Korporasi
( 1557 )Harga Emas Cetak Rekor Baru
Memasuki Babak Baru Pembangunan IKN
Geliat Kebangkitan Bisnis Internet MyRepublic
Tekanan Operasional Menghambat Kinerja
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mengalami penurunan profitabilitas meskipun penjualan sepanjang tahun 2024 tumbuh solid sebesar 13,6% year-on-year (yoy), mencapai Rp 37,8 triliun. Tekanan berasal dari peningkatan beban operasional seperti gaji dan sewa yang masing-masing naik 7,4% dan 17,1% yoy, serta strategi diskon agresif yang menekan margin laba kotor. Akibatnya, laba bersih MAPI turun 6,7% menjadi Rp 1,76 triliun.
Analis Bahana Sekuritas, Laras Nadira, menyebut bahwa kenaikan tarif sewa pusat perbelanjaan akan terus menjadi tantangan bagi profitabilitas MAPI. Ia memproyeksikan margin laba kotor akan membaik ke 43,8% pada 2025 dan 2026 melalui strategi pengelolaan merchandise dan fokus pada produk unggulan. Namun, Laras tetap mengambil pendekatan konservatif dengan memangkas target harga saham menjadi Rp 1.600 dan memberikan rekomendasi hold.
Analis JP Morgan, Benny Kurniawan, justru melihat kinerja MAPI pada 2024 lebih baik dari ekspektasi pasar, dan memberikan rating overweight dengan target harga Rp 1.760 per saham. Sementara itu, Indy Naila, Investment Analyst di Provina Visindo, masih optimistis dengan potensi pertumbuhan MAPI di 2025 karena daya beli masyarakat menengah atas yang tangguh serta prospek sektor food and beverage, dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 1.850 per saham.
Meskipun menghadapi tekanan margin dan risiko konsumsi yang melemah, MAPI tetap memiliki prospek pertumbuhan terbatas dengan proyeksi pertumbuhan penjualan sebesar 9% untuk 2025 dan 2026.
Korporasi Beri Sinyal Positif Terhadap Pasar Modal
KLBF Redam Risiko Kurs Lewat Strategi Efisiensi
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) memasang target pertumbuhan yang lebih konservatif di tahun 2025, yakni 8%-10% untuk pendapatan dan laba. Strategi baru difokuskan pada ekspansi produk, komersialisasi alat kesehatan, serta diversifikasi transaksi pembelian bahan baku menggunakan mata uang yuan sebagai langkah mitigasi risiko fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Analis Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas menilai langkah penggunaan yuan sebagai strategi diversifikasi risiko yang cerdas di tengah ketidakpastian ekonomi. Meski ada tantangan berupa pelemahan daya beli masyarakat, Azis masih menilai target KLBF dapat dicapai dengan strategi yang telah disiapkan, dan memberikan rekomendasi speculative buy dengan target harga Rp 1.240–Rp 1.245 per saham.
Sementara itu, menurut Sarkia Adelia dari Panin Sekuritas, pertumbuhan KLBF di kuartal IV-2024 sangat didorong oleh segmen distribusi-logistik dan consumer health, terutama dari produk preventif dan dialyzer. Dia juga mencermati bahwa strategi pengembangan alat kesehatan serta kemitraan dengan pihak ketiga akan menjadi penopang pertumbuhan ke depan. Sarkia memberi rekomendasi buy, meski menurunkan target harga dari Rp 1.700 ke Rp 1.350.
Dari sudut pandang Willy Goutama (Maybank Sekuritas), peningkatan margin kotor dan laba bersih KLBF yang didorong penurunan biaya produksi menunjukkan efisiensi operasional yang kuat. Ia memproyeksikan laba bersih KLBF mencapai Rp 3,5 triliun di 2025, dan terus naik hingga Rp 4,5 triliun di 2027, dengan rata-rata pertumbuhan EPS 12% per tahun. Namun, ia juga menyesuaikan target harga menjadi Rp 1.450 per saham dengan rekomendasi buy.
Meskipun menghadapi tekanan daya beli dan tantangan ekonomi global, KLBF tetap menunjukkan prospek positif melalui strategi efisiensi, ekspansi produk, dan diversifikasi risiko mata uang, seperti disampaikan oleh ketiga tokoh analis tersebut.
Obligasi Korporasi Jadi Pilihan Rasional
Dalam kondisi ekonomi global yang penuh tekanan dan minim katalis positif, pasar modal Indonesia menunjukkan anomali menarik dengan melonjaknya penerbitan surat utang korporasi sebesar 77,4% pada kuartal I/2025, mencapai Rp46,75 triliun. Fenomena ini mencerminkan lemahnya minat terhadap pasar saham serta tingginya ketertarikan terhadap aset berbasis yield di tengah volatilitas global. Emiten-emiten lokal, terutama di sektor multifinance dan energi dengan peringkat kredit tinggi, memanfaatkan momentum ini dengan cermat.
Namun, dinamika ini tidak terlepas dari kebijakan fiskal dan moneter nasional. Pemerintah berencana menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dalam jumlah besar, sedangkan Bank Indonesia (BI) aktif menggelontorkan SRBI untuk mengelola arus modal dan stabilitas rupiah. Hal ini menciptakan persaingan ketat atas likuiditas di pasar, yang berpotensi mendorong naiknya biaya dana bagi sektor swasta.
Dalam situasi ini, peran tokoh-tokoh regulator menjadi sangat penting: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan menjaga transparansi dan efisiensi pasar, sementara Bank Indonesia perlu menyinkronkan kebijakan SRBI agar tidak mengganggu pembiayaan sektor riil. Selain itu, lembaga pemeringkat seperti Pefindo juga berperan besar dengan proyeksi konservatifnya, memperkirakan total emisi obligasi korporasi tahun 2025 sebesar Rp143,91 triliun. Proyeksi ini menunjukkan adanya kehati-hatian pasar terhadap risiko yang meningkat akibat ketegangan geopolitik global, seperti aksi sell-off China yang memicu lonjakan yield US Treasury.
PT PLN Masdar Kembangkan PLTS Terapung di RI
PT PLN Masdar Kembangkan PLTS Terapung di RI
CIMB Niaga Bagikan Dividen Senilai Rp 3,9 Triliun
Pilihan Editor
-
Melawan Hantu Inflasi
10 Mar 2022 -
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022








