Pariwisata
( 747 )Kompas Travel Fair, Pemerintah Dorong Desa Wisata Lestari
Pemerintah melalui Kemendes PDTT mendorong agar pengembangan desa wisata dilakukan secara berkelanjutan dengan mengutamakan kelestarian lingkungan. Strategi ini diyakini akan membuat desa wisata bertahan dalam jangka panjang sehingga kesejahteraan masyarakatnya dapat terus meningkat. ”Terbangunnya desa wisata bukanlah tujuan, tetapi bagaimana itu bisa berdampak ke masyarakat dan lingkungan desa,” kata Menteri Desa, PDTT Abdul Halim Iskandar saat membuka Kompas Travel Fair 2022, Jumat (9/9) di JCC, Senayan, Jakarta. Kompas Travel Fair 2022 berlangsung pada 9-11 September 2022. Pameran produk dan kebutuhan perjalanan ini diikuti 76 ekshibitor. Mereka berasal dari agen perjalanan konvensional, agen perjalanan untuk wisata halal, dan maskapai penerbangan. Terdapat 10 desa wisata di bawah binaan Kementerian Desa, PDTT yang ikut dalam pameran ini.
Abdul Halim menuturkan, semakin lestari lingkungan, semakin bagus dan nyaman desa wisata itu untuk dinikmati wisatawan. ”Jangan sekali-kali (desa wisata) dibangun secara pabrikan, bukan alam. Itu tidak akan bertahan lama. Maka, kami harap persaingannya lebih pada aksi melestarikan lingkungan,” katanya. Ia juga mendorong agar narasi dan promosi desa wisata dibuat lebih baik sehingga wisatawan lebih tertarik untuk berkunjung. Ia menyampaikan, pihaknya membantu promosi desa wisata melalui aplikasi Desa Wisata Nusantara. Dengan aplikasi itu, wisatawan yang tertarik dating atau membeli produk desa wisata bisa langsung berhubungan dengan pengelola desa wisata. (Yoga)
Promosikan Ekonomi dan Pariwisata Indonesia, BUMN Dukung Tong-Tong 2022
Tong-Tong Fair 2022 menjadi salah satu festival paling potensial untuk mempromosikan ekonomi dan pariwisata Indonesia di Belanda. Festival ini semarak dengan seni tari, musik, sastra dan kuliner Nusantara. Setiap tahunnya, Tong Tong Fair dikunjungi oleh lebih dari 80 ribu pengunjung. Adapun, Festival Tong Tong Fair kali ini ikut dimeriahkan oleh beberapa BUMN seperti BNI, BRI, Mandiri, Pertamina, dan Telkom. Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir pun berkunjung secara langsung untuk menyapa segenap tamu dan para diaspora Indonesia di Den Haag, Belanda, Sabtu (3/9/2022). Erick menyampaikan gelaran ini tergolong megah sehingga cocok untuk dapat mempromosikan ekonomi dan pariwisata Indonesia kepada masyarakat dan diaspora Indonesia di Belanda. Di samping itu, Tong-Tong Fair telah memiliki sejarah penyelenggaraan acara yang cukup panjang sejak 1959. “Saya mengapresiasi semua BUMN yang ikut mendukung festival ini dengan membawa mitra UMKM binaannya. Semoga, acara ini dapat menjadi wadah bagi para BUMN untuk mendukung UMKM bisa Go Global dan naik kelas,” sebutnya. Erick menyampaikan festival ini dapat menjadi wadah untuk business matching antara pelaku UMKM dengan calon mitra luar negerinya. (Yetede)
Masa Depan Jabar di Jalur Selatan
Jalur selatan Jabar adalah masa depan Jabar. Butuh kerja bersama untuk memanggungkan kekayaan dan keindahan alam, perkebunan, perikanan, serta energi baru terbarukan daerah itu. Kerja bersama itu tampak dalam Cycling de Jabar 2022, Sabtu-Minggu (27-28/8). Kegiatan yang digelar Pemprov Jabar, Bank BJB, dan harian Kompas ini berupa perjalanan sepeda dari Pantai Palangpang, Geopark Ciletuh, Sukabumi, hingga Pangandaran sejauh 319 kilometer. Tercatat ada 69 peserta, dua di antaranya dari Rusia dan Latvia. Ketika finis di Alun-alun Paamprokan, Pangandaran, Minggu (28/8), pesepeda disambut warga, Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum, Wakil Bupati Pangandaran Ujang Endin Indrawan, dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Tri Agung Kristanto.
Sementara itu, pemerintah setempat menggelar lomba memasak pindang gunung, kuliner khas pangandaran. Aneka produk lokal ikut dipamerkan. Acara itu turut diisi akad program kredit BJB Mesra (Masyarakat Ekonomi Sejahtera) kepada 50 penerima manfaat yang sekaligus puncak peringatan Hari Jadi Ke-77 Jabar yang jatuh pada 18 Agustus. Menurut Uu, Cycling de Jabar adalah ide Gubernur Ridwan Kamil. ”Pak Gubernur ingin hari jadi Jabar dinikmati masyarakat, ikut meningkatkan kebahagiaan warga,” ujarnya. Salah satu inspirasi lahir dari potensi perikanan. Kadis Kelautan dan Perikanan Jabar Hermansyah mengatakan, dari 10.000 hektar lahan tambak udang, baru ratusan hektar yang dikembangkan. Potensi energi terbarukan, seperti matahari dan angin, cukup besar di jalur selatan.
Terlebih, pemerintah pusat telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan. Beberapa proyek yang dinantikan adalah pemanfaatan pembangkit listrik tenaga bayu. Pembangunan jalan diyakini bakal mendongkrak wisata. Sutrisno (48), pemandu wisata body rafting di Citumang, Pangandaran, menambahkan, kunjungan turis meningkat hingga ribuan orang per hari. Tambahan fasilitas pun dibutuhkan. ”Untungnya, kami dapat kredit BJB Mesra jadi bisa beli sekitar 200 pelampung baru,” ujarnya. (Yoga)
Buka Jalan Asah Potensi Jabar Selatan
Sodikin (40), warga Cijulang, Pangandaran, Jabar, berkata saat daerahnya masih masuk Kabupaten Ciamis, jalan rusak parah. Kini, kondisi jalan jauh lebih baik. Ke depan, aksesibilitas idealnya dibutuhkan untuk mengembangkan banyak potensi terpendam. Jalan dekat rumah Sodikin pernah mirip kubangan kerbau, beban truk pengangkut pasir besi dan kayu dari Tasikmalaya menuju Cilacap, Jateng, jadi penyebabnya. ”Padahal, jalan itu adalah akses menuju wisata kelas internasional, Pantai Pangandaran,” katanya, Rabu (24/8). Perbaikan muncul sejak tahun 2013, Pemprov Jabar melakukan moratorium penambangan pasir besi. Perbaikan jalan dilakukan dan memicu gairah ekonomi. Minimarket dan rumah makan berdiri di sejumlah titik jalan.
Di Ciletuh, Sukabumi, anggota Koperasi Konsumen Nelayan Berdaulat Ciwaru (KKNBC) juga menikmati jalan layak. Sebelum 2019, nelayan harus menempuh 7 jam pergi pulang dari Ciwaru ke Palabuhan ratu untuk mengirim ikan. ”Jalan rusak bikin pengiriman terlambat dan ikan rusak. Harganya turun, Rp 12.000 per kg jadi Rp 9.000 per kg,” ujar Atin Irawan, Ketua KKNBC. Setelah Geopark Ciletuh mendunia sekitar 2018, jalan diperbaiki. Jalan mulus lebih dari 40 kilometer mampu memangkas waktu tempuh menjadi 3 jam. Pengiriman ikan meningkat dari sekali jadi dua kali sehari.
Perbaikan di jalan utama jalur selatan terbukti memberikan kehidupan lebih baik. Namun, itu semuanya belum ideal. Konektivitasnya dengan jalur lainnya butuh peningkatan. Jalan di Sukabumi, Cianjur, hingga Pangandaran, misalnya, tidak selebar jalur utara. Kualitas jalan belum sepenuhnya memadai di lebih dari 412 km jalur selatan. Jarak tempuh antar-kecamatan di satu kabupaten bisa menelan waktu berjam-jam. Layanan kesehatan dan pendidikan dengan permukiman terkendala, terutama di pelosok. Padahal, dengan luas wilayah 10.059 km persegi, Jabar selatan dihuni lebih dari 11,3 juta jiwa, setara 23,4 % jumlah penduduk Jabar tahun lalu, yakni 48 juta orang.
Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, tanah di jalur selatan cukup miring, sedangkan di Jabar utara Relatif datar. ”Karakteristik jalan yang curam membuat infrastruktur pasti dua kali lebih mahal. Kebencanaan juga dua kali lebih banyak,” ujarnya. Meski demikian, Jabar selatan kaya akan potensi pariwisata, pertanian, juga perikanan. Sekitar 400 curug atau air terjun terdapat di selatan. Kehadiran Perpres No 87 Tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jabar Bagian Selatan, lanjutnya, diharapkan mempercepat pembangunan infrastruktur. Dalam perpres, ada 170 program senilai Rp 392 triliun. Sebanyak 89 proyek senilai Rp 157 triliun terdapat di Jabar selatan, yang 75 % merupakan infrastruktur. (Yoga)
PARIWISATA JABAR, Senyuman Baru dari Geopark Ciletuh
Kehadiran Taman Bumi Geopark Ciletuh-Palabuhan ratu di Sukabumi, Jabar, membuka lembar kehidupan baru. Sebagian warga di sekitarnya kini lebih berdaya. Dari angkasa, lengkungan garis pantai bertemu laut biru seperti memamerkan kemolekan Teluk Ciletuh. Petak-petak sawah, pegunungan, hutan, sungai, hingga air terjun jadi primadona. Bahkan, bagi Muhamad Risky Figo (22), pilot paralayang yang sudah 300 kali terbang di Ciletuh, kawasan itu tidak pernah membosankan. ”Saya sudah terbang di 20 lokasi di Indonesia. Pemandangan Ciletuh yang terbaik,” kata pilot bersertifikat kategori dua ini. Kamis (4/8) pagi, dia kembali mengudara dari Bukit Paralayang Ciletuh, 360 meter di atas permukaan laut di Desa Ciemas di Ciletuh.
Pengalaman terbang di Ciletuh kini tidak hanya jadi milik pilot berlisensi. Sejak 2018, dengan membayar Rp 500.000, wisatawan bisa terbang bersama pilot tandem komersial. ”Ada dua periode terbaik, April-Juni dan September-November. Kami sudah menerbangkan 700 wisatawan usia 7-65 tahun terbang tandem,” kata Ketua Persatuan Gantole dan Paralayang Indonesia Kabupaten Sukabumi Lukman. Gairah itu membuat pariwisata Ciletuh kian menggeliat. Perjalanan puncak hari ulang tahun ke-77 Jabar dalam ajang ”Cycling de Jabar” pada 27-28 Agustus 2022 bakal merekam hal itu. Di atas sepeda, Pemprov Jabar, harian Kompas, dan Bank BJB menyusuri Geopark Ciletuh, Sukabumi, ke Pangandaran. Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyebut Geopark Ciletuh Pelabuhan ratu merupakan anugerah dunia bagi Jabar. Keindahan dan potensinya bertaraf internasional lewat status UNESCO Global Geopark.
Tidak jauh dari lokasi paralayang, Deris Angga (29) bahagia bercerita tentang Curug Cimarinjung setinggi 50 meter di Ciwaru. Sebelum 2015, hidup Deris tidak menentu. Ia kerap menganggur hingga menjadi kuli di Jakarta. Seiring pengembangan wisata Geopark Ciletuh, muncul pilihan pekerjaan. Deris lalu pulang kampung. Bersama pemuda lain, ia belajar menjadi pemandu wisata. Kala itu, baru Puncak Darma, sekitar 230 meter di atas permukaan laut, yang dikenal pengunjung di Ciemas. Curug Cimarinjung masih asing. Setelah meraih status UNESCO Global Geopark pada 2018, daerah itu kian berkembang. Pemerintah membenahi akses jalan, termasuk ke curug. Jalan beraspal kini tersaji di sana. Warung hingga tempat penginapan atau homestay mulai tumbuh hingga kurang lebih 2.000 unit. (Yoga)
Pariwisata Bersemi Lagi di Kepulauan Mentawai
Dusun Buttui, bagian Desa Wisata Madobag, berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan dari Muara Siberut, ibu kota Siberut Selatan, 30 menit perjalanan darat dengan ojek hingga Dusun Rogdok, lalu 2 jam perjalanan menyusuri Sungai Rereiket dengan pompong atau perahu. ”Perjalanan ke sini memang sulit, tetapi terbayar lunas setelah sampai dan menetap di sini. Ini hari kedua saya di Mentawai dan saya merasa seperti sudah lama tinggal di sini,” ujar Shanish Misra (42) asal India, satu dari sejumlah pengunjung mancanegara yang datang ke Mentawai, termasuk Pulau Siberut. Shanis dan Istrinya baru berganti pakaian karena basah saat menyaksikan dan mendokumentasikan istri-istri sikerei menangguk ikan di Sungai Buttui. Sikerei adalah ahli pengobatan tradisional dalam kehidupan masyarakat Mentawai, yang juga pemimpin ritual adat, mulai dari pembangunan rumah, pembuatan sampan, pembukaan ladang, kelahiran, hingga kematian.
Selain desa wisata adat, titik-titik selancar di Siberut pun mulai ramai oleh pengunjung. Itu tampak dari puluhan turis asing yang turun di Pelabuhan Maileppet, Siberut Selatan, membawa papan selancar masing-masing. Aktivitas pariwisata di ”Bumi Sikerei” itu kembali menggeliat. Pemerintah kembali membuka pintu penerbangan internasional sejak Februari 2022. Sekitar dua tahun sebelumnya, pariwisata mati suri akibat pandemi Covid-19. Kondisi tersebut disambut baik pelaku wisata, baik warga lokal maupun pemandu wisata. Aman Lepon (48), misalnya, semringah bisa melayani pengunjung yang menginap di rumahnya. ”Senang sekali, akhirnya wisatawan mulai dating kembali,” katanya. Setelah dua tahun, tak ada wisatawan berkunjung ke tempatnya. Pemandu wisata, Levi Sagary, juga mulai kembali menikmati geliat pariwisata sejak Februari lalu dan semakin meningkat pada Juli ini. Ia melayani wisatawan selancar ke pulau-pulau kecil ataupun wisatawan minat khusus ke desa-desa adat. (Yoga)
Kreator Konten Berperan Menggerakkan Pariwisata
Keindahan destinasi wisata di Indonesia memiliki daya magnet tersendiri, tetapi belum semuanya populer. Kolaborasi dengan kreator konten untuk memperkenalkannya dinilai bisa menumbuhkan minat wisatawan untuk berkunjung. Harapannya, cara itu bisa mendorong pemulihan industri pariwisata. Diskusi mengenai hal tersebut mengemuka dalam sesi ”The Future of Tourism Starts from Us” dalam rangkaian acara Kompasfest Presented by BNI, di Jakarta, Jumat (19/8). Dua pembicara dalam sesi ini hadir secara daring, yaitu Gaery Undarsa, Co-founder dan Chief Marketing Officer Tiket.com bersama pegiat backpacker Pandhu Waskitha.
Menurut Gaery, kreator konten berperan penting mengungkit jumlah kunjungan wisatawan di suatu tempat wisata. Konten digital dengan tema dan cara penyampaian yang menarik akan dilirik warganet. Tiket.com telah berkolaborasi dengan sejumlah creator konten untuk memperkenalkan sejumlah spot menarik. Dalam berkolaborasi, Gaery tidak mau asal-asalan. Dia mengurasi sendiri kreator konten yang layak untuk diajak berkolaborasi dengan mengunjungi akun media sosial mereka. Kreativitas dan keunikan masing-masing menjadi pertimbangan penting.
Sejak 2014, Pandhu Waskitha menggeluti dunia wisata menggunakan ransel (backpacker) ke sejumlah daerah pelosok di Indonesia dan mancanegara. Perjalanan tersebut didokumentasikan dalam bentuk foto dan video. Seiring waktu, dia membuat akun media sosial @bacpackertampan.”Identitas sebuah akun diperlukan supaya bikin penasaran. Misalnya backpacker tampan, mereka pasti penasaran, apa iya orang ini tampan?” selorohnya dalam forum itu. Dia memutuskan fokus menjadi kreator konten wisata pada 2019. Menurut dia, media social dan konten digital turut berperan dalam menggerakkan pariwisata, berdasarkan testimoni dari warga atau pengelola wisata. (Yoga)
Mengapungkan Harapan di Kampung Terapung Bajo Torosiaje
Torosiaje, bisa dicapai dengan menyewa mobil Rp 700.000, termasuk bensin dan sopir, mengikuti jalan Trans-Sulawesi ke arah Sulteng. Dari dermaga, pengunjung menyeberangi laut sejauh 700 meter naik perahu bertarif Rp 5.000 per orang menuju Torosiaje. Dari kejauhan, rumah kayu berdinding warna-warni, keramba, perahu nelayan, hingga bangunan sekolah berdiri di atas laut. Inilah perkampungan terapung suku Bajo Torosiaje. Permukiman di atas air itu menjadi magnet bagi wisatawan. Seperti malam Jumat, Jootje Repi (79) berat hati menolak permintaan pengunjung untuk menginap di rumahnya. Empat kamar di homestay Mutiara Laut miliknya penuh hingga tiga malam ke depan. Tarif homestay itu Rp 150.000 per kamar per hari dengan ruangan 3,5 x 3 meter berisi kasur, meja, kipas angin, dan cermin.
Jootje mendesain rumah terapung berukuran 11 x 20 meter itu sebagai homestay pada 2012. Kala kepala desa Torosiaje periode 2005-2011 itu diminta pejabat Kementerian Pariwisata menyediakan penginapan. ”Tidak perlu mewah, yang penting bersih,” ucapnya. Ketika wisata Torosiaje berkembang tahun 2018, pemda dan masyarakat menyiapkan 11 rumah sebagai homestay. Di situ pengunjung juga tinggal bersama pemilik rumah. Wisatawan bisa ke dapur jika lapar tengah malam. ”Ibu Gubernur (Idah Rusli Habibie) pernah makan di dapur,” ucap Jootje sambil menunjuk meja makan kayu. Namun, kini, tersisa dua rumah warga yang dijadikan penginapan.
Pelanggannya mayoritas ASN dalam dan luar Gorontalo. Bulan lalu, ada pula pengunjung asal China menginap di sana. Kehadiran homestay mengungkit usaha warga, dari warung makanhingga ojek perahu. ”Kalau libur Lebaran, saya bias dapat Rp 300.000 per hari. Biaya bensin Rp 20.000. Kalau tangkap ikan, modalnya Rp 100.000,” ucap Aman Latif (40), warga Torosiaje Jaya, desa tetangga Torosiaje. Pertama kali ke Torosiaje, Kustami(50), warga Sragen, Jateng, takjub pada perkampungan terapung itu. ”Saya penasaran, masak ada kampung di atas laut. Saya pikir Cuma sedikit, ternyata banyak rumah,” ucap wisatawan yang datang bersama sembilan anggota keluarganya itu.
Kepala Desa Torosiaje Uten Sairullah mengatakan, perkampungan terapung di desanya juga telah menarik wisatawan. Pihaknya juga mengembangkan Alo Cinta, jembatan kayu dengan panjang 300 meter yang bagian ujungnya berbentuk hati. Dermaga itu dicat warna-warni. Pengunjung dapat menikmati matahari terbenam di sana. Pihaknya juga tengah mengembangkan spot menyelam dan melihat hiu. Lokasinya di Pulau Karang, sekitar satu jam dengan kapal cepat dari Torosiaje. (Yoga)
KENAIKAN TIKET PESAWAT : JUMLAH TURIS KE BALI TAK SUSUT
Pelaku usaha pariwisata Bali masih optimistis pemulihan sektor pariwisata bakal membaik pada paruh kedua tahun ini menyusul pandemi Covid-19 serta penyakit mulut dan kuku yang kian terkendali. Kenaikan harga tiket pesawat diyakini tak berdampak signifikan bagi kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata.
Pemerintah Provinsi Bali masih tetap optimistis menyambut pemulihan sektor itu memasuki semester II/2022, meski dihadapkan dengan kenaikan harga tiket pesawat setelah pemerintah mengizinkan maskapai menaikkan harga tiket hingga 11%.Pemerintah Provinsi Bali menilai peningkatan kualitas destinasi dan akomodasi, hingga sumber daya manusia (SDM) pariwisata menjadi kunci Bali dalam meningkatkan kunjungan wisatawan di tengah naiknya harga pesawat. Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati menjelaskan industri pariwisata Bali fokus terhadap perbaikan kualitas pariwisata agar wisatawan mancanegara maupun domestik tetap tertarik datang ke Bali. “Naiknya harga tiket pesawat di luar kuasa kami selaku pemerintah daerah. Yang dapat kami lakukan bersama pelaku industri pariwisata adalah meningkatkan kualitas produk, sehingga ada kesesuaian antara harga secara keseluruhan dan tingkat kepuasan wisatawan,” jelasnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (10/8).
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) misalnya yang tetap melakukan promosi dengan menggandeng kedutaan Indonesia di berbagai negara, agen perjalanan, termasuk duta besar. Wakil Ketua PHRI Provinsi Bali I Gusti Agung Rai Suryawijaya menjelaskan naiknya harga tiket pesawat ke Bali tidak akan berdampak banyak terhadap tingkat kunjungan wisatawan. Hal ini, lanjutnya, terlihat hingga Agustus 2022 di mana kunjungan wisatawan masih konsisten berada di angka 12.000 orang hingga 15.000 orang per hari saat akhir pekan. Sementara itu, pada hari biasa masih konsisten 8.000–9.000 orang.
Kunjungan ke Taman Nasional Komodo Berangsur Normal
Kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo (TNK) di Labuan Bajo, NTT, berangsur-angsur normal setelah beberapa hari sebelumnya sepi. Saat ini, kunjungan masih didominasi oleh wisatawan asing. Pemandu wisata Labuan Bajo, Latif, Selasa (9/8) mengatakan, jumlah wisatawan asing cenderung meningkat menjelang kenaikan tarif masuk TNK dan aksi demonstrasi digelar di Labuan Bajo. ”Entah, mereka ingin melihat aksi penolakan itu atau semata-mata mau melihat situasi dan kondisi di Pulau Komodo dan Pulau Padar pasca pemerintah menaikkan tarif masuk,” ujarnya.
Sementara itu, sejak 1 Agustus 2022 hingga kemarin, sangat sedikit wisatawan lokal yang datang ke Labuan Bajo. Padahal, sebelum biaya konservasi dan kenaikan tarif diumumkan, jumlah wisatawan lokal jauh lebih banyak dibandingkan dengan wisatawan asing. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Manggarai Barat Silvester Wanggel mengatakan, saat ini musim libur bagi wisatawan dari Eropa. Selain itu, pasca pandemi Covid-19, wisatawan asing ingin berjalan-jalan, salah satunya ke Labuan Bajo. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Pelaku Kebocoran Data BPJS Diidentifikasi
16 Jun 2021 -
Gratis PPnBM Mobil Diperpanjang
14 Jun 2021 -
Wacana Pengenaan PPN Sembako Bikin Resah
14 Jun 2021 -
Model Baru Misi Dagang
14 Jun 2021 -
Waspada Varian Delta Mengancam Dunia
16 Jun 2021









