;

Sukses Kendalikan Inflasi Belum untuk Kurs

Yuniati Turjandini 03 May 2024 Investor Daily (H)

Kolaborasi antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah, baik pusat maupun daerah, dinilai cukup berhasil mengendalikan tingkat inflasi di Indonesia. Bahkan, momok bagi perekonomian setiap negara itu bisa ditekan hingga level yang cukup rendah. Inflasi di Tanah Air yang pada Desember 2014 sempat berada di level 8,36% secara year on year (yoy), sukses dipangkas menjadi hanya 3% (yoy) pada April 2024. Saat ini, Indonesia pun masuk dalam kelompok negara-negara yang memiliki tingkat inflasi yang rendah, meski sebelum serendah China yang pada maret 2024 hanya mencatatkan inflasi 0,1% dan Malaysia 1,8%. Sementara sejumlah negara yang memiliki inflasi diatas Indonesia adalah Vietnam yaitu 4,4% (April 2024), Amerika Serikat, 3,5% (Maret 20024), dan India  4,45% (Maret 2024). Bahkan perekonomian Turki pada Maret 2024 membukukan inflasi hingga 68,5%. Namun demikian, kesuksesan serupa  belum bisa di toreh dalam pengelolaan nilai tukar rupiah terhadap dolar  AS. Faktanya, alih-alih seperti sebelum krisis tahun 1997 yang hanya Rp2,441 per dolar AS, stabilitas nilai rupiah pun hingga kini belum bisa kembali  seperti sebelum krisis keuangan global 2007-2008. (Yetede)

10 Bank Besar Cetak Laba Rp 49,49 Triliun

Yuniati Turjandini 03 May 2024 Investor Daily (H)

Sejumlah bank di Indonesia telah melaporkan kinerja keuangan kuartal I-2024, dimana 10 bank besar berhasil mengantongi laba bersih secara individual sebesar Rp49,49 triliun. Laba bersih tersebut tumbuh 4,38% secara tahunan (year on year) dari periode sebelumnmya Rp47,4 triliun. Berdasarkan data yang dihimpun Investor Daily, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) masih menjadi jawara perolehan  laba bersih baik secara invidual maupun konsolidasi. BRI secara bank only mengantongi laba bersih Rp13,8 triliun pada Maret 2024, tumbuh tipis 0,07% dibandingkan Rp 13,79 triliun. Diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang menempati posisi kedua dengan laba bersih individual Rp 12,29 triliun, meningkat 11,93 (yoy).

Grup Astra Guyurkan Dividen Rp30,6 Triliun ke Pasar Modal Indonesia

Yuniati Turjandini 03 May 2024 Investor Daily (H)

Group Astra melalui lima emitennya, PT Astra Internasional Tbk (ASII), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Astra AGro Lestari Tbk (AALI), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), dan PT Astra Graphia Tbk (ASGR) mengguyur pasar modal Indonesia dengan membagikan dividen tahun buku 2023 senilai total Rp30,62 triliun. Dengan kontribusi ini, Group Astra tidak hanya memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam berbagai sektor ekonomi di Indonesia, tetapi juga menjaga momentum positif dalam pengembangan dan pertumbuhan pasar  modal di Tanah Air. Dari total dividen tunai Rp30,62 triliun sebanyak Rp 6,88 triliun telah dibagikan sebagai dividen interim pada bulan Oktober 2023, dan sisanya 23,74 triliun final kepada pemegang saham di bulan depan. Astra Internasonal menjadi penyumbang dividen terbesar  dengan nilai Rp 21,01 triliun atau Rp519 per saham. Dividen tersebut setara dengan 62% dari laba bersih 2023 yang sebesar Rp 33,84 triliun. "Tanggal pembayaran dividen (final) akan dilakukan pada 30 Mei 2024," ujar Corporate Secretary Astra Internasional Gita Tiffany Boer. (Yetede)

On Track Mencapai Visi 2045

Yuniati Turjandini 03 May 2024 Investor Daily (H)

Indonesia saat ini masih berada di jalan  tepat atau on the track untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2045. Sementara itu, pemerintah Indonesia mulai pertemuan bilateral dengan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mempercepat proses keanggotaan Indonesia di organisasi tersebut. Adapun pemerintah memiliki empat pilar utama mencapai Visi Indonesia Emas 2045. Pertama, pembangunan manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Ketiga, pemerataan pembangunan. Keempat, pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan. "Indonesia adalah negara yang tangguh. Hal ini kita buktikan ditengah kondisi ekonomi global yang tidak menguntungkan dalam beberapa tahun terakhir karena pandemi Covid-19, meningkatkan ketegangan geopolitik, tekanan keuangan, fragmentasi perdagangan, dan perubahan iklim," jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Yetede)

Chandra Asri Group Gapai Pendapatan US$ 472 Juta Per Kuartal I -2024

Yuniati Turjandini 03 May 2024 Investor Daily (H)

PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group), dengan kode saham: TPIA, menggapai pendapatan bersih US$ 427 juta per kuartal I-2024. Pendapatan itu diperoleh dari bisnis kimia dan infrastruktur  yang masing-masing sebesar US$ 24,7 juta. Perseroan juga mencapai EBITDA posisi sebesar US$ 1,1 juta pada kuartal I-2024. Direktur Chandra Asri Group, Suryandi mengatakan Chandra Asri Group mencatat liquidity pool yang kuat per 31 Maret 2024 dengan total liquidity pool terbesar US 2,38 miliar. "Hal ini terdiri dari kas dan setara kas sebesar US$ 1.030 juta, surat berharga senilai US$ 1.121 juta, dan fasilitas commited revolving credit yang tersedia sebesar US$ 226 juta," kata Suryandi, dalam keterangan resminya. Dia menyebutkan, selama kuartal pertama tahun 2024, Perseroan berhasil menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan  pengelolaan lingkungan, tanggung jawab sosial, dan praktik tata kelola yang kuat.(Yetede)

Manufaktur Masih di Level Ekspansif

Yuniati Turjandini 03 May 2024 Investor Daily (H)

S&P Global mencatat, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada April 2024 berada di level 52,9, atau turun 1,3 poin bila dibandingkan Maret yang mencapai 54,2. Walau begitu, industri manufaktur  masih melanjutkan fase ekspansi selama 32 bulan bertutur-turut. Menteri Perindustrian (Memperin) Agus Guniwang Kartasasmita menerangkan, nilai PMI yang ekspansif dan berkelanjutan selama 32 bulan beruntun itu merupakan sebuah capaian yang tak semua negara di dunia bisa mewujudkannya. Selain Indonesia, negara yang bisa mencapai ekspansi 32 bulan berturut-turut adalah India. Dia menjelaskan, PMI manufaktur Indonesia solid  dan sehat ditengah-tengah dinamika geopolitik yang menjadi tantangan bagi semua pihak. PMI Manufaktur Indonesia  pada April 2024 mampu melampaui PMI manufaktur Asean (51,0). Tingkat optimisme yang tinggi ini dikarenakan  kepercayaan pelaku usaha terhadap kebijakan pemerintah pusat, dan perbaikan kondisi ekonomi global ke depan. (Yetede)

Pengembang Merasakan Manfaat PPN DTP

Yuniati Turjandini 03 May 2024 Investor Daily

Para pengembang properti merasakan manfaat insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang digulirkan sejak 2021 hingga saat ini. Pada 2023, insentif itu juga diakui ikut membantu  pertumbuhan pendapatan para pengembang yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Laporan keuangan 76 emiten properti tahun 2023 memperlihatkan bahwa pendapatan mereka tumbuh sekitar 7% dibandingkan dengan setahun sebelumnya, yakni dari Rp91,25 triliun menjadi Rp97,56 triliun. "Insentif pajak itu ikut membantu penjualan kami. Sebenarnya, kehadiran insentif itu membantu konsumen untuk membeli properti," kata Alexander Stefanus Ridwan Suhendra, Presiden Direktur PT Pakuwon Jati menjawab pertanyaan Investor Daily. Menurut Stefanus, pihaknya berharap insentif PPN DTP masih bisa diteruskan oleh pemerintah. "Kami berharap insentif  pajak ini diteruskan karena membantu masyarakat," ujar dia. (Yetede)

PGN Terapkan Kuota Gas Bumi Berkeadilan ke Pelanggan

Yuniati Turjandini 03 May 2024 Investor Daily

PT PGN Tbk menerapkaan kuota volume gas terhadap seluruh pelanggan. Hal ini menyikapi kondisi penurunan pasokan gas dari sisi hulu yang telah kontrak dengan PGN. Selain untuk penyaluran gas bumi yang merata, PGN juga memberikan perhatian khusus pada keamanan jaringan gas  guna menghindari insiden yang tidak diinginkan. "PGN berupaya untuk melayani kebutuhan pelanggan seoptimal mungkin. Tetapi dengan kondisi pasokan gas yang semakin menurun, maka kami sebagai penyalur gas di sisi hilir mengupayakan agar penyaluran gas bisa berkeadilan ke seluruh pelanggan. Kami menghindari agar upaya yang dilakukan tidak hanya untuk kepentingan satu atau dua sektor pelanggan saja dan mengorbankan seluruh kepentingan pelanggan," kata Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama. Rachmat menuturkan, penurunan  produksi karena berbagai kondisi yang ada di sisi hulu, mulai dari penurunan alamiah produksi  sumur migas serta perbaikan  dan perawatan sumur, baik yang berkala maupun yang tidak direncanakan. (Yetede)

Bagaimana Kabinet Prabowo Menampung Jatah Menteri Koalisi Partai

Yuniati Turjandini 03 May 2024 Tempo

PASANGAN Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, setelah ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih, kini bersiap dengan transisi pemerintahan dan membentuk kabinet. Komposisi kabinet Prabowo masih terus dibahas bersama tim. Prabowo disebut berkeinginan untuk membentuk semacam klub presiden (presidential club) setelah ditetapkan sebagai presiden terpilih melalui rapat pleno terbuka Komisi Pemilihan Umum (KPU). Klub ini bertujuan menjadi tempat bagi para presiden dan mantan presiden untuk berdiskusi, terutama mengenai persoalan negara dan pemerintahan.

Juru bicara Prabowo, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan bahwa masukan para presiden terdahulu menjadi hal penting karena dinilai punya pengalaman panjang sebagai pemimpin negara. "Prabowo bersikap terbuka untuk menerima masukan dari presiden sebelumnya, khususnya dalam merumuskan kabinet pemerintahan," ujar Dahnil pada akhir April 2024.

Sebagai presiden terpilih, Dahnil melanjutkan, Prabowo tidak hanya berkomitmen melanjutkan pemerintahan Presiden Joko Widodo alias Jokowi, tapi juga kepemimpinan presiden-presiden sebelumnya, baik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maupun Megawati Soekarnoputri. Karena itulah, kata dia, Prabowo membuka pintu berdiskusi dengan banyak pihak dalam menentukan kabinet ke depan, termasuk para pemimpin negara pendahulunya. (Yetede)

Wajib Berhemat di Kala Paceklik Pajak

Yuniati Turjandini 03 May 2024 Tempo

PENERIMAAN pajak pada kuartal pertama tahun ini, yang lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu, seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk bangun dari mimpi bermewah-mewahan. Tanpa pengendalian belanja sejak sekarang, negara berisiko makin tertimbun oleh tumpukan utang yang terus bertambah setiap tahun. Penurunan penerimaan dari sektor pajak menandakan betapa rapuhnya struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pada tiga bulan pertama 2024, penerimaan pajak baru Rp 393,9 triliun, turun 8,8 persen dari penerimaan pajak pada kuartal pertama 2023 yang sebesar Rp 431,9 triliun. Penurunan ini dipicu oleh penurunan harga komoditas sejak tahun lalu—situasi yang seharusnya diantisipasi dengan hati-hati.

Masalahnya, pemerintah terus menunjukkan mentalitas OKB alias orang kaya baru yang gemar berbelanja secara berlebihan setiap kali mendapat rezeki nomplok. Lihatlah kondisi dua tahun terakhir, ketika belanja negara terus membengkak begitu penerimaan pajak melampaui target. Pada 2022, dari target Rp 1.485 triliun, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp 1.716,8 triliun. Setahun kemudian, realisasi penerimaan kembali melampaui target, yaitu Rp 1.718 triliun sampai Rp 1.859,2 triliun. Kinerja positif dalam dua tahun tersebut didukung oleh booming harga komoditas ekspor, seperti batu bara, nikel, dan sawit.

Ketika mendapat rezeki nomplok, pemerintah dengan percaya diri meningkatkan target belanja negara dari Rp 2.714 triliun pada 2022 menjadi Rp 3.061 triliun pada 2023. Tahun lalu, realisasinya bahkan lebih besar, yaitu Rp 3.121,9 triliun. Pada tahun ini, pemerintah kembali meningkatkan alokasi belanja menjadi sebesar Rp 3.325,1 triliun. (Yetede)

Pilihan Editor