;
Tags

Rupiah

( 288 )

Perbankan dan Fintech dalam Rencana Rupiah DIgital

KT1 06 Dec 2022 Tempo (H)

JAKARTA-Perbankan dan perusahaan teknologi  finansial (fintech) turut dilibatkan dalam rencana penerbitan  rupiah digital atau Central Bank Digital Currency (CDBC). Keterlibatan itu dimulai sejak awal Bank Indonesia merilis white paper Proyek Garuda. Sekretaris Jenderal Asosaiasi Fintech Indonesia (Aftech), Budi Gandasoebrata, menuruturkan kerja sama antara bank sentral dan lembaga jasa keuangan bank maupun nonbank sangat krusial, mengingat ini merupakan proyek besar dalam transformasi sistem pembayaran Tanah Air. "Peran fintech nantinya akan lebih banyak terhubung dengan end user," ujar, kemarin, Tidak hanya mempersiapkan infrastruktur  distribusi rupiah digital,  industri  fintech juga menyiapkan rancangan prosedur operasi standar (SOP) hingga alur mekanisme pendistribusian di bawah arahan Bank Indonesia. Ketua Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) yang juga Direktur  PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Santoso Liem, berujar pekerjaan rumah berikutnya yang harus disiapkan industri jasa keuangan adalah edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang rupiah digital. (Yetede) 

Beragam Manfaat dari Rupiah Digital

HR1 05 Dec 2022 Kontan

Bank Indonesia (BI) sudah membuat peta jalan central bank digital currency (CBDC) atau Rupiah Digital. Peta jalan yang bernama Proyek Garuda tersebut dirilis BI pada Rabu (30/11). Dalam dokumen yang diterima KONTAN, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, Rupiah Digital akan diimplementasikan melalui tiga tahap. Tahap Pertama adalah wholesale CBDC (w-CBDC) atau W-Digital Rupiah. "Untuk memperoleh W-Digital Rupiah, pihak-pihak tersebut perlu mengonversi rekening giro di BI," jelas Perry dalam dokumen White Paper. Kedua, perluasan W-Digital Rupiah dengan tujuan mendukung operasi moneter sekaligus pengembangan pasar keuangan. Ketiga, pengembangan interaksi W-Digital Rupiah dengan retail CBDC (R-CBDC) atau R-Digital Rupiah. Dalam tahap ini, R-Digital Rupiah sudah bisa digunakan masyarakat luas layaknya uang kertas dan uang logam.

Dompet BI Bisa Jebol Efek Jaga Rupiah

HR1 25 Nov 2022 Kontan

Bank Indonesia (BI) berupaya membawa nilai tukar rupiah pada tahun 2023 bergerak di titik tengah sasaran, yaitu di level Rp 15.070 per dolar Amerika Serikat (AS). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, upaya BI untuk membuat otot rupiah menguat dan mencapai target tersebut ternyata sangat menguras tenaga bank sentral. Pihaknya, kata Perry, butuh upaya ekstra, dan bahkan harus merogoh kocek BI lebih dalam lagi untuk menjaga otot mata uang Garuda ini. Anggaran BI untuk tahun depan diperkirakan mencatat defisit Rp 19,99 triliun. Nilai terbesar berasal dari defisit anggaran kebijakan sebesar Rp 33,15 triliun. Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana mengungkapkan, meski anggaran Bank Indonesia diperkirakan defisit, ini tidak akan mengganggu langkah BI untuk menjaga stabilitas rupiah pada tahun depan. Salah satunya adalah memaksimalkan devisa hasil ekspor (DHE) untuk masuk dan tinggal lebih lama di dalam negeri.

Redam Inflasi dan Tekanan Nilai Tukar, BI Naikkan Bunga Acuan 50 Basis Poin

KT3 18 Nov 2022 Kompas

Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (17/11) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 %, untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini masih tinggi dan dan memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya. Selain bunga acuan, BI juga menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 50 basis poin menjadi 4,50 % dan suku bunga lending facility sebesar 50 basis poin menjadi 6 %. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, ekspektasi inflasi masih tinggi meskipun Indeks Harga Kon sumen (IHK) lebih rendah dari prakiraan awal. Inflasi Oktober 2022 tercatat 5,71 % secara tahunan, masih di atas sasaran 3 plus minus 1 % meskipun lebih rendah dari prakiraan dan inflasi bulan sebelumnya 5,95 %. (Yoga)


Upaya Menguatkan Rupiah

KT3 15 Nov 2022 Kompas

Kerja sama integrasi sistem pembayaran lintas negara diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong penguatan nilai tukar rupiah. Bukan hanya penggunaan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) antarnegara yang baru diluncurkan, kebijakan local currency settlement (LCS) telah lebih dulu menjadi kebijakan fundamental untuk memastikan penggunaan mata uang lokal dalam berbagai transaksi, baik perdagangan maupun investasi. Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo berujar bahwa kebijakan ini menguntungkan di tengah gejolak perekonomian global yang mendorong pelemahan nilai tukar negara-negara berkembang, termasuk rupiah. Indeks dolar Amerika Serikat secara global menguat tajam dalam beberapa waktu terakhir sebagai respons terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang agresif menaikkan suku bunga acuan karena tingkat inflasi yang tinggi. “Sejauh ini, pergerakan rupiah cukup atraktif, didukung oleh terjaganya persepsi positif terhadap pemulihan ekonomi serta langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan Ba,” ujar Dody kepada Tempo, kemarin, 14 November 2022.

Rupiah Digital Dapat Menjadi Alat Bayar

KT3 10 Nov 2022 Kompas

RUU Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan atau RUU P2SK memungkinkan rupiah digital menjadi alat pembayaran yang sah. Mata uang Negara KesatuanRepublik Indonesia adalah rupiah. Mengubah UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, RUU P2SK mengusulkan rupiah bisa dalam bentuk kertas, logam, dan digital. Usulan dalam RUU P2SK ini mengantisipasi kebutuhan alat pembayaran di tengah perkembangan teknologi digital. Kendati demikian, persiapan pembuatan rupiah digital tetap perlu kehati-hatian agar tetap menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan.

Rupiah digital adalah mata uang digital yang dikeluarkan bank sentral (Central Bank Digital Currency/CBDC). Penerbit rupiah digital adalah BI, sebagaimana otoritas pengatur peredaran uang saat ini. Berbeda dengan uang elektronik, seluruh keberadaan dan proses transaksi rupiah digital di dunia digital. DirekturCenter ofEconomic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, Rabu (9/11) mengatakan, penerbitan CBDC seperti rupiah digital menjadi jalan tengah dari munculnya berbagai mata uang digital kripto yang tidak dapat diregulasi bank sentral. Bank sentral di dunia, termasuk BI, membuat mata uang digital agar bisa memosisikan aset kripto sebagai komoditas tanpa menggantikan peran rupiah. (Yoga)


Ketidakpastian Tinggi, Reksadana Offshore Pun Merugi

HR1 04 Nov 2022 Kontan (H)

Rupiah kembali terjerembab. Kemarin, kurs spot rupiah ditutup turun 0,31% ke Rp 15.695 per dollar Amerika Serikat (AS). Ini merupakan kurs terendah rupiah di pasar spot sejak akhir April 2020. Bila dihitung sejak awal tahun, kurs spot rupiah sudah merosot sekitar 9,12%. Dengan penguatan dollar AS ini, lazimnya kinerja instrumen investasi berbasis dollar AS juga ikut melesat. Namun ini tidak terjadi pada reksadana syariah offshore. Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana melihat, kinerja reksadana saham syariah offshore ini bahkan lebih buruk ketimbang reksadana saham yang berinvestasi di pasar dalam negeri. Maklum, banyak negara mengalami perlambatan ekonomi dan mencetak inflasi tinggi, sementara fundamental pasar keuangan lokal lebih baik. Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi mengatakan, kinerja reksadana offshore Batavia Prosperindo ini sudah mulai membukukan kinerja positif di Oktober lalu karena pasar saham global mulai rebound.

Jalan Terjal Stabilisasi Rupiah

KT3 04 Nov 2022 Tempo

Pasar keuangan dalam negeri kembali mewaspadai dampak kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (Fed Fund Rate). Pada awal bulan ini, bank sentral AS menaikkan Fed Fund Rate sebesar 75 basis poin ke level 3,75-4 persen. Suku bunga itu pun menjadi yang tertinggi dalam 14 tahun terakhir atau sejak Januari 2008. Ketua OJK Mahendra Siregar mengungkapkan, pelaku industri keuangan harus mewaspadai peningkatan ketidakpastian perekonomian global, dari tren kenaikan suku bunga, volatilitas harga komoditas, hingga fenomena penguatan dolar AS yang terus berlanjut. “Hal ini berpotensi mempengaruhi kinerja lembaga jasa keuangan ke depan, baik dari sisi portofolio investasi, likuiditas, risiko kredit, maupun fungsi intermediasi,” ujarnya, kemarin, 3 November 2022. (Yoga)


Rupiah Menguat, FFR Diprediksi Memuncak pada November

KT3 29 Oct 2022 Investor daily

Nilai tukar rupiah mengalami penguatan terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (28/10). Jika mengutip Bloomberg, kurs rupiah menguat 13 poin atau 0,08% ke level Rp 15.554 per dolar AS. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah tercatat Rp 15.542 per dolar AS. Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto mengatakan, penguatan mata uang Asia pada Jumat (28/10) karena pelaku pasar melihat nuansa puncak kenaikan Fed Fund Rate (FFR) terjadi di November 2022.

"Dalam kurun waktu 2 minggu terakhir ada semacam istilahnya black out period atau tidak ada statement hawkish rhetoric dari Fed official. Sedangkan dari domestik ada asesmen dari pelaku pasar domestik bahwa vulnerability sektor eksternal Indonesia menurun, ini sedikit banyaknya ikut mendorong penguatan rupiah," ucap dia kepada Investor Daily, Jumat (28/10). Meski demikian, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas rupiah dan kebijakan moneter akan diarahkan untuk mendukung stabilitas, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar uang dan UMKM dan ekonomi keuangan syariah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. (Yoga)


Kejatuhan Rupiah dan Inflasi Impor

KT3 27 Oct 2022 Kompas

Dalam tiga tahun terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berada pada titik keseimbangan di kisaran Rp 14.000 per dollar AS. Namun, sejak pertengahan September 2022, rupiah terus terdepresiasi menembus batas psikologis Rp 15.000 per dollar AS. Dampak depresiasi rupiah salah satunya adalah mendorong inflasi dari jalur importasi (imported inflation). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs rupiah pada perdagangan Rabu (26/10) ditutup pada level Rp 15.596. Dibandingkan awal tahun 2022, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah 9,3 %. Anjloknya kurs rupiah bukan disebabkan memburuknya indikator perekonomian Indonesia. Sebab, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif baik dibandingkan negara-negara lain. Begitu pula indikator lainnya, seperti inflasi, neraca pembayaran, dan cadangan devisa Indonesia. Kondisi ini terjadi karena begitu kuatnya dollar AS seiring terjadinya lonjakan suku bunga di negeri ”Paman Sam” dan meningkatnya ketidakpastian perekonomian global akibat ancaman resesi di depan mata.

Lonjakan suku bunga di AS dipicu langkah bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang sepanjang tahun ini sangat agresif menaikkan suku bunga acuannya. Kini suku bunga acuan The Fed berada pada posisi 3,25 %. Lonjakan suku bunga The Fed memicu keluarnya modal dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Tingginya permintaan dollar AS di dalam negeri membuat dollar AS menguat terhadap rupiah. Berdasarkan data setelmen Bank Indonesia periode 1 Januari-20 Oktober 2022, pihak asing melakukan jual bersih sebesar Rp 174,04 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan beli bersih Rp 72,98 triliun di pasar saham. Artinya, sepanjang 2022, pihak asing lebih banyak menjual ketimbang membeli aset-aset keuangan dalam denominasi rupiah. Investor global memindahkan dananya dari aset-aset berdenominasi rupiah ke aset-aset berdenominasi dollar AS lantaran imbal hasilnya lebih menarik. Di tengah tekanan ketidakpastian perekonomian global, para pemodal makin terdorong menempatkan uangnya di pasar AS karena dinilai berisiko lebih rendah ketimbang memiliki aset di negara berkembang termasuk di Indonesia. (Yoga)