Tags
Keuangan
( 1023 )Manufer Pertama Bank untuk Naik Kelas
KT1
08 Mar 2025 Investor Daily (H)
OJK mendorong perbankan untuk meningkatkan permodalannya, lantaran saat ini baru ada empat bank yang masuk dalam kategori kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4. PT Bank Permata Tbk (Permata Bank) pun memiliki rencana untuk naik kelas menjadi bank papan atas. Direktur Utama Permata Bank Meliza Rusli mengatakan, saat ini perseroan merupakan bank dengan permodalan tertinggi di antara bank KBMI 3 lainnya. Sehingga pihaknya akan fokus untuk implementasikan target jangka panjang. "Supaya ada kelanjutan bisnis berkelanjutan, jadi kami bukan hanya kejar naik kelas saja, tapi meraih sustainability dalam jangka panjang," ucap Meliza. Berdasarkan laporan keuangan publik perseroan di akhir Desember 2024 modal inti (Tier 1) bank bersandi saham BNLI ini mencapai Rp 51 triliun. Modal yang besar tersebut menjadikan Permata Bank sebagai bank yang sangat prospektif untuk naik ke KBMI 4. Adapun, pengelompokan bank berdasarkan KBMI mengacu kepada POJK No.12/POJK.03/2021 tentang Konsolidasi Bank Umum. Perincian aturan KBMI yaitu KBMI 1 untuk bank dengan inti kurang dari Rp 6 triliun. Kemudian kelompok KBMI 3 adalah untuk bank dengan modal inti Rp 14 triliun sampai dengan modal inti lebih dari Rp triliun. (Yetede)
Kredit Macet Rumah Tangga Meningkat di Awal 2025
HR1
07 Mar 2025 Kontan
Ancaman kenaikan kredit macet (Non-Performing Financing/NPF) menjadi tantangan bagi industri multifinance di 2025, memaksa perusahaan leasing meningkatkan pencadangan guna menjaga stabilitas keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat NPF multifinance naik dari 2,70% di Desember 2024 menjadi 2,96% di Januari 2025, menunjukkan risiko pembiayaan yang meningkat.
Ristiawan Suherman, Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF), menyatakan bahwa meskipun NPF perusahaannya masih terjaga di 1,27%, mereka tetap meningkatkan pencadangan sebesar 7% sebagai langkah antisipasi. Namun, ia tetap optimistis mencapai target laba sebelum pajak Rp 550 miliar pada akhir 2025, dengan strategi menjaga kualitas portofolio dan mendorong pembayaran angsuran lebih awal melalui teknologi digital.
Elisabeth Lidya Sirait, Head of Corporate Secretary & Legal PT Mandiri Utama Finance (MUF), mengatakan bahwa rasio kredit macet mereka masih terkendali, dengan pencadangan berada di 3,5% dari total pembiayaan, serta target menjaga rasio pencadangan di 6% terhadap piutang. MUF juga tetap menjaga stabilitas profitabilitas dengan pencadangan yang terukur.
Sementara itu, Christiel Lesmana, Managing Director PT Mandala Multifinance, menegaskan bahwa perusahaannya akan menyesuaikan pencadangan sesuai dengan perkembangan risiko industri, sambil tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap regulasi.
Perusahaan multifinance menerapkan strategi peningkatan pencadangan dan kehati-hatian dalam penyaluran kredit untuk menghadapi potensi kenaikan NPF, dengan harapan tetap menjaga profitabilitas dan stabilitas keuangan di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
Jelang Lebaran, Bank Genjot Layanan PayLater
HR1
06 Mar 2025 Kontan
Menjelang Lebaran, perbankan menggenjot penyaluran kredit melalui produk paylater (BNPL) guna memanfaatkan peningkatan konsumsi masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per Januari 2025, kredit paylater perbankan tumbuh 46,45% menjadi Rp 22,57 triliun, berasal dari 22,44 juta rekening pengguna.
Bank Mandiri optimistis transaksi paylater akan naik 20% dibanding periode sebelumnya, terutama melalui aplikasi Livin' by Mandiri. Yanto Masyap, SVP Digital Retail Banking Bank Mandiri, menjelaskan bahwa paylater banyak digunakan untuk transaksi offline di minimarket dan SPBU, serta e-commerce. Bank Mandiri menawarkan bunga 0% untuk tenor 1-3 bulan dan 1,5% per bulan untuk tenor lebih lama.
Bank Central Asia (BCA) juga menargetkan pertumbuhan paylater selama Idulfitri. Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, menyebut outstanding paylater BCA tumbuh 195% yoy menjadi Rp 339 miliar per Januari 2025. BCA memberikan bunga 0% untuk tenor 1-3 bulan dan 1,25% untuk tenor 6-12 bulan.
Allo Bank Indonesia juga optimistis dengan kenaikan transaksi paylater 20%-30% selama Ramadan dan Idulfitri, didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat. Indra Utoyo, Direktur Utama Allo Bank, mencatat pertumbuhan pengajuan paylater mencapai 300% sepanjang 2024, dengan total pinjaman digital yang disalurkan mencapai Rp 5,7 triliun per Januari 2025. Allo Bank menargetkan debitur muda dengan limit kredit hingga Rp 100 juta, yang bisa digunakan untuk transaksi offline via QRIS.
Secara keseluruhan, bank-bank besar semakin agresif mengembangkan layanan paylater, menawarkan bunga rendah hingga 0%, serta memperluas ekosistem transaksi, baik online maupun offline. Hal ini menunjukkan bahwa BNPL masih memiliki potensi besar untuk tumbuh, terutama di tengah meningkatnya tren belanja digital dan konsumsi saat Ramadan.
Perbankan Bergulat dengan Likuiditas akibat SBN
HR1
05 Mar 2025 Kontan
Perbankan masih menghadapi tantangan pengetatan likuiditas, meskipun Dana Pihak Ketiga (DPK) mulai tumbuh lebih tinggi di Januari 2025 sebesar 5,51% secara tahunan, dibanding Desember 2024 yang hanya 4,48%. Namun, DPK dari nasabah perorangan justru turun 2,6% karena banyak masyarakat yang menarik tabungan atau beralih ke instrumen investasi lain seperti Surat Berharga Negara (SBN), yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibanding deposito bank.
Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiaatmadja, mengakui bahwa persaingan dengan SBN menjadi tantangan serius bagi bank dalam menjaga likuiditas. Jika bunga SBN tetap tinggi, ada potensi nasabah kaya yang menyumbang 70% DPK BCA akan memindahkan dananya ke instrumen tersebut. Bahkan, per Januari 2025, deposito BCA turun 5,1% secara tahunan menjadi Rp 195,4 triliun.
Direktur Bisnis Bank Raya, Kicky Andrie Davetra, juga menyatakan bahwa tingginya imbal hasil SBN membuat bank sulit bersaing, sehingga mereka harus menawarkan bunga simpanan yang lebih menarik. Sementara itu, kebijakan insentif likuiditas makrokprudensial (KLM) dari BI dinilai tidak terlalu membantu karena tidak semua bank memiliki kredit di sektor yang mendapatkan insentif tersebut.
Direktur Kepatuhan Bank Oke, Efdinal Alamsyah, memperkirakan persaingan perebutan likuiditas masih akan terus terjadi selama imbal hasil SBN tetap tinggi. Ia menekankan bahwa bank harus mengambil langkah proaktif, seperti meningkatkan daya tarik bunga deposito, agar nasabah tidak memindahkan dana mereka ke instrumen lain.
Dengan kondisi ini, bank perlu menyesuaikan strategi bunga simpanan dan produk investasi untuk tetap menarik dana masyarakat, terutama dari nasabah kelas atas yang lebih fleksibel dalam mengelola investasinya.
Pertumbuhan Kredit UMKM ini Terus Mengalami Pelemahan Beberapa Tahun Terakhir
KT1
04 Mar 2025 Investor Daily (H)
Di awal tahun ini, industri menyalurkan kredit UMKM sebesar Rp 1.390,8 triliun, tumbuh 2,5% secara yoy. Pertumbuhan kredit UMKM ini terus mengalami pelemahan beberapa tahun terakhir. Mengacu pada data BI, pertumbuhan yang melambat pada januari 2025 disebabkan kredit usaha mikro yang terkoreksi 0,1% (yoy) menjadi Rp629,8 triliun. Realisasi tersebut berbalik arah dari posisi akhir Desember 2024 yang masih naik tipis 0,8% (yoy). Berikutnya, kredit skala menengah juga mengalami perlambatan dari 1,9% (yoy) per Desember 2024 menjadi hanya naik 1,1% (yoy) per Januari 2025 menjadi Rp 305,6 triliun. Sementara itu, kredit kecil tercatat tumbuh 7,2% (yoy) menjadi Rp 455,3 triliun per januari 2025, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang naik 7% (yoy) per Januari menjadi Rp390,3 triliun, menyusut dari akhir Desember 2024 yang meningkat 10,4% (yoy. Sebaliknya, kredit UMKM untuk modal kerja naik tipis, meskpiun hanya tumbuh 0,5% (yoy) atau tembus Rp.1000,4 per Januari 2025, dibandingkan bulan sebelumnya yang naik 0,4% (yoy). Sebaliknya, kredit UMKM untuk modal kerja naik tipis, meskipun hanya tumbuh 0,5% (yoy) atau tembus Rp 1.000,4 juta per Januari 2025, dibandingkan bulan sebelumnya yang naik 0,4% (yoy). (Yetede)
Saham Perbankan: Sulit Prediksi Titik Terendahnya
HR1
04 Mar 2025 Kontan
Saham perbankan big caps seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) mengalami penguatan di awal pekan setelah sebelumnya anjlok tajam. Riset JP Morgan, yang meningkatkan peringkat saham bank besar, membawa sentimen positif ke pasar.
Namun, Analis JP Morgan, Harsh Wardhan Modi, menilai bahwa meskipun ada peluang rebound secara teknikal dalam jangka pendek, masalah likuiditas masih menjadi tantangan utama. Kualitas aset perbankan akan bergantung pada peningkatan aliran dana ke deposito. Modi memperingatkan bahwa pergerakan harga saham bank bisa tetap terbatas dalam beberapa kuartal ke depan.
Sejak awal 2025, saham BMRI turun 16,24%, BBRI 12,83%, BBCA 11,11%, dan BBNI 7,19%. Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, menilai bahwa saham bank sudah berada di level rendah secara valuasi, tetapi masih sulit menentukan titik terendahnya. Ia melihat koreksi harga saham ini berlebihan dibandingkan dengan kinerja fundamental bank.
Sementara itu, Maximilianus Nico Demus, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menyarankan investor untuk membeli saham bank secara bertahap dan memperhatikan momentum yang tepat. Menurutnya, fundamental bank tetap kuat, dan aksi buyback serta pembagian dividen bisa menjadi katalis positif.
Sebagai langkah strategis, Nico menurunkan target harga saham bank besar, dengan BMRI dipatok di Rp 7.000, BBRI Rp 5.050, BBNI Rp 5.800, dan BBCA Rp 11.650. Ekky juga merekomendasikan beli bertahap dengan target harga lebih rendah, seperti BBRI di Rp 4.500-Rp 4.600 dan BMRI di Rp 6.000.
Meski ada peluang pemulihan saham bank, investor tetap perlu berhati-hati terhadap volatilitas dan perkembangan likuiditas perbankan dalam beberapa bulan ke depan.
Saham Perbankan: Sulit Prediksi Titik Terendahnya
HR1
04 Mar 2025 Kontan
Saham perbankan big caps seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) mengalami penguatan di awal pekan setelah sebelumnya anjlok tajam. Riset JP Morgan, yang meningkatkan peringkat saham bank besar, membawa sentimen positif ke pasar.
Namun, Analis JP Morgan, Harsh Wardhan Modi, menilai bahwa meskipun ada peluang rebound secara teknikal dalam jangka pendek, masalah likuiditas masih menjadi tantangan utama. Kualitas aset perbankan akan bergantung pada peningkatan aliran dana ke deposito. Modi memperingatkan bahwa pergerakan harga saham bank bisa tetap terbatas dalam beberapa kuartal ke depan.
Sejak awal 2025, saham BMRI turun 16,24%, BBRI 12,83%, BBCA 11,11%, dan BBNI 7,19%. Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, menilai bahwa saham bank sudah berada di level rendah secara valuasi, tetapi masih sulit menentukan titik terendahnya. Ia melihat koreksi harga saham ini berlebihan dibandingkan dengan kinerja fundamental bank.
Sementara itu, Maximilianus Nico Demus, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menyarankan investor untuk membeli saham bank secara bertahap dan memperhatikan momentum yang tepat. Menurutnya, fundamental bank tetap kuat, dan aksi buyback serta pembagian dividen bisa menjadi katalis positif.
Sebagai langkah strategis, Nico menurunkan target harga saham bank besar, dengan BMRI dipatok di Rp 7.000, BBRI Rp 5.050, BBNI Rp 5.800, dan BBCA Rp 11.650. Ekky juga merekomendasikan beli bertahap dengan target harga lebih rendah, seperti BBRI di Rp 4.500-Rp 4.600 dan BMRI di Rp 6.000.
Meski ada peluang pemulihan saham bank, investor tetap perlu berhati-hati terhadap volatilitas dan perkembangan likuiditas perbankan dalam beberapa bulan ke depan.
Rencana BI Borong SBN Masih Diragukan Pasar
HR1
03 Mar 2025 Kontan
Rencana pendanaan program 3 juta rumah melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) oleh pemerintah dan pembeliannya oleh Bank Indonesia (BI) menimbulkan perdebatan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati belum mengungkap jumlah pasti SBN yang akan diterbitkan, sementara Gubernur BI Perry Warjiyo telah menyatakan kesediaan BI untuk membelinya di pasar sekunder.
Namun, Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, menilai langkah ini mengancam independensi BI, yang seharusnya hanya membeli SBN untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, bukan untuk mendanai program pemerintah. Bhima khawatir kebijakan ini akan menekan neraca keuangan BI, sebagaimana yang terjadi saat burden sharing pandemi Covid-19.
Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia, menyarankan pemerintah mencari pendanaan melalui mekanisme pasar, karena BI seharusnya menjadi the last resort dalam kebijakan moneter.
Sementara itu, Ronny P. Sasmita, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, mempertanyakan urgensi program 3 juta rumah di tengah daya beli masyarakat yang melemah. Ia juga mengkhawatirkan potensi bubble property, seperti yang terjadi dalam krisis finansial global AS akibat subprime mortgage.
Dengan kondisi fiskal yang sudah ketat, penerbitan SBN untuk perumahan justru bisa memperburuk situasi ekonomi. Padahal, UU PPSK hanya mengizinkan BI membeli SBN di pasar primer untuk situasi yang benar-benar membahayakan perekonomian nasional.
Lonjakan Transaksi Valas: Jual dan Beli Sama-Sama Naik
HR1
03 Mar 2025 Kontan
Pelemahan rupiah hingga Rp 16.580 per dollar AS pada 2 Maret 2025 mendorong lonjakan transaksi valuta asing (valas) di perbankan Indonesia, terutama dalam perdagangan dollar AS. Bank Danamon, Bank Jatim, dan BCA melaporkan peningkatan transaksi jual dan beli mata uang asing, dengan kenaikan tertinggi pada transaksi jual karena nasabah ingin ambil untung dari pelemahan rupiah.
Menurut Ivan Jaya, Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon, transaksi jual dollar AS meningkat 15% sejak BI menurunkan suku bunga acuan, sementara pembelian dollar AS juga meningkat untuk kebutuhan bisnis dan pembayaran.
Edi Masrianto, Direktur Keuangan, Treasury & Global Service Bank Jatim, mencatat lonjakan transaksi valas hingga 48,43% secara tahunan, dengan transaksi jual naik 160% karena banyak nasabah, termasuk pekerja migran, memanfaatkan pelemahan rupiah untuk memperoleh keuntungan.
Dari sudut pandang ekonomi, Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, menilai lonjakan transaksi valas juga didorong oleh implementasi devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam, yang membuat eksportir lebih banyak menukarkan rupiah ke dollar AS. Sementara itu, investor ritel cenderung melakukan profit-taking, yang meningkatkan transaksi jual.
Meningkatnya aktivitas valas ini mencerminkan dampak langsung pelemahan rupiah, perubahan kebijakan suku bunga, dan strategi investor dalam menghadapi volatilitas pasar.
OJK Mendorong Indonesia Harus Jadi Pemain Produk Halal Global
KT1
28 Feb 2025 Investor Daily (H)
OJK mendorong Indonesia agar tidak hanya jadi pasar dari produk halal global, tetapi juga bisa menjadi pemain atau produsen, sehingga memberikan kontribusi maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. "Dengan jumlah penduduk yang besar, jumlah populasi muslim besar, jangan sampai kita hanya jadi pasar, tetapi jadi pemain untuk berdampak ke perekonomian," ujar Kepala Ekskutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen serta Anggota Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi pada acara Ekonomi Syariah 2025: Gaya hidup Halal dan Tern Konsumen yang digelar B-Universe di The Ritz Syariah 2025; Gaya Hidup dan Tren konsumen yang digelar B-Universe di The Ritz-Carlon Pacifik Place meminta. Federika yang akrab dipanggil Kiki menjelaskan, Indonesia saat ini berada diperingkat ketiga dalam Global Islamic Economi Indikator (GEIS). Perkembangan industri halal di Indonesia juga sangat besar, di mana Indonesia berada diperingkat ketiga untuk fesyen muslim, peringkat kelima untuk industri farmasi, dan kosmetik halal, peringkat keenam untuk industri media dan rekreasi, serta peringkat ketujuh untuk keuangan syariah. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Melawan Hantu Inflasi
10 Mar 2022 -
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022








