Pemerintah dan Pelaku Perlu Duduk Bersama Secara Intensif
Laba 14 Emiten Multifinance Menurun
Presiden Donald Trump Memulai Lawatannya ke Negara-Negara di Kawasan Teluk
Ditengah Gempuran Smartphone Canggih, Ponsel Jadul Tetap Memiliki Tren Bertahan
Tantangan Menuju Pertumbuhan Ekonomi 8%
Ekspor Sawit Masih Diandalkan
Pasar Euforia, Risiko Mengintai
Gencatan senjata sementara dalam perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China telah memicu euforia di pasar saham global. Namun, seperti diingatkan oleh Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, optimisme ini masih bersifat jangka pendek dan tidak didukung oleh fondasi kebijakan yang solid, terutama karena arah kebijakan Presiden AS Donald Trump masih sulit diprediksi. Penurunan tarif dari kedua negara memang memberi angin segar, tetapi belum menjamin kesepakatan permanen dalam 90 hari ke depan.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research Pilarmas Investindo Sekuritas, menekankan bahwa investor perlu tetap berhati-hati dan tidak gegabah merotasi portofolio, meskipun sentimen jangka pendek bisa dimanfaatkan untuk keuntungan terbatas. Aset konservatif seperti obligasi bisa dikurangi porsinya, namun tetap perlu dijaga dalam strategi jangka menengah-panjang.
Martin Aditya, Investment Analyst Capital Asset Management, menilai belum ada alasan kuat untuk melakukan rotasi besar-besaran dari safe haven seperti emas, meski sentimen deeskalasi perang dagang bisa mendorong arus masuk asing ke saham domestik, terutama sektor perbankan, logistik, dan komoditas.
Sementara itu, Freddy Tedja, Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia, menekankan pentingnya kebijakan domestik yang pro-pertumbuhan agar efek positif global bisa berdampak nyata bagi perekonomian nasional.
Di sisi lain, Bhima Yudhistira, Direktur Celios, mengkritisi lambatnya negosiasi tarif Indonesia–AS yang kurang transparan akibat perjanjian NDA. Ini berpotensi melemahkan posisi tawar Indonesia dan membuat RI tertinggal dari China yang sudah lebih dulu menyepakati penurunan tarif.
Secara keseluruhan, gencatan tarif memberikan dorongan jangka pendek bagi pasar, namun para tokoh ekonomi menegaskan pentingnya kewaspadaan, konsistensi kebijakan global, dan penguatan ekonomi domestik agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika dagang dunia.
Perang Dagang Mereda, RI Perlu Sikap Strategis
Gencatan senjata sementara dalam perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China telah memicu euforia di pasar saham global. Namun, seperti diingatkan oleh Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, optimisme ini masih bersifat jangka pendek dan tidak didukung oleh fondasi kebijakan yang solid, terutama karena arah kebijakan Presiden AS Donald Trump masih sulit diprediksi. Penurunan tarif dari kedua negara memang memberi angin segar, tetapi belum menjamin kesepakatan permanen dalam 90 hari ke depan.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research Pilarmas Investindo Sekuritas, menekankan bahwa investor perlu tetap berhati-hati dan tidak gegabah merotasi portofolio, meskipun sentimen jangka pendek bisa dimanfaatkan untuk keuntungan terbatas. Aset konservatif seperti obligasi bisa dikurangi porsinya, namun tetap perlu dijaga dalam strategi jangka menengah-panjang.
Martin Aditya, Investment Analyst Capital Asset Management, menilai belum ada alasan kuat untuk melakukan rotasi besar-besaran dari safe haven seperti emas, meski sentimen deeskalasi perang dagang bisa mendorong arus masuk asing ke saham domestik, terutama sektor perbankan, logistik, dan komoditas.
Sementara itu, Freddy Tedja, Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia, menekankan pentingnya kebijakan domestik yang pro-pertumbuhan agar efek positif global bisa berdampak nyata bagi perekonomian nasional.
Di sisi lain, Bhima Yudhistira, Direktur Celios, mengkritisi lambatnya negosiasi tarif Indonesia–AS yang kurang transparan akibat perjanjian NDA. Ini berpotensi melemahkan posisi tawar Indonesia dan membuat RI tertinggal dari China yang sudah lebih dulu menyepakati penurunan tarif.
Secara keseluruhan, gencatan tarif memberikan dorongan jangka pendek bagi pasar, namun para tokoh ekonomi menegaskan pentingnya kewaspadaan, konsistensi kebijakan global, dan penguatan ekonomi domestik agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika dagang dunia.
Harga Gambir Anjlok, Petani Terpukul
Harga gambir di Sumatra Barat terjun bebas akibat konflik India–Pakistan yang melemahkan permintaan ekspor—tujuan utama hasil panen petani. Heri, seorang petani di Agam, mencatat harga kadar-air 15 % hanya Rp 20.000/kg (dibayar ke petani Rp 17.000–19.000/kg), jauh di bawah titik impas Rp 35.000/kg. Riko di Pesisir Selatan bahkan menyebut rekor terburuk Rp 13.000/kg, sehingga banyak petani memilih menunda panen.
Sekretaris Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Sumbar, Ferdinal Asmin, menegaskan ketergantungan pasar pada India dan Pakistan sebagai akar persoalan. Pemprov bersama dinas terkait sedang:
-
Membuka pasar alternatif di luar dua negara tersebut.
-
Mendorong peningkatan kualitas—panen dijaga tiap ±4 bulan agar kadar air dan katekin stabil.
-
Merumuskan peraturan gubernur tata niaga dan hilirisasi gambir untuk menahan gejolak harga di tingkat petani.
Pengerahan TNI Tak Ganggu Proses Hukum Kejaksaan
Kejaksaan Agung (Kejagung) menegaskan bahwa pengerahan bantuan personel TNI untuk pengamanan kantor kejaksaan tidak memengaruhi independensi maupun proses penegakan hukum. Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung RI, Harli Siregar, menjelaskan bahwa kerja sama ini justru menguntungkan Kejaksaan dari sisi keamanan dan telah berlangsung lama sejak dibentuknya Jaksa Agung Muda bidang Militer (Jampidmil). Ia juga menekankan bahwa perjanjian kerja sama (MoU) antara Kejaksaan dan TNI mengatur pertukaran informasi secara terbatas dan selektif. Meski demikian, sejumlah pihak dari koalisi masyarakat sipil untuk reformasi sektor keamanan menyuarakan kekhawatiran bahwa keberadaan TNI dalam pengamanan institusi kejaksaan berpotensi mengganggu independensi penegakan hukum.









