3,2 Juta Orang Main Judi Daring
Judi daring kian meresahkan. Jumlah penggunanya terus
meningkat. Bahkan, sepanjang 2023 terdapat 3,2 juta orang Indonesia yang bermain
judi daring. Sekitar 80 % bermain judi dengan nilai di bawah Rp 100.000. Pada
Selasa (23/4) Menkopolhukam Hadi Tjahjanto membahas pembentukan satgas pemberantasan
judi daring bersama sejumlah pejabat kementerian/lembaga di kantornya di
Jakarta. Rapat tersebut merupakan tindak lanjut perintah Presiden Jokowi saat
rapat terbatas pada Kamis (18/4).
Seusai rapat, Hadi mengatakan, rancangan bentuk satgas sudah
disusun. Satgas nantinya akan diisi lintas instansi. Namun, sebelum diwujudkan,
akan terlebih dulu dilaporkan ke Presiden. Menurut dia, tak akan lama satgas
dibentuk. Pembentukan satgas dalam waktu cepat sangat penting karena judi daring
sudah makin meresahkan masyarakat. ”Judi online su dah meresahkan masyarakat karena
dampaknya kepada masyarakat, terutama pada generasi penerus, mulai tingkat SMP,
SMA, bahkan SD,” kata Hadi. Menurut Hadi, sejak 2017 sampai 2024, jumlah pengguna
judi daring meningkat signifikan.
Mengutip data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
(PPATK), lanjut Hadi, sepanjang 2023 terdapat 3,2 juta orang di Indonesia yang
bermain judi daring. ”Perputaran uang (judi daring) pada tahun 2023 mencapai Rp
327 triliun. Angka agregat ya. Uang keluar masuk. Bulan pertama tahun 2024 saja
tercatat Rp 100 triliun. Luar biasa,” ujar Hadi. Untuk memberantasnya, OJK,
menurut Hadi, telah mengidentifikasi adanya 5.000 rekening mencurigakan. Saat
ini, 5.000 rekening tersebut telah dibekukan dan akan coba ditelusuri untuk
mengungkap jaringan pengelola judi daring. Selain itu, Kemenkominfo hingga 30
Desember 2023 telah menindak dan menutup 805.923 konten judi daring. Kebanyakan
peladen dari situs judi daring itu berada di luar negeri. (Yoga)
Dunia yang Menua dan Peluang AI
Sejumlah negara mengalami penyusutan populasi, karena angka
kelahiran terus menurun. Kondisi itu berdampak pada tak terpenuhinya kebutuhan
tenaga kerja. Muncul harapan kecerdasan buatan atau artificial intelligence
bisa mengisi ruang kosong itu meskipun tidak sepenuhnya. Salah satu negara
tersebut ialah Jepang. Pada 2023, Jepang mengalami penurunan angka kelahiran
selama delapan tahun beruntun. Menurut laporan Reuters, angka kelahiran di
Jepang pada 2023 turun 5,1 % dibanding 2022 menjadi 758.631. Angka pernikahan turun
5,9 % menjadi 489.281. Untuk pertama kali dalam 90 tahun, angka pernikahan di
bawah 500.000. Bagaimanapun, ketersediaan SDM menjadi faktor penting dalam pertumbuhan
ekonomi suatu negara. Oleh karena itu, di tengah penyusutan populasi, artificial
intelligence (AI) diharapkan menjadi solusi untuk mengisi gap antara kebutuhan dan
ketersediaan tenaga kerja. Terlebih, selama ini Jepang dikenal sebagai salah
satu negara terdepan dalam inovasi dan teknologi.
Dikutip dari BBC, Sabtu (20/4) Eat&Holdings, perusahaan
induk jenama Osaka Ohsho, yang terkenal akan produksi gyoza (pangsit khas Jepang),
telah memanfaatkan AI. Inovasi itu terdorong oleh terbatasnya tenaga kerja saat
permintaan melonjak kala pandemi Covid-19. Padahal, untuk menjaga kualitas
gyoza yang dihasilkan, dibutuhkan pengecekan berulang oleh para pekerja. Akhirnya
ditemukan solusi pada teknologi. Pada Januari 2023, mereka membuka tempat
produksi gyoza berteknologi tinggi yang dilengkapi kamera AI. Dengan teknologi
itu, kamera mampu mendeteksi kesalahan dalam produksi gyoza. Fasilitas itu
mampu mem- produksi dua gyoza per detik, dua kali kecepatan tempat produksi
Osaka Ohsho lainnya. ”Dengan mengimplementasikan AI, kami telah mengurangi
tenaga kerja di jalur produksi hingga 30 %,” kata jubir perusahaan tersebut,
Keiko Handa. (Yoga)
Digemari Masyarakat, Kajian Sastra Horor Perlu Dikembangkan
Kajian sastra horor yang mengulik misteri, hantu, dan hal-hal
mistis lainnya perlu dikembangkan. Kajian tersebut berpeluang besar
dialihwahanakan dalam berbagai medium, seperti audio, animasi, gim, film, dan
platform digital lainnya. Cerita rakyat bertema horor tersebar hampir di
seluruh daerah di Tanah Air. Kisah horor digemari masyarakat Indonesia.
Film-film bergenre horor kerap merajai industri film dalam negeri dari masa ke
masa. Siniar atau podcast yang membahas kisah-kisah misteri juga didengarkan
oleh banyak orang. Peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN,
Tirto Suwondo, mengatakan, Indonesia memiliki cerita horor yang bejibun, dikisahkan
lintas generasi dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tapi, analisis atau kajian tentang sastra horor masih sangat
jarang jika dibandingkan dengan jumlah cerita rakyat yang melimpah. Hal ini
menjadi tantangan bagi para peneliti untuk mengkajinya dalam berbagai perspektif.
”Dalam konteks industri kreatif, peluang yang menjanjikan adalah adaptasi, alih
wahana atau ekranisasi ke film layar
lebar, televisi, dan platform digital,” ujarnya dalam peluncuran dan diskusi
buku Sastra Horor, di Jakarta, Selasa (23/4). Buku setebal 1.010 halaman itu
menyajikan 45 artikel kisah horor. Buku ini merupakan hasil riset dan kajian
tentang beragam gejala horor yang hidup di tengah masyarakat di sejumlah
daerah.
Tirto mengatakan, hampir semua artikel dalam buku itu ditulis
dengan ilmiah menggunakan struktur IMRaD (pengantar, metode, riset, dan
diskusi). ”Hal ini menjadi semacam siraman yang menyejukkan ditengah ladang
kering dunia kritik, telaah, dan apresiasi kita tentang sastra horor,” ucapnya.
Sastra horor tidak hanya menjadi kajian menarik bagi periset di Tanah Air. Di
luar negeri, kajian kisah horor dipublikasikan di berbagai media dan jurnal,
seperti majalah World Literature Today serta jurnal Horror Studies dan Journal
of Dracula Studies. Kepala Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN Ade
Mulyanah menuturkan, ”Peran film berbasis horror sebagian besar merupakan proses
ekranisasi karya-karya sastra. Ini menunjukkan sebuah peran besar sastra
terhadap perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia”. (Yoga)
Perempuan Miskin Terasingkan dari Program Perlindungan Sosial
Hingga kini masih banyak perempuan miskin di Tanah Air yang
terlewat dari program perlindungan sosial. Masalah tersebut mengemuka dalam
Musyawarah Nasional Perempuan untuk Perencanaan Pembangunan atau Munas
Perempuan ke-2 tahun 2024 di Kabupaten Badung, Bali, 19-20 April 2024. Vidia
dari Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (PR Yakkum) dan
Lastiar Padang dari organisasi terkait risiko bencana dari Gunungsitoli, Sabtu
(20/4) memaparkan, setidaknya ada tiga permasalahan utama terkait perempuan dan
program perlindungan sosial. Pertama, masih ada data penerima manfaat program
perlindungan sosial yang belum dimutakhirkan, bersifat sektoral, dan tidak
terintegrasi. Kedua, jangkauan program perlindungan sosial yang belum
komprehensif.
Ketiga, anggaran program perlindungan sosial belum sepenuhnya
berpihak kepada kelompok rentan. Persoalan di atas terlihat dalam Data Terpadu
Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang berisi daftar pemerlu pelayanan kesejahteraan
sosial (PPKS) yang kurang detail dan belum terintegrasi sehingga sering terjadi
kesalahan data. Contohnya, ada ASN yang tercatat sebagai penerima manfaat DTKS.
Program perlindungan sosial juga belum fokus pada ragam perempuan dengan
situasi kerentanan berlapis. Selain data, hingga kini warga disabilitas juga
belum sepenuhnya bisa mengakses perlindungan sosial, seperti akses alat bantu
bagi disabilitas. ”Anak-anak disabilitas yang sepanjang hidupnya membutuhkan terapi
itu masih belum bisa mengakses perlindungan sosial sepenuhnya,” papar Vidia. (Yoga)
Di Balik Surplus Perdagangan
Neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2024 kembali surplus selama
47 bulan beruntun. Jika melihat kata surplus belaka, ekspor-impor baik-baik saja.
Padahal, ada sejumlah hal yang mesti diperhatikan dalam kinerja ekspor-impor. Apalagi,
dalam pertumbuhan PDB 5,05 % pada 2023, ekspor bersih atau ekspor dikurangi
impor menyumbang 0,66 %. Tahun lalu, ekspor tumbuh 1,32 % secara tahunan, sedangkan
impor tumbuh minus 1,65 %. Nilai ekspor pada Maret 2024 lebih rendah
dibandingkan dengan Maret 2023. Nilai impor pada Maret 2024 juga lebih rendah
daripada Maret 2023. Adapun surplus secara triwulanan, yakni Januari-Maret
2024, lebih rendah ketimbang Januari-Maret 2023. Hal ini terjadi karena ekspor
turun hingga nyaris 5 miliar USD. Sebaliknya, nilai impor pada periode itu
cenderung tetap.
Indonesia, yang bergantung pada komoditas, menanggung dampak
penurunan harga komoditas terhadap kinerja ekspor. Perekonomian China yang
belum pulih turut berperan dalam penurunan ekspor Indonesia. Permintaan rendah membuat
ekspor nonmigas Indonesia ke China merosot. Padahal, pada Maret 2024, ekspor
Indonesia ke China 22,44 % total ekspor nonmigas. Porsi ini merupakan yang
terbesar dibandingkan dengan ekspor ke negara lain. Pada Januari-Maret 2024,
mayoritas impor Indonesia berupa bahan baku atau penolong yang mencapai 72,81 %.
Sementara barang modal 17,2 % dan barang konsumsi 9,99 persen. Impor bahan baku
atau penolong pada triwulan I-2024 anjlok 21,72 % secara tahunan, sedang impor
barang modal turun 12,63 % secara tahunan.
Hal ini mengindikasikan ada persoalan dalam proses produksi di
Indonesia. Sebab, bahan baku atau penolong dan barang yang dipertimbangkan
dalam menjaga nilaitukar, antara lain keseimbangan terhadap ekspor dan impor.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD akan menguntungkan eksportir, tetapi
membuat pening importir. Situasi lebih rumit akan dihadapi produsen yang
mengimpor bahan baku dan barang modal, tetapi memasarkan produknya di dalam
negeri dengan harga rupiah. Keseimbangan nilai tukar kian penting bagi
Indonesia yang mengekspor migas 3,899 miliar USD, tetapi mengimpor hingga 9
miliar USD pada Januari-Maret 2024. (Yoga)
Reevaluasi dan Reaktualisasi ”Food Estate”
Optimisme Prabowo Subianto sebagai calon presiden peraih
suara terbanyak pada Pilpres 2024 tentang pencapaian swasembada pangan dalam
2-3 tahun melalui food estate, seperti diberitakan The Jakarta Post (4/3)
menandakan keberlanjutan proyek food estate jika ia resmi menjadi Presiden RI
2004-2029. Untuk menjaga kelangsungan program ini, diperlukan reevaluasi dan reaktualisasi
mendasar. Pengembangan food estate di Kalteng oleh Pemerintahan Presiden Jokowi
dilakukan sejak pertengahan 2020, dengan luas total 30.000 hektar pada awalnya,
dan direncanakan terus diperluas hingga 70.000 hektar pada 2024. Namun,
kesuksesan proyek ini terhambat karena masalah mendasar, yakni kegagalan
adaptasi varietas tanaman pangan terhadap kondisi lahan rawa dan asam, jenis
lahan yang mendominasi food estate di Kalimantan (Fahmid dkk, 2022; Marwanto, 2021).
Bukti empiris lapangan yang penting dipertimbangkan dalam
reaktualisasi food estate adalah fakta kontribusi swamp land (lahan rawan) terhadap
produksi padi Indonesia kurang dari 2 % (Hasbianto dkk, 2021). Lahan rawa dan
gambut butuh tata kelola air untuk menghindari banjir, khususnya di Kalteng
(Muhardiono, 2021), dan pengelolaan lahan asam. Ketika ini tidak bisa
diperbaiki, aktivitas usaha tani di lahan-lahan rawa, gambut, dan asam sesungguhnya
akan bertemu dengan kegagalan. Investigasi lapangan yang dilakukan peneliti
independen dan LSM menunjukkan kesalahan masa lalu (proyek lahan gambut sejuta
hektar era Orde baru) kembali terulang. Misalnya, di food estate Tewai Baru, di
Kabupaten Gunung Mas, Kalteng, perkebunan singkong membuahkan hasil panen di
bawah standar sehingga pemerintah meninggalkan lokasi tersebut.
Artinya, pengembangan singkong di lokasi itu tidak
berdasarkan kajian ilmiah memadai. Temuan lain bahwa pembukaan lahan hutan
untuk proyek food estate telah memperburuk masalah banjir dan erosi tanah, serta
memaksa perubahan praktik pertanian lokal. Ini menciptakan dampak lingkungan
yang negatif dan menghambat keberlanjutan proyek tersebut (Asia Pacific
Foundation of Canada, 26 April 2023). Hasil pantauan Walhi dan BBC Indonesia
menemukan, ada masalah terhadap 3.964 hektar (ha) lahan food estate, yakni
kehilangan tutupan pohon tanpa menghasilkan singkong. Untuk memperbaiki implementasi
food estate, langkah-langkah konkret harus diambil. Pertama, perencanaan dan
seleksi lokasi harus didasarkan pada data dan kajian ilmiah yang valid serta
memperhitungkan keberlanjutan ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan.
Kedua, penting untuk memprioritaskan tanaman yang sesuai
kondisi lahan untuk lahan rawa dan gambut, berbasis realitas ilmiah di alam
bebas bukan hanya realitas petak percobaan. Ketiga, penelitian Mc Carthy dan
Obidzinski (2017) terkait implementasi food estate di Kalimantan memberikan
masukan baik untuk di- pertimbangkan bahwa pendekatan food estate skala besar
cenderung gagal dan tidak berkelanjutan secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan
ketika diterapkan di lahan-lahan marjinal Kalimantan. Intensifikasi berbasis petani
kecil lebih sesuai untuk konteks Kalimantan dan lebih mendukung ketahanan pangan
masyarakat setempat meskipun kontribusinya terbatas terhadap produksi pangan
nasional. (Yoga)
Siap-siap Ekonomi Biaya Tinggi di 2024
Di tengah pelemahan rupiah yang cenderung berlanjut, BI dalam
tekanan untuk menaikkan suku bunga acuan. Namun, pilihan menaikkan suku bunga dari
posisi 6 % sejak Oktober 2023 akan mengerem pertumbuhan ekonomi. Rapat Dewan
Gubernur BI digelar Rabu (24/4) dan Kamis (25/4). Pertemuan reguler ini kembali
membahas tentang kebijakan moneter yang akan diambil BI untuk merespons situasi
perekonomian global dan domestik yang makin tidak pasti. Pada 19-20 Maret 2024,
Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan
sebesar 6 %, suku bunga deposit facility 5,25 %, dan suku bunga lending facility
sebesar 6,75 %. Sinyal The Fed yang akan menunda penurunan suku bunga acuan di AS
dari rencana awal mendorong penguatan USD terhadap mata uang lainnya, termasuk
rupiah. Selama enam hari perdagangan berturut-turut, rupiah berfluktuasi di
atas Rp 16.000 per USD.
Merujuk data Jakarta Interbank Spot Dollar (Jisdor) pada
penutupan pasar, Selasa (23/4) rupiah kembali ditutup melemah di level Rp
16.244 per USD, terdepresiasi 20 basis poin dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Mengutip CNBC, Wells Fargo Securities memperkirakan nilai tukar rupiah menuju
Rp 16.500 per USD seiring penundaan penurunan suku bunga oleh The Fed. Ahli
strategi Brown Brothers Harriman & Co bahkan memproyeksikan nilai tukar
rupiah akan mencapai Rp 17.000 per USD pada September 2024. Ada pula faktor
internal yang memperlemah rupiah, yakni peningkatan permintaan valuta asing secara
musiman setiap triwulan II, untuk pembayaran pokok utang, dividen, dan kupon ke
nonresiden.
Penguatan USD sekaligus pelemahan rupiah, berikut komplikasi
perekonomian global, akan langsung berdampak pada perekonomian nasional. Berawal
dari transmisinya pada sektor keuangan, persoalan ini akan meningkatkan beban
biaya ekonomi nasional. Biaya produksi sektor riil akan membengkak, terutama usaha
yang mengimpor bahan baku dan bahan penolong. Situasi makin pelik jika utang
untuk produksi dalam USD, tetapi penjualan barang untuk pasar domestik. Presdir
CIMB Niaga Finance (CNAF) Ristiawan Suherman berpendapat, kenaikan suku bunga
untuk menahan nilai tukar rupiah dapat berdampak pada kenaikan beban pendanaan
(cost of fund). Hal ini akan turut menyebabkan daya beli masyarakat menurun. (Yoga)
Utang Bakal Membengkak, Defisit Melebar pada 2025
Pemerintah telah menetapkan sasaran kebijakan yang akan
dijalankan pemerintahan baru tahun depan. Kebijakan fiskal akan mengarah pada
defisit APBN yang melebar. Selain itu, rasio utang negara juga membengkak.
Kondisi itu dipandang dapat meningkatkan risiko fiskal di tengah iklim ekonomi
global yang serba tidak pasti. Gambaran arah kebijakan pembangunan itu tertuang
dalam dokumen Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025 yang disusun
Bappenas dengan tema ”Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan
Berkelanjutan”. Dalam rincian sasaran fiskal tahun 2025, pemerintah menetapkan
target defisit sebesar 2,45-2,80 persen terhadap PDB, mendekati batas aman
defisit fiskal sebesar 3 % terhadap PDB yang diamanatkan UU Keuangan Ne gara.
Rentang defisit itu juga melebar dari target di PBN 2024 sebesar 2,29 % terhadap
PDB.
Selain defisit yang melebar, rasio utang pemerintah juga membengkak.
Dokumen RKP mencatat, target stok utang atau rasio utang pemerintah adalah
39,77-40,14 % terhadap PDB, naik dari target rasio utang 2024 yang sebesar
38,26 %, bahkan mendekati level rasio utang saat pandemi Covid-19 (39,4 % pada
2020 dan 40,7 % pada 2021). Target belanja RKP 2025 juga meningkat dari 14,56 %
terhadap PDB (pada APBN 2024) menjadi 16,15-17,80 % terhadap PDB. Target
belanja itu terdiri dari belanja pemerintah pusat 11,96-13,35 % terhadap PDB
dan transfer ke daerah sebesar 4,19-4,45 % terhadap PDB. RKP dan RAPBN 2025
disusun oleh pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin, tetapi dijalankan oleh
pemerintahan baru yang mulai menjabat Oktober 2024. Sesuai hasil hitung riil,
pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mendapat suara terbanyak di Pilpres
2024. (Yoga)
Sentra Produksi Tempe di Cipulir
LAYANAN INTERNET, Permintaan Meningkat, Spektrum Frekuensi Ditambah
Kemenkominfo menyebutkan, industri telekomunikasi seluler
membutuhkan tambahan spektrum frekuensi selebar 1.310 megahertz sampai tahun
2026, untuk meningkatkan kecepatan dan kualitas layanan seluler. ”Teknologi
akses seluler yang baru terus muncul sehingga lebar pita spektrum frekuensi
harus ditambah. Jadi, bukan semata-mata okupansi lebar spektrum frekuensi yang
sekarang dimiliki operator telekomunikasi seluler itu sudah penuh,” kata Dirjen
Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kemenkominfo Ismail saat
menghadiri Konferensi Manajemen Spektrum Tingkat Asia Pasifik yang Ke-10,
Selasa (23/4) di Jakarta. Konferensi ini menindaklanjuti hasil pertemuan World
Radiocommunication Conference (WRC) 2023 yang berlangsung di Dubai, Uni Emirat
Arab, pada akhir 2023.
Konferensi pada 23-24 April ini membahas berbagai masalah
terkait spektrum frekuensi, di antaranya mobile broadband, 5G, 6G, Wi-Fi, satelit,
dan isu kebencanaan. Menurut Ismail, tambahan spektrum frekuensi dengan total
lebar 1.310 MHz akan dipenuhi dari berbagai jenis spektrum frekuensi, seperti
jenis spektrum frekuensi rendah (low band) dan tinggi (millimeter-wave). Rencananya,
Kemenkominfo akan melelang spektrum 700 MHz (jenis low band) dan 26 gigahertz (GHz)
terlebih dulu untuk memenuhi tambahan kebutuhan. Keduanya akan dilelang bersama.
Harga lebar pita spektrum, ujar Ismail, akan diberi insentif. Salah satu opsi
insentif yang sedang dibahas ialah operator pemenang lelang tak langsung membayar
biaya penggunaan spektrum frekuensi. (Yoga)









