Birokrasi
( 179 )Hardiknas: Presiden Prabowo Meluncurkan 4 Program Pendidikan
Langkah Danantara Menuju Kapitalisasi Triliunan Dolar
BPI Danantara Akan jadi Penggerak Investasi
DPR Soroti Mekanisme Rekrutmen ASN
Pemerintah Proses Ulang Pemindahan ASN ke IKN 2026
KPK Hadapi Hambatan Teknis di Lapangan
Perpres PCO Digugat, Istana Angkat Bicara
Akselerasi Kopdes Merah Putih Dimulai
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menginstruksikan para kepala daerah untuk menggunakan belanja tidak terduga (BTT) guna mempercepat pembentukan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, sesuai dengan Surat Edaran (SE) Mendagri sebagai payung hukum. Targetnya, 80.000 Kopdes diluncurkan paling lambat Juli 2025. Ini juga merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden (Inpres) No.9/2025 yang dikeluarkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari strategi mempercepat pembangunan ekonomi berbasis desa menuju Indonesia Emas 2045.
Tito menjelaskan bahwa penggunaan BTT diperlukan bagi daerah yang belum menganggarkan program tersebut dalam APBD Perubahan 2025, dan meminta program Kopdes dimasukkan dalam dokumen perubahan tersebut. Ia juga bekerja sama dengan Menko Pangan Zulkifli Hasan untuk mengamankan dasar hukum pelaksanaannya.
Sementara itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menegaskan bahwa kehadiran Kopdes Merah Putih tidak akan menghapus atau melemahkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang telah ada. Sebaliknya, Kopdes akan memperkuat BUMDes, dengan kemungkinan kedua lembaga itu saling berintegrasi.
Langkah ini sejalan dengan enam instruksi Presiden Prabowo dalam Inpres No.9/2025, termasuk membentuk Kopdes untuk kegiatan pengadaan sembako, simpan pinjam, klinik, apotek, cold storage, dan logistik, sesuai dengan potensi ekonomi masing-masing desa atau kelurahan.
Indonesia Membutuhkan Investasi yang Sehat dan Aman
Ada duri dalam daging di dunia investasi di Indonesia. Pelaku usaha terpaksa
menghadapi berbagai tantangan, mulai dari birokrasi dan perizinan yang lamban,
pungutan liar alias pungli, hingga pemerasan serta perilaku premanisme dari
berbagai aktor. Mereka berakrobat menghadapi persoalan tersebut sendirian. Mulai
dari usaha kecil sampai investor besar, termasuk penanaman modal asing (PMA),
kerap menghadapi masalah yang seharusnya tidak perlu ada. ST, pemilik
perusahaan manufaktur di Pulau Jawa, bercerita bagaimana oknum anggota
legislatif daerah mencoba mengintimidasi perusahaannya. Rombongan anggota legislatif
itu suatu hari tiba-tiba mendatangi pabriknya.
Mereka mengaku ada pengaduan warga soal limbah dari pabriknya. ”Pertanyaan
ketua rombongannya, ’Ini perusahaan asing, ya?’ Saya bilang, ini perusahaan saya,
orang Indonesia. Dia bilang, ’Kamu, kan, cuma dipakai nama saja.’ Marah saya,
gebrak meja. Memangnya kalau punya asing, Bapak boleh peras?” tutur ST. ST ”unjuk
kekuatan” dengan menyebut kenalannya petinggi partai yang separtai dengan
sebagian rombongan anggota legislatif tersebut. Rombongan legislatif pun
melunak. ST percaya diri menunjukkan aktivitas di area pabriknya sesuai aturan.
WA, pimimpinan PMA di Jabar, mengaku banyak uang yang harus dikeluarkan untuk pungli
yang dilakukan di tingkat masyarakat bawah hingga birokrat.
Dana rutin yang disiapkan mencapai 20 % dari perputaran total per tahun.
PW, pengusaha lain di Jabar, mengeluhkan tidak adanya kepastian hukum membuat
munculnya biaya tidak terprediksi. Ada oknum-oknum tertentu yang harus dibayar.
Misalnya, saat perusahaan digeruduk kelompok ormas, mereka harus mengeluarkan
biaya untuk oknum aparat kepolisian agar diamankan. Padahal, belum tentu
terjamin keamanannya. AP, manajer PMA di Jabar, pernah didemo perusahaannya oleh
ormas dan dimintai sejumlah uang oleh oknum aparat.
”Kita butuh investasi yang sehat, yang aman,” kata AP. Indonesia perlu
belajar dari negara tetangga dalam memperlakukan investor. Di Thailand, investor
diperlakukan istimewa. Yang terbaru adalah penyederhanaan prosedur visa untuk memfasilitasi
kegiatan investasi di Thailand. Negara-negara tetangga itu belakangan mampu
menarik investasi besar dari sejumlah perusahaan teknologi dunia.Pada tahun
2024, Google dikabarkan akan membangun pusat data di Thailand. Apple juga
menggelontorkan investasi 15 miliar USD di Vietnam, karena negara-negara itu
memberikan beragam insentif untuk kemudahan usaha. (Yoga)
Independensi BI dalam Sorotan DPR
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









