Rupiah
( 288 )Jalan Tengah Penguatan Rupiah
JAKARTA - Kehadiran Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) diharapkan dapat membawa angin segar penguatan nilai tukar rupiah. Instrumen moneter baru ini memiliki salah satu tujuan utama, yakni menarik aliran modal asing tetap deras masuk ke pasar keuangan dalam negeri dalam bentuk investasi portofolio, seperti saham dan surat berharga. Merujuk pada neraca pembayaran Indonesia, hingga kuartal II 2023, kinerja investasi portofolio mencatat defisit US$ 2,6 miliar, berbalik arah dari kuartal I 2023 yang mencatatkan surplus US$ 3 miliar. Walhasil, instrumen ini pada akhirnya diharapkan dapat menarik aliran modal masuk (capital inflow), memperkuat upaya pendalaman pasar uang, dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, berujar, SRBI merupakan instrumen moneter untuk mendukung pengembangan pasar uang dan pasar valuta asing. Surat berharga yang diterbitkan dalam mata uang rupiah oleh bank sentral ini sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek menggunakan underlying asset atau jaminan berupa Surat Berharga Negara (SBN) milik Bank Indonesia. “Penerbitan SRBI dilakukan bank sentral untuk menyerap likuiditas rupiah di pasar uang,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. (Yetede)
PENGUAT FONDASI RUPIAH
Sambung-menyambung upaya Bank Indonesia (BI) dalam memagari gerak rupiah agar tetap eksis di zona aman. Setelah meluncurkan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) pada Term Deposit (TD) Valuta Asing di sektor komoditas sumber daya alam (SDA), bank sentral hari ini, Jumat (15/9), resmi memulai lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen itu adalah surat berharga dalam mata uang rupiah yang diterbitkan BI sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek, dengan menggunakan underlying asset Surat Berharga Negara (SBN) yang dimiliki BI. SRBI merupakan alat operasi moneter untuk mengelola likuiditas yang sekaligus mendukung pengembangan pasar uang dan stabilitas rupiah karena dapat ditransaksikan dan dimiliki oleh nonbank di pasar sekunder. Produk ini pun membawa keuntungan yang besar bagi ketahanan eksternal Indonesia. Di antaranya menjaga mata uang Garuda tetap stabil di tengah ketidakpastian dunia akibat pengetatan moneter bank sentral negara maju. Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Rudi As Aturridha, mengatakan kehadiran SRBI bisa menjadi alternatif instrumen operasi moneter kontraksi likuiditas yang sudah ada saat ini seperti reverse repo SBN dan term deposit rupiah. "SRBI memiliki daya tarik tersendiri yang berbeda dari instrumen lainnya, yaitu tradable dan dapat dimiliki oleh penduduk maupun bukan penduduk," kata Rudi kepada Bisnis, Kamis (14/9). Senada, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, mengatakan perseroan menganalisis berbagai kemungkinan untuk menyerap instrumen tersebut. Namun demikian, dia memastikan bahwa CIMB Niaga saat ini memiliki likuiditas yang cukup solid, ditandai dengan current account saving account (CASA) dan dana pihak ketiga (DPK) yang terus tumbuh, dengan loan to deposit ratio (LDR) yang terjaga baik. "Sedang kami periksa [kemungkinan menyerap SRBI]," katanya. Kalangan ekonom pun optimistis SRBI memiliki daya pikat yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan suku bunga reverse repo SBN ataupun Surat Perbendaharaan Negara (SPN) karena keuntungan yang ditawarkan lebih menarik. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan bank yang memiliki akses ke pasar primer, mempunyai keleluasaan penuh untuk menjual SRBI kepada lembaga nonbank, seperti perusahaan pengelola aset, investor luar negeri, dan investor ritel.
Rupiah Loyo, Transaksi Valas Perbankan Mendaki
Transaksi valuta asing (valas) di perbankan mengalami peningkatan sejak Agustus 2023 lalu. Peningkatan terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Transaksi di beberapa bank didominasi penjualan valas.
Pada penutupan perdagangan Kamis (14/9), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat tipis. Nilai tukar mata uang Garuda di pasar spot ditutup naik 0,10% ke level Rp 15.355 per dollar AS. Sementara kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) menguat 0,06% ke Rp 15.357 per dollar AS. Namun, dalam sepekan terakhir, pergerakan rupiah masih kontraksi sebesar 0,18%. Bila dihitung dalam sebulan, rupiah turun 0,26%.
Peningkatan transaksi valas di antaranya dialami Bank Central Asia (BCA). Tak merinci apakah kenaikan didorong transaksi jual atau beli. "Transaksi valas yang paling banyak dilakukan di BCA adalah transaksi yang berhubungan dengan ekspor-impor dan remitansi," kata Hera F. Haryn, EVP Komunikasi Perusahaan BCA.
Di Bank Tabungan Negara (BTN), nasabah banyak melakukan penjualan valas dibandingkan transaksi beli karena rupiah turun. "Sejak Agustus hingga saat ini, tren transaksi valas menunjukkan nasabah lebih banyak melakukan jual," ungkap Ramon Armando, Sekretaris Perusahaan BTN, kepada KONTAN, Kamis (14/9).
Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat pertumbuhan volume transaksi valas sebesar 13% secara tahunan. Namun, peningkatan transaksi antara jual dan beli valas di bank ini masih seimbang. "Transaksi jual dan beli valas saat ini masih relatif imbang. Kami akan penuhi kebutuhan nasabah dari dua sisi," kata Novita Widya Anggaraini, Direktur Keuangan BNI.
Tapi, menurut Novita, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih menguat sepanjang tahun berjalan, lebih kuat dari yen, dollar Singapura , maupun won. Ini karena fundamental ekonomi Indonesia masih solid, inflasi terjaga, dan Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas rupiah lewat kebijakannya.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, para pelaku usaha maupun importir sebagian akan menahan diri untuk melakukan pembelian valas di perbankan saat rupiah kontraksi.
PELEMAHAN RUPIAH : SIASAT EMITEN LAWAN KOREKSI
Pelemahan rupiah dalam 3 bulan terakhir menjadi sentimen yang mengintai kinerja emiten di berbagai sektor. Emiten sektor farmasi diproyeksi bakal terbebani, sedangkan emiten berorientasi ekspor berpotensi mendapat angin segar. Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 2 poin atau 0,01% menuju level Rp15.330 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan awal pekan ini. Alhasil, nilai tukar Garuda melemah 3,04% dalam 3 bulan tetapi masih terapresiasi 1,58% sepanjang tahun berjalan 2023. Hingga Senin (11/9), indeks dolar AS juga melemah 0,31% ke 143,65. Indeks yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap sekeranjang mata uang lainnya itu melandai jelang pengumuman data inflasi AS dan harga produsen pada pekan ini. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa emiten berorientasi ekspor akan mendulang keuntungan dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Melemahnya nilai tukar rupiah, ujarnya, dapat berimbas pada kenaikan biaya bahan baku produk yang digunakan oleh emiten farmasi. Hal ini bahkan dinilai Nafan dapat memengaruhi capaian laba bersih emiten farmasi pada semester I/2023. Senada, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar AS akan menguntungkan emiten-emiten yang mengekspor hasil produksi. Emiten itu tentu sudah mengantisipasi pelemahan rupiah yang terjadi. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menjelaskan emiten-emiten yang sensitif tentunya sudah mengantisipasi fluktuasi rupiah di kisaran Rp15.000. Dengan demikian, lanjutnya, kondisi saat ini belum berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan mereka. Sementara itu, kebijakan Bank Indonesia menerbitkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang disebut akan menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, belum mampu mengerek rupiah kembali ke posisi Rp14.000. “Bisa menguat ke Rp14.800 saja sudah bagus,” katanya. Terpisah, Head of Investor and Public Relation PT RMK Energy Tbk. (RMKE) Julius Caesar Samorsir menyatakan fluktuasi mata uang, baik rupiah maupun mata uang asing, tidak akan berdampak signifikan terhadap perseroan.
Otot Rupiah Melemah Menjelang Pemilu
Otot rupiah mengendor menjelang pesta demokrasi Indonesia. Dalam sebulan rupiah melemah 0,72% dari Rp 15.219 per dollar Amerika Serikat menjadi Rp 15.330 per USD. Jika dihitung selama setahun, rupiah turun 3,28% dari Rp 14.842 per dollar AS. Namun kurs sekarang lebih baik dibanding posisi rupiah di awal tahun ini, yaitu Rp 15.573.
Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana menilai, rupiah akan cenderung lebih stabil menjelang pemilihan umum (Pemilu). Rupiah akan lebih bergejolak seusai pemilu. Pergerakan itu mencerminkan harapan pasar terhadap pemerintahan baru dan kabinet.
Ambil contoh pada Pemilu April 2019. Menjelang bulan pencoblosan, rupiah melemah terbatas ke kisaran Rp 14.229 hingga Rp 14.257. Pada bulan berikutnya, rupiah melemah cukup tajam hingga menjadi Rp 14.525 per dollar AS. Setelah itu, rupiah melandai hingga menutup tahun 2019 di level Rp 13.866.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengamati nilai tukar rupiah cenderung melemah di sela Pemilu legislatif dan Presiden dalam empat gelaran terakhir. Kecuali pada pemilu 2009, di mana rupiah justru mencatatkan tren penguatan.
Josua menilai pelemahan rupiah pada periode itu dipengaruhi dinamika politik hingga ketidakpastian di pasar keuangan domestik yang meningkat. "Antara lain terkait penentuan calon presiden dan calon wakil presiden. Utamanya pada 2004 dan 2014," jelasnya, Senin (11/9).
Rupiah bersama mata uang Asia lain berpotensi menguat terhadap dollar AS, terutama ketika Fed sudah memberikan sinyal mempertahankan suku bunga. Selain itu implementasi instrumen penempatan valas Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga diperkirakan akan membuat rupiah cenderung lebih stabil ke depan.
Direktur PT Laba Foreindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menambahkan, meski Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan di kuartal keempat 2023, stabilitas nilai tukar rupiah diperkirakan tetap terjaga sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian Indonesia dan inflasi yang rendah.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy cukup yakin rupiah bisa menuju Rp 15.000 di akhir tahun, didorong efek kebijakan DHE dan lancarnya pemilu pada Februari mendatang.
SRBI, Instrumen Anyar BI untuk Stabilkan Rupiah
JAKARTA,ID-Bank Indonesia (BI) menerbitkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk memperkuat upaya pendalaman pasar uang di dalam negeri. Instrumen ini juga mendukung upaya menarik aliran modal asing masuk dalam bentuk investasi portfolio, serta optimalisasi aset surat berharga negara (SBN) yang dimiliki bank sentral sebagai underlying. "BI mulai untuk instrumen operasi moneter adalah promarket. Di mana instrumennya sekaligus memperdalam pasar uang seperti SRBI bisa diperdagangkan di pasar uang. Sehingga, ini semakin memutarkan likuiditas di pasar uang." ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Agustus 2023, Kamis (24/08/2023). SRBI merupakan surat berharga dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh BI sebagai pengakuan utang berjangka pendek dengan menggunakan underlying asset berupa Surat Berharga Negara milik BI. SRBI merupakan instrumen operasi moneter kontraksi untuk mengelola likuiditas. "Kenapa disebut sekuritas? Karena ini sekuritasisasi dari SBN yang dimiliki oleh BI. BI 'kan punya lebih dari Rp 1.000 triliun SBN, kita sekuritasisasi untuk dijadikan underlying SBN. Ini dengan tenor jangka pendek sampai dengan 12 bulan," papar Perry. (Yetede)
Jaga Rupiah dan Inflasi, BI Tahan Bunga Acuan
Di tengah eskalasi harga pangan dan gejolak ekonomi global, Bank Indonesia (BI) diyakini tetap menahan suku bunga acuan di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur BI yang dijadwalkan 23-24 Agustus 2023.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, jika BI menahan suku bunga acuan, sebaiknya dibarengi upaya stabilisasi nilai tukar rupiah. Apalagi, "Rupiah agak melemah beberapa waktu terakhir, seiring ketidakpastian global," tutur dia kepada Kontan, kemarin.
Ketidakpastian yang dimaksud David antara lain pelemahan mata uang global, termasuk Yuan China. Juga ada pernyataan beberapa pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) yang membuka peluang kenaikan suku bunga acuan lagi di September 2023.
Menurut kalkulasi David, BI paling cepat mengubah kebijakan suku bunga acuan (menurunkan suku bunga) pada awal tahun 2024.
Senada dengan David, ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan suku bunga acuan BI akan tetap pada bulan ini. Meski dia melihat dalam jangka pendek akan ada tekanan pada rupiah seiring gejolak pasar keuangan global.
Dari hitungan Faiz, rupiah akan bergerak secara rerata di kisaran Rp 15.352 per dolar AS pada kuartal III-2023. "Dengan demikian, masih ada kemungkinan depresiasi nilai tukar rupiah lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang," prediksi Faiz.
Bank Permata juga memproyeksikan BI akan menahan suku bunga acuan di level 5,75% dalam pertemuan bulan Agustus 2023. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan, langkah ini demi menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas pasar global.
Ketidakpastian global sehubungan dengan pelemahan kinerja ekonomi China. Kondisi ini pun mempengaruhi nilai tukar rupiah yang dalam sebulan terakhir melemah 1,6% atau 245 poin ke level Rp 15.325 per dolar AS. Sementara imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun cenderung meningkat 37 bps ke level 6,62%.
Bank Mandiri juga melihat tidak ada urgensi bagi BI untuk mengubah kebijakan suku bunga pada Agustus 2023. Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menilai tingkat inflasi Indonesia melandai di rentang sasaran 2%-4% yoy.
UANG KARTAL : Keamanan Tinggi Rupiah Tahun Emisi 2022
Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Marlison Hakim mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan uang rupiah palsu yang menyerupai uang kertas tahun emisi 2022. “Coba fotokopi. Uang kertas dengan warna segala macam itu ada teknologi yang terkini, yang kalau difotokopi, keluarnya pasti warna hitam. Ini karena di dalamnya kita terapkan sebuah teknologi yang tersembunyi yang kalau difotokopi warna apapun, dia tidak akan keluar warnanya,” jelas Marlison kepada wartawan, Jumat (18/8). Marlison menjelaskan uang rupiah tahun emisi 2022 memiliki tiga tingkatan keamanan. Pertama, mengenal rupiah dari sisi kasat mata. Menurutnya, uang palsu akan langsung atau dapat dengan mudah diidentifikasi jika diterawang. Kedua, dari sisi cash holder, seperti bank dan kasir, uang palsu bisa segera diidentifikasi melalui penggunaan sinar ultraviolet. Marlison mengatakan, uang rupiah tahun emisi 2022 juga sulit dipalsukan karena pemasok dari bahan uang tersebut terbatas. Selain itu, bahannya tidak untuk diperjualbelikan. Tak heran uang rupiah tahun emisi 2022 yang terdiri dari pecahan Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, dan Rp1.000 mendapatkan penghargaan sebagai uang kertas terbaik di dunia. Penghargaan diberikan International Association of Currency Affairs (IACA), yaitu sebagai Best New Banknote Series pada Currency Award ke-17 tahun 2023. Unsur penilaian pemenang tersebut ditentukan melalui beberapa kriteria. Semuanya adalah inovasi dan keunikan fitur keamanan, integrasi unsur sejarah dengan konten lokal yang berkaitan dengan negara penerbit, efektivitas dari integrasi fitur keamanan dan estetika tampilan, serta desain uang kertas. “Uang kertas Indonesia the best in the world, juara dunia. Tahun 2023 ini menjadi uang terbaik di seluruh dunia,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Menahan Defisit Dagang, Menjaga Stabilitas Rupiah
JAKARTA,ID-Ekspor Indonesia kembali melanjutkan tren kontraksi pada Juni 2023 dengan tumbuh minus 21,18%, setelah sempat naik 0,99% pada bulan sebelumnya. Dengan kinerja impor yang diperkirakan akan lebih baik dari ekspor, defisit neraca perdagangan bisa kembali datang lebih cepat dari perkiraan. Akibatnya rupiah pun bakal mendapatkan tekanan tambahan karena pasokan valuta asing ke perekonomian berkurang. Oleh karena itu, sejumlah langkah perlu segera dilakukan agar kemerosotan ekspor bisa ditahan dan rekor surplus neraca perdagangan yang mencapai 38 bulan berturur-turut pada Juni lalu bisa terus diperpanjang. Langkah-langkah itu diantaranya hilirisasi, menjaga nilai tukar (kurs) rupiah agar tidak merosot, menyederhanakan perizinan ekspor lewat digitalisasi, menambah model dan akses pembiayaan ekspor, serta mengoreksi regulasi neraca komoditas. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, nilai ekspor pada Juni 2023 yang mencapai US$ 20,61 miliar itu turun 5,08% dibanding Mei 2023 (mtm) dan 21,18% dibanding Juni 2022 (yoy)/ Penurunan kinerja ekspor dimulai Februari 2023 saat hanya tumbuh 4,14%, setelah pada Januari 2023, dan pada April 2023 kontraksi makin dalam yaitu menjadi 29,42%. (Yetede)
PENGIRIMAN UANG : Pekerja Migran Usul Bebas Biaya
International Migrants Alliance meminta pemerintah, swasta, dan perbankan untuk menghitung ulang atau meniadakan biaya saat melakukan pengiriman uang (remitansi) oleh Pekerja Migran Indonesia mengingat upah yang diterima pekerja migran terbilang kecil. Menurut Ketua International Migrants Alliance Eni Lestari, perbankan tidak akan mengalami kerugian dan dapat mencari keuntungan dari pihak lain di luar pekerja migran. “Ada usulan, dalam berkirim remitansi biaya dikosongkan, zero cost. Apakah tidak bisa? Bisa. Apakah berarti perbankan rugi? Tentu tidak, mereka bisa mencari keuntungan dari pihak lain,” kata Eni dalam konferensi pers ‘Buruh Migran Pertanyakan Manajemen Remitansi’ di Kantor Human Rights Working Group, Senin (10/7). Eni mengatakan, perbankan tidak laik mencari keuntungan dari pekerja migran, mengingat gaji pekerja migran yang sedikit. Riset The Lives of Migrant Remittances yang dipaparkan Dosen School of Public Health University of Alberta Kanada Denise L. Spitzer menyebutkan, gaji bulanan rata-rata di Hongkong menurut data 2020 sebesar 4.410 dolar Hong Kong atau setara US$564. Menurut hasil riset The Lives of Migrant Remittances kepada 966 pengguna remitansi yang teridentifikasi, uang remitansi dari para pekerja migrain paling besar digunakan untuk makanan dan biaya sekolah.
Pilihan Editor
-
Investasi Teknologi
10 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
Tata Kelola Bantuan Sosial Perlu Dibenahi
29 Jul 2022









