Digital Ekonomi umum
( 1143 )Web3 sebagai Platform Koperasi Digital
Web 3.0 adalah internet generasi ketiga yang awalnya disebut Web Semantik oleh Tim Berners-Lee, penemu World Wide Web. Web 3.0 adalah internet yang lebih mandiri, cerdas, dan terbuka. Di sini, situs web dan aplikasi memproses informasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan, machine learning, big data, dan blockchain. Selain Web 3.0, ada juga istilah Web3 yang sebenarnya sedikit berbeda, tetapi sering dianggap sama. Konsep Web3 pertama kali diperkenalkan Gavin Wood pada 2014 sebagai versi internet yang terbuka dan terdesentralisasi. Keunggulan Web3 antara lain : Pertama, pengendalian data pengguna. DenganWeb3, pengguna memiliki kontrol lebih besar terhadap data mereka. Salah satu contoh aplikasi Web3 adalah browser bernama Brave. Browser ini memungkinkan pengguna menentukan seberapa sering iklan yang mereka lihat dalam sebulan. Jadi, secara prinsip, pengguna browser Brave bisa mengontrol data mereka akan dijual kepada siapa, melalui apa, dan seberapa sering.
Aspek kedua, kemampuan bertransaksi tanpa perantara. Bayangkan jika Shopee, Tokopedia, atau Bukalapak dibangun ulang dengan konsep Web3. Setiap orang yang memiliki komputer dapat bergabung menjadi bagian dari platform. Pihak yang membangun dan memproses transaksi mendapatkan insentif dalam bentuk mata uang kripto. Semua data disimpan dalam blockchain, dan siapa pun bisa melakukan transaksi jual beli dan pembayaran tanpa perlu adanya perantara atau otoritas terpusat. Ihwal ketiga, konsep Web3 memungkinkan kepemilikan bersama suatu platform. Bayangkan jika semua pengendara dan penumpang Gojek dan Grab ikut jadi pemilik platform. Saat mendaftar jadi pengendara atau penumpang, mereka menaruh sejumlah mata uang kripto sebagai modal awal. Dalam Web3, aktivitas ini disebut dengan istilah staking. Para investor bisa ikut berinvestasi ke suatu platform Web3 dengan melakukan staking. Dengan demikian, platform dimiliki bersama oleh para pengguna dan investor sesuai nilai staking masing-masing.
Jadi, denganWeb3, kontrol pengguna terhadap data mereka lebih kuat. Mereka bisa berinteraksi secara langsung tanpa perantara, juga bisa bersama-sama menjadi pemilik platform digital. Hal ini serupa dengan konsep koperasi. Anggota koperasi, selain bisa menikmati layanan, juga merupakan pemilik yang bisa menikmati sisa hasil usaha. Kalau kita renungkan, platform dengan konsep Web3 dapat dianalogikan sebagai suatu koperasi digital yang mandiri. Di sisi lain, para investor pun cukup agresif mengguyurkan dana bagi start up dan perusahaan bertema Web3. Kita berharap Web3 bisa menjadi kenyataan agar internet dapat memasuki versi baru yang lebih terbuka, lebih inklusif, menghargai privasi. (Yoga)
TEKNOLOGI FINANSIAL, Inovasi dan Regulasi Perlu Diseimbangkan
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan, cepatnya perkembangan teknologi mendorong lahirnya berbagai inovasi layanan keuangan digital. Kehadiran dan kecepatan pertumbuhan inovasi keuangan digital perlu diimbangi dengan penguatan pengawasan, regulasi, dan upaya perlindungan konsumen. Ketika inovasi berjalan lebih cepat dari regulasi, pengawasan, dan perlindungan konsumen, yang terjadi adalah industri yang berjalan tanpa rambu-rambu. Hal ini rawan memicu kehadiran entitas jasa keuangan digital yang ilegal dan tak beretika yang bisa merugikan konsumen. ”Di sisi lain, regulasi dan pengawasan yang terlampau ketat berpotensi menahan inovasi layanan jasa keuangan digital. Tidak terwujudnya keseimbangan itu tidak ideal dan merugikan, baik kepada konsumen maupun penyelenggara jasa keuangan digital,” tutur Mahendra dalam acara OJK Virtual Innovation Day 2022 bertema ”Building Trust in Digital Financial Ecosystem” yang diselenggarakan secara hibrida, di Jakarta, Senin (10/10).
Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Rudiantara menambahkan, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan oleh seluruh pemangku kepentingan di dalam ekosistem keuangan digital, yaitu menjaga kepercayaan. Saat ini, ancaman keamanan siber terus terjadi. Sementara industri perbankan dan keuangan menjadi salah satu industri yang paling diincar untuk dibobol keamanan sibernya. Anggota Dewan Komisioner bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menuturkan, pekerjaan rumah lain yang tak kalah penting adalah mengajak semua pemangku kepentingan agar terus-menerus mengedukasi konsumen untuk meningkatkan literasi keuangan. Saat ini, terjadi ketimpangan antara tingkat inklusi dan literasi di masyarakat. Mengutip Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2019, tingkat inklusi keuangan mencapai 76,19 %, sementara tingkat literasi keuangan hanya separuhnya, yakni 38,03 %. (Yoga)
Bisnis Start-Up Lokal Didorong Tumbuh Lebih Kuat
Kemenkominfo terus mendorong perusahaan rintisan (start-up) lokal Indonesia untuk terus bertumbuh dengan daya tahan bisnis yang lebih kuat di tengah tekanan ekonomi global. Melalui program HUB. ID Accelerator, sebanyak 24 start-up lokal didukung mencari peluang pendanaan dari para investor. Kemenkominfo terus mendorong lahirnya start-up yang mampu tumbuh bukan hanya pada kemampuan untuk menguasa pasar dan meningkatkan valuasi perusahaanmya. Start-up juga didukung untuk mampu tumbuh dengan daya tahan bisnis yang lebih kuat.
“Mereka juga harus mampu menahan serangan dari berbagai dinamika global,” kata Menkominfo Johnny G Plate, saat membuka Demo Day HUB.ID Accelerator 2022 di Jakarta, Jumat (7/10). Menurut dia, HUB.ID Accelerator merupakan program terobosan Kemenkominfo untuk membantu start-up lokal mendapatkan akses pendanaan sekaligus meningkatkan kerja sama bisnis dan memperluas kemitraan. Pengembangannya difasilitasi melalui serangkaian proses panel, mentoring, dan business matchmaking. Program tersebut dibuat karena Indonesia merupakan negara terbesar nomor lima pasar start-up dunia dan telah menjadi magnet bisnis start-up di kawasan Asia Tenggara. Tercatat, terjadi lonjakan transaksi pendanaan start-up dalam beberapa tahun terakhir. “Sebanyak 700 transaksi pendanaan untuk start-up terjadi pada 2020, dan pada 2021, meningkat jadi 942 transaksi pendanaan,” ungkapnya. (Yoga)
Facebook Berusaha Menahan Kejatuhan Sahamnya
Facebook dilaporkan sedang berusaha menahan kejatuhan sahamnya. Setahun lalu saat berubah nama perusahaan jadi Meta, kapitalisasi pasarnya mencapai US$ 1 triliun. Tapi sejak memuncak pada September 2021, Meta sekarang kehilangan duapertiga valuasinya. Harga sahamnya diperdagangkan di level terendah sejak Januari 2019 dan hampir pasti merugi hingga dua digit persentase dalam tiga kuartal berturut-turut. Bisnis Facebook selama ini dibangun di atas jejaring. Pengguna memperluas Facebook ke kawan-kawan dan kerabat keluarga. Lalu saling memberi tahu kolega atau mengundang teman-teman menjadi pengguna. Akhirnya semua orang berinteraksi di satu wadah bikinan Mark Zuckerberg itu. Iklan kemudian masuk dan menjadi sumber pendapatan dan Facebook mendulang untung sangat besar hingga mampu merekrut para insinyur paling baik dan paling cemerlang untuk mempertahankan roda bisnisnya tetap bergulir. Tapi di 2022, para penggunanya pindah ke lain platform. Para pengiklan mengurangi belanjanya. Meta pun mengalami penurunan pendapatan dua kuartal berturut-turut.
Banyak perusahaan mencabut
tombol login sosial yang biasanya
adalah Facebook dari situs-situsnya.
Di sisi lain rekrutmen juga menjadi
sulit, terutama sejak Zuckerberg
menghabiskan banyak waktunya
memikirkan metaverse. Yang hendak
dijadikan masa depan bisnis perusahaan tapi hampir tidak menghasilkan
pendapatan jangka pendek tapi malah
menghabiskan miliaran dolar AS setahun untuk membangunnya. Para investor tidak tertarik. Dan
cara mereka membuang saham Facebook membuat pengamat
bertanya-tanya apakah spiral penurunan harga sahamnya akan menjadi
spiral kematian. Dan Meta tidak akan
sanggup memulihkannya.
“Saya tidak yakin sekarang ini masih
ada bisnis inti di Facebook,” ujar Laura
Martin, analis dari Needham.
Tapi belum ada yang mengisyaratkan Facebook akan lenyap ditelan
zaman. Posisinya masih dominan di
iklan mobile. Dan model bisnisnya salah satu yang paling menguntungkan
di zaman ini.
Meski pendapatan bersihnya merosot 36% pada kuartal terakhir dibandingkan tahun sebelumnya, Meta
masih menghasilkan laba US$ 6,7
miliar dan arus kasnya mencapai US$
40 miliar. (Yoga)
2023, WIR Asia Incar Pendapatan Rp 4 Triliun
PT WIR Asia Tbk (WIRG) atau WIR Group mengincar pendapatan sebesar Rp 4,04 triliun pada 2023. Angka ini melonjak sekitar 125% dibandingkan proyeksi perolehan pendapatan perseroan pada tahun ini yang diyakini bisa menembus Rp 1,79 trilliun. “Kami menargetkan, pada akhir tahun ini pendapatan kami mencapai sekitar Rp 1,79 triliun atau bertumbuh 197% dari 2021 dan mencapai sekitar Rp 4 triliun atau bertumbuh 125% pada 2023. Ini jika dibandingkan target pendapatan tahun ini,” ujar Group Chief Business Development Officer WIRG Jimmy Halim, akhir pekan lalu. Dia menjelaskan, target pertumbuhan pendapatan perusahaan teknologi tersebut akan dikontribusi oleh unit bisnis WIRG yang ada saat ini dan belum memperhitungkan bisnis metaverse di dalamnya. Secara umum, perseroan juga akan menargetkan peningkatan kontribusi pendapatan dari segmen advertising, termasuk sponsorship melalui optimalisasi dan penetrasi cakupan area yang lebih besar ke depan. Estimasi pendapatan tahun depan diyakini terealisasi karena WIRG berhasil mengalami pertumbuhan positif dalam kurun tiga tahun terakhir, walaupun ada pandemi Covid-19 yang sangat memengaruhi kondisi ekonomi makro Indonesia.
Sepanjang 2019-2021, perusahaan teknologi ini telah mencetak compound annual growth rate (CAGR) atau rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 57%. Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, EBITDA dan laba bersih WIRG juga tumbuh dengan CAGR masing-masing 65% dan 102% dari 2019 hingga 2021. Sampai akhir 2022, perseroan menargetkan pertumbuhan EBITDA sebesar 139% dan laba bersih 87% dibandingkan pencapaian 2021. Perusahaan teknologi berbasis augmented reality (AR), virtual reality (VR), dan artificial intelligence (AI) ini memiliki tiga kelompok sumber penghasilan. Pertama, kelompok pendapatan commerce berupa kontribusi dari pendapatan yang dapat dihasilkan oleh mitra melalui commerce transaction di dalam platform DAV dan Mindstores. Kedua, pendapatan proyek dari kerja sama business to business (B2B) yang WIRG lakukan sebagai software development dan brand and IT consulting. Ketiga, pendapatan advertising yang berasal dari iklan dan sponsorship yang penempatannya dilakukan melalui platform perseroan. (Yoga)
PERDAGANGAN ELEKTRONIK Fitur Gratis Ongkos Kirim Tidak Menyehatkan
Program gratis ongkos pengiriman barang yang jamak tersedia di platform lokapasar dinilai dapat menarik konsumen dalam jumlah besar. Di sisi lain, program itu dianggap merugikan bisnis perusahaan jasa kurir. Salah satu konsekuensinya adalah mematikan pesaing. Sekjen Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman ekspres Indonesia (Asperindo) Trian Yuserma, Kamis (29/9) di Jakarta mengatakan, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asperindo tidak sepakat dengan program gratis ongkos kirim atau ”free ongkir” yang marak diterapkan sejumlah platform lokapasar. Aspirasi ini telah diserukan sejak awal bulan ini. Asperindo bahkan mendorong perusahaan jasa kurir anggota asosiasi tidak ambil bagian dalam promosi program gratis ongkos kirim tersebut.
Trian menjelaskan, konsep program itu dinilai melanggar Permenkominfo No 1 Tahun 2012 tentang Formula Tarif Layanan Pos Komersial. Dalam Pasal 5 aturan itu disebutkan, tarif layanan pos komersial tidak boleh di bawah Harga pokok produksi. ”Realitasnya, ada program bebas ongkos kirim pengiriman barang bukan hanya menggunakan sumber anggaran perusahaan platform lokapasar sendiri. Ada juga mereka yang minta agar perusahaan jasa kurir ikut ambil bagian (mengeluarkan biaya untuk ikut menyubsidi program gratis ongkos kirim),” ujar Trian. Terkait aspirasi Asperindo itu, External Communications Senior Lead Tokopedia Rizky Juanita Azuz menyampaikan, pihaknya masih mempelajari dan bekerja sama dengan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA). (Yoga)
Menelusuri Jejak INA di Traveloka
Indonesia Investment Authority (INA) akhirnya merealisasikan rencananya untuk ikut memberikan pendanaan kepada Traveloka bersama Black-rock, Allianz Global Investors, Orion Capital Asia, dan lembaga keuangan terkemuka lainnya. Pengumuman INA, Kamis (29/9) menjawab kabar yang telah berhembus lama terkait aksi investasi itu. Traveloka mengantongi pendanaan US$ 300 juta atau Rp 4,5 triliun. Langkah INA memberikan pendanaan pada Traveloka cukup mengejutkan karena dilakukan di tengah seretnya pendanaan terhadap perusahaan rintisan atau startup di seluruh dunia. CEO INA Ridha Wirakusumah mengatakan bahwa pandemi telah mempercepat transformasi digital. Perubahan perilaku pelanggan ditambah dengan layanan teknologi inovatif, mencerminkan bagaimana digitalisasi dapat membantu mendorong pemulihan ekonomi. “Mendukung sektor perjalanan dengan kemudahan dan akses yang tak tertandingi, agen perjalanan online (OTA) pun mengubah lanskap industri selama pandemi Covid-19,” katanya, Kamis (29/9). OTA berperan dalam pemesanan bruto pariwisata Indonesia yang meningkat 24 % sebelum pandemi Covid-19 menjadi 33% tahun lalu. (Yoga)
Ketar Ketir Bank Digital
Kenaikan suku bunga acuan BI dan tingkat bunga penjaminan LPS bakal membuat bisnis bank-bank digital kian menantang. Situasi tersebut membuat mereka akan bersaing sengit dengan bank konvensional untuk memupuk dana pihak ketiga (DPK). Apalagi, selama ini bank-bank digital yang relatif baru meramaikan industri perbankan, kerap menggunakan bunga simpanan tinggi untuk menarik dana masyarakat. Belakangan tren tersebut berubah. Sejumlah bank digital tak lagi menjadikan suku bunga simpanan tinggi sebagai pendongkrak DPK. Saat ini, rata-rata bunga simpanan deposito bank digital berada di kisaran 3,5% sampai 4%, sebelumnya, ada bank digital yang berani mematok bunga simpanan hingga 8%. Beberapa bank digital pun kini memilih mengoptimalkan dana murah di tengah kenaikan suku bunga acuan dan inflasi yang meninggi.
Salah satunya entitas usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang bergerak di layanan digital yakni PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO). Direktur Keuangan Bank Raya Akhmad Fazri mengatakan bahwa perseroan telah melakukan penyesuaian tingkat suku bunga simpanan dengan mempertimbangkan kondisi kebijakan regulator, posisi likuiditas, dan tingkat persaingan di industri. Bank Raya, lanjutnya, mengoptimalkan pertumbuhan dana murah (current account saving account/CASA) yang ditunjang dengan program menarik serta suku bunga yang bersaing. “Strategi Bank Raya untuk meningkatkan CASA adalah dengan mengoptimalkan program marketing secara digital dan direct dengan pendekatan O2O [online to offl ine] melalui community branch,” kata Akhmad kepada Bisnis, Rabu (28/9). (Yoga)
Lokapasar Masih Didominasi ”Reseller”
Pelaku UMKM yang berjualan di lokapasar per Juni 2022 telah mencapai 19 juta. Dari jumlah tersebut, hampir 90 % di antaranya merupakan UMKM pedagang atau reseller, baik produk dalam maupun luar negeri. Menjadi ironi karena sebagian besar barang yang dijual merupakan produk impor. Hal ini mengemuka dalam diskusi hibrida bertajuk ”Menilik Peluang Transformasi Digital Sektor UMKM untuk Akselerasi Perekonomian Nasional”, Selasa (27/9) di Jakarta. Diskusi ini diselenggarakan oleh harian Kompas dan Lazada Indonesia. ”Apabila ditelaah lebih dalam, kebanyakan barang yang dijual reseller sebenarnya buatan luar negeri alias impor. Siapa pun (warga) memiliki hak berbisnis di lokapasar. Kami tidak bisa mencegah kemunculan para reseller, tetapi kami dorong agar mereka lebih banyak menjual barang buatan lokal,” ujar Asisten Deputi Pembiayaan dan Investasi UKM Kementerian Koperasi dan UKM Temmy Satya Permana pada forum itu.
Menurut Temmy, Kementerian Koperasi dan UKM bersama Kemendag telah menyepakati perlunya revisi Permendag No 50 Tahun 2020 tentang Ketentuan Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha Dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE). Kementerian Koperasi dan UKM mengusulkan agar barang yang dijual di lokapasar wajib disertai asal negara produksi. Revisi Permendag No 50/2020 diharapkan mampu melindungi konsumen dan produsen UMKM dalam negeri. Saat revisi selesai, semua produk yang beredar di lokapasar juga diharapkan bersertifikat halal dan memenuhi Standar Nasional Indonesia, selain mencantumkan negara asal produksi. (Yoga)
Ekonomi Digital 2030 Capai Rp 4.531 Triliun
JAKARTA, ID – Ekonomi digital Indonesia berpotensi tumbuh hingga delapan kali lipat, melesat dari Rp 632 triliun tahun 2020 ke Rp 4.531 triliun tahun 2030. Bila benar terealisasi, Indonesia bakal menjadi negara dengan nilai ekonomi digital tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Pangan menjadi salah satu sektor yang masih memiliki ruang lebar untuk masuk ke dalam ekonomi digital. “Pertumbuhan ekonomi digital melompat delapan kali lipat, dari kira-kira Rp 632 triliun pada tahun 2020 menjadi Rp 4.531 triliun pada tahun 2030,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka acara BUMN Startup Day di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (26/09/2022). Selain Menteri BUMN Erick Thohir, turut mendampingi Presiden dalam pembukaan BUMN Startup Day adalah Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Penjabat Gubernur Banteng Al Muktabar, serta Ahmed Zaki Iskandar. Presiden menjabarkan, dalam sektor pangan terdapat setidaknya tiga aspek yang bisa disasar oleh para pelaku usaha rintisan Indonesia, yakni produksi, distribusi, dan pemasaran. “Di sini ada peluangnya semua. Urusan produksinya ada, urusan distribusinya ada, urusan pasarnya ada semua peluangnya,” kata dia. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Rencana Riset dan Inovasi 2022 Disiapkan
14 Dec 2021 -
Tujuh Kantor Pajak Besar Penuhi Target Setoran
14 Dec 2021 -
Yuk, Menggali Utang di Negeri Sendiri
14 Dec 2021









