Sawit
( 322 )Terjebak Kampanye Sengketa Sawit
Tak Mudah Bayar Utang Rafaksi Pakai Potong Pajak
Kejar Nilai Tambah dengan Minyak Merah
Presiden Jokowi meresmikan pabrik minyak makan merah yang
pertama di Indonesia, Kamis (14/3), di Kecamatan Pagar Merbau, Deli Serdang,
Sumut. Pabrik itu akan meningkatkan nilaitambah yang diperoleh petani karena
pabrik dikelola oleh koperasi petani sawit. ”Minyak makan merah ini sudah
dicoba beberapa chef. Mereka menyampaikan minyak makan merah itu beda, lebih enak
dan gizinya lebih baik. Saya nanti mau beli, mau coba juga,” kata Presiden.
Pabrik minyak makan merah, menurut Presiden, sangat penting bagi program
hilirisasi kelapa sawit petani. Indonesia memiliki 15,3 juta hektar kebun sawit.
Sebanyak 6,2 juta hektar atau 40,5 % di antaranya merupakan kebun sawit yang dikelola
petani. Oleh karena itu, peran petani dinilai sangat penting dalam membangun
industri sawit nasional.
Minyak makan merah merupakan produk turunan kelapa sawit.
Produk ini bisa dimanfaatkan untuk menggoreng layaknya minyak goreng atau dikonsumsi
langsung sebagai minyak makan. Kandungan beta karoten, vitamin A, fitonutrien,
dan komposisi asam lemaknya dinilai strategis untuk mengatasi tengkes
(stunting). Selain itu, beberapa kandungannya bisa dimanfaatkan sebagai bahan
aktif kosmetik dan farmasi. ”Pabrik minyak makan merah ini diharapkan
memberikan nilai tambah yang baik bagi petani sawit. Jadi, harga tandan buah
segar (TBS) sawit tidak naik dan turun karena di sini semuanya diolah menjadi
barang jadi, yaitu minyak makan merah,” kata Presiden. (Yoga)
Penurunan Kinerja Ekspor Sawit Diprediksi Berlanjut
MINYAK KELAPA SAWIT : PENYELAMAT DARI DALAM NEGERI
Konsumsi dalam negeri bakal menjadi penopang industri minyak kelapa sawit nasional di tengah tekanan peningkatan produksi minyak nabati lainnya di pasar global pada paruh kedua tahun ini. Meski pangsa pasar minyak sawit Indonesia di market global mencapai 33%, peningkatan produksi minyak nabati lain di Amerika Serikat dan Eropa bisa memberikan impak serius terhadap harga salah satu komoditas andalan Indonesia itu. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) pun mengandalkan konsumsi di dalam negeri yang diproduksi bakal tumbuh seiring dengan pemanfaatannya untuk Biosolar yang saat ini sudah mencapai B35. Gapki mencatat, konsumsi minyak sawit domestik pada 2023 mengalami kenaikan 8,9% (year-on-year/YoY), dari 21,24 juta ton pada 2022 menjadi 23,13 juta ton pada 2023. Implementasi kebijakan B35 secara efektif dilakukan pada juli 2022 telah meningkatkan konsumsi minyak sawit sebesar 17,68%, yakni dari 9,04 juta ton pada 2022 menjadi 10,65 juta ton pada 2023. “Kalau kita enggak pakai untuk energi, harga makin jatuh lagi. Jadi sudah bagus sekarang ini. Dengan pemakaian dalam negeri meningkat menyebabkan harga jadi stabil,” kata Ketua Umum Gapki Eddy Martono, Selasa (27/2). Sebagai contoh, Indonesia telah meminta Tanzania untuk menjadi hub untuk permintaan minyak sawit dari negara di sekitarnya. Dalam waktu dekat, akan ada pameran minyak sawit Indonesia di Nigeria.
Optimisme itu pun diiringi dengan proyeksi produksi minyak sawit pada 2024 yang berpeluang naik sekitar 5%. Pada 2023, produksi minyak sawit, termasuk di dalamnya crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) tercatat sebanyak 54,84 juta ton, atau naik sekitar 7% dibandingkan dengan produksi pada 2022 sebanyak 51,24 juta ton. Sekretaris Jenderal Gapki Hadi Sugeng mengatakan, adanya El Nino pada pertengahan 2023 lalu tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi kelapa sawit tahun ini. Meskipun diakui bahwa El Nino telah menyebabkan keterlambatan panen pada pertengahan 2023. Pada 2023, ekspor produk sawit Indonesia mengalami peningkatan ke beberapa negara importir seperti China, India, Afrika, Amerika Serikat, dan Bangladesh. Namun, ekspor justru menurun ke Uni Eropa dan Pakistan. Permintaan minyak sawit dari China diakui mengalami peningkatan pada 2023 menjadi 7,7 juta ton dari tahun sebelumnya sebanyak 6,2 juta ton. China menempati urutan pertama tujuan ekspor minyak sawit Indonesia, diikuti oleh India sebanyak 5,9 juta ton, dan Uni Eropa sebanyak 3,7 juta ton.
Dilansir Bloomberg, permintaan terhadap minyak sawit biasanya meningkat pada Ramadan, ketika umat Islam berbuka puasa pada malam hari setelah berpuasa siang hari. Bulan suci dimulai pada awal Maret tahun ini. Peningkatan konsumsi juga berlangsung sebulan kemudian, yakni pada Hari Raya Idulfitri, ketika orang-orang mudik ke kota asal mereka untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Abdul Hameed, Direktur Penjualan Manzoor Trading di Lahore, Pakistan, mengatakan permintaan yang tinggi selama Ramadan, khususnya di Indonesia dan Malaysia, semestinya mengurangi stok. Perusahaan Fitch Solution itu mengatakan harga CPO mungkin akan lebih lemah dari level saat ini karena ekspektasi panen kedelai dalam jumlah besar, permintaan di China yang lemah, dan dampak El Nino terhadap produksi kelapa sawit yang masih lemah.
Optimalisasi Pemanfaatan Biodiesel
Pemanfaatan bahan bakar nabati biodiesel sebagai sumber energi baru terbarukan diklaim berhasil mengurangi impor bahan bakar minyak dalam jumlah signifikan. Untuk meningkatkan kontribusinya, pemerintah pun mulai memperluas penggunaannya hingga ke industri penerbangan. Sebagaimana yang disampaikan oleh pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), bahwa sepanjang 2023 penyaluran biodiesel di Indonesia telah mencapai 12,3 juta kiloliter. Dengan volume sebanyak itu, pemerintah berhasil menghemat sebesar Rp122 triliun yang berasal dari pengurangan impor solar dan minyak mentah. Tak hanya itu, penggunaan biodiesel yang sebagian besar untuk kendaraan bermotor juga berhasil menekan emisi gas rumah kaca sebesar 132 juta ton CO2 ekuivalen. Tahun ini, pemerintah menetapkan kuota penyaluran biodiesel B35 yaitu bauran solar dengan 35% bahan bakar nabati berbasis minyak sawit, sebesar 13,41 juta kiloliter. Tak cukup meningkatkan penggunaan B35, Kementerian ESDM berencana mempercepat penerapan B40 yang semula ditargetkan pada 2030. Uji penerapan program biodiesel B40 akan dilakukan tahun ini. Uji terap B40 juga bakal menyasar pada sektor non-otomotif, seperti alat berat, kapal laut, alat dan mesin pertanian, kereta api hingga industri penerbangan. Pemanfaatan biodiesel yang membutuhkan pendanaan besar mengharuskan pemerintah mengeluarkan anggaran berupa insentif untuk menarik para pelaku usaha berinvestasi di bidang usaha itu. Sebagaimana yang disampaikan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bahwa tahun lalu insentif yang dianggarkan mencapai Rp30 triliun. Insentif itu diberikan kepada pelaku usaha dan digunakan untuk menutup selisih kurang antara harga indeks pasar (HIP) bahan bakar minyak jenis minyak solar dengan harga indeks pasar bahan bakar nabati jenis biodiesel. Kebijakan menaikkan insentif replanting dari semula Rp30 juta menjadi Rp60 juta pun ditempuh untuk meningkatkan minat masyarakat. Namun, persyaratan sertifikat untuk mendapatkan bantuan pemerintah dinilai dapat memperlambat. Pemanfaatan sawit untuk biodiesel harus terus didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. Biaya produksi yang masih tinggi juga harus dicarikan solusinya agar energi tersebut makin banyak dipergunakan.
Menerka Nasib Industri Sawit
Kalteng Tunggu Satgas Sawit
Pemprov Kalteng masih menunggu hasil evaluasi pemerintah
pusat tentang perkebunan sawit masuk kawasan hutan. Ketegasan aturan dinilai
bisa mencegah konflik agraria di lapangan. Pada April 2023, Presiden Jokowi
menandatangani Kepres No 9 Tahun 2023 tentang Satgas Tata Kelola Industri
Kelapa Sawit dan Optimalisasi Penerimaan Negara. Satgas yang diketuai Menko Bidang
Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan tersebut dibentuk, mempertimbangkan
masih terdapat persoalan tata kelola industri kelapa sawit. Satgas ini dibentuk
untuk penanganan dan perbaikan tata kelola industri sawit. Salah satu perhatiannya
adalah melihat dan mengevaluasi kembali perkebunan sawit yang masuk kawasan
hutan.
Plt Kadis Perkebunan Kalteng Rizky Badjuri menjelaskan, satgas
bekerja sejak April 2023, untuk menyelesaikan problem perkebunan masuk kawasan
hutan hingga Desember 2023. Namun, hingga kini hasilnya belum jelas. ”Kami
masih menunggu, begitu juga pengusaha. Satgas ini punya peranan penting dan
bisa berdampak pada iklim investasi di Kalteng, terutama mencegah konflik
dengan masyarakat,” ungkap Rizky, di Palangkaraya, Kalteng, Jumat (16/2). Rizky
mengatakan, pihaknya tidak terlibat jauh dalam kerja satgas sawit di Kalteng
sehingga hanya bisa menunggu. ”Semakin lama hasilnya keluar, dampaknya banyak,”
ujarnya. Kalteng, merupakan salah satu wilayah fokus kerja satgas sawit, karena
ada 632.133,96 hektar (ha) kebun sawit di Kalteng yang dinilai masuk kawasan
hutan. Jumlah itu merupakan bagian dari total 3,3 juta ha kawasan perkebunan sawit
di Indonesia yang diduga masuk kawasan hutan. (Yoga)
Iklim Investasi Industri Sawit RI harus DIjaga
Minyak Sawit yang Menghidupi Pakistan
Pada tahun 2022, Pakistan, yang menggantungkan 95 % kebutuhan
minyak nabatinya dari impor, panik atas kebijakan mendadak Indonesia yang
menghentikan keran ekspor sawit karena 90 % sumber pasokan minyak sawit
Pakistan berasal dari Indonesia. ”Saya ingat betul, stok (minyak sawit) tinggal
21.000 ton. Hanya cukup untuk seminggu,” kata Rasheed Jan Mohammed, CEO
Konferensi Minyak Nabati Pakistan (PEOC) 2024, dalam pertemuan jejaring bisnis
yang digelar Konjen RI dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki),
Kamis (11/1) di Karachi, Pakistan. Pertemuan digelar sebelum penyelenggaraan
PEOC 2024 pada Sabtu (13/1) di Karachi.
Pakistan mengolah sebagian besar minyak sawit asal Indonesia
menjadi bermacam produk makanan, termasuk minyak goreng dan tentunya minyak
vanaspati ghee (minyak nabati dengan tekstur semipadat). Kuliner di Pakistan
yang serba berminyak menjadikan minyak sawit sebagai kebutuhan pokok, seperti
juga di Indonesia. ”Minyak sawit bagi Pakistan seperti darah yang mengaliri tubuh.
Sangat berdampak pada rasa di dapur dan di meja makan,” kata June Kuncoro
Hadiningrat, Konjen RI di Karachi. Bersamaan dengan kebijakan larangan ekspor
sawit Indonesia tersebut, di Pakistan terjadi ketidakstabilan politik akibat PM
Pakistan saat itu, Imran Khan, digulingkan dalam mosi tidak percaya parlemen.
Agar krisis itu tak menjadi petaka, Jan Mohamed bersama
pejabat negaranya bergegas ke Jakarta untuk melobi agar larangan ekspor minyak
sawit Indonesia dibuka kembali dan dikabulkan dikabulkan Pemerintah Indonesia. ”Ketika
sudah diperbolehkan ekspor, kapal kami yang harusnya membawa sawit ke negara
lain langsung diminta dialihkan ke Pakistan,” ujar pelaku industri sawit dari
Indonesia yang berpartisipasi dalam PEOC 2024 yang berlangsung Sabtu (13/1). Bagi
Indonesia, Pakistan nomor tiga terbesar negara tujuan ekspor sawit, hampir 3 juta
ton setiap tahun. Dari sisi perdagangan kedua negara, sawit menguasai neraca perdagangan
Indonesia. Dari 4,3 miliar USD ekspor Indonesia ke Pakistan, sebesar 3,1 miliar
USD berasal dari komoditas sawit. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Startup Bukan Pilihan Utama
24 Jan 2023 -
Mendag Pastikan Minyak Kita Tetap Diproduksi
30 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023 -
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023









