PARIWISATA, Taruhan Nyawa demi Komodo
Jumat (24/6) pagi, kapal motor bertolak dari pesisir Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, ke arah barat daya. Majid (27), pemandu, menjelaskan, kapal akan menyinggahi tiga lokasi wisata, yakni Pulau Padar, Pantai Pink, dan Pulau Komodo. 30 menit berlayar, embusan angin kian kencang. Faldi asal Manggarai, NTT, dan istrinya dari Semarang, Jateng, mengaku tak bisa berenang. Pasangan yang baru menikah itu sedang berbulan madu. Wisatawan lain juga tidak bisa menyembunyikan rasa takut. Ada yang sampai berteriak keras saat haluan menukik di depan mulut gelombang yang seakan hendak menelannya. ”Amankah?” tanya mereka kepada nakhoda. Jimy, nakhoda yang baru berusia 19 tahun, hanya mengacungkan jempol sambil tersenyum. Jimy belum lama ini menjadi nakhoda setelah mengikuti kursus pelaut satu bulan. ”Naik kapal cepat bayar Rp 2 juta. Kami ini modal kurang jadi pake kapal kayu saja,” ujar Cika, wisatawan, sambil menunjuk perahu cepat yang dalam sekejap sudah berada jauh di depan.
Dua setengah jam kemudian, kapal motor tiba di Pulau Padar. Wisatawan turun, lalu mendaki ke puncak untuk menikmati pemandangan sambil berpose lebih kurang satu jam. Padar menjadi tempat favorit karena lanskapnya yang memesona. Pukul 11.00, kapal motor meninggalkan Padar, menuju Pantai Pink. Kapal melalui selat sempit dengan gelombang yang datang dari berbagai arah. Laju kapal dikurangi agar tak terlalu membentur gelombang. ”Adu Tuhan.., ya Allah.., tolong kami,” jeritan itu bersahutan keluar dari mulut mereka. Di sini, kapal wisata sering tenggelam dan banyak orang hilang, kata Jimy setelah merapatkan kapal ke pesisir Pantai Pink yang pasirnya berwarna pink (merah muda). Satu setengah jam kemudian, Jimy menghidupkan mesin kapal dan meminta wisatawan segera naik karena sebentar lagi angin semakin kencang.
Perjalanan terakhir ini menuju Pulau Komodo yang akan ditempuh dalam waktu dua setengah jam. Tiba di Pulau Komodo, mereka menyaksikan reptil purba itu. Melihatnya berjalan, mengangkat kepala, membuka mulut, dan menjulurkan lidah. Melihat komodo di alam liar menjadi puncak dari perjalanan panjang dan berisiko di perairan Pulau Komodo dan sekitarnya. Dua jam kemudian, kapal bertolak kembali ke Labuan Bajo. Angin bertambah kencang dan gelombang datang dari arah berlawanan. Kapal berguncang sangat keras, oleng, dan miring saat menerjang gelombang. Ada wisatawan yang menangis. ”Saya ingat anak saya masih kecil. Untuk melihat komodo, kami pertaruhkan nyawa,” ujar Ragil, wisatawan dari Kupang. Diterjang gelombang lebih dari tiga jam, kapal akhirnya tiba di Labuan Bajo pukul 19.00 waktu setempat. Total perjalanan hari itu 13 jam.
Empat hari kemudian, datang kabar kapal wisata tenggelam di perairan yang kami lewati. Seorang ibu dan anaknya meninggal. Kejadian itu menambah panjang daftar kecelakaan kapal wisata di Labuan Bajo. Selain cuaca, kondisi kapal dan kecakapan pengemudi sangat menentukan. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT Zeth Sony Libing mengatakan, keberadaan kapal wisata di Labuan Bajo akan dievaluasi. Pihaknya bakal melihat kondisi kapal, pengemudi, dan perlengkapan yang tersedia di dalamnya. Wisatawan yang datang ke destinasi superprioritas itu harus bisa pulang dengan selamat dan memberikan cerita indah di tempat asalnya. Bukan malah sebaliknya, membawa duka. (Yoga)
Tags :
#PariwisataPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023