Pariwisata
( 747 )Kemudahan Visa Pacu Turis Asing ke Manado
Kunjungan turis asing mengalir ke Kota Manado, Sulut, dengan didukung fasilitas visa kunjungan saat kedatangan atau visa on arrival. Mereka didominasi pelancong Eropa dengan maskapai Scoot rute Singapura-Manado. Kepala Subseksi Pemeriksaan Imigrasi Kantor Imigrasi Kelas I Manado Kenneth Rompas, Rabu (4/5), mengatakan, pihaknya tetap mengawasi mobilitas turis untuk mewaspadai Covid-19. (Yoga)
Kawasan Puncak Panen Berkah Lebaran
Aktivitas ekonomi yang sempat meredup karena pandemi Covid-19 kini mulai menggeliat di kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor, Jabar. Derasnya arus wisatawan yang berbondong-bondong memadati Puncak selama libur Lebaran 2022 membawa berkah. Pendapatan pedagang kaki lima, tukang parkir, tukang ojek, hingga pebisnis hotel dan penginapan, serta restoran meningkat. Wisatawan yang memasuki kawasan wisata Puncak sejak Selasa (3/5) hingga Rabu (4/5) masih terus mengalir. Ruas-ruas jalan alternatif, Jalan Tol Jagorawi, hingga Jalan Raya Puncak, sejak dua hari terakhir padat. Kendaraan yang datang ke kawasan wisata itu didominasi kendaraan dari arah Jakarta. Dari data Kepolisian Resor Bogor, Selasa (3/5), total kendaraan bermotor yang masuk ke kawasan Puncak melalui Jalan Tol Jagorawi 35.000 kendaraan. Pada Rabu siang, jumlah kendaraan bermotor yang masuk ke Puncak 40.000 kendaraan roda empat dan 50.000 kendaraan roda dua.
Derasnya arus wisatawan ke Puncak berdampak signifikan bagi para pelaku usaha wisata di kawasan Puncak. Pedagang kaki lima, tukang ojek, tukang foto, hingga pelaku usaha hotel dan penginapan meraup pemasukan berlipat. ”Udah pegel. Dari pagi tadi, enggak berhenti. Gini (memotret) terus,” kata Fendra (40), salah satu pelayan jasa pemotretan di kawasan wisata perkebunan teh Puncak. Pada hari-hari biasa atau sebelum Lebaran, jumlah pelanggan yang didapatkan setiap hari hanya 5-7 wisatawan. Dampak libur Lebaran juga turut dirasakan pedagang kaki lima yang berjualan aneka minuman dan makanan ringan di tepi Jalan Raya Puncak, sekitar kawasan perkebunan teh. Nur, salah satu pedagang kaki lima asal Gunung Mas, Cisarua, misalnya, pada Rabu siang sudah meraup keuntungan dua kali lipat hanya dari menjual berbagai jenis minuman. ”Biasanya sepi banget. Apalagi, selama Covid-19, itu satu hari omzetnya paling Rp 100.000. Alhamdulillah, dua hari terakhir ini laris. Hari ini saja, sudah hampir Rp 500.000,” katanya.
Libur Lebaran juga berdampak pada tingkat keterisian hotel dan penginapan di kawasan wisata Puncak. Keterisian hotel dan penginapan di kawasan wisata itu hingga hari kedua Lebaran atau Selasa kemarin mencapai 80 %. Pada Selasa, misalnya, sejak pukul 20.00, aplikasi-aplikasi daring yang biasanya menawarkan jasa penginapan, sebagian besar sudah kehabisan kamar. Sejumlah hotel di Mega- mendung, Kabupaten Bogor, yang didatangi secara langsung, pada Selasa malam, sekitar pukul 22.00, juga menolak wisatawan karena kamar-kamar sudah penuh terisi. ”Libur Lebaran berdampak positif terhadap okupansi hotel. Sebelum Lebaran, keterisian hotel berkisar 20-50 %,” kata Wakil Ketua Badan Pimpinan Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor Boboy Ruswandi. (Yoga)
Kompetisi Vs Kolaborasi Agen Perjalanan
Sekretaris Perusahaan PT Panorama Sentrawisata Tbk AB Sadewa, Senin (18/4) menuturkan, Ketika OTA berkembang, perusahaan konvensional sempat memandang mereka sebagai kompetitor, terutama pada penjualan tiket pesawat. Namun, belakangan, perusahaan itu malah berkolaborasi dengan sejumlah OTA nasional, seperti Tiket.com dan Traveloka. Bentuk kolaborasi ini berupa suplai paket tur perjalanan, hotel, dan transportasi yang dibutuhkan wisatawan. ”Kami masih optimistis pasar pariwisata akan selalu terdiri dua jenis. Ada wisatawan yang menyukai cara pemenuhan kebutuhan perjalanan secara mandiri sehingga OTA akan lebih cocok untuknya. Ada juga pelaku perjalanan dengan kebutuhan kompleks, seperti korporasi. Mereka akan selalu butuh agen perjalanan konvensional untuk memenuhi segala keperluannya,” ujar Sadewa.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno berpendapat, kemunculan OTA ataupun lokapasar yang menjual tiket perjalanan adalah disrupsi bagi agen perjalanan konvensional. Pangsa pasar mereka khususnya pada tiket perjalanan telah mencapai 40 %. Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menegaskan, hal yang menjadi nomor satu pada industri pariwisata adalah pelayanan. Digitalisasi hanya memudahkan pemasaran produk, tetapi tidak akan mampu menggantikan interaksi luring pelayanan kepada wisatawan. Oleh karena itu, agen perjalanan konvensional akan tetap memiliki pangsa pasar, terutama dari pelaku perjalanan dengan kebutuhan kompleks. Sementara OTA memperoleh konsumen yang lebih suka menangani keperluan perjalanan mandiri. (Yoga)
Ingin Banyak Wisatawan Datang? Aturan Jangan Dibikin Rumit
Dulu, sebelum pandemi Covid-19, memilih tempat untuk berlibur ke luar negeri relative gampang. Tinggal urus visa (bila memang diperlukan), pesan tiket pesawat dan kamar hotel, beres. Namun, sejak pandemic Covid-19, kondisinya berubah dengan prosedur yang lebih rumit untuk masuk ke suatu negara demi memastikan keamanan semua orang. Anastasia Johansen (23), warga Norwegia, dan pacarnya. Setelah dua tahun tak bisa jalan-jalan kemana-mana gara-gara Covid-19, mereka memutuskan berlibur ke Thailand. Namun, beralih ke Vietnam karena prosedur masuk ke negara itu sekarang lebih mudah dan sederhana ketimbang Thailand. Bagi Johansen, prosedur Covid-19 bagi pengunjung asing yang akan masuk ke Thailand sekarang lebih rumit. Biaya untuk tes PCR pun mahal. Prosedur dan aturan masuk yang rumit di Thailand kini menyebabkan proses pemulihan industri pariwisata negara itu terhambat. Padahal, industry pariwisata menyumbang 12 % PDB Thailand sebelum pandemi Covid-19. Dari jumlah pemesanan tiket pesawat dan hotel lebih awal untuk tahun 2022,Thailand hanya mencapai 25 % sebelum pandemi, jauh di bawah Singapura (72 %) dan Filipina (65 %).
Banyak yang menyalahkan proses persetujuan pra-masuk atau Thailand Pass, yang butuh waktu lama, sampai paling cepat tujuh hari. ”Prosedur ini membunuh kami. Kalau sedang berada di Singapura, lalu ingin datang ke Thailand untuk akhir pekan, prosesnya susah,” kata Direktur Pelaksana Konsultan Perhotelan C9 Hotelworks, Bill Barnett. Kiran Stallone asal AS, yang masuk ke Thailand untuk mengunjungi keluarga, menuturkan, untuk mendapatkan Thailand Pass, dibutuhkan bukti vaksinasi, pertanggungan asuransi minimal 20.000 dollar AS, dan reservasi di hotel yang memenuhi syarat. Semua dokumen harus diajukan ke situs Pemerintah Thailand. Namun, proses mengunggah tak mulus. ”Situs pemerintah susah dinavigasi. Sampai-sampai saya harus minta tolong orang lain,” ujarnya. ”Ini menjadi tidak kompetitif untuk Thailand dan rumit bagi wisatawan karena kehilangan semua fleksibilitas,” kata Ketua Minor International Pcl yang juga taipan perhotelan, William Heinecke, kepada Reuters. Thailand Pass hanya bisa digunakan sepekan sebelum atau setelah tanggal yang ditentukan. Juru bicara satuan tugas virus korona Thailand, Taweesin Visanuyothin, mengatakan, kedatangan wisatawan meningkat seiring pelonggaran kebijakan-kebijakan terkait pandemic Covid-19. Namun, pelonggaran kebijakan pembatasan Thailand yang berubah-ubah membuat orang bingung. (Yoga)
Kunjungan Wisata di Ketep Pass Meningkat
Sebagian pemudik yang pulang lebih awal ke Kabupaten Magelang, Jateng, berwisata di Ketep Pass. Ketua Forum Daya Tarik Wisata Kabupaten Magelang Edwar Alfian, Minggu (24/4), mengatakan, pada dua minggu pertama Ramadhan, kunjungan wisatawan di Ketep Pass kurang dari 100 orang per hari. Kini jumlah pengunjung mencapai dua kali lipat, sebagian di antaranya pemudik. (Yoga)
Wisata Sungai Ramai Lagi Saat Ramadhan
Waktu menunjukkan hampir pukul 22.00 Wita. Beberapa kelotok atau perahu bermotor masih hilir mudik di Sungai Martapura, Banjarmasin, Rabu (20/4). Di atap perahu terlihat belasan orang duduk menikmati perjalanan menyusuri sungai. Mereka bersenda gurau sambil sesekali berswafoto, memotret ataupun memvideokan suasana di sekitarnya. ”Setiap malam di bulan Ramadhan selalu ramai yang naik kelotok,” ujar Adul (46), motoris atau pengemudi kelotok wisata susur sungai.Penumpang kelotok wisata kembali ramai pada bulan Ramadhan tahun ini setelah dua tahun mati suri karena pandemi Covid-19. Setiap malam, Adul dan 26 motoris kelotok wisata lain di dermaga siring Taman Maskot Bekantan selalu mendapat giliran membawa penumpang. Sekali jalan menyusuri sungai, mereka membawa 18 penumpang. Satu penumpang dikenai tarif Rp 10.000 untuk perjalanan menyusuri Sungai Martapura selama lebih kurang 30 menit. Tiket untuk naik kelotok wisata dijual Koperasi Maju Karya Bersama, yang merupakan koperasi angkutan obyek wisata sungai di Banjarmasin. ”Sekali jalan, kami sebagai anggota koperasi menerima Rp 150.000,” ungkapnya. Adul bisa membawa pulang Rp 100.000 ke rumah setiap malam setelah dipotong biaya solar dan jajan. ”Kalau pas ramai, seperti malam Minggu, kami bisa dua kali jalan dalam semalam. Lumayan,” ujarnya.
Selain di dermaga siring Taman Maskot Bekantan, sebagian kelotok wisata juga tambat di dermaga siring Menara Pandang, 40 kelotok tertambat disana. ”Ongkosnya sama, Rp 10.000 untuk susur sungai sampai Kampung Hijau,” kata Isam (50), motoris kelotok. Pada Rabu malam, kelotok wisata di kedua dermaga laris. Banyak orang mengantre naik kelotok, terlebih setelah shalat Tarawih. Semakin ma- lam, suasana di kawasan wisata siring Banjarmasin semakin ramai. Yang paling banyak memadati kawasan tersebut adalah anak muda. Setelah naik kelotok, mereka biasanya masih duduk mengobrol di tepian sungai sambal menikmati makanan dan minuman. Tika (20), mahasiswi perguruan tinggi di Banjarmasin, mengatakan, ia dan teman-temannya memilih bersantai di kawasan wisata siring dan naik kelotok setelah acara buka puasa bersama.
Ketua Koperasi Maju Karya Bersama Supiani Yanto mengatakan, ada peningkatan penumpang kelotok wisata selama bulan Ramadhan tahun ini, terutama pada malam hari. ”Kondisinya sudah hampir seperti malam Ramadhan sebelum pandemi,” ujarnya. Untuk perjalanan jauh, biasanya berangkat pagi ataupun sore hari. Tujuannya bisa ke Pasar Terapung Kuin, Pasar Terapung Lok Baintan, Soto Bang Amat, Pulau Kembang, ataupun berkeliling Kota Banjarmasin. Perjalanan ke sejumlah destinasi wisata sungai itu dikenai tarif Rp 300.000 sampai Rp 600.000 per kelotok untuk sekali jalan. Satu kelotok boleh mengangkut 15 orang. (Yoga)
Pariwisata Pascapandemi: Sulitnya Gaet Wisman Ke Bali
Tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Pepatah itu kiranya tepat menggambarkan situasi yang dihadapi Bali di era pascapandemi Covid-19.
Setelah mengalami kontraksi ekonomi akibat tidak adanya kunjungan wisatawan mancanegara, ekspektasi tinggi membuncah ketika sejak 4 Februari 2022, pulau ini diizinkan menerima warga negara asing (WNA) tanpa karantina serta cukup menggunakan visa on arrival (VOA). Hanya saja, harapan tinggi itu belum terbukti. Padahal berbagai sarana akomodasi hingga agen perjalanan wisata telah memberikan diskon dalam bentuk paket wisata harga terjangkau. Terhitung sejak 2 tahun pascapandemi, berbagai julukan seperti The Island of Gods, The Island of Paradise, The Island of Thousand Temple, The Morning of the World belum membuktikan tajinya. Data dari Bandara I Gusti Ngurah Rai menunjukkan jumlah penumpang internasional yang datang masih pada kisaran angka 2.500 orang per hari.
Kemenparekraf boleh saja mengeklaim penerapan VOA sejak awal Maret 2022 berhasil mendatangkan wisatawan mancanegara atau wisman hampir 15.000 orang ke Pulau Bali. Akan tetapi angka itu jauh dari jumlah wisman ke pulau ini mencapai 15.000 orang per hari ketika periode prapandemi. Bagi pelaku wisata, selain masih rendah, kualitas wisman yang datang belum menggembirakan.
Pariwisata Longgar Belum Ungkit Devisa
Indonesia kembali memperlonggar masuknya wisata asing dengan pemberian Bebas Visa Kunjungan Khusus Wisata (BVKKW) dan Visa Kunjungan Saat Kedatangan Khusus Wisata (BVKKW) atau Visa on Arrival (VoA). Kini negara bebas visa ini menjadi 43 negara termasuk wisatawan ASEAN. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan, kebijakan tersebut bertujuan agar wisatawan mancanegara terus berdatangan ke Indonesia, Khususnya dari Australia. Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo juga berharap dengan adanya kebijakan baru ini dapat mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia khususnya pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. "Dengan kebijakan ini, semoga target 1,8 juta hingga 3,6 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia dapat terwujud, sehingga dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif." tandasnya.
Namun, kebijakan ini belum tentu bisa mengerek devisa masuk ke dalam negeri. Sebab saat ini tantangan juga semakin kompleks, seperti situasi geopolitik, naiknya risiko inflasi global. naiknya harga tiket penerbangan karena biaya avtur naik serta pemerintah di beberapa negara asal wisman masih mempertimbangkan pandemi Covid-19.
Potensi Pariwisata : Penopang Baru Ekonomi Sumbar
Sektor pariwisata diyakini mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat. Kedatangan wisatawan diperkirakan dapat menggerakkan sektor-sektor lain untuk mendorong pemulihan ekonomi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) Wahyu Purnama A. mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Sumbar yang positif pada kuartal IV/2021 melanjutkan tren positif pertumbuhan ekonomi.“Perekonomian Sumbar pada triwulan IV/2021 tercatat sebesar 4,38% YoY [year-on-year], meningkat dibandingkan dengan triwulan III/2021 yang tumbuh 3,31% YoY,” katanya, Rabu (30/3).
Oleh karena itu, dia menilai untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, Sumbar perlu mengembangkan sumber pertumbuhan ekonomi baru sebagai lokomotif perekonomian ke depan. Upaya ini, lanjutnya, sekaligus diiringi dengan memperkuat dan mengoptimalkan kinerja pertanian dan industri pengolahan yang telah lama menjadi tulang punggung perekonomian Sumbar.Menurut Wahyu, pariwisata dapat menjadi lokomotif baru perekonomian Sumbar karena memiliki multiplier effect yang luas dan keseluruhan. Dia menilai kedatangan wisatawan memiliki dampak yang luar biasa dalam menggerakkan begitu banyak kegiatan sektor lain, seperti perhotelan dan restoran, transportasi, produk kerajinan dan industri olahan makan/minum, dan jasa-jasa.
Target Bangkit seperti Prapandemi
Sebelum pandemi, 5 juta wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke Bali. Tahun 2019 menjadi puncak jumlah kedatangan wisman ke Bali, 6,275 juta turis asing masuk ke Bali atau 40 % dari total turis asing yang masuk ke Indonesia. Begitu pandemi melanda dunia, pergerakan manusia di berbagai belahan dunia melambat. Pembatasan perjalanan diberlakukan di banyak negara, termasuk Indonesia. Pemerintah melarang warga negara asing masuk ke Indonesia pada 2 April 2020. Akibatnya, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia anjlok 75 %. Dari 16,1 juta orang di tahun 2019 menjadi 4 juta orang tahun 2020. Penurunan jumlah kunjungan wisman ke Bali 83 % dari 6,25 juta orang pada 2019 menjadi 1,07 juta orang pada 2020. Tahun 2021, BPS mencatat hanya 51 wisman yang berkunjung ke Bali. Dengan berkurangnya tingkat hunian hotel di Bali karena minimnya jumlah tamu yang datang, roda perekonomian Bali pun melambat. Pertumbuhan ekonomi Bali 2020 menjadi minus 9,33 %, jauh lebih rendah dibandingkan kondisi nasional yang minus 2,07 %.
Perekonomian Bali 2021 sebenarnya sudah membaik dilihat dari indikator pertumbuhan ekonomi hanya minus 2,47 persen, namun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang positif 3,69 %. Perbaikan itu tak lepas dari kebijakan pemerintah meningkatkan kunjungan wisatawan ke Bali melalui beberapa program, antara lain mengajak masyarakat, khususnya aparatur sipil negara, untuk work from Bali serta adanya kegiatan internasional di akhir tahun. Perekonomian Bali 2022 diperkirakan akan lebih baik seiring membaiknya perekonomian global dan lalu lintas perjalanan internasional yang sudah lebih tinggi. Jika pengendalian pandemic tetap berlangsung baik di Bali, serta tidak ada varian baru Covid-19, sektor pariwisata akan segera pulih. Bukan tidak mungkin, satu atau dua tahun ke depan, kejayaan pariwisata Bali sudah kembali seperti sebelum pandemi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Ekspor Perikanan Ditarget Naik 15,31 persen
24 Mar 2021 -
Kirim 20 Ribu Liter Reduktan ke Malaysia
19 Mar 2021 -
RI akan Produksi Pupuk di Nigeria
19 Mar 2021 -
Pemerintah Teken Kontrak Jargas Rp 604,92 Milyar
18 Mar 2021









