Pariwisata
( 747 )Pariwisata Terdampak
Kondisi ekonomi yang diperkirakan masih menantang pada tahun 2023 akan memengaruhi keputusan warga berwisata. Hal ini berpotensi membebani laju pemulihan industri pariwisata. Menparekraf/Kepala Baparekraf, Sandiaga S Uno, dalam Jumpa Pers Akhir Tahun, Senin (26/12) petang, di Jakarta, mengatakan, kondisi ekonomi yang menantang berdampak pada perilaku wisatawan. Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) melalui survei Panel Pakar Pariwisata UNWTO, yang dirilis September 2022, menyatakan, kondisi ekonomi yang menantang itu sudah termasuk inflasi yang terus-menerus tinggi dan melonjaknya harga energi yang diperparah serangan Rusia ke Ukraina. Ini dapat membebani laju pemulihan industri pariwisata triwulan IV-2022 hingga 2023. Selama empat bulan terakhir tahun 2022, tingkat kepercayaan terhadap pariwisata menurun yang mencerminkan kehati-hatian wisatawan. Survei UNWTO yang diolah Kemenparekraf/Baparekraf, perilaku konsumen yang terdampak kondisi ekonomi menantang terdiri atas enam bentuk.
Mereka akan mengurangi pengeluaran (60 %), memilih berwisata dekat rumah (57 %), mempertimbangkan nilai yang bisa diperoleh dari belanja (44 %), perjalanan jarak pendek (33 %), menunggu dan melihat situasi (33 %), dan tidak bepergian sama sekali (9 %). Padahal, pemerintah telah menargetkan pada tahun 2023, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) 3,5-7,4 juta orang. Perolehan devisa pariwisata ditargetkan mencapai 5,9 miliar USD pada 2023, naik dari tahun ini sebesar 4,26 miliar USD. Pergerakan wisatawan Nusantara (wisnus) ditargetkan naik dari 633-703 juta pergerakan pada tahun 2022 menjadi 1,2-1,4 miliar pergerakan. ”Pada tahun 2023, terdapat sejumlah hari libur nasional yang akan kami pakai untuk mengeluarkan promosi bersama pelaku industri. Berbagai penyelenggaraan event akan kami kemas dengan pendekatan pariwisata atau event based tourism,” tuturnya. Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf / Baparekraf Nia Niscaya mengatakan, karena resesi ekonomi global diperkirakan terjadi tahun 2023, jarak tempuh menuju destinasi akan jadi tantangan utama wisatawan. Pemerintah Indonesia akan menyasar wisman dari negara-negara yang perekonomiannya masih tumbuh relatif bagus. Misalnya, India, Australia, Singapura, Malaysia, dan China. (Yoga)
Realisasi Investasi Pariwisata Capai Rp 28 T
JAKARTA, ID – Realisasi investasi di sektor pariwisata telah mencapai US$ 1,8 miliar atau setara Rp 28,13 triliun hingga akhir September 2022, sekitar 75% dari target yang ditetapkan pemerintah. Investasi tersebut tersebar di berbagai destinasi wisata dan kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata di Indonesia. "Target investasi pariwisata 2022 sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) adalah US$ 2,42 miliar. Dan posisi September sudah US$ 1,8 miliar, jadi hampir mencapai target,” kata Sekretaris Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf Oni Yulfian dalam Jumpa Pers Akhir Tahun Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Senin (26/12/2022). Pemerintah terus memacu investasi di sektor pariwisata, terutama di lima destinasi super prioritas (DSP) dan delapan kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata. Kelima DSP tersebut adalah Danau Toba, Sumatera Utara; Borobudur, Jawa Tengah; Mandalika, Nusa Tenggara Barat; Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur; dan Likupang, Sulawesi Utara. (Yetede)
TREN LIBURAN AKHIR TAHUN : WISATA DOMESTIK JADI PILIHAN
Momen akhir tahun biasanya diisi dengan liburan bersama keluarga dan kerabat, baik dengan cara bertamasya atau sekadar menikmati suasana di dalam kota. Pada musim liburan kali ini, wisata domestik rupanya masih menjadi pilihan utama masyarakat dengan segala pertimbangannya. Menjelang libur Natal dan tahun baru (Nataru), banyak orang mulai merencanakan pergi ke berbagai destinasi wisata. Kondisi pandemi Covid-19 yang mulai terkendali ikut mendorong antusiasme masyarakat menikmati libur panjang akhir tahun ini. Minat masyarakat untuk melancong pada libur Nataru ini terlihat dalam hasil survei Vakansi Akhir Tahun 2022 yang dibuat oleh DataIndonesia.id. Mayoritas masyarakat Indonesia terlihat sudah merencanakan liburan akhir tahun mereka. Survei Vakansi Akhir Tahun 2022 dilakukan secara daring pada 27 Oktober-23 November 2022. Berdasarkan hasil survei, sebanyak 48,99% masyarakat Indonesia menyatakan akan pergi ke luar kota untuk mengisi libur akhir tahun mereka. Persentase itu lebih tinggi dibandingkan dengan 17,17% masyarakat lain yang lebih ingin bepergian di dalam kota. Head of DataIndonesia.id Team Setyardi Widodo mengatakan, pada momen libur Nataru ini, berwisata di dalam negeri tampaknya masih jadi favorit banyak orang. Sebab, hanya ada 7,58% orang yang berencana liburan ke luar negeri. Sebanyak 9,6% lainnya masih ragu dan 16,57% mengaku tidak memiliki rencana liburan.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budijanto Ardiansjah mengatakan libur Nataru merupakan periode yang luar biasa bagi dunia pariwisata. Minat liburan masyarakat yang tinggi memang sudah terprediksi sejak jauh-jauh hari. Mayoritas atau sebanyak 15,7% memilih Bandung sebagai destinasi wisata favorit mereka. Lalu, sebanyak 14,05% responden memilih berlibur akhir tahun ke Yogyakarta. Kota Gudeg ini menempati dua besar daerah favorit tujuan wisata di Indonesia pada libur Nataru 2022. Posisi ketiga, ada Kota Malang yang dipilih 9,92% responden. Kemudian, disusul oleh Bogor 8,26%, Surabaya 4,96%, Bali 4,96%, Jakarta 3,31%, dan Garut 3,31%.
Nataru & Momentum Pembuktian
Suasana perayaan Hari Raya Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 (Nataru) makin terasa dan diperkirakan berlangsung lebih semarak dibandingkan dengan 2 tahun sebelumnya saat pandemi Covid-19 melanda. Indikasi bertambahnya intensitas aktivitas masyarakat saat liburan ini tampak dari arus mudik yang diyakini mencapai puncaknya pada hari Jumat, 23 Desember 2022. PT Jasa Marga (Persero) Tbk. sebelumnya menghitung sebanyak 2,73 juta kendaraan akan keluar dari wilayah Jabotabek atau meningkat 8,4% bila dibandingkan dengan volume lalu lintas periode normal. Beberapa objek wisata juga dilaporkan telah diserbu wisatawan yang diketahui dari angka pemesanan tiket secara daring. Sebagaimana rutinitas pada tahun-tahun normal, kegiatan liburan Nataru ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk sejumlah kegiatan seperti mudik, saling berkunjung dan berwisata bersama keluarga. Sektor usaha yang terdorong dari aktivitas ini meliputi makanan-minuman, hotel, restoran, ritel, transportasi, dan tempat wisata. Para pebisnis tentunya berharap dapat mendulang keuntungan berlimpah dari libur Nataru. Dengan demikian, hasil dari kegiatan penanganan Covid-19 selama Nataru ini akan menjadi pertaruhan sekaligus pembuktian dalam menilai perkembangan status pandemi. Jika tidak ada lonjakan kasus Covid-19 saat momen Nataru, virus yang sudah menyebar ke berbagai benua dan negara itu bisa dinyatakan bukan lagi menjadi momok yang perlu ditakuti. Untuk itu, sikap konsistensi masyarakat sangat diperlukan dalam menaati protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dengan mengenakan masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak. Tidak ketinggalan dukungan terhadap program vaksinasi Covid-19 yang tengah digencarkan agar tercipta kekebalan komunal. Patut diingat bahwa kesuksesan penanganan Covid-19 tidak bisa berdiri sendiri tetapi harus diusahakan secara serius bersama-sama.
Rp 15 Triliun untuk Destinasi Superprioritas
Pemerintah menganggarkan Rp 15 triliun tahun 2023 dan 2024 untuk pengembangan lima destinasi superprioritas nasional, yakni Danau Toba, Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika, dan Likupang. ”Kami telah menyusun beberapa program pengembangan destinasi meliputi atraksi, akses, dan amenitas,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, Kamis (22/12). (Yoga)
Wisnus Topang Pariwisata Indonesia
Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kemenparekraf Norman Sasono, Selasa (13/12) mengatakan, pihaknya fokus terhadap wisatawan Nusantara (wisnus) yang dinilai berpotensi mengembangkan pariwisata di Indonesia. Menurut dia, meskipun terjadi pandemi Covid-19, pada 2020 pergerakan wisnus mencapai 500 juta pergerakan. Sementara pada 2021 meningkat menjadi 603 juta pergerakan. ”Tentunya di tahun 2022-2023 pasti akan menambah pergerakan wisatawan domestik ini,” katanya. (Yoga)
Pariwisata NTB Terus Menggeliat
Setelah dua tahun lesu akibat pandemi Covid-19, sektor pariwisata di NTB terus menunjukkan geliat positif tahun ini. Kondisi itu terlihat dari kenaikan jumlah penumpang transportasi udara di Bandara Internasional Lombok, NTB. Stakeholder Relation Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Lombok Arif Haryanto, Rabu (7/12) mengatakan, pada tahun 2022 bandara itu melayani 1,79 juta penumpang. Selain itu, ada 19.000 pergerakan pesawat dan 9.728 ton pergerakan kargo pada Januari-November 2022. Menurut Arif, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jumlah penumpang di bandara itu naik 89,4 %, jumlah pergerakan pesawat naik 65,2 % dan jumlah kargo naik 29,6 %.
Kenaikan jumlah penumpang, pergerakan pesawat, dan kargo terjadi karena kelonggaran syarat penerbangan serta pembukaan rute domestik dan mancanegara ke Lombok. ”Kondisi pandemi serta regulasi pemerintah terkait persyaratan penerbangan berpengaruh cukup besar terhadap mobilitas masyarakat,” kata Arif. Faktor lain yang berpengaruh adalah penyelenggaraan ajang sport tourism atau wisata olahraga di NTB tahun ini. Contohnya, ajang latihan bebas MotoGP pada Februari serta lomba MotoGP pada Maret di Sirkuit Internasional Jalan Raya Pertamina Mandalika. Ada juga Kejuaraan Dunia Motokros atau MXGP Samota 2022 di Samota, Sumbawa, pada Juni 2022, serta ajang Ironman 70.3 Lombok pada Oktober 2022. Terakhir, pada November lalu digelar Kejuaraan Dunia Superbike atau WSBK di Mandalika. (Yoga)
Harta Karun Kapal untuk Wisata Bahari
Harta karun berupa benda muatan asal kapal tenggelam terus didorong untuk memperkuat destinasi wisata bahari. Dari 700 lokasi yang diperkirakan menjadi situs benda muatan kapal tenggelam, baru 20 % yang telah teridentifikasi. Tanpa penanganan yang tepat, benda bernilai sejarah tinggi itu berpotensi dicuri. Direktur Jasa Kelautan, Dirjen Pengelolaan Ruang Laut, KKP Miftahul Huda mengemukakan, benda berharga asal muatan kapal tenggelam (BMKT) merupakan sumber daya kelautan unik yang memiliki nilai sejarah tinggi dan jejak peradaban kemaritiman. Kapal karam yang membawa harta karun itu disinyalir tersebar di sekitar 700 lokasi di perairan Indonesia, tetapi baru 20 % yang teridentifikasi, 2 % dieksplorasi, dan 5 persen dimanfaatkan untuk wisata bawah air. Dari catatan Kompas, kapal-kapal tenggelam ini antara lain terdapat di perairan Kepulauan Riau, Selat Karimata, Bangka Belitung, dan Laut Jawa. Sebagian kapal tenggelam itu membawa komoditas dan barang dari China, Asia Barat, dan Eropa. Pemerintah mengklaim, dari aspek ekonomi, setiap lokasi harta karun kapal karam dapat bernilai 80.000- 18 juta USD. Jika dimanfaatkan untuk pariwisata, setiap lokasi BMKT berpotensi menghasilkan devisa 800-126.000 USD per bulan. Pemerintah berupaya meningkatkan pengelolaan wisata bahari lewat keberadaan BMKT, yakni pada lokasi benda berharga di situs kapal itu ditemukan (in situ), atau benda-benda setelah diangkat dan dikelola di luar BMKT (ex situ). Di sisi lain, lokasi selam berbasis kapal tenggelam diharapkan semakin berkembang. ”Pengelolaan BMKT secara in situ dapat dilakukan melalui penetapan kawasan konservasi maritim, atau atraksi wisata bahari berbasis kapal tenggelam, atau museum bawah air. Pengelolaan ex situ dilaksanakan dengan mengangkat BMKT untuk keperluan pameran,” kata Huda, dalam keterangan tertulis akhir pekan ini. (Yoga)
Potensi Kelautan Tidore Dikembangkan
Pemerintah terus berupaya mengembangkan potensi kelautan di Tidore, Maluku Utara. Kekayaan laut di Tidore dinilai potensial dikembangkan untuk pariwisata. ”Kita akan lihat nanti potensi Tidore ini sebagai jalur strategis sailing (pelayaran) yang kita manfaatkan untuk menarik kapal-kapal yacht (kapal pesiar),” kata Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam acara puncak Sail Tidore 2022, Sabtu (26/11) di PantaiTugulufa, Kota Tidore Kepulauan. (Yoga)
KTT G20 Perkokoh Bali sebagai Destinasi Dunia
Rangkaian kegiatan KTT G20, yang puncaknya pada 15-16 November lalu di Bali, menjadi sarana promosi luar biasa yang memperkokoh posisi Bali sebagai destinasi wisata dunia. ”Pariwisata Bali menjadi semakin naik kelas, semakin dipercaya, dan semakin mendunia,” kata Gubernur Bali Wayan Koster dalam jumpa pers di Denpasar, Jumat (18/11) sore. (Yoga)
Pilihan Editor
-
KKP Dorong Pengusaha Ekspor Perikanan ke Timteng
02 Aug 2021 -
Indef: APBN Memiliki Masalah Berat
02 Aug 2021 -
Transaksi E-Commerce Diprediksi Rp 395 Triliun
30 Jul 2021









