunci kendaraan dan baterai listrik, seperti
litium, kobalt, nikel, dan magnesium. AS bahkan membuat UU Cip dan Ilmu
Pengetahuan untuk meningkatkan daya saing AS terhadap China dengan
mengalokasikan anggaran miliaran USD untuk produksi semikonduktor, riset, dan
sumber daya manusia.
Berdasarkan data Survei Geologi AS (USGS), pada 2022, China
menyumbang 44 juta ton dari 115,82 juta ton atau 62,01 % produksi tambang logam
tanah jarang (rare earth) dunia. Dominasi China itu memunculkan kekhawatiran.
Beijing akan membatasi ekspor untuk merusak saingan ekonomi atau politiknya.
”Semula ancaman itu hanya tersirat selama beberapa waktu terakhir. Kini,
ancaman itu sudah terjadi,” kata Robert Dujarric, Co-Director Institute of Contemporary
Asian Studies di Temple University, Tokyo. Sejak menggulirkan hilirisasi di sektor
besi-baja dan nikel, ekspor Indonesia ke China semakin meningkat. Diversifikasi
produk ekspor juga makin beragam dengan semakin menguatnya produk olahan
berbasis bijih logam. China in the World mencatat, tingkat pengaruh China terhadap
Indonesia cukup tinggi. Indonesia menempati peringkat ke-16 dari 82 negara.
Sektor di Indonesia yang paling terpengaruh China adalah kebijakan luar negeri
dengan indeks 41 %, teknologi (40,38 %), kebijakan dalam negeri (37,2 %), dan
ekonomi (33,6 %). Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia
Mohammad Faisal, Minggu (26/11) menuturkan, proporsi nilai ekspor Indonesia ke
China pada 2012 sebesar 11 % dari total nilai ekspor Indonesia. Hingga Juli 2023,
proporsi nilai ekspor itu meningkat menjadi 24 persen. Nilai ekspor besi-baja
RI ke China terus meningkat sejak 2016 hingga Juli 2023. Begitu juga dengan
nilai ekspor nikel dan produk turunannya yang mulai tumbuh pada 2022 hingga
Juli 2023. (Yoga)
Komoditas Dunia Menuju Harga Fundamental
Komoditas dunia dan ekspor unggulan Indonesia, seperti CPO,
batubara, dan nikel, tengah berproses menuju pembentukan harga fundamentalnya.
Tren harga sejumlah komoditas itu diperkirakan akan tetap turun, tetapi tidak
akan serendah harga sebelum pandemi Covid-19. Kenaikan harga terjadi sejak pemulihan
ekonomi pascapandemi Covid-19. Vice President for Industry and Regional
Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani mengatakan, saat ini,
normalisasi harga komoditas dunia tengah terjadi. Normalisasi yang terjadi
sejak awal 2023 itu diperkirakan berlangsung hingga 2025. ”Kendati masih
bergejolak, tren harga komoditas akan terus turun meskipun tidak akan lebih
rendah dari harga pada 2019,” ujarnya ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (24/11).
Menurut Dendi, tim ekonom Bank Mandiri memperkirakan harga CPO
pada 2024 dan 2025 sekitar 761,8 USD per ton dan 771,7 USD per ton. Harga
perkiraan pada 2024 dan 2025 itu lebih rendah dibandingkan perkiraan harga pada
2023, yakni 869,4 USD per ton. Namun, harga tersebut masih lebih tinggi
dibandingkan rata-rata harga pada 2019, yakni 524,5 USD per ton. ”Kami melihat
ada beberapa faktor risiko ke depan yang bisa menekan harga CPO. Di sisi lain,
ada juga faktor lain yang tidak akan membuat harga CPO turun drastis,” katanya.
Risiko tersebut adalah pelemahan ekonomi dan tingginya tingkat suku bunga
global yang bisa menciptakan sentimen negatif di pasar CPO. (Yoga)
Gempor Akibat Lesunya Pasar Ekspor
Emiten saham furnitur, PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD), tengah berjuang mempertahankan bisnisnya di tengah pelemahan permintaan mebel dan komponen bangunan (
building component
) di pasar ekspor.
Pada kuartal III-2023, kinerja keuangan WOOD lesu darah. Penjualan bersih WOOD turun 56,04% secara tahunan atau
year on year
(yoy) menjadi Rp 1,71 triliun. Penjualan
building component
turun terdalam, sebesar 62,74% yoy, menjadi Rp 898,43 miliar.
Bersamaan dengan itu, laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk WOOD juga terjun 80,33% yoy menjadi Rp 59,14 miliar.
Fajar Andika,
Investor Relation
Integra Indocabinet bilang, penjualan furnitur dan
building component
memiliki korelasi yang kuat dengan kondisi ekonomi Amerika Serikat. Ini mengingat mayoritas ekspor WOOD ditujukan ke Negeri Paman Sam.
Dalam catatan KONTAN, Integra Indocabinet memangkas proyeksi penjualannya menjadi turun sekitar 40%--50% pada tahun ini. Walau demikian, manajemen WOOD optimistis perekonomian AS bisa berangsur-angsur pulih.
Jika ekonomi pulih, permintaan furnitur di pasar Amerika Serikat juga bisa bangkit lagi. "Sebab, titik terendah penurunan industri furnitur AS sebenarnya berlangsung ada di semester kedua tahun lalu," kata Fajar, Jumat (24/11).
Menurut data Trade Map, pada tahun 2022, AS menjadi negara pengimpor furnitur terbesar di dunia dengan nilai US$ 86,73 miliar atau setara dengan 29,1% dari total nilai impor furnitur secara global. "Oleh sebab itu, kami masih berusaha untuk melakukan penetrasi pasar ke AS dengan menambah portofolio pelanggan," ujar Fajar.
Sembari menunggu pulihnya pasar ekspor, Integra Indocabinet menempuh sejumlah diversifikasi untuk menekan risiko. Upaya yang bisa dilakukan perusahaan ini adalah dengan menggenjot penjualan produk-produk furnitur di pasar domestik.
Meski begitu, pilihan menggenjot pasar dalam negeri juga sama-sama menantang lantaran juga sedang melambat. Merujuk laporan keuangan WOOD, penjualan produk
building component
turun 58,70% yoy menjadi Rp 14,75 miliar pada kuartal III-2023.
Berdasar catatan KONTAN, tahun ini WOOD menyiapkan
capital expenditure
(capex) atau belanja modal sebesar Rp 100 miliar hingga Rp 150 miliar. Dari alokasi tersebut, WOOD sudah membelanjakan sekitar Rp 50 miliar hingga mendekati akhir tahun ini.
Diversifikasi Pasar Stagnan, Ekspor RI Bakal Melambat
Kinerja ekspor Indonesia pada 2024 diperkirakan akan
melambat seiring dengan perlambatan ekonomi AS dan China. Hal itu terjadi di
tengah stagnasi diversifikasi pasar ekspor Indonesia dalam 12 tahun terakhir
ini. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad
Faisal, Kamis (23/11) mengatakan, tahun depan ekonomi global diperkirakan
tumbuh lambat dibandingkan tahun ini. Dana Moneter Internasional (IMF)
memproyeksikan ekonomi global pada 2024 tumbuh 2,9 % atau lebih rendah dari
2023 yang sebesar 3 %. Hal itu terutama dipengaruhi perlambatan ekonomi di AS dan
China yang pada 2024 diperkirakan tumbuh 1,4 % dan 4,2 %. Angka itu lebih
rendah dari pertumbuhan ekonomi AS dan China pada 2023 yang diperkirakan
masing-masing 2,1 % dan 5 %.
Menurut Faisal, konsumsi rumah tangga di kedua negara tersebut
diproyeksikan masih lemah sehingga berpengaruh terhadap permintaan domestik. Di
AS, pendapatan masyarakat masih stagnan dan simpanan bantuan pandemi mereka semakin
menipis. Adapun di China, pemulihan pascapandemi Covid-19 tertekan krisis
bisnis properti yang berkontribusi 25-30 % terhadap perekonomian negara tersebut.
Utang pengusaha juga menumpuk karena Pemerintah China membatasi kredit. ”AS dan
China merupakan pangsa pasar utama ekspor Indonesia. Jika konsumsi kedua negara
itu melemah, maka permintaan ekspor akan turut melemah. Kondisi itu akan berpengaruh
besar terhadap kinerja ekspor Indonesia,” ujarnya dalam acara Gambir Trade Talk
#12: ”Outlook Perdagangan Luar Negeri Indonesia Tahun 2024” yang digelar secara
hibrida. (Yoga)
Ekspor Nonmigas Diprediksi Tembus US$ 300 M
KINERJA EKSPOR : China Terpikat Sawit Sumbar
China kian terpikat dengan produk minyak sawit asal Sumatra Barat (Sumbar).Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang mencatat bahwa selain China, CPO asal wilayah ini juga dikirim ke Aljazair, Arab Saudi, dan Brasil.Keempat pasar ini mendominasi pengiriman minyak sawit Sumbar pada periode Januari hingga November 2023.Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang Iswan Haryanto mengatakan bahwa ekspor minyak sawit mengalami peningkatan yang cukup tinggi pada 2023.Dia menjelaskan bahwa pada periode Januari hingga 20 November 2023 tercatat telah ada pengiriman ke pasar internasional sebanyak 76 kali dengan jumlah tonase sebesar 235.000 ton senilai Rp2,8 triliun.
Dengan demikian, realisasi pengiriman hingga 20 November 2023, naik 74.000 ton. Nilai ekspor juga meningkat lebih dari Rp2 miliar dan frekuensinya juga naik 14.”Jadi dari segi frekuensi naik, tonase naik, dan nilainya juga naik, bila dibandingkan antara 2022 dan hingga 20 November 2023,” katanya.
Dia menilai bahwa komoditas minyak sawit ini kontributor ekspor tertinggi Sumbar dibandingkan komoditas lainnya seperti karet, cangkang sawit, dan gambir.”Minyak sawit ini komoditas unggulan Sumbar. Dengan adanya peningkatan ekspor tahun ini, berarti kondisi perkebunan sawit di Sumbar lagi baik,” jelasnya.Kendati demikian, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (Pemprov Sumbar) mengungkapkan bahwa ada perkebunan kelapa sawit seluas 98.727 hektare (ha) yang perlu diremajakan.Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatra Barat mengungkapkan bahwa dari 98.727 ha, kebun kelapa sawit itu, terdapat 66.522 ha yang merupakan kebun plasma dan 33.955 ha berupa kebun swadaya. Sekretaris Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumbar Ferdinal Asmin menjelaskan bahwa hingga tahun lalu program peremajaan sawit telah menjangkau sebanyak 31.000 ha.
Hanya saja, pihaknya mematok target bahwa sepanjang tahun ini terdapat replanting kelapa sawit pada lahan seluas 5.300 ha yang tersebar di tujuh kabupaten. Target ini, imbuhnya, hanya khusus untuk perkebunan sawit rakyat (PSR), sedangkan untuk plasma akan dilakukan oleh pihak perusahaan atau mitranya.
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









