Berita
( 364 )Peningkatan IPM 2021 Masih di Bawah Rata-Rata
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2021 mencapai 72,29, meningkat 0,3 poin atau 0,49% dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang tercatat 71,94. Namun, peningkatan ini masih berada dibawah rata-rata kenaikan IPM Indonesia selama periode 2010-2021 yang sebesar 0,76%.Menurut Kepala BPS Margo Yuwono, pembangunan manusia di Indonesia terus mengalami kemajuan.
Sejak 2016, status pembangunan manusia Indonesia rata-rata meningkat di level sedang menjadi tinggi. Selama 2010-2021 IPM manusia rata-rata meningkat 0,76% per tahun dari 66,53 pada 2010 menjadi 72,29 pada 2021. Margo mengatakan, "Selama periode 2010 hingga 2021, UHH telah meningkat sebesar 1,76 tahun atau rata-rata tumbuh sebesar 0,23 per tahun,"ucap dia.
Sedangkan kalau dilihat menurut lokasi, IPM tertinggi ditempati DKI Jakarta dan DI Yogyakarta dengan status pencapaian pembangunan manusia yang sangat tinggi. Urutan IPM terendah masih ditempati Provinsi Papua (60,62). "Kalau tahun kemarin baru DKI Jakarta, sekarang tambah dengan DI Yogyakarta. Dengan angka diatas 80 atau statusnya sangat tinggi. Sedangkan katagori rendah sudah tidak ada karena semua sudah diatas 60," ucapnya. (Yetede)
Migas akan Bertahan Puluhan Tahun Lagi
Chief Executif Officer (CEO) BP Bernard Looney menyatakan bahwa meski perusahaannya berkomitmen untuk mengatasi perubahan iklim, tetapi hidrokarbon, seperti minyak dan gas (migas), akan memiliki peran berkelanjutan dalam bauran energi selama puluhan tahun ke depan. "Mungkin tidak populer untuk mengatakan bahwa minyak dan gas akan berada dalam sistem energi selama beberapa dekade mendatang," ujar Looney.
Looney juga menyoroti laporan "Net Zero" yang dirilis Badan Energi Internasional pada Mei, yang mencatat bahwa pada 2050 pasokan minyak global dalam jalur nol bersih masih akan berjumlah sekitar 20 juta barel per hari (bph). "Jadi setiap orang yang obyektif bakal mengatakan hidrokarbon memiliki peran untuk dimainkan. Pertanyaannya kemudian menjadi: apa yang anda lakukan tentang ini? Dan anda mencoba menghasilkan, hidrokarbon itu dengan cara yang baik." tambah Loony
Komentar Looney tersebut muncul menyusul disampakannya kesimpulan dari KTT iklim COP26 di Glasgow, Scotlandia. Dimana hampir 200 negara setuju untuk mengurangi secara bertahap penggunaan batubara dari pada menghentikannya, ini karena Tiongkok dan India bersikeras pada perubahan kalimat di menit-menit terakhir serta menghapus subsidi bahan bakar fosil. (Yetede)
Ekonomi Malaysia Kontraksi 4,5% di Kuartal III
Ekonomi Malaysia Kontraksi 4,5% di kuartal III-2021, berkebalikan dengan rebound di kuartal II. Namun kontraksi ini jauh lebih buruk dari pada perkiraan rerata para ekonom yang disurvei Reuters, yang memprediksikan kontraksi 1,3%. Meski demikian Bank Negara Malaysia mengatakan indikator baru-baru ini menunjukkan momentum yang lebih positif.
“Propek pertumbuhan tetap tunduk pada factor risiko Covid-19 secara global dan domestik, stabilitas di pasar keuangan global, serta pelonggaran gangguan rantai asok secara bertahap,” Kata Gubernur BNK Nor Shamsiah Mohd Yunus dalam konferensi pers, Jumat (12/11). Ekonomi Malaysia telah pulih dari kemerosotan yang disebabkan pandemic pada kuartal II-2021.
Namun, tingkat infeksi virus corona telah melambat secara drastis dalam beberapa pekan terakhir ditengah program vaksinasi yang ditingkatkan. Hal ini meningkatkan harapan akan perubahan haluan. Saat ini lebih dari tiga perempat dari 32 juta penduduk Malaysia telah divaksin lengkap. (Yetede)
Proyek Jambaran Tiung Biru Berpotensi Molor ke 2022
Proyek Jambaran Tiung Biru (JTB) berpotensi molor hingga pada tahun depan, pada awalnya ditergetkan rampung akhir 2021. Namun Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) masih berupaya agar proyek selesai. Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno menuturkan, pihaknya masih mengejar penyelesaian tiga proyek hulu migas tambahan di tahun ini, salah satunya proyek Utinisasi Lapangan Jambaran-Tiung Biru.
"JTB yang keliatan sangat berat untuk onstream (operasi) tahun ini. Ada kemungkinan (mundur)," kata dia di Jakarta, Jumat (12/11). Saat ini jelasnya, perkembangan Proyek Jambaran Tiung Biru sudah mencapai 95%. Akan tetapi sekalipun kemajuan proyek ini dapat menyentuh 98-99% pun, kemungkinan untuk bisa memulai operasi pada tahun ini masih cukup sulit. "Tetapi tetap kami usahakan semaksimal mungkin," tegas Julis.
Selain JTB, dua proyek lain yang juga ditargetkan selesai tahun ini adlaah Proyek SP Bambu Besar (Asso)oleh PT Pertamina EP dan BukitTua Phase 3 oleh Petronas Carigali Ketapang II Ltd. Proyek SP Bambu Besar diperkirakan memberikan tambahan produksi gas sebesar 7 MMscfd gas. Termasuk JBT, ketiga proyek ini akan memberikan tambahan produksi minyak sebesar14 ribu bph dan gas 367 MMscd (Yetede)
Polri Tindaklanjuti Permintaan Luhut Penjarakan Mafia Pelabuhan
Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menindaklanjuti permintaan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan agar kepolisian, Kejaksaan dan KPK menindak dan bahkan memenjarakan mafia pelabuhan. Saat ini, Bareskrim sudah menyusun petunjuk arah (jukrah) untuk memberantas mafia di pelabuhan. "Sedang kita susun jukrah ke arah dengan penekanan kembali Bapak Menko Marves," kata Kabareskrim Polri, Komjen Pol Agus Andrianto, Jumat (12/11)
Dikatakan Agus, Polri terus mengawasi prakti-praktik kecurangan yang berdampak pada perekonomian biaya tinggi di pelabuhan. Agus juga mendorong masyarakat membuat laporan agar dapat segera ditindaklanjuti. "Kegiatan pengawasan praktik kecurangan yang berdampak ekonomi biaya tinggi di pelabuhan juga dilakukan. Lebih kepada adanya laporan dulu dari pelaku usaha yang mengalami," ungkapnya.
Sementara itu, Kabag Penum Devisi Humas Polri selalu mendukung pemulihan ekonomi nasional ditegah upaya pengendalian pandemi Covid-19. "Dalam hal ini, peran Polri secara sungguh-sungguh dalam mendukung kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat. Peran tersebut dilakuka dengan prinsip pandemi terkendali, ekonom bergeliat dan pulih, sehingga target pertumbuhan tercapai," katanya. (Yetede)
Xi Ingatkan Asia-Pasifik Tidak Kembali ke Masa Perang Dingin
Presiden Tiongkok Xi Jinping mengingatkan pada Kamis (11/11) agar Asia Pasifik tidak kembali ke masa perpecahan Perang Dingin. Hal ini disampaikan menyusul meningkatnya ketegangan atas keamanan Taiwan. Menjelang pertemuan puncak virtual dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada awal pekan depan, Xi mengungkapkan bahwa negara-negara di kawasan harus bekerja sama dalam menghadapi tantangan bersama.
"Upaya untuk menarik garis ideologi atau membentuk lingkaran kecil dengan alasan geopolitik pasti akan gagal. Alasan Asia-pasifik tidak dapat dan tidak boleh terulang kembali kedalam konfrontasi dan perpecahan era Perancis Dingin." Ujarnya dalam konferensi bisnis virtual. "KIta semua dapat memulai jalur pembangunan berkelanjutan yang hijau dan rendah karbon. Bersama-sama kita, mengantarkan masa depan pembangunan hijau," katanya tanpa menyebutkan kesepakatan AS secara langsung.
Disisi lain, kendati pemerintah Biden telah mengidentifikasikan iklim sebagai bidang utama untuk potensi kerja sama dengan Tiongkok, tetapi ada lonjakan ketegangan akibat visi rival mereka dikawasan Asia-Pasifik, terutama Taiwan-sebuah negara demokrasi yang memiliki pemerintahan sendiri, namun masih di klaim sebagai bagian dari Tiongkok. Bahkan Republik Rakyat Tiongkok telah meningkatkan kegiatan militer di dekat Taiwan, dengan memerintahkan pesawat menyeberang ke zona identifikasi pertahanan udara pulau itu pada awal Oktober. (Yetede)
Merebut Hati UEA
Sungguh sebuah kejutan besar ketika Presiden Joko Widodo dalam kunjungan ke negara Uni Emirat Arab (UEA) pekan lalu mengantongi komitmen investasi senilai US$ 44,6 miliar atau setara Rp 642 triliun. Tentu itu nilai yang amat fanstastis , bahkan Menteri Investasi Bahlil Lahadahlia menyebut angka tersebut bukan 'kaleng krupuk' alias bukan ecek-ecek. Belum jelas UEA masuk IKN dalam proyek apa saja. Namun kemungkinan besar negara kaya di Timur Tengah itu tertarik pada proyek-proyek pembangunan fasilitas gedung dan sarana informasi dan teknologi (IT), kawasan industri hijau ,serta energi terbarukan.
Diluar IKN, UEA tertarik pada proyek infrastruktur seperti pelabuhan, data center, sektor kesehatan, dan pertanian. Tim kedua negara masih akan membahas lebih detail untuk menindaklanjuti komitmen investasi tersebut. Selain melalui INA senilai US$ 18 miliar, investasi UEA juga masuk melalui Kementerian Investasi, dengan nillai US$ 26,6 miliar. Termasuk didalamnya adalah investasi US$ 15 miliar dan Air Product and Chemicals Inc. (APCI) dengan sejumlah BUMN seperti PT Pertamina (persero), PT Bukit Asam (persero) Tbk, dan swasta. APCI membangun hilirisasi gasifikasi batu bara untuk mengubah komunitas energi fosil tersebut menjadi dimethyl ether (DME) sehingga memiliki nilai lebih tinggi. (Yetede)
Industri Asuransi Melihat Peluang Tunggal Terbesar pada Iklim
Chief Executifive Officer (CEO) Lloyd's John Neal menyampaikan bahwa iklim merupakan resiko sistematik tertinggi dan mewakili kesempatan tunggal terbesar yang pernah dilihat industri asuransi. Dalam wawancara dengan NCBC, Neal berusaha melukiskan gambaran tentang bagaimana sektornya akan beroperasi kedepan. "Kami menganggap Covid-19 sebagai risiko sistematik utama, jadi ini adalah kesempatan kami untuk menunjukkan kepada Bisnis, komunitas, dan bahkan pemerintah bagaimana kami dapat membantu," ujar Neal yang menjadi pembicara dalam Konferensi Perubahan Iklim atau COP26 di Glasgow, Skotlandi, pada pekan lalu. Mulai dari banjir dan kenaikan suhu hingga cuaca yang dingin, dampak-dampak dari peristiwa terkait iklim telah mempengaruhi industri asuransi dalam beberapa cara. Menurut Asiosiasi Asuransi Inggris atau Assiciation of British Insurers (ABI), suhu beku ekstrim di Inggris selama 2018 telah menyebabkan asuransi menggelontorkan pembayaran untuk pipa-pipa yang pecah dengan total klaim 194 juta pounds (sekitar US$ 263,16 juta) dalam periode tiga bulan. "Ada resiko bahwa, jika terjadi transisi yang tidak teratur menuju ekonomi rendah karbon maka nilai dari kebanyak aset yang diinvestasikan oleh perusahaan akan turun dengan disertai sedikit peringatan," Demikian diungkapkan asosiasi tersebut. Kesiapsiagaan, tampaknya, menjadi kuncinya. Diantaranya yang tercantum dalam ringkasan laporan eksklusif Deloitte, yang menggambarkan bahwa banyak perusahaan asuransi masih memiliki beberapa cara untuk mengatasi perubahan iklim bakal mempengaruhi model usaha mereka dalam jangka menengah hingga panjang. (Yetede)
Para Pebisnis Optimistis Visi COP26 Jadi Kenyataan
Para eksekutif perusahaan dan analis keuangan optimis bahwa pembicaraan pada konferensi tingkat tinggi iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau COP26 di Glaslow, Scotlandia bakal mengarah ke perubahan-perubahan yang diperlukan bagi bisnis untuk memainkan peran yang lebih besar dalam mengatasi perubahan iklim. Para pengamat bisnis menunjukkan beberapa langkah dari para pemimpin dunia yang mereka katakan bahwa meningkatkan bisnis berkelanjutan, dan upaya investasi untuk memobilisasi sejumlah besar uang yang dibutuhkan guna melepaskan ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil.
Menurut Direktur Pelaksana Jefferies Aniket Shah, meskipun banyak dari langkah-langkah tersebut tidak memulai janji khusus, mereka menunjukkan bahwa pembentukan konvensi global untuk mengatasi perubahan iklim akan memudahkan para investor swasta dan pemerintah dalam memasukkan uang dan upaya."Ada kekuatan-kekuatan tertentu yang menandakan niatan yang tidak diabaikan disini," ujar Shah, yang dikutip Reuters, Senin (8/11). Dia menyebutkan tujuan yang yang ditetapkan oleh Perdana Menteri India, Narenda Modi pada 1 November agara negaranya mencapai emisi karbon nol bersih pada 2070.
Sedangkan Peter Lacy-seorang pemimpin layanan keberlanjutan global Accentur- menuturkan bahwa bagi kalangan investor dan perusahaan,langkah paling signifikan di konferensi tersebut adalah pembentukan Dewan Standar Keberlanjutan atau International Sustainable Standards Board (ISSB) pada 3 November , yang dimaksud membuat dasar bagi perusahaan untuk menggambarkan dampak iklim mereka. Lacy menyebutkan sebagai moment seismik untuk bisnis dan ini sejalan dengan harapan para COO Accenture yang disurvei menjelang dampak iklim mereka. (Yetede)
Salah Kaprah tentang Robot Trading
Dua tahun belakangan ini penawaran robot trading, khususnya untuknya forex trading, gencar dilakukan melalui media sosial maupun televisi, bahkan menggunakan jasa influencer artis terkenal. Penawarannya seringkali menggunakan kata-kata bombastis walaupun tidak masuk akal, seperti "Anda tidak perlu trading, biarkan robot yang bekerja", atau "Kalau beli robot ini, Anda pasti untung," atau "Pakai robot ini, profit Anda akan konsisten," Bahkan ada penawaran robot dengan embel-embel "bergaransi.", dalam arti kalau pembeli tidak dapat untung, pembeli boleh mengembalikan robot tersebut dan meminta uangnya kembali.
Cara-cara pemasaran yang tidak masuk akal itu membuat sebagian masyarakat percaya bahwa robot tranding memang pintar mencari uang. Padahal berdasarkan logika sederhana, kalau robot tranding memang pintar mencari uang, pasti si pembuat tidak akan menjual robot buatannya kepada pihak lain. Lebih baik robot itu diberdayakan sendiri untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Seorang rekan berkelakar, kalau memang ada robot yang pintar mencari uang, bolehlah disarankan kepada Menteri Keuangan untuk membeli robot tersebut dan mengkaryakannya untuk mencari uang guna menutup defisit anggaran.
Lalu apa sesungguhnya robot trading? Robot trading pada dasarnya hanyalah perangkat lunak atau program yang dibuat menggunakan algoritma matematika untuk mengeluarkan sinyal buy/sel atau membantu eksekusi order, baik cut loss maupun take profit, sehingga sering disebut expert advisor (EA). Agar bisa mengeluarkan sinyal, pengguna robot atau dalam hal ini trader, harus memasukkan parameter sesuai strategi trading yang dipilih. Penyusunan algoritma didasarkan pada hasil analisis teknikal masa lalu. yang dipercaya mempunyai sifat berulang. (Yetede)
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









