Korporasi
( 1557 )Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih
Efisiensi Energi Jadi Senjata Utama
Properti Lesu Dihantam Lemahnya Daya Beli
Antisipasi Risiko, Perbankan Membukukan Laba Bersih Rp19,36 T
Industri perbankan di awal tahun ini membukukan laba bersih Rp19,36 triliun. Nilai ini menyusut 7,28% dibandingkan dengan laba bersih periode Januari 2024 yang sebesar Rp 20,88 triliun. Apabila ditelaah dari data OJK, pendapatan bunga perbankan nasional di awal tahun mencapai Rp101,92 triliun, naik 4,88% secara yoy per Januari 2025. Sedangkan, beban bunga tumbuh lebih tinggi 6,25% yoy menjadi Rp56,03 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perbankan senilai Rp45,89% yoy. Susutnya laba bersih perbankan nasional disebabkan karena kelompok bank berdasarkan, modal inti (KBMI) 4 yang juga mengalami penurunan laba 15,33% dari 14,61 triliun pada Januari 2024 menjadi Rp12,37 triliun per Januari 2025. Tingginya suku bunga membuat beban bunga perbankan ikut melonjak, sehingga menekan margin bunga (net interest margin/NIM) menjadi 4,5% di Januari 2025. Jika ditelaah lagi berdasarkan kepemilikannya, bank pelat merah meraup laba bersih Rp7,74 triliun, anjlok 25,79% (yoy). Sehingga, pangsa pasar dari laba bank BUMN sebesar 39,98% dari total laba industri perbankan. Kemudian, bank umum swasta nasional (BUSN) mengantongi laba Rp9,34 triliun atau tumbuh 15,74% (yoy) per Januari 2025. Ini menjadikan pangsa pasar BUSN di sisi laba bersih membalap bank BUMN menjadi 48,24% dari total laba industri perbankan. (Yetede)
12 Orang Meninggal Akibat Bentrokan di Puncak Jaya
Perusahaan Swasta Mencari Pendanaan dari Pasar Obligasi
Perusahaan swasta yang membutuhkan modal tetap meminati penghimpunan dana di pasar obligasi di tengah lemahnya nilai tukar rupiah dan tekanan jual oleh investor di pasar saham. Prospek penurunan suku bunga dan intervensi pemerintah terhadap pasar modal diharapkan semakin menggairahkan investor untuk kembali ke pasar modal. Perusahaan penyedia jasa tambang PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), anak perusahaan utama PT BUMA Internasional Grup Tbk, Kamis (27/3) meresmikan penerbitan surat utang atau obligasi syariah, Sukuk Ijarah I BUMA Tahun 2025, senilai Rp 2 triliun. Ini kali kedua BUMA melepas surat utang di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 2023.
”Ini tonggak penting diversifikasi sumber pendanaan kami, melengkapi obligasi global, obligasi rupiah konvensional, pembiayaan bank konvensional, bank syariah, serta leasing,” kata Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim di BEI. BUMA menerbitkan sukuk dalam tiga seri, dengan tenor 370 hari, 3 tahun, dan 5 tahun. Pendanaan tersebut akan digunakan untuk operasionalisasi BUMA di dalam negeri. Selama masa penawaran, Iwan mengatakan, sukuk tersebut sudah menarik minat beragam investor, termasuk bank, pengelola aset, reksa dana, dan dana pensiun. Lebih dari 50 % investasi tercatat masuk dalam seri dengan jangka 5 tahun.
Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Kristian Manullang menyatakan, sukuk ini merupakan satu dari 59 emisi sukuk ijarah yang ada di BEI. Total sukuk yang masih tercatat di BEI hingga saat ini sebanyak 136 emisi dengan nilai Rp 59,84 triliun. ”Dapat kami sampaikan bahwa pasar sukuk korporasi selama periode Desember 2023 sampai Desember 2024 mengalami peningkatan 12 % dengan total nilai sukuk Rp 19,95 triliun. Sebanyak 28 emisi sukuk dicatatkan selama periode 2024,” katanya. Data Pefindo menunjukkan perusahaan swasta akan membutuhkan pendanaan ulang sebesar Rp 162 triliun tahun ini. Nilai penerbitan surat utang baru diperkirakan Rp 139,29 triliun sampai Rp 155,43 triliun. (Yoga)
Stok garam industri habis bulan depan
Kemenperin memberikan sinyal bahwa stok garam untuk industri makanan dan minuman akan habis bulan depan. Relaksasi impor menjadi penting agar tidak menjadi krisis garam industri. Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika menerangkan, pemerintah segera menyelesaikan revisi ini, garam untuk industri aneka pangan harus berasal dari dalam negeri. Selain sektor aneka pangan, regulasi ini mencakup 11 subsektor manufaktur lain yang diwajibkan menggunakan garam lokal. "Saat ini, revisi Perpres No. 126 Tahun 2022 sedang dalam tahap harmonisasi untuk memberikan relaksasi impor garam industri," ujar dia dalam konfrensi pers secara daring, Rabu (26/3/2025). Putu menjelaskan, keputusan untuk merevisi Perpres telah diambil pada akhir tahun lalu dalam rapat di Kemenko Bidang Pangan.
Proses revisi telah berlangsung selama tiga bulan terakhir untuk mengatasi keterbatasan pasokan garam di industri pangan olahan. Dia memastikan stok garam industri untuk keperluan Hari Raya Idulfitri dalam keadaan aman. Stok garam yang ada juga sudah dialokasikan untuk mengisi kontrak-kontrak bisnis yang sebelumnya telah diteken. Hanya saja, stok garam industri untuk keperluan Mei dan Juni belum bisa dipastikan. Jubir Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, pihaknya akan mengawal isu kelangkaan garam industri, agar bisa segera teratasi. Sebab, ketersediaan bahanbaku sangat penting untuk menjaga utilisasi produksi, termasuk di sektor manufaktur. (Yetede)
RS Hermina Tetap Mencatat Kinerja Positif
Bank Bermodal Besar Catatkan Kenaikan Laba
GOTO Optimistis Lanjutkan Pertumbuhan
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









