;
Tags

Pariwisata

( 747 )

Tren Harga Tiket Mahal Destinasi Wisata

KT3 21 Jul 2022 Kompas

Rencana pemerintah menaikkan harga tiket wisata ke Taman Nasional Komodo (TNK) berdekatan dengan rencana kenaikan harga tiket ke Candi Borobudur yang ditunda. Dua kebijakan ini menunjukkan kerinduan pengelola, yang mewakili khalayak pencinta pariwisata berkelanjutan dan konservasi akan tetap lestarinya mutu destinasi. Mulai 1 Agustus 2022, Pemprov NTT dan Balai TNK akan menetapkan harga tiket masuk wisatawan ke kawasan konservasi TNK, menjadi Rp 3,75 juta per orang untuk periode satu tahun, berdasarkan kajian para ahli.

Koordinator Pelaksana Program Penguatan Fungsi TNK Carolina Noge menyatakan, biaya tersebut menurut rencana diterapkan secara kolektif tersistem, Rp 15 juta per empat orang per tahun. Kuota kunjungan ke TNK akan dibatasi 219.000-292.000 orang per tahun. Hitungan harga tiket itu diambil dari pertimbangan biaya konservasi sebesar Rp 2.900.000 hingga Rp 5.887.000 akibat hilangnya nilai jasa ekosistem karena lonjakan angka kunjungan wisatawan ke TNK. Setiap wisatawan yang masuk dianggap membawa pengaruh, baik terhadap satwa, keanekaragaman hayati, maupun seluruh ekosistem di kawasan itu (Kompas, 27/6).

Menaikkan harga tiket dan membatasi pengunjung Salah satu cara untuk menjaga mutu destinasi adalah mengatur atau mengelola kunjungan wisatawan dengan mengenakan tiket mahal. Penetapan harga tiket yang tinggi merupakan implementasi konsep demarketing yang diposisikan sebagai alat potensial untuk mengembangkan pariwisata dan meningkatkan keberlanjutannya secara keseluruhan, terutama sebagai akibat dari overtourism (Hall&Wood, 2021). Overtourism terjadi ketika permintaan melebihi tingkat di mana bisnis pariwisata mampu memenuhi permintaan wisatawan. (Yoga)


Danau Kaolin, Pesona Bekas Tambang di Bangka Tengah

KT3 21 Jul 2022 Kompas (H)

Selasa (19/7), suasana tempat wisata Danau Kaolin tampak sepi. Hanya ada dua kelompok orang yang beraktivitas. Satu kelompok di antaranya membuat video klip kegiatan sekolah. Namun, di akhir pekan atau hari libur lainnya, tempat itu dipadati wisatawan. Pemandangan hamparan air dan lingkungan sekitarnya menjadi oase penyejuk bagi jiwa-jiwa penat serta lokasi tepat bagi pemburu foto-foto apik. Danau Kaolin adalah sebutan umum bagi kulong/kolong atau cekungan bekas tambang yang kemudian  menjadi penampungan air di Desa Nibung.

Menurut warga setempat, lahan danau itu semula dikelola sebuah perusahaan tambang timah. Setelah perusahaan berhenti beroperasi, lahan dikembalikan kepada pemerintah dan oleh warga desa diminta dikelola desa. Keindahan Danau Kaolin sudah dikenal wisatawan setempat dan luar daerah. Pengunjung pada akhir pekan bisa mencapai 1.000 orang per hari. Mereka akan menikmati suasana danau dengan warna toska dan kehijauan nan indah. Pengelola tempat wisata juga menyediakan perahu wisata sehingga pengunjung bisa berperahu di danau tersebut.

”Sejak 2016, lahan ini sudah menjadi milik desa. Desa mengajukan permohonan untuk memperoleh lahan seluas 7,5 ha tersebut, hingga lahan ini menjadi milik desa,” kata Juni, perangkat Desa Nibung sekaligus pengelola tempat wisata itu. Kini, tempat wisata itu dikelola BUMDes Nibung Jaya Abadi. Secara bertahap,  desa berusaha mengelola tempat wisata itu dengan baik, termasuk menjaga kelestarian lingkungan di sana. Awalnya pengunjung tidak dikenai tarif retribusi per orang, hanya per kendaraan yang datang. Ternyata dengan sistem itu pemasukan ke desa tidak maksimal. Akhirnya desa mengenakan retribusi masuk Rp 2.000 per orang. Hal itu tertuang dalam Peraturan Desa Nomor 5 Tahun 2019. ”Hasilnya kini lumayan, dalam sebulan kami bisa mendapatkan Rp 20 juta. Uang itu dibagi antara  BUMDes dan desa,” kata Juni. (Yoga)


Warga Tolak Kenaikan Tiket TN Komodo

KT3 20 Jul 2022 Kompas

Kenaikan tarif masuk ke Taman Nasional Komodo (TNK) di Labuan Bajo, NTT, dari sekitar Rp 200.000 menjadi Rp 3,75 juta menutup ruang bagi banyak orang untuk menikmati destinasi wisata superprioritas itu. Kunjungan wisatawan dikhawatirkan berkurang sehingga berdampak pada industri pariwisata setempat serta kehidupan masyarakat di sana. ”Binatang komodo kebanggaan orang NTT. Tapi tidak semua orang NTT bisa melihat komodo. Sebab harus kumpul duit banyak dulu,” kata Vita Kire (24), warga Kota Kupang, Selasa (19/7). Ia berencana liburan ke TNK Agustus nanti. Rencana itu ia batalkan ketika mendengar kenaikan tarif masuk ke sana.

 Menurut catatan Kompas saat mengikuti tur wisata ke TNK pada Juni 2022, biaya perjalanan dengan kapal kayu serta jasa pemandu sebesar Rp 700.000. Selain itu, biaya tiket masuk sekitar Rp 200.000. Wisatawan dibawa ke Pulau Padar, Pantai Pink, dan Pulau Komodo. Tiga lokasi itu paling digemari wisatawan. Di Pulau Padar, mereka naik ke puncak lalu berpose dengan latar belakang lekukan bukit yang saling membelakangi. Di Pantai Pink mereka berenang, kemudian ke Pulau Komodo untuk melihat reptil purba, yaitu komodo.

 Warga lokal terdampak Kenaikan tarif masuk TNK, menurut Direktur Yayasan Insan Lantang Mundur (Ilmu) Doni Pareira, menjadi ancaman serius bagi masyarakat setempat ataupun lingkungan sekitarnya. ”Sudah banyak sekali tamu yang batal ke Labuan Bajo gara-gara tarif baru. Ini sangat memukul,” katanya. (Yoga)


Festival Tabuik Pariaman Kembali Digelar

KT3 19 Jul 2022 Kompas

 Festival Tabuik disiapkan kembali digelar oleh Pemkot Pariaman, Sumbar, setelah dua tahun vakum akibat pandemi Covid-19.  Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman Dwi Marhen Yono, Senin (18/7) mengatakan, Festival Tabuik digelar sejak 30 Juli atau 1 Muharam hingga puncaknya pada 14 Agustus 2022. Kegiatan berpusat di kawasan Pantai Gandoriah. (Yoga)

”Emas” yang Terpendam di Kalimas

KT3 15 Jul 2022 Kompas

Meski merupakan metropolitan terbesar kedua atau setelah Jakarta dan dianggap kurang memiliki keelokan lanskap alami, Surabaya amat memanjakan mata dan hati warga serta pengunjungnya. Selain taman, museum, pantai, kebun binatang, kawasan konservasi, kawasan cagar budaya dan kota tua bernuansa Eropa dan Asia, dan kuliner khas, Surabaya juga amat layak memanggungkan kembali Kalimas sebagai ikon wisata. Ketua Surabaya Heritage Freddy Isnanto mengatakan, ”Surabaya merupakan kota dengan tinggalan yang komplet dan tidak bisa dilepaskan dari Kalimas”. Kampung-kampung di Surabaya yang tumbuh di sepanjang Kalimas menegaskan budaya Arek yang egaliter, terbuka, toleran, tetapi juga peka, berani, gotong royong, dan guyub juga senang kumpul alias cangkrukan. ”Surabaya sejak era Hindia-Belanda dipandang amat strategis sehingga dibangunlah industri kapal, pelabuhan, bahkan benteng-benteng tepi laut, ”katanya.

Kuncarsono Prasetyo, penggagas Suroboyo Mbois dan Surabaya Urban Track (Sub-Track), mengingatkan, kalangan warga ibu kota Jatim jangan sekadar melihat Kalimas dari sisi nostalgia atau kejayaan di masa lalu. Upaya ”merawat” kembali memori kolektif terhadap Kalimas dengan kepariwisataan, amat baik dan perlu didukung, pemerintah cukup memfasilitasi dan memastikan Kalimas aman dan nyaman. Melahirkan kembali Wisata Perahu Kalimas amat baik. Harapannya semakin  banyak warga yang terlibat akan merasakan nuansa Kalimas. Bisa didorong kegiatan lain, misalnya festival bahkan kejuaraan olahraga air di Kalimas. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi punya ”strategi” dan keberanian untuk mendorong penataan dan pemanfaatan Kalimas. Keinginan agar 3 juta jiwa warga Surabaya bertamasya dan rutin menikmati ”rumah sendiri” lebih dalam tidak akan sulit diwujudkan. ”Kami mengupayakan Kalimas kembali menjadi salah satu ikon wisata air di Surabaya yang terintegrasi dan berkembang dengan segmen pariwisata lainnya yang sudah ada,” kata Eri. Selamat mendulang ”emas” wisata Kalimas. (Yoga)


GELIAT KOTA, Menikmati Gemerlap Surabaya dari Kalimas

KT3 15 Jul 2022 Kompas (H)

Selasa (21/6) malam, Noviyanti (50), warga Surabaya, Jatim, berkesempatan menikmati rute pendek Wisata Perahu Kalimas. Wisata itu menjadi primadona warga untuk menikmati Kota Surabaya. Bahtera yang ditumpangi Noviyanti bergerak dari dermaga Taman Prestasi di tepi Jalan Ketabang Kali ke dermaga Museum Pendidikan di tepi Jalan Genteng  ali. Jarak tempuh sekitar 500 meter. Dalam perjalanan, perahu singgah di Skatepark, Sentra Wisata Kuliner (SWK) Ketabang, dan Museum Pendidikan. Perjalanan menyusuri penggalan sungai jauh lebih menyenangkan dilakukan pada malam hari ketika udara tidak lagi gerah. Sepanjang sungai juga dihiasi lampu dan lampion warna-warni. Taman-taman hidup kembali dengan beragam aktivitas.

Di rute panjang dari Monkasel (Monumen Kapal Selam)-Siola lewat Taman Prestasi-Museum Pendidikan, beberapa lokasi pemotretan terasa lebih berwibawa saat malam hari. Patung Suroboyo dengan air mancur yang disorot lampu terlihat gagah. Jembatan Pemuda, Plaza Boulevard, Yos Sudarso, Mustajab, dan Genteng Kali juga berpendar dalam sorotan cahaya. Bahkan, di bagian bawah prasarana itu juga dicat warna-warni atau berhias mural dan gambar sehingga menjadi pemandangan luar biasa bagi wisatawan. Aktivitas tamasya menyusuri Kalimas kembali aktif setelah terhenti karena dua tahun pandemi Covid-19. Pemkot Surabaya meluncurkan kembali Wisata Perahu Kalimas pada Rabu (1/6). ”Saya bersyukur dapat dilibatkan dan mendapat manfaat ekonomi dari Wisata Perahu Kalimas,” ujar Suryani (50), penjual makanan dan minuman di SWK Taman Prestasi.

Antusiasme warga dan wisatawan untuk menyusuri sungai itu cukup besar. Pendaftaran daring setiap hari nyaris penuh. Pada Rabu (13/7) pukul 21.00, kuota pada laman resmi https://tiketwisata.surabaya.go.id/ habis untuk dua hari mendatang. Peminatnya ialah warga Surabaya ataupun dari luar daerah. Semua berebut memesan secara daring (online). Untuk menikmati Kalimas dan Surabaya, wisatawan dapat datang pukul 15.00-21.00. Ada dua pilihan rute. Rute pendek ialah Taman Prestasi sampai Taman Ekspresi/Museum Pendidikan dengan tarif Rp 4.000 per orang. Rute panjang ialah dari Monkasel-Dermaga Siola/Mal Pelayanan Publik dengan tarif Rp 10.000 per orang. Ada tujuh perahu dengan kapasitas 10-12 penumpang per unit yang disiapkan. Khusus akhir pekan, Jumat-Minggu malam, wisata perahu disemarakkan dengan pasar terapung. Wisatawan dapat berbelanja produk UMKM Surabaya yang dijajakan di perahu tamasya. (Yoga)


PARIWISATA, Taruhan Nyawa demi Komodo

KT3 11 Jul 2022 Kompas (H)

Jumat (24/6) pagi, kapal motor bertolak dari pesisir Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, ke arah barat daya. Majid (27), pemandu, menjelaskan, kapal akan menyinggahi tiga lokasi wisata, yakni Pulau Padar, Pantai Pink, dan Pulau Komodo. 30 menit berlayar, embusan angin kian kencang. Faldi asal Manggarai, NTT, dan istrinya dari Semarang, Jateng, mengaku tak bisa berenang. Pasangan yang baru menikah itu sedang berbulan madu. Wisatawan lain juga tidak bisa menyembunyikan rasa takut. Ada yang sampai berteriak keras saat haluan menukik di depan mulut gelombang yang seakan hendak menelannya. ”Amankah?” tanya mereka kepada nakhoda. Jimy, nakhoda yang baru berusia 19 tahun, hanya mengacungkan jempol sambil tersenyum. Jimy belum lama ini menjadi nakhoda setelah mengikuti kursus pelaut satu bulan. ”Naik kapal cepat bayar Rp 2 juta. Kami ini modal kurang jadi pake kapal kayu saja,” ujar Cika, wisatawan, sambil menunjuk perahu cepat yang dalam sekejap sudah berada jauh di depan.

Dua setengah jam kemudian, kapal motor tiba di Pulau Padar. Wisatawan turun, lalu mendaki ke puncak untuk menikmati pemandangan sambil berpose lebih kurang satu jam. Padar menjadi tempat favorit karena lanskapnya yang memesona. Pukul 11.00, kapal motor meninggalkan Padar, menuju Pantai Pink. Kapal melalui selat sempit dengan gelombang yang datang dari berbagai arah. Laju kapal dikurangi agar tak terlalu membentur gelombang. ”Adu Tuhan.., ya Allah.., tolong kami,” jeritan itu bersahutan keluar dari mulut mereka. Di sini, kapal wisata sering tenggelam dan banyak orang hilang, kata Jimy setelah merapatkan kapal ke pesisir Pantai Pink yang pasirnya berwarna pink (merah muda). Satu setengah jam kemudian, Jimy menghidupkan mesin kapal dan meminta wisatawan segera naik karena sebentar lagi angin semakin kencang.

Perjalanan terakhir ini menuju Pulau Komodo yang akan ditempuh dalam waktu dua setengah jam. Tiba di Pulau Komodo, mereka menyaksikan reptil purba itu. Melihatnya berjalan, mengangkat kepala, membuka mulut, dan menjulurkan lidah. Melihat komodo di alam liar menjadi puncak dari perjalanan panjang dan berisiko di perairan Pulau Komodo dan sekitarnya. Dua jam kemudian, kapal bertolak kembali ke Labuan Bajo. Angin bertambah kencang dan gelombang datang dari arah berlawanan. Kapal berguncang sangat keras, oleng, dan miring saat menerjang gelombang. Ada wisatawan yang menangis. ”Saya ingat anak saya masih kecil. Untuk melihat komodo, kami pertaruhkan nyawa,” ujar Ragil, wisatawan dari Kupang. Diterjang gelombang lebih dari tiga jam, kapal akhirnya tiba di Labuan Bajo pukul 19.00 waktu setempat. Total perjalanan hari itu 13 jam.

Empat hari kemudian, datang kabar kapal wisata tenggelam di perairan yang kami lewati. Seorang ibu dan anaknya meninggal. Kejadian itu menambah panjang daftar kecelakaan kapal wisata di Labuan Bajo. Selain cuaca, kondisi kapal dan kecakapan pengemudi sangat menentukan. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT Zeth Sony Libing mengatakan, keberadaan kapal wisata di Labuan Bajo akan dievaluasi. Pihaknya bakal melihat kondisi kapal, pengemudi, dan perlengkapan yang tersedia di dalamnya. Wisatawan yang datang ke destinasi superprioritas itu harus bisa pulang dengan selamat dan memberikan cerita indah di tempat asalnya. Bukan malah sebaliknya, membawa duka. (Yoga)


Kawasan Lama Banjarmasin Bersemi Kembali

KT3 08 Jul 2022 Kompas (H)

Dari sore hingga malam, kawasan pertokoan lama di Jalan Simpang Hasanuddin HM (bin Haji Madjedi), Kota Banjarmasin, Kalsel, tak pernah sepi. Pengunjung datang silih berganti untuk bersantai sembari menikmati kopi, roti, dan aneka makanan-minuman. Senin (27/6)  Bambang (31), warga Banjarmasin, dan teman-temannya kerap bercengkerama di kawasan pertokoan lama di Jalan Simpang Hasanuddin HM, yang kini lebih dikenal sebagai kawasan Kota Lama Banjarmasin atau Bandarmasih Tempo Doeloe. ”Seminggu bisa tiga kali kami nongkrong di sini,” ujar Tole (29), pemuda di sebelah Bambang. Mereka biasa nongkrong dari pukul 17.00 hingga pukul 19.00 Wita. Jika lewat dari jam tersebut, pengunjung semakin ramai dan agak susah mencari tempat duduk.

Pemilik Kedai Roti Terang, Bayu Indra Aditya, menuturkan, kawasan kota lama semakin ramai akhir-akhir ini. Yang datang tak cuma anak muda, tetapi juga yang sudah berkeluarga. Kedai-kedai baru juga terus bermunculan. ”Dulu hanya ada dua kedai. Sekarang sekitar 20 kedai di sini,” katanya. Kedai di kawasan kota lama beragam jualannya. Namun, yang paling dominan tetap menjual minuman dan kudapan. Setiap kedai memiliki daya tarik tersendiri dari apa yang diperjualbelikan ataupun dari desain eksterior dan interior kedainya. Bangunan ruko lama yang sebelumnya kusam dan tidak terurus banyak berubah menjadi lebih cerah dan modern.

Sejak pertengahan 2019, kawasan pertokoan lama di Jalan Simpang Hasanuddin HM mulai jadi tempat kumpul anak muda karena ada kedai kopi yang buka di sana, yaitu Kotalama Koffie. Kedai kopi yang dirintis oleh anak muda dari grup musik reggae itu menjadi magnet kawasan niaga yang lebih dari 20 tahun mati suri. Setahun sesudah itu, muncul Kedai Roti Terang, bersebelahan dengan Kotalama Koffie. Pengelola kedai roti juga anak muda dalam satu grup music reggae. Kawasan itu hidup kembali karena gerakan ekonomi kreatif dari warga bawah, bukan dari pemkot. Kebangkitan kawasan niaga di Jalan Simpang Hasanuddin HM kemudian dilirik  Pemkot Banjarmasin. Kawasan tersebut lalu dinamai Bandarmasih Tempo Doeloe. Pada Rabu (15/12) malam, Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina meresmikan kawasan Bandarmasih Tempo Doeloe sebagai kawasan wisata kuliner dan tempat kongko-kongko dengan suasana yang tergolong otentik.. (Yoga)


RI Siap Rebut Pangsa Wisman Singapura

KT1 08 Jul 2022 Investor Daily (H)

Singapura adalah pangsa pasar yang strategis untuk pariwisata Indonesia, di mana sekitar 16 juta wisatawan asing datang ke Indonesia  melalui Singapura pada 2019. Untuk itu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sengaja khusus datang ke Singapura untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Deputi Bidang Kebijakan  strategis Kemenparekraf ingin memanfaatkan status Singapura adalah Indonesia bisa menarik warga Singapura, permanent recidence non Singapura dan para pekerja profesional asing dan ekspatriat. "Ini baru ibaratnya adalah long hanging fruit yang bisa kita ambil untuk berkunjung ke Indonesia," ucap Nia di Singapura. Dia mengatakan, potensi daerah yang dikunjungi adalah Batam dan Bintan, karena ada 48 trip  yang bisa dimanfaatkan, di mana dari sisi jarak relatif dekat. (Yetede)

Hambat Pemulihan Pariwisata

HR1 07 Jul 2022 Kontan (H)

Dalam bisnis pariwisata, ada konsep 3A, yakni Amenitas, Atraksi dan Aksebilitas. Aksebilitas terhambat akibat kenaikan harga tiket atau berkurangnya frekuensi penerbangan. Kondisi ini akan berdampak ke sektor pariwisata, terutama dari perspektif bisnis perhotelan dan restoran khususnya di daerah luar pulau jawa, seperti Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatra Utara, Padang, Kalimantan, Sulawesi Hingga Papua. Tahun 2022 merupakan fase pemulihan ekonomi, khususnya pariwisata. Tapi kenaikan harga tiket bisa menghambat pemulihan pariwisata.