;

Perang Dagang Mereda, RI Perlu Sikap Strategis

Hairul Rizal 14 May 2025 Bisnis Indonesia

Gencatan senjata sementara dalam perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China telah memicu euforia di pasar saham global. Namun, seperti diingatkan oleh Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, optimisme ini masih bersifat jangka pendek dan tidak didukung oleh fondasi kebijakan yang solid, terutama karena arah kebijakan Presiden AS Donald Trump masih sulit diprediksi. Penurunan tarif dari kedua negara memang memberi angin segar, tetapi belum menjamin kesepakatan permanen dalam 90 hari ke depan.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research Pilarmas Investindo Sekuritas, menekankan bahwa investor perlu tetap berhati-hati dan tidak gegabah merotasi portofolio, meskipun sentimen jangka pendek bisa dimanfaatkan untuk keuntungan terbatas. Aset konservatif seperti obligasi bisa dikurangi porsinya, namun tetap perlu dijaga dalam strategi jangka menengah-panjang.

Martin Aditya, Investment Analyst Capital Asset Management, menilai belum ada alasan kuat untuk melakukan rotasi besar-besaran dari safe haven seperti emas, meski sentimen deeskalasi perang dagang bisa mendorong arus masuk asing ke saham domestik, terutama sektor perbankan, logistik, dan komoditas.

Sementara itu, Freddy Tedja, Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia, menekankan pentingnya kebijakan domestik yang pro-pertumbuhan agar efek positif global bisa berdampak nyata bagi perekonomian nasional.

Di sisi lain, Bhima Yudhistira, Direktur Celios, mengkritisi lambatnya negosiasi tarif Indonesia–AS yang kurang transparan akibat perjanjian NDA. Ini berpotensi melemahkan posisi tawar Indonesia dan membuat RI tertinggal dari China yang sudah lebih dulu menyepakati penurunan tarif.

Secara keseluruhan, gencatan tarif memberikan dorongan jangka pendek bagi pasar, namun para tokoh ekonomi menegaskan pentingnya kewaspadaan, konsistensi kebijakan global, dan penguatan ekonomi domestik agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika dagang dunia.


Harga Gambir Anjlok, Petani Terpukul

Hairul Rizal 14 May 2025 Bisnis Indonesia

Harga gambir di Sumatra Barat terjun bebas akibat konflik India–Pakistan yang melemahkan permintaan ekspor—tujuan utama hasil panen petani. Heri, seorang petani di Agam, mencatat harga kadar-air 15 % hanya Rp 20.000/kg (dibayar ke petani Rp 17.000–19.000/kg), jauh di bawah titik impas Rp 35.000/kg. Riko di Pesisir Selatan bahkan men­yebut rekor terburuk Rp 13.000/kg, sehingga banyak petani memilih menunda panen.

Sekretaris Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Sumbar, Ferdinal Asmin, menegaskan ketergantungan pasar pada India dan Pakistan sebagai akar persoalan. Pemprov bersama dinas terkait sedang:

  1. Membuka pasar alternatif di luar dua negara tersebut.

  2. Mendorong peningkatan kualitas—panen dijaga tiap ±4 bulan agar kadar air dan katekin stabil.

  3. Merumuskan peraturan gubernur tata niaga dan hilirisasi gambir untuk menahan gejolak harga di tingkat petani.


Pengerahan TNI Tak Ganggu Proses Hukum Kejaksaan

Hairul Rizal 14 May 2025 Bisnis Indonesia

Kejaksaan Agung (Kejagung) menegaskan bahwa pengerahan bantuan personel TNI untuk pengamanan kantor kejaksaan tidak memengaruhi independensi maupun proses penegakan hukum. Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung RI, Harli Siregar, menjelaskan bahwa kerja sama ini justru menguntungkan Kejaksaan dari sisi keamanan dan telah berlangsung lama sejak dibentuknya Jaksa Agung Muda bidang Militer (Jampidmil). Ia juga menekankan bahwa perjanjian kerja sama (MoU) antara Kejaksaan dan TNI mengatur pertukaran informasi secara terbatas dan selektif. Meski demikian, sejumlah pihak dari koalisi masyarakat sipil untuk reformasi sektor keamanan menyuarakan kekhawatiran bahwa keberadaan TNI dalam pengamanan institusi kejaksaan berpotensi mengganggu independensi penegakan hukum.

Penundaan Tarif Impor Bawa Dampak Tak Ringan

Hairul Rizal 14 May 2025 Kontan (H)

Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan China untuk menurunkan tarif impor menciptakan harapan meredanya ketegangan dagang global dan memicu penguatan di pasar saham dunia, termasuk peluang penguatan jangka pendek di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun, prospek jangka panjang IHSG masih dibayangi ketidakpastian dan sentimen negatif.

Beberapa tokoh penting dalam artikel ini memberikan pandangan yang bernuansa hati-hati:

Liza Camelia Suryanata, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas, menilai kesepakatan ini memang bisa mendorong investor global melirik pasar negara berkembang, tapi realokasi dana bisa saja justru terjadi ke pasar AS dan China, mengingat arus dana asing di Indonesia masih mencatat net sell hingga Rp 54 triliun sejak awal tahun. Liza juga memperingatkan bahwa IHSG berada di level resistance psikologis 6.970–7.000, yang rawan koreksi.

Ezaridho Ibnutama, Kepala Riset NH Korindo Sekuritas, menyatakan bahwa penguatan IHSG kemungkinan hanya bersifat sementara, karena fundamental ekonomi domestik masih lemah, tercermin dari pertumbuhan PDB kuartal I-2025 yang hanya 4,87% yoy. Ia juga menyoroti krisis likuiditas dan tekanan jual investor asing sebagai hambatan utama.

Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, melihat peluang bahwa investor domestik akan menjadi penopang pasar jika terjadi aksi jual asing, menyusul optimisme dari kesepakatan dagang tersebut.

Meskipun ada sinyal positif dari luar negeri, pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan besar dari sisi arus modal dan kondisi ekonomi dalam negeri, sehingga penguatan IHSG diperkirakan bersifat terbatas dan rentan koreksi dalam waktu dekat.

Frontloading Bisa Menjadi Pedang Bermata Dua

Hairul Rizal 14 May 2025 Kontan

Pemerintah Indonesia mempercepat penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di awal tahun 2025, dengan realisasi mencapai Rp 413,97 triliun hingga 17 April atau 64,43% dari target tahunan. Langkah ini merupakan strategi frontloading untuk mengantisipasi ketidakpastian global dan menjamin ketersediaan dana bagi berbagai program prioritas nasional.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa strategi ini bukan karena kekurangan dana, melainkan bagian dari manajemen risiko fiskal untuk menghadapi ketidakpastian eksternal seperti gejolak pasar dan perang dagang.

Muhammad Rizal Taufikurahman, Kepala Makroekonomi dan Keuangan INDEF, mendukung strategi ini, karena potensi tekanan eksternal di semester II, seperti arah kebijakan suku bunga The Fed dan risiko geopolitik. Menurutnya, realisasi penerbitan bisa mencapai 75–80% dari target APBN di semester I, yang menguntungkan bila pasar masih kondusif dan likuiditas tersedia.

Namun, Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, memberi catatan penting bahwa agresivitas penerbitan SBN berisiko memicu perebutan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan. Ia mencatat peningkatan yield SBN tenor 10 tahun hingga 7%, yang menunjukkan adanya tekanan pasar. Jika penerbitan terus agresif, Bhima memperingatkan potensi tekanan likuiditas perbankan bisa makin terasa, terutama bila realisasi penerbitan menembus 100% dari target APBN hanya dalam dua kuartal.

Syafruddin Karimi, ekonom Universitas Andalas, menekankan pentingnya kehati-hatian dalam pengelolaan utang. Ia memperingatkan bahwa jika belanja jauh melebihi proyeksi atau penerimaan negara lambat, maka bisa timbul tekanan fiskal struktural dan risiko terhadap refinancing utang.

Strategi percepatan penerbitan SBN dinilai sebagai langkah proaktif dan defensif terhadap ketidakpastian global, namun tetap perlu dikawal agar tidak menimbulkan tekanan likuiditas dan fiskal di masa mendatang.

Beban Operasional Ancam Kinerja Perusahaan

Hairul Rizal 14 May 2025 Kontan
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) tengah mengandalkan strategi ekspansi ke luar Pulau Jawa dan rebranding toko menjadi AZKO untuk mendorong pertumbuhan penjualan pada 2025. Perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 5% yoy dan SSSG (same store sales growth) sebesar 1%.

Menurut Jocelyn Santoso, analis Maybank Sekuritas, strategi ekspansi ACES dengan pembukaan 25–30 toko baru, termasuk tiga toko di luar Jawa pada kuartal I-2025, berpotensi mendorong SSSG hingga 3%, lebih tinggi dari target internal perusahaan. Ia juga menilai ekspansi ke wilayah dengan kompetisi rendah dapat meningkatkan margin laba. Meski begitu, Jocelyn memperkirakan pertumbuhan penjualan ACES hanya akan mencapai 4,45% yoy pada akhir tahun.

Sementara itu, Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo memperingatkan bahwa ekspansi bisa menjadi pedang bermata dua, karena dapat menaikkan beban operasional dan pemasaran. Ia menekankan pentingnya kontrol pengeluaran agar margin tetap terjaga.

ACES juga menghadapi tekanan dari proses rebranding toko menjadi AZKO. Jocelyn mencatat, beban operasional meningkat karena rebranding dan tunjangan Lebaran, yang menyebabkan penurunan laba bersih 31,1% yoy pada kuartal I-2025, meski penjualan naik 7,2% yoy menjadi Rp 2,14 triliun.

Namun, analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis tetap optimistis. Ia memproyeksikan pertumbuhan penjualan ACES dapat mencapai 5,6% yoy ke Rp 9,06 triliun di akhir 2025. Ia menilai valuasi saham ACES menarik, dengan sebagian besar risiko sudah tercermin dalam harga saham.

Dari sisi rekomendasi, Jocelyn dan Azis memberikan rating buy dengan target harga masing-masing Rp 750 dan Rp 645, sedangkan Indy merekomendasikan hold dengan target Rp 935.

Ekspansi dan rebranding ACES dinilai menjanjikan namun penuh tantangan. Keberhasilan strategi ini bergantung pada kemampuan perusahaan mengelola biaya dan mempertahankan margin di tengah tekanan operasional dan ketatnya persaingan ritel.

Penurunan Suku Bunga Jadi Kunci Akselerasi Kredit

Hairul Rizal 14 May 2025 Kontan
Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia terus melambat, hanya mencatat 9,16% yoy per Maret 2025, level terendah sejak Oktober 2023. Dalam kondisi ini, para pelaku industri dan analis menilai penurunan suku bunga diperlukan untuk mendorong pertumbuhan kredit, meskipun bukan satu-satunya solusi.

Analis Jeffrosenberg Chenlim dan Faiq Asad dari Maybank Sekuritas menekankan bahwa penurunan suku bunga akan membantu menurunkan biaya dana (cost of fund) dan memperlonggar likuiditas, yang sangat dibutuhkan untuk percepatan kredit. Mereka menilai hanya bank-bank dengan likuiditas kuat, seperti Bank Central Asia (BCA) dan CIMB Niaga, yang mampu menyalurkan kredit secara agresif di tengah kondisi ini.

Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga, sepakat bahwa suku bunga rendah bisa mendorong kredit, namun menekankan bahwa daya beli masyarakat juga merupakan faktor kunci. Ia mendorong evaluasi kebijakan insentif, seperti likuiditas makroprudensial, agar lebih efektif menggairahkan kredit. Lani juga mencatat bahwa biaya dana CIMB Niaga naik menjadi 3,61% pada kuartal I-2025, sehingga fokus bank saat ini adalah menggenjot dana murah (CASA).

Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan Bank Oke Indonesia, menilai suku bunga rendah belum cukup. Ia menyarankan adanya stimulus fiskal, insentif sektor prioritas, dan pelonggaran kebijakan LTV atau GWM agar penyaluran kredit lebih efektif.

Sementara itu, Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, menekankan bahwa meskipun biaya dana BCA tetap rendah, pertumbuhan kredit masih melambat (hanya 2,1% kuartalan). Menurutnya, masalah utamanya bukan di suku bunga, melainkan pada lemahnya permintaan kredit di masyarakat.

Meskipun penurunan suku bunga bisa menjadi alat bantu, pertumbuhan kredit nasional masih bergantung pada kombinasi faktor: daya beli masyarakat, kondisi likuiditas, serta dukungan insentif dari regulator dan pemerintah.

Pelaku Bisnia Terapkan Sharing Economy

Yuniati Turjandini 13 May 2025 Investor Daily (H)
Saat ini mulai banyak pelaku bisnis yang menerapkan sharing economy. Hal ini merupakan sebuah distorsi bagi keberlangsungan industri pariwisata secara luas. Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menerangkan, dahulu sharing economy hanya berlaku pada rumah-rumah atau villa. Tetapi sekarang bisnis dengan konsep Sharing Economy ini sudah merambah ke aparteman, membuat pengaruh yang besar. "Sharing Economy ini memang mengerus ya, khususnya di Bali. Tapi ini fenomena sharing economy hampir menyeluruh. Kita juga berharap bahwa regulasi tentang sharing economy ini juga perlu diperhatikan," ucap dia. Sharing economy merupakan model bisnis yang dilakukan dengan cara yang lebih efisien, karena saling berbagi dalam memanfaatkan aset atau resources. Hariyadi menjelaskan, saat ini ada beberapa  negara yang meninjau terkait aturan mengenai sharing economy contohnya Singapura dan Jepang, yang akan melakukan pengetatan regulasi tentang sharing economy. Dia menganggap trend sharing economy ternyara berdampak besar kepada pendapatan asli daerah tertentu dan juga berkurangnyu pedapatan pemerintah. (Yetede)

Panasonic, Mengumukan Rencana PHK Terhadap 10.000 Karyawan Global

Yuniati Turjandini 13 May 2025 Investor Daily (H)
Raksasa elektronik asal jepang, Panasonic, mengumukan rencana PHK terhadap 10.000 karyawan global. Menanggapi itu, Juru Bicara Kementerian perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief menerangkan, bahwa PHK tersebut tidak terjadi di Indonesia. "PHK yang terjadi di Panasonic Holsings tidak berdampak pada operasi Panasonic di Indonesia. Pabrik di Indonesia justru menjadi basis ekspor ke lebih dari 80 negara yang mencerminkan daya saing industri elektronik nasional yang sangat kuat," ujar dia. Febri mengakui bahwa utilitass industri elektronik saat ini sedang berada pada level yang rendah, yakni 50,64% pada kuartal 1-2025. Sedangkan, sebelum masa pandemi Covid-19, utilitas  sektor ini mencapai 75,6%. Kondisi ini menjadi pengingat bagi seluruh pelaku industri dan para karyawan untuk terus beradaptasi dan melakukan transformasi agar tetap kompeititif. "Persaingan global di sektor elektronok semakin ketat. Ini adalah peringatan bahwa transformasi teknologi, peningkatan produktivitas, dan efisiensi operasional adalah kunci untuk bertahan hidup," ucap dia. Lebih lanjut, Febri menegaskan, Indonesia memiliki keunggulan besar sebagai pasar domestik yang kuat. Pasar dalam negeri Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di kawasan, dan pemerintah mendukung penuh penguatan industri melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri. (Yetede)

Kadin Menangkap Banyak Peluang Dagang Antara Indonesia dan Amerika Serikat

Yuniati Turjandini 13 May 2025 Investor Daily
Kamar dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menangkap banyak peluang dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) saat melakukan kunjungan ke Negeri Paman Sam dan bertemu dengan banyak pengusaha di sana. Dengan peluang  yang ada, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan, nilai perdagangan Indonesia -AS dapat menembus angka US$ 80 miliatr atau dua kali lipat setelah proses negosiasi tarif resiprokal. "Prediksi kami di Kadin, kalau antara ekspor dan impor (Indonesia-AS) itu US$ 39-40 miliar kurang lebih. Dalam waktu 2-3 tahun, bisa menjadi US$ 120 miliar. Kalau misalnya kita menyiasati benar," kata dia. Pria yang akrab dipanggil Anin ini merinci Presiden AS Donald Trump memegang data yang mencatatkan nilai ekspor Indonesia ke AS sekitar US$ 25 miliar dan impor US$ 13 miliar. Dengan demikian, total nilai perdagangan  kedua negara saat ini sekitar US$ 40 miliar. Dia menerangkan, surplus perdagangan Indonesia terhadap AS yang sekitar US$ 18 miliar dolar AS rencananya akan diseimbangkan. Hal ini terkait negosiasi tarif yang dibuka oleh AS dengan permintaan nilai ekspor-impor Indonesia-AS menjadi setara. Sehingga, total perdagangan kedua negara diprediksi naik menjadi US$ 58 miliar atau hampir US$ 60 miliar. (Yetede)

Pilihan Editor