;
Tags

Sawit

( 322 )

Terjebak Kampanye Sengketa Sawit

KT1 05 Apr 2024 Tempo
KEBIJAKAN Uni Eropa yang terus membuka pintu bagi minyak jelantah semestinya menjadi sinyal bahwa ada yang keliru pada cara Indonesia memandang residu minyak goreng. Ketika negara lain memperbesar pemanfaatannya, pemerintah tak kunjung mengoptimalkan potensi minyak jelantah sebagai bahan baku pengembangan biofuel nasional. Indonesia malah terjebak dalam upaya "mengamankan" pasar sawit yang terus dikampanyekan tengah terancam oleh arah kebijakan global yang pro-iklim.

Dalam sebulan terakhir, isu pengetatan kebijakan impor minyak sawit di Uni Eropa kembali mengemuka. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada awal Maret lalu memutus sengketa yang diajukan Malaysia sejak 2021 atas kebijakan Uni Eropa yang dianggap diskriminatif. Dalam putusannya, panel WTO menolak gugatan Malaysia sekaligus mendukung sikap dan kewenangan Uni Eropa dalam mengatur bahan bakar nabati dari sawit demi kepentingan lingkungan hidup. Walau begitu, WTO juga menilai ada kelemahan dalam penerapan kriteria risiko yang menjadi dasar kebijakan Uni Eropa tersebut—petitum yang kemudian diklaim Malaysia sebagai kemenangan.

Terlepas dari perdebatan atas putusan tersebut, dampak putusan WTO dalam sengketa Malaysia versus Uni Eropa itu merembet ke Indonesia yang lebih dulu mengajukan gugatan serupa. Pemeriksaan panel WTO dalam sengketa Indonesia versus Uni Eropa ini tengah ditunda untuk sementara waktu. Namun sejauh ini pemerintah RI berikrar akan terus melawan kebijakan Uni Eropa yang dituding telah melarang impor sawit dari Indonesia. Celakanya, perang yang dikumandangkan duo produsen sawit terbesar di dunia terhadap kebijakan Uni Eropa itu menimbulkan sejumlah persoalan. Disinformasi bermunculan. Sedangkan pengembangan bahan bakar nabati yang lebih ramah lingkungan malah merangkak, setidaknya di Indonesia. (Yetede)

Tak Mudah Bayar Utang Rafaksi Pakai Potong Pajak

HR1 16 Mar 2024 Kontan
Proses pembayaran utang rafaksi minyak goreng oleh pemerintah kepada pengusaha, masih belum ada kejelasan. Pasalnya, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) sempat mengusulkan, agar ada pemangkasan pajak bagi perusahaan yang terdaftar dalam kebijakan minyak goreng satu harga sebagai solusi dari pembayaran utang rafaksi yang macet tersebut. Hanya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menegaskan, usulan GIMNI tersebut adalah langkah yang panjang. Sebab, untuk kebijakan pemotongan pajak, ada di bawah tanggungjawab Kementerian Keuangan (Kemenkeu). "Ya, kami melihat bahwa itu (pemangkasan pajak) tidak mudah. Karena pemotongan pajak itu, kan, ada di bawah Kemenkeu," ungkapnya kepada KONTAN, Jumat (15/3). Roy malah mempertanyakan sikap Kemenkeu, apakah akan membuka tangan untuk permasalahan rafaksi minyak goreng ini. Soalnya, alokasi selisih harga ini ada di ranah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), jadi bukan dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Kejar Nilai Tambah dengan Minyak Merah

KT3 15 Mar 2024 Kompas

Presiden Jokowi meresmikan pabrik minyak makan merah yang pertama di Indonesia, Kamis (14/3), di Kecamatan Pagar Merbau, Deli Serdang, Sumut. Pabrik itu akan meningkatkan nilaitambah yang diperoleh petani karena pabrik dikelola oleh koperasi petani sawit. ”Minyak makan merah ini sudah dicoba beberapa chef. Mereka menyampaikan minyak makan merah itu beda, lebih enak dan gizinya lebih baik. Saya nanti mau beli, mau coba juga,” kata Presiden. Pabrik minyak makan merah, menurut Presiden, sangat penting bagi program hilirisasi kelapa sawit petani. Indonesia memiliki 15,3 juta hektar kebun sawit. Sebanyak 6,2 juta hektar atau 40,5 % di antaranya merupakan kebun sawit yang dikelola petani. Oleh karena itu, peran petani dinilai sangat penting dalam membangun industri sawit nasional.

Minyak makan merah merupakan produk turunan kelapa sawit. Produk ini bisa dimanfaatkan untuk menggoreng layaknya minyak goreng atau dikonsumsi langsung sebagai minyak makan. Kandungan beta karoten, vitamin A, fitonutrien, dan komposisi asam lemaknya dinilai strategis untuk mengatasi tengkes (stunting). Selain itu, beberapa kandungannya bisa dimanfaatkan sebagai bahan aktif kosmetik dan farmasi. ”Pabrik minyak makan merah ini diharapkan memberikan nilai tambah yang baik bagi petani sawit. Jadi, harga tandan buah segar (TBS) sawit tidak naik dan turun karena di sini semuanya diolah menjadi barang jadi, yaitu minyak makan merah,” kata Presiden. (Yoga)

Penurunan Kinerja Ekspor Sawit Diprediksi Berlanjut

KT1 29 Feb 2024 Investor Daily
Ekspor minyak sawit nasional sepanjang 2023 hanya US$ 30,32 miliar, atau anjlok 22,39% dibandingkan 2022 yang sebesar US$ 39,07 miliar. Merosotnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional hinga 28,7% lalu menjadi penyebab turunan ekspor komoditas  perkebunan tersebut. Kinerja ekspor yang jeblok itu diprediksi berlanjut tahun ini karena Indonesia mulai memberlakukan program biodiesel 35% (B35) secara penuh, di sisi lain situasi perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian. Dalam data yang diolah Gabungan Pengusaha kelapa Sawit  Indonesia (Gapki), volume ekspor minyak sawit nasional tahun lalu 32,22 juta ton atau turun 2,82%  dibandingkan 2022 sebesar 33,15 juta ton. Dari sisi nilai, ekspor minyak sawit 2023 yang sebesar US$ 30,32 miliar, turun 22,39% dari 2022 yang sekitar  US$ 39,07 miliar. (Yetede)

MINYAK KELAPA SAWIT : PENYELAMAT DARI DALAM NEGERI

HR1 28 Feb 2024 Bisnis Indonesia

Konsumsi dalam negeri bakal menjadi penopang industri minyak kelapa sawit nasional di tengah tekanan peningkatan produksi minyak nabati lainnya di pasar global pada paruh kedua tahun ini. Meski pangsa pasar minyak sawit Indonesia di market global mencapai 33%, peningkatan produksi minyak nabati lain di Amerika Serikat dan Eropa bisa memberikan impak serius terhadap harga salah satu komoditas andalan Indonesia itu. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) pun mengandalkan konsumsi di dalam negeri yang diproduksi bakal tumbuh seiring dengan pemanfaatannya untuk Biosolar yang saat ini sudah mencapai B35. Gapki mencatat, konsumsi minyak sawit domestik pada 2023 mengalami kenaikan 8,9% (year-on-year/YoY), dari 21,24 juta ton pada 2022 menjadi 23,13 juta ton pada 2023. Implementasi kebijakan B35 secara efektif dilakukan pada juli 2022 telah meningkatkan konsumsi minyak sawit sebesar 17,68%, yakni dari 9,04 juta ton pada 2022 menjadi 10,65 juta ton pada 2023. “Kalau kita enggak pakai untuk energi, harga makin jatuh lagi. Jadi sudah bagus sekarang ini. Dengan pemakaian dalam negeri meningkat menyebabkan harga jadi stabil,” kata Ketua Umum Gapki Eddy Martono, Selasa (27/2). Sebagai contoh, Indonesia telah meminta Tanzania untuk menjadi hub untuk permintaan minyak sawit dari negara di sekitarnya. Dalam waktu dekat, akan ada pameran minyak sawit Indonesia di Nigeria.  

Optimisme itu pun diiringi dengan proyeksi produksi minyak sawit pada 2024 yang berpeluang naik sekitar 5%. Pada 2023, produksi minyak sawit, termasuk di dalamnya crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) tercatat sebanyak 54,84 juta ton, atau naik sekitar 7% dibandingkan dengan produksi pada 2022 sebanyak 51,24 juta ton. Sekretaris Jenderal Gapki Hadi Sugeng mengatakan, adanya El Nino pada pertengahan 2023 lalu tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi kelapa sawit tahun ini. Meskipun diakui bahwa El Nino telah menyebabkan keterlambatan panen pada pertengahan 2023. Pada 2023, ekspor produk sawit Indonesia mengalami peningkatan ke beberapa negara importir seperti China, India, Afrika, Amerika Serikat, dan Bangladesh. Namun, ekspor justru menurun ke Uni Eropa dan Pakistan. Permintaan minyak sawit dari China diakui mengalami peningkatan pada 2023 menjadi 7,7 juta ton dari tahun sebelumnya sebanyak 6,2 juta ton. China menempati urutan pertama tujuan ekspor minyak sawit Indonesia, diikuti oleh India sebanyak 5,9 juta ton, dan Uni Eropa sebanyak 3,7 juta ton. 

Dilansir Bloomberg, permintaan terhadap minyak sawit biasanya meningkat pada Ramadan, ketika umat Islam berbuka puasa pada malam hari setelah berpuasa siang hari. Bulan suci dimulai pada awal Maret tahun ini. Peningkatan konsumsi juga berlangsung sebulan kemudian, yakni pada Hari Raya Idulfitri, ketika orang-orang mudik ke kota asal mereka untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Abdul Hameed, Direktur Penjual­an Manzoor Trading di Lahore, Pakistan, mengatakan permintaan yang tinggi selama Ramadan, khususnya di Indonesia dan Malaysia, semestinya mengurangi stok. Perusahaan Fitch Solution itu mengatakan harga CPO mungkin akan lebih lemah dari level saat ini karena ekspektasi panen kedelai dalam jumlah besar, permintaan di China yang lemah, dan dampak El Nino terhadap produksi kelapa sawit yang masih lemah.

Optimalisasi Pemanfaatan Biodiesel

HR1 28 Feb 2024 Bisnis Indonesia

Pemanfaatan bahan bakar nabati biodiesel sebagai sumber energi baru terbarukan diklaim berhasil mengurangi impor bahan bakar minyak dalam jumlah signifikan. Untuk meningkatkan kontribusinya, pemerintah pun mulai memperluas penggunaannya hingga ke industri penerbangan. Sebagaimana yang disampaikan oleh pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), bahwa sepanjang 2023 penyaluran biodiesel di Indonesia telah mencapai 12,3 juta kiloliter. Dengan volume sebanyak itu, pemerintah berhasil menghemat sebesar Rp122 triliun yang berasal dari pengurangan impor solar dan minyak mentah. Tak hanya itu, penggunaan biodiesel yang sebagian besar untuk kendaraan bermotor juga berhasil menekan emisi gas rumah kaca sebesar 132 juta ton CO2 ekuivalen. Tahun ini, pemerintah menetapkan kuota penyaluran biodiesel B35 yaitu bauran solar dengan 35% bahan bakar nabati berbasis minyak sawit, sebesar 13,41 juta kiloliter. Tak cukup meningkatkan penggunaan B35, Kementerian ESDM berencana mempercepat penerapan B40 yang semula ditargetkan pada 2030. Uji penerapan program biodiesel B40 akan dilakukan tahun ini. Uji terap B40 juga bakal menyasar pada sektor non-otomotif, seperti alat berat, kapal laut, alat dan mesin pertanian, kereta api hingga industri penerbangan. Pemanfaatan biodiesel yang membutuhkan pendanaan besar mengharuskan pemerintah mengeluarkan anggaran berupa insentif untuk menarik para pelaku usaha berinvestasi di bidang usaha itu. Sebagaimana yang disampaikan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bahwa tahun lalu insentif yang dianggarkan mencapai Rp30 triliun. Insentif itu diberikan kepada pelaku usaha dan digunakan untuk menutup selisih kurang antara harga indeks pasar (HIP) bahan bakar minyak jenis minyak solar dengan harga indeks pasar bahan bakar nabati jenis biodiesel. Kebijakan menaikkan insentif replanting dari semula Rp30 juta menjadi Rp60 juta pun ditempuh untuk meningkatkan minat masyarakat. Namun, persyaratan sertifikat untuk mendapatkan bantuan pemerintah dinilai dapat memperlambat. Pemanfaatan sawit untuk biodiesel harus terus didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. Biaya produksi yang masih tinggi juga harus dicarikan solusinya agar energi tersebut makin banyak dipergunakan.

Menerka Nasib Industri Sawit

KT1 20 Feb 2024 Tempo
Meski harga tandan buah segar (TBS) sawit di pasar stagnan, para petani masih menggantungkan nasib pada komoditas ini. Seperti di Kalimantan Barat, tak sedikit petani yang mengandalkan sawit, bahkan membuka lahan baru. Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat Kalimantan Barat, Marjitan, menuturkan harga TBS sawit tak bergerak dari Rp 2.300-2.600 per kilogram pada tahun lalu. “Minimal tidak turun, bertahan di situ harganya,” ujar Marjitan kepada Tempo, kemarin, 19 Februari 2024. Dia tidak berharap harga TBS naik tinggi seperti sepuluh tahun lalu karena masih dapat mengantongi margin. Marjitan tak mengerti penyebab harga TBS sawit masih rendah di pasaran. Padahal permintaan relatif stabil. 

Tantangan petani saat menanam bibit sawit hingga panen terbilang tak mudah. Faktor cuaca tak menentu menjadi masalah bagi petani saat berada di kebun. “Sesekali hujan, siang dan malam. Ini berpengaruh ke sistem perawatan,” kata Marjitan. Tingginya harga pupuk juga ikut menyulitkan petani sawit. Marjitan berharap adanya bantuan pupuk harga terjangkau dari pemerintah.  Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat M.E. Manurung memprediksi tahun ini menjadi puncak penurunan produksi minyak sawit mentah atau CPO dari petani sawit. Dia memperkirakan produksi CPO petani sawit turun 10 persen dari 13 juta ton menjadi 11,7 juta ton. Pelemahan produksi disebabkan oleh rendahnya penggunaan pupuk, faktor cuaca, dan melemahnya harga TBS. “Petani mengurangi pupuk dari 2,5 kilogram per batang menjadi 1 kilo.” (Yetede)

Kalteng Tunggu Satgas Sawit

KT3 17 Feb 2024 Kompas

Pemprov Kalteng masih menunggu hasil evaluasi pemerintah pusat tentang perkebunan sawit masuk kawasan hutan. Ketegasan aturan dinilai bisa mencegah konflik agraria di lapangan. Pada April 2023, Presiden Jokowi menandatangani Kepres No 9 Tahun 2023 tentang Satgas Tata Kelola Industri Kelapa Sawit dan Optimalisasi Penerimaan Negara. Satgas yang diketuai Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan tersebut dibentuk, mempertimbangkan masih terdapat persoalan tata kelola industri kelapa sawit. Satgas ini dibentuk untuk penanganan dan perbaikan tata kelola industri sawit. Salah satu perhatiannya adalah melihat dan mengevaluasi kembali perkebunan sawit yang masuk kawasan hutan.

Plt Kadis Perkebunan Kalteng Rizky Badjuri menjelaskan, satgas bekerja sejak April 2023, untuk menyelesaikan problem perkebunan masuk kawasan hutan hingga Desember 2023. Namun, hingga kini hasilnya belum jelas. ”Kami masih menunggu, begitu juga pengusaha. Satgas ini punya peranan penting dan bisa berdampak pada iklim investasi di Kalteng, terutama mencegah konflik dengan masyarakat,” ungkap Rizky, di Palangkaraya, Kalteng, Jumat (16/2). Rizky mengatakan, pihaknya tidak terlibat jauh dalam kerja satgas sawit di Kalteng sehingga hanya bisa menunggu. ”Semakin lama hasilnya keluar, dampaknya banyak,” ujarnya. Kalteng, merupakan salah satu wilayah fokus kerja satgas sawit, karena ada 632.133,96 hektar (ha) kebun sawit di Kalteng yang dinilai masuk kawasan hutan. Jumlah itu merupakan bagian dari total 3,3 juta ha kawasan perkebunan sawit di Indonesia yang diduga masuk kawasan hutan. (Yoga) 

Iklim Investasi Industri Sawit RI harus DIjaga

KT1 09 Feb 2024 Investor Daily
Iklim investasi di sektor sawit nasional harus terus dijaga agar industri tersebut tetap bisa berkontribusi sebagai sumber devisa negara. Iklim investasi yang kondusif di sektor itu dapat tercipta apabila ketidakpastian hukum dapat diselesaikan, misalnya dalam penuntasan kasus perkebunan sawit yang teridentifikasi masuk kawasan hutan. Selain itu, penegasan hukum mesti  dijalankan sehingga tercipta kenyamanan berusaha bagi pelaku usaha sawit nasional. Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Muhammad Hadi Sugeng Wahyudiono memaparkan tiga tantangan industri sawit sebagai penggerak ekonomi Indonesia,  yakni produktivitas yang stagnan, tuntutatn Fasilitas Pembangunan kebun Masyarakat (FPKM) 20%, serta kebun sawit yang terindentifikasi masuk kawasan hutan. Dalam menghadapi isu-isu itum perlu langkah solutif serta kolaboratif. (Yetede)

Minyak Sawit yang Menghidupi Pakistan

KT3 07 Feb 2024 Kompas

Pada tahun 2022, Pakistan, yang menggantungkan 95 % kebutuhan minyak nabatinya dari impor, panik atas kebijakan mendadak Indonesia yang menghentikan keran ekspor sawit karena 90 % sumber pasokan minyak sawit Pakistan berasal dari Indonesia. ”Saya ingat betul, stok (minyak sawit) tinggal 21.000 ton. Hanya cukup untuk seminggu,” kata Rasheed Jan Mohammed, CEO Konferensi Minyak Nabati Pakistan (PEOC) 2024, dalam pertemuan jejaring bisnis yang digelar Konjen RI dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Kamis (11/1) di Karachi, Pakistan. Pertemuan digelar sebelum penyelenggaraan PEOC 2024 pada Sabtu (13/1) di Karachi.

Pakistan mengolah sebagian besar minyak sawit asal Indonesia menjadi bermacam produk makanan, termasuk minyak goreng dan tentunya minyak vanaspati ghee (minyak nabati dengan tekstur semipadat). Kuliner di Pakistan yang serba berminyak menjadikan minyak sawit sebagai kebutuhan pokok, seperti juga di Indonesia. ”Minyak sawit bagi Pakistan seperti darah yang mengaliri tubuh. Sangat berdampak pada rasa di dapur dan di meja makan,” kata June Kuncoro Hadiningrat, Konjen RI di Karachi. Bersamaan dengan kebijakan larangan ekspor sawit Indonesia tersebut, di Pakistan terjadi ketidakstabilan politik akibat PM Pakistan saat itu, Imran Khan, digulingkan dalam mosi tidak percaya parlemen.

Agar krisis itu tak menjadi petaka, Jan Mohamed bersama pejabat negaranya bergegas ke Jakarta untuk melobi agar larangan ekspor minyak sawit Indonesia dibuka kembali dan dikabulkan dikabulkan Pemerintah Indonesia. ”Ketika sudah diperbolehkan ekspor, kapal kami yang harusnya membawa sawit ke negara lain langsung diminta dialihkan ke Pakistan,” ujar pelaku industri sawit dari Indonesia yang berpartisipasi dalam PEOC 2024 yang berlangsung Sabtu (13/1). Bagi Indonesia, Pakistan nomor tiga terbesar negara tujuan ekspor sawit, hampir 3 juta ton setiap tahun. Dari sisi perdagangan kedua negara, sawit menguasai neraca perdagangan Indonesia. Dari 4,3 miliar USD ekspor Indonesia ke Pakistan, sebesar 3,1 miliar USD berasal dari komoditas sawit. (Yoga)