Bisnis Baru Trump di Timur Tengah
Lawatan Presiden AS, Donald Trump selama empat hari sejak Selasa (13/5) ke tiga negara Arab Teluk: Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab mengejar transaksi bisnis. Keputusan Trump, seperti pada periode pertama kepresidenannya tahun 2017, memilih Arab Saudi sebagai tujuan lawatan awal periode keduanya menggarisbawahi kemitraan erat AS-Arab Saudi, namun relasi mereka lebih bersifat transaksional. Riyadh memastikan aliran minyak ke AS dengan imbalan perlindungan keamanan Washington. Dalam lawatannya ke Arab Saudi pada hari pertama, Trump meraup komitmen Riyadh untuk berinvestasi di AS dengan nilai 600 miliar USD plus membeli persenjataan senilai 142 miliar USD. Kesepakatan juga dijalin di bidang energi, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi.
Perusahaan Arab Saudi, Data Volt, akan menggelontorkan 20 miliar USD dalam proyek-proyek AI di AS. Produsen cip AS, Nvidia, akan mengirimkan 18.000 cip ke Arab Saudi guna membantu proyek pusat data baru kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan Arab Saudi (Kompas.id, 14/5). Selama di Riyadh, hari kedua sebelum bertolak ke Qatar, Trump bertemu Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, yang sebelumnya jadi buron AS. Trump juga mengumumkan rencana pencabutan sanksi AS terhadap Suriah, imbalannya bisa berupa akses pada ladang-ladang minyak Suriah, proyek tower Trump di Damaskus, dan adanya jaminan Suriah terkait keamanan Israel (The Guardian, 14/5). (Yoga)
Jangan Sampai Terlena
Cadangan beras pemerintah di Perum Bulog tembus 3,7 juta ton, tertinggi dalam 58 tahun terakhir dan melampaui stok beras di kala Indonesia mencapai swasembada beras pada 1984. Namun, kondisi ini harus membuat semua pihak tak terlena. Melimpahnya stok beras Indonesia membuat sejumlah negara pengekspor beras, seperti Thailand, Vietnam, dan Myanmar, gerah sehinga mulai mendiversifikasi negara tujuan ekspor beras. Kementan mencatat, per 13 Mei 2025, stok beras pemerintah di Bulog mencapai 3,7 juta ton, dimana 2,02 juta ton beras merupakan hasil serapan gabah/beras dari dalam negeri dan sisanya berupa beras impor tahun 2024 (Kompas, 14/5/2025). Stok yang tinggi karena penyerapan beras di lapangan berhasil juga menambah keyakinan kita bahwa bila ada insentif yang memadai, petani bersedia menjual beras ke Perum Bulog.
Meski demikian, kita tidak boleh terlena dengan stok yang tinggi ini karena ada sebagian stok yang merupakan beras impor, yaitu 1,68 juta ton. Angka ini cukup tinggi karena Indonesia pernah mengimpor jauh dari angka itu dan pernah swasembada alias tidak mengimpor. Komponen beras impor dalam stok memberikan gambaran, masih ada ketergantungan kita pada produsen beras dari luar negeri. Oleh karena itu, stok yang melimpah tidak bisa dilabeli sebagai kesuksesan kinerja sektor pertanian. Pemerintah dan masyarakat perlu memiliki focus yang sama bahwa pertanian dan pangan adalah masalah penting atau berkaitan dengan ketahanan nasional. Dari sini kemudian dijabarkan dalam program yang jelas dan mendukung produksi pangan. Kita ingin produksi pangan lebih lestari dan petani juga sejahtera. (Yoga)
Kemungkinan Besar Perlambatan Ekonomi Akan Berlanjut Sepanjang Tahun 2025
Permata Bank melalui kajian Permata Institute for Economic Research (PIER) memprediksi, kemungkinan besar, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 melambat menjadi 4,5-5 %. Ketidakpastian iklim perdagangan global mendorong perusahaan untuk menunda investasi dan rencana ekspansi. Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mengatakan, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) diperkirakan melambat dari 5,03 % pada 2024 menjadi 4,5 % hingga 5 % pada 2025, lebih rendah dari proyeksi awal tahun ini yang sebesar 5,11 %.
”PIER memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 akan melambat, lebih rendah dari target sebelumnya. Ketidakpastian perang dagang yang meningkat mendorong perusahaan untuk menunda investasi dan rencana ekspansi,” kata Josua, Rabu (14/5). Oleh karena itu, pemerintah harus merespons dengan kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dan stimulus yang tepat sasaran agar konsumsi dan investasi domestik kembali bergerak. Perlambatan ekonomi Indonesia sudah terlihat sejak awal tahun 2025. BPS mencatat, pertumbuhan PDB Indonesia pada triwulan I-2025 sebesar 4,87 % secara tahunan, lebih rendah dibanding 5,02 % pada triwulan sebelumnya dan menjadi laju paling lambat sejak triwulan III-2021. (Yoga)
Untuk Kejar Produksi 100 Juta Ton, Industri Sawit Wajib Adopsi AI
Transformasi digital, termasuk adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), menjadi salah satu syarat untuk mengejar target produksi 100 juta ton minyak sawit mentah Indonesia pada 2045. Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma di Kementan, Ardi Praptono mengatakan, industri sawit nasional menghadapi berbagai kendala, mulai dari iklim tidak menentu, persoalan benih unggul, hingga implementasi teknologi yang masih rendah. ”Kondisi itu perlu (diatasi dengan) transformasi digital. Ini bukan lagi menjadi pilihan, melainkan wajib kita lakukan,” ujar Ardi saat membuka Palmex Indonesia 2025 di Jakarta International Expo, Jakarta, Rabu (14/5).
Palmex ialah pameran teknologi kelapa sawit berskala internasional yang diikuti 300 perusahaan penyedia teknologi di industri sawit. Selain pameran teknologi mutakhir, kegiatan yang berlangsung hingga Kamis (15/5) ini juga menghadirkan sejumlah sesi diskusi tentang teknologi dan keberlanjutan industri sawit. ”Dengan pemanfaatan teknologi digital, baik itu IoT (internet untuk segala hal), big data (mahadata), AI, maupun blockchain (rantai blok data), ini memberikan solusi konkret untuk meningkatkan produktivitas yang akan dicapai 2045 sebesar 100 juta ton CPO,” ungkapnya.
Pada 2024, produksi CPO dan minyak inti sawit (PKO) nasional sebesar 52,76 juta ton, turun dibanding produksi 2023 sebesar 54,84 juta ton. Transformasi digital, termasuk penggunaan AI, dapat meningkatkan produksi sawit di Indonesia. AdopsiAI dan IoT itu dalam tahap budidaya di kebun, operasional di pabrik, hingga pengambilan keputusan bisnis. Dengan kamera yang terintegrasi AI, misalnya, petani dapat mendeteksi kematangan sawit dan potensi produksinya. Pemupukan juga bisa menggunakan drone. Ardi memastikan penggunaan teknologi itu dapat membuat biaya operasional lebih efisien sekaligus meningkatkan produksi. (Yoga)
Danantara Sebagai Penyedia Likuiditas
Badan Pengelola Investasi atau BPI Danantara menjajaki peluang kerja sama lintas negara, termasuk potensi sebagai penyedia likuiditas di sektor swasta. Langkah ini sejalan dengan upaya memperkuat peran Indonesia dalam pembentukan modal jangka panjang, baik di pasar domestik maupun global. Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan, Danantara tengah menjajaki peluang untuk menjadi penyedia likuiditas, bukan hanya di pasar modal, melainkan juga bagi pasar privat di Indonesia. Opsi ini dipertimbangkan seiring potensi alokasi dana dari hasil dividen sejumlah BUMN. Ia memandang saat ini terdapat minat yang sangat besar dari pasar privat, terutama dalam pembentukan modal. Di AS, antusiasme para pengelola dana dan investor terhadap sektor energi terbarukan lebih tinggi ketimbang antusiasme para pelaku sektor tersebut.
Kini, banyak dana yang berbentuk terbuka (open-ended), yang dianggap hampir setara dengan IPO pasar modal karena dapat langsung dijual. ”Mereka juga tertarik terhadap potensi imbal hasil dividen jangka panjang sehingga menjadikan struktur dana ini semakin menarik,” ujarnya dalam diskusi bertajuk ”Indonesia Economic & Strategic Update 2025: Navigating Uncertainties in a Borderless Era” di Jakarta, Rabu (14/5). Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyampaikan, saat ini telah terdapat berbagai proyek energi baru dan terbarukan yang siap ditawarkan oleh Indonesia dan membutuhkan kerja sama pendanaan dari pemerintah dan swasta. ”Secara sederhana, Danantara bisa dikatakan berfungsi sebagai semacam ’asuransi’, yakni memberikan jaminan agar sebuah proyek dapat berjalan dan mendorong peran serta pemerintah dalam proyek tersebut,” ujarnya. (Yoga)
Penurunan Daya Beli Pukul Multifinance
Penurunan Bunga Tekan Ekspansi
Pertumbuhan kinerja perusahaan pembiayaan (mulfiinance)
tahun ini berisiko lebih rendah dari target yang ditetapkan OJK. Hal ini
sebagai dampak atas tantangan eksternal, salah satunya penurunan penjualan kendaraan
bermotor karena melemahnya daya beli masyarakat. Ternyata sebanyak 14 emiten
perusahaaan pembiayaan pada kuartal
1-2025 membukukan laba bersih Rp942,62% dibandingkan dengan laba bersih pada
kuartal 1-2024 yang senilai Rp1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan
laba bersih adalah PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana,
pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52
miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan Maret 2024 yang sebesar Rp432,11
miliar. Selain itu, ada Clipan Finance Indonesia (CFIN) yang meraup laba bersih
Rp35,04 miliar, anjlok 59,3% (yoy) pada akhir Maret 2025. Dari laporan
keuangannya, pendapatan susut dan beban melonjak, salah satunya karena alokasi
pencadangan yang naik menjadi Rp 158,71 miliar dari sebelumnya Rp 122,38
miliar. (Yetede)
Permintaan Mulai Normal Penjualan Eceran Kontraksi 6,9%
BI memperkirakan penjualan eceran pada April 2025 terkontraksi 6,9% dari posisi Maret yang tumbuh 13,6%, karena permintaan secara bertahap mulai normal setelah meningkat pada bulan Ramadan dan Idulfitri. Adapun survey BI juga memperkirakan penjualan pada Juni dan September 2025 dalam tren menurun. “Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2025 diperkirakan terkontraksi sebesar 6,9%, dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri,” jelas Kepala Departeman BI Ramdan Denny Parkoso. Mayoritas kelompok barang tercatat turun dan berada dari pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnnya (-10,6%, secara month to month/mtm), makanan, minuman, dan tembakau (-7,2%, mtm).
Responden menginformasikan penurunan penjualan eceran dipengaruhi oleh
normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan
Idulfitri. Sementara itu, kelompok bahan
bakar kendaraan bermotor menjadi satu-satunya kelompok yang tercatat mengalami perbaikan meski masih dalam fase kontraksi sebesar 0,8%
(mtm) didukung oleh kelancaran distribusi. BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil
(IPR) April 2025 mencapai 231,1 karena didiukung oleh tumbuhnya kelompok suku
cadang dan aksesoris, bahan bakar, dan subkelompok sandang. Kondisi IPR pada
April 2025 disokong oleh tumbuhnya kelompok suku cadang dan aksesori, bahan
bakar kendaraan bermotor, dan subkelompok sandang. Sedangkan penjualan kelompok
lainnya diperkirakan menurun, tertama kelompok
peralatan informasuk dan komunikasi, perlengkapan rumah tangga lainnya, makanan, minuman, dan tembakau. (Yetede)
Danantara Akan Benahi Sengkarut Timah
Mining Industry Indonesia (MIND ID), holding BUMN Industri Pertambangan, bakal membawa sengkarut masalah tata kelola komoditas timah PT Timah Tbk (TINS) ke Danantara. Hal itu dilakukan agar lembaga superholding BUMN ini ikut terjun pada tataran taktis dan strategis, untuk membenahi tata kelola sekaligus menyehatkan kembali PT Timah. Saat ini, PT Timah menghadapi sejumlah masalah besar yang dikelompokkan dalam empat klaster utama. Pertama, menyangkut permasalahan operasional seperti penambangan illegal (illegal mining) dan perdagangan illegal (illegal trading/commerce). Kedua, persolaan tata kelola hulu seperti rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang menjadi domain Kementerian ESDM dan analis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan wewenang dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Klaster ketiga, PT Timah juga menghadapi persoalan pada aspek kerja tata
kelola niaga seperti persetujuan ekspor dan penjualan fisik melalui bursa yang
output-nya mencakup ekspor timah batangan (ingot) dan kebutuhan domestik.
Dimana, Kementerian Perdagangan memegang
wewenang pada tata kelolal niaga ini. Klaster terakhir dalam hal tata
kelola timah, emiten berkode saham TINS tersebut menghadapi tantangan dari sisi
tata kelola industri seperti hilirisasi yang merupakan domain Kementerian
Perindustrian. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoedin menyatakan, dalam upaya
menyempurnakan tata kelola timah yang lebih baik perlu koordinasi antar
kementerian dan lembaga untuk mencapai tujuan
hilirisasi komoditas timah di Indonesia.(Yetede)
Google Cloud Akan Memperluas Kapasitas Pusat Data di Indonesia
Google, melalui divisi cloud-nya, yaitu Google Cloud bakal memperluas kapasitas pusat data artificial intelegence (AI), yang terletak di Jakarta Cloud Region. Perluasan kapasitas tersebut untuk mendukung lonjakan kebutuhan cloud san AI. langkah ini juga diproyeksikan berkontribuasi sebesar Rpo 1,400 triliun terhadap perekonomian Indonesia dalam lima tahun ke depan. "Jakarta Cloud Region dari Google Cloud mendukung banyak layanan penting bagi organisasi di Indonesia, mulai dari riset dan pengembangan vaksin Bio Farma, pengalaman belajar dan mengajar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, hingga perbankan digital e-commerce, layanan pengiriman makanan, kerja jarak jauh, dan lainnya," kata Country Director, Google Cloud Indonesia Fanly Tanto. Menurut Fanly, pada 2020, Google Cloud menjadi hyperscaler global pertama yang meluncurkan cloud region di Indonesia. Terkait dengan dampak inovasi dan produktivitas yang lebih luas, selama lima tahun terakhir, Jakarta Cloud Region telah memberikan kontribusi nilai ekonomi dan mendukung rata-rata hampir 92.00 lapangan kerja per tahun. (Yetede)









