Rupiah
( 288 )Rupiah Digital
Dalam RUU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan atau RUU P2SK terdapat pasal yang mengatur keberadaan uang digital. Pasal ini merupakan tambahan atas UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang yang belum mengakomodasi keberadaan uang digital. Dinyatakan bahwa nilai tukar terdiri dari rupiah kertas, logam, dan digital. Dengan demikian, nantinya BI bisa meluncurkan uang digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC) yang tengah menjadi perhatian hampir semua bank sentral di seluruh dunia. Sejauh ini baru dua negara yang telah meluncurkan CBDC, yaitu Bahama dengan sand dollar dan Jamaika dengan Jam-Dex. Beberapa negara sudah masuk fase percobaan, seperti Nigeria (e-Naira), China (e-CNY), dan Swedia (E-krona). Hingga Juli 2022 tercatat 15 bank sentral sudah melakukan uji coba, 15 lainnya di fase perancangan (proof of concept), dan 65 lagi, termasuk Indonesia, masih pada fase penelitian.
Urgensi penerbitan rupiah digital diperdebatkan di tengah banyaknya persoalan lain. Salah satunya adalah soal ketergantungan pada likuiditas asing yang diakibatkan dangkalnya pasar keuangan domestik. Akibatnya, rupiah cenderung tidak stabil. Pekan lalu, BI kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 bps menjadi 4,75 5. Kebijakan yang tergolong progresif ini diambil terutama untuk mengantisipasi pelemahan nilai rupiah yang pada akhir minggu lalu mencapai Rp 15,600 per dollar AS. Urgensi penerbitan CBDC tak bisa dilepaskan dari meningkatnya popularitas uang kripto yang bersifat anonim sehingga volatilitas sangat tinggi. Meski tidak dalam waktu dekat, CBDC dibutuhkan sehingga perlu dipersiapkan infrastruktur, baik regulasi maupun teknologinya. Urgensi CBDC akan berbeda di tiap negara sehingga perlu dirumuskan dengan persis ruang lingkup kebutuhannya. (Yoga)
Arah Rupiah
Nilai tukar rupiah dirundung banyak sentimen negatif. Tak heran mata uang Garuda ini terjun bebas sepanjang tahun ini.
Kemarin (24/10), kurs rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 15.586 per dollar Amerika Serikat (AS). Jika ditarik sepanjang tahun ini, maka kurs rupiah telah melemah sebesar 9,28%.
Faktor utama dari pelemahan rupiah adalah sikap agresif bank sentral AS The Federal Reserve dalam menaikkan suku bunga acuan tahun ini. The Fed diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga 75 basis poin (bps) di awal November nanti.
Analis menilai tekanan pada rupiah masih berpotensi berlanjut hingga akhir tahun ini. Pasalnya, selain berhadapan dengan sentimen negatif kenaikan suku bunga dan kekhawatiran atas ekonomi global, rupiah juga kerap melemah di akhir tahun.
Kurs rupiah kerap melemah di akhir tahun lantaran kebutuhan dollar AS biasanya meningkat di periode tersebut, seiring naiknya permintaan dollar AS untuk pembayaran utang. "Dollar AS juga digunakan untuk kebutuhan impor negara dan penggunaannya meningkat jelang libur akhir tahun," kata Fikri C. Permana, Ekonom Senior Samuel Sekuritas, Senin (24/10).
Naikkanlah Bunga Untuk Jaga Rupiah
Para pelaku bisnis bisa memahami jika BI akhirnya harus menaikkan suku bunga acuan untuk mencegah capital outflow dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Di saat terjadi guncangan di pasar global dan gejolak moneter yang ditandai capital outflow dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang cukup tajam, stabilitas ekonomi jauh lebih penting dibandingkan ekspansi bisnis. Jika The Federal Reserve (The Fed) menaikkan lagi 125 basis poin suku bunga acuan ke level 4,50% di akhir tahun 2023, BI perlu menaikkan lagi suku bunga acuan, BI 7-day reverse repo rate (BI7DRRR) dari 4,25% ke 5,50%. Selisih suku bunga kedua bank sentral sekitar seratus basis poin cukup aman untuk mencegah capital outflow dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Dengan kondisi ekonomi yang stabil, pasar modal akan terus bergairah. Demikian dikemukakan narasumber yang dihubungi terpisah Investor Daily, Sabtu (15/10/2022) dan Minggu (16/10/2022).
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja mengatakan, bila The Fed terus menaikkan suku bunga acuannya secara agresif untuk mengontrol inflasi domestiknya, BI tidak punya pilihan selain ikut menaikkan BI7DRRR guna menciptakan kepercayaan yang lebih tinggi terhadap ekonomi nasional. “Ini memang akan menjadi tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Tetapi, bila tidak dilakukan, kemungkinan situasinya akan lebih buruk, khususnya dalam mempertahankan arus FDI (investasi langsung asing) ke Indonesia, atau untuk memastikan tidak adanya capital outflow dalam skala yang lebih besar,” ungkap Shinta. Jika respons kebijakan BI dan pemerintah tepat, ke depan, rupiah dan IHSG yang kini tertekan sentimen kenaikan suku bunga Bank Sentral AS dan ancaman resesi global akan rebound, didukung fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid. Ketum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid mengatakan, anjloknya rupiah dan IHSG di BEI sepekan terakhir jangan menimbulkan kekhawatiran berlebihan, karena secara fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong kuat,” ucap Arsjad kepada Investor Daily, pekan lalu. (Yoga)
Rupiah Semakin Lemas, Pebisnis Tambah Waswas
Ketidakpastian ekonomi global turut mengempaskan mata uang rupiah. Kurs tengah
Bloomberg
memperlihatkan, rupiah di level Rp 15.427 per dollar AS pada Jumat (14/10), dan level terendah rupiah sejak pandemi Covid-19 dua tahun lalu. Tekanan terhadap rupiah mempengaruhi dunia usaha di dalam negeri. Para pengusaha berharap, fluktuasi valuta tak terlalu tajam sehingga kalkulasi bisnis dan kondisi perekonomian lebih terkendali.
Bayang-bayang pelemahan rupiah kembali hadir. Berawal dari pandemi Covid-19, ekonomi global gonjang-ganjing, terutama akibat perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung berakhir. Ujung-ujungnya, dunia kini diambang resesi.
Koordinator Wakil Ketua Umum III Bidang Maritim, Investasi dan Luar Negeri Kadin Indonesia Shinta Kamdani menilai, pelemahan rupiah punya efek berbeda-beda di industri manufaktur. Pengusaha diminta waspada menggelar ekspansi.
Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro berpendapat, tren pelemahan rupiah secara umum berdampak negatif bagi kalangan pengusaha, termasuk bagi para eksportir. Apalagi jika rupiah bergerak fluktuatif. Oleh karena itu, eksportir berharap laju rupiah lebih stabil dan tak berubah arah secara drastis dalam tempo singkat. "Ini mengingat naik-turun valuta saling terkait dengan kondisi ekonomi nasional maupun global," kata dia.
Rupiah Terpangkas 0,9% Dalam Sepekan, Dana Asing 4,2 Triliun Keluar Dari Pasar Modal
Dana asing senilai Rp 4,22 triliun keluar dari pasar modal Indonesia selama 10- 13 Oktober 2022. Foreign capital outflow tersebut membuat rupiah melemah 0,9% selama pekan ini, menjadi Rp 15.390 per US$, berdasarkan kurs Jisdor BI. Berdasarkan data BI, pada periode tersebut, nonresiden (asing) mencetak jual bersih (net sell) Rp 3,43 triliun di pasar surat berharga negara (SBN) dan net sell Rp 0,79 triliun di pasar saham domestik. Sedangkan secara year to date, berdasarkan data setelmen hingga 13 Oktober 2022, asing mencatatkan net sell Rp 170 triliun di pasar SBN dan beli bersih (net buy) Rp 71,85 triliun di pasar saham.
Direktur Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan mengatakan, pada Jumat (14/10), rupiah dibuka pada level bid Rp 15.355 per US$. Sementara itu, yield SBN tenor 10 tahun naik ke level 7,36%. “BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait dan mengoptimalkan strategi bauran kebijakan, untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan. Hal ini untuk mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” ujar Junanto dalam keterangan resmi. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ambles 0,96% ke level 6.814,5. Kemerosotan IHSG terjadi di tengah penguatan bursa regional. Indeks US$ tercatat naik 0,2% menjadi 112,52. Berdasarkan data RTI, kemarin, investor asing mencetak net sell saham Rp 425 miliar. (Yoga)
Potensi Goyah Nilai Tukar Rupiah
Depresiasi nilai tukar rupiah diprediksi masih akan berlanjut kendati dalam beberapa hari terakhir kurs menguat tipis. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, memperkirakan kurs rupiah bisa menyentuh rentang Rp 15.500-16.000 per dolar AS akhir tahun ini. "Faktornya adalah agresivitas kebijakan moneter AS yang masih berisiko berlanjut dan berpengaruh pada aliran modal asing di negara berkembang, termasuk Indonesia," ujar Bhima kepada Tempo, kemarin. Di samping itu, faktor lain yang perlu diwaspadai adalah rendahnya realisasi pertumbuhan ekonomi Cina dan terancam memasuki zona resesi ekonomi apabila pada kuartal berikutnya masih mengalami kontraksi. "Tentunya hal ini akan mempengaruhi berbagai indikator ekonomi yang ada di Indonesia."
Ekonom Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas), Askar Muhammad, memperkirakan rupiah bertahan pada titik keseimbangan baru, yaitu Rp 15 ribu per dolar AS. Menyitir data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di Rp 15.196 pada 5 Oktober 2022 atau melemah 6,4 % dibanding kurs 3 Januari 2022, di level Rp 14.270 per dolar AS. "This is the new normal. Hingga akhir tahun, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berada di Rp 14.900-15.300," ujar Askar. Kendati proyeksinya lebih optimistis, angka tersebut berselisih jauh dari asumsi makro pemerintah dalam APBN 2022, yang mematok kurs rupiah atas dolar AS sebesar Rp 14.500-14.900. (Yoga)
Meredam Gejolak Rupiah
Kedigdayaan dolar AS tidak hanya terhadap
rupiah, melainkan juga terhadap euro, yen,
mata uang kuat lainnya, dan terhadap mata
uang negara pasar berkembang. Semakin
agresif The Federal Reserve (Fed) menaikkan suku bunga acuan, semakin kokoh nilai
tukar dolar AS.
Agresivitas The Fed menaikkan Fed fund
rate (FFR) menarik dolar untuk kembali
mengalir ke negeri asalnya. Dolar pulang
“kandang” dan instrumen investasi yang paling disasar adalah treasury bonds (T-Bonds)
berjangka 10 tahun. Kenaikan agresif suku bunga acuan Bank
Sentral AS dan inflasi dalam negeri memaksa
BI menaikkan BI 7-day reverse repo rate
(B7DRR) 50 bps ke level 4,25 %, untuk menjaga nilai tukar
rupiah yang terdepresiasi ke level
Rp 15.200 per dolar AS. Rata-rata nilai tukar
rupiah, Januari-September 2022, ytd, sudah
Rp 14.760, jauh di atas asumsi APBN 2022
yang dipatok di level Rp 14.350 per dolar AS , telah direvisi menjadi Rp 14.450. Selama
periode ini, rupiah terdepresiasi 6,40%. Gubernur
BI menegaskan, pihaknya tidak
akan jorjoran menaikkan suku bunga acuan
seperti The Fed. BI7DRR akan dinaikkan
bertahap sesuai realisasi inflasi dalam negeri. (Yoga)
BI Optimis Rupiah Stabil
Perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS disebabkan supply and demand valas dan ekspektasi pasar. “Ekspor Indonesia terus meningkat. Cadangan devisa cukup. Dolar cukup tersedia di pasar,” kata Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Wahyu Agung Nugroho kepada Investor Daily di sela Pelatihan BI bersama Awak Media di Ubud, Bali, Sabtu (1/10). Berdasarkan data BI, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Agustus 2022 sebesar US$ 132,2 miliar, setara pembiayaan 6,1 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Nilai tukar rupiah, kata Wahyu, berpotensi untuk terus menguat dan lebih stabil pada masa akan datang meski ada tekanan global akibat tingginya ketidakpastian. Tekanan pada rupiah saat ini tidak terlepas dari faktor ketidakpastian pasar keuangan global yang dipicu ancaman resesi global, tingginya inflasi, serta tren pengetatan suku bunga acuan The Federal Reserve (Fed) atau Bank Sentral AS. Selain itu, ekspektasi pasar juga mempunyai pengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah di spot market.
Pada perdagangan Jumat (30/9), nilai rupiah di pasar spot menguat 0,23% ke Rp 15.227 per dolar AS. Nilai tukar rupiah selama Januari hingga 30 September 2022 terdepresiasi hingga 6,40% (year to date) dibandingkan dengan level akhir 2021. Depresiasi rupiah terhadap dolar, kata Wahyu, masih lebih baik dibandingkan mata uang sejumlah negara berkembang lainnya seperti India 8,65%, Malaysia sebesar 10,16%, Thailand sebesar 11,36%, dan Filipina depresiasi 13%. Sementara itu, secara point to point rupiah terdepresiasi 2,24% (ptp) dibandingkan posisi akhir Agustus 2022. Dengan kinerja ekspor yang kuat, langkah stabilisasi yang dilakukan BI, dan intervensi di spot market atau pun Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), kata Wahyu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan relatif lebih aman dibandingkan mata uang negara lain. “Ke depan, kita yakin, kebijakan intervensi valas dan intervensi DNDF, kebijakan pre-emptive dan didukung kenaikan suku bunga BI7DRR kemarin, insyaallah ke depan, rupiah akan lebih stabil lagi,” katanya. Wahyu menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sedang terjadi ini disebabkan oleh indeks dolar atau DXY yang menguat. Indeks dolar pada 29 September 2022 di level 112,25, meningkat dari level akhir pekan lalu ke level 111,35. (Yoga)
Terseret Pelemahan Rupiah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,71% ke posisi 7.127,50 pada akhir perdagangan Senin (26/9). Indeks saham melemah seiring pelemahan nilai tukar rupiah. Hari ini, pergerakan IHSG masih akan dibayangi pergerakan mata uang Garuda. Analis Sinarmas Sekuritas Mayang Anggita menganalisa, secara teknikal IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju MA60 di 7.030. Hitungan Mayang, IHSG bahkan bisa menyentuh level support terendah sebelumnya di 7.015. "Pelemahan ini merupakan koreksi wajar, mengingat IHSG telah rally sejak pertengahan Juli lalu," tutur dia, kemarin.
Otot Rupiah Masih Terjaga Hingga Akhir Tahun
Nilai tukar rupiah melemah pada penutupan perdagangan Selasa kemarin (20/9).
Kurs dollar AS di pasar spot pada Selasa (20/9) ditutup di level Rp 14.984 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,04% dibandingkan dengan Senin (19/9) sebesar Rp 14.978 per dolar AS.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Universitas Indonesia Teuku Riefky mengatakan tekanan teradap rupiah saat ini hanya bersifat sementara.
Menurut perhitungannya, rupiah pada akhir September 2022 berpotensi berada di level Rp 14.900 hingga Rp 14.950 per dolar AS.
Lebih lanjut, potensi penguatan rupiah juga terbuka lebar pada akhir 2022. Menurutnya, rupiah bisa menguat di level Rp 14.800 per dolar AS hingga Rp 14.900 per dolar AS.
Pilihan Editor
-
Mengelola Risiko Laju Inflasi
09 Jun 2022 -
Audit Perusahaan Sawit Segera Dimulai
08 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022 -
Menkeu Minta Kualitas Belanja Pemda Diperbaiki
08 Jun 2022 -
Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan
10 Jun 2022









