Meredam Gejolak Rupiah
Kedigdayaan dolar AS tidak hanya terhadap
rupiah, melainkan juga terhadap euro, yen,
mata uang kuat lainnya, dan terhadap mata
uang negara pasar berkembang. Semakin
agresif The Federal Reserve (Fed) menaikkan suku bunga acuan, semakin kokoh nilai
tukar dolar AS.
Agresivitas The Fed menaikkan Fed fund
rate (FFR) menarik dolar untuk kembali
mengalir ke negeri asalnya. Dolar pulang
“kandang” dan instrumen investasi yang paling disasar adalah treasury bonds (T-Bonds)
berjangka 10 tahun. Kenaikan agresif suku bunga acuan Bank
Sentral AS dan inflasi dalam negeri memaksa
BI menaikkan BI 7-day reverse repo rate
(B7DRR) 50 bps ke level 4,25 %, untuk menjaga nilai tukar
rupiah yang terdepresiasi ke level
Rp 15.200 per dolar AS. Rata-rata nilai tukar
rupiah, Januari-September 2022, ytd, sudah
Rp 14.760, jauh di atas asumsi APBN 2022
yang dipatok di level Rp 14.350 per dolar AS , telah direvisi menjadi Rp 14.450. Selama
periode ini, rupiah terdepresiasi 6,40%. Gubernur
BI menegaskan, pihaknya tidak
akan jorjoran menaikkan suku bunga acuan
seperti The Fed. BI7DRR akan dinaikkan
bertahap sesuai realisasi inflasi dalam negeri. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023