Peternak Enggan Jual Sapi Kurban di Lapak
Satu bulan menjelang perayaan Idul Adha 2024, sejumlah peternak di Lampung mulai mendapatkan pesanan sapi untuk kebutuhan kurban. Sejumlah peternak enggan berjualan sapi di lapak-lapak karena khawatir ternaknya tertular penyakit. ”Kami belajar dari pengalaman beberapa peternak yang tahun lalu membuka lapak di beberapa kota. Sapi tidak habis terjual, malah tertular penyakit dan tidak bisa dibawa kembali ke Lampung. Jadi, sapinya terpaksa dijual murah,” kata Sarjono (52), peternak sapi asal Desa Astomulyo, Kecamatan Punggur, Lampung, Minggu (19/5). Desa Astomulyo adalah salah satu sentra peternakan sapi lokal di Kabupaten Lampung Tengah.
Terdapat puluhan warga yang membuka usaha peternakan dan penggemukan sapi berbagai jenis, seperti sapi simmental, limousin, dan brahman. Setiap peternak memiliki setidaknya 10 ekor sapi untuk dipelihara. Sapi dirawat di kandang-kandang yang ditempatkan di belakang rumah warga. Menurut dia, wabah penyakit yang menyerang hewan ternak selama empat tahun terakhir cukup masif. Selain penyakit mulut dan kuku (PMK), sapi-sapi yang dipelihara peternak juga sempat tertular penyakit kulit berbenjol (LSD). Beruntung, serangan dua penyakit tersebut mulai teratasi dengan adanya bantuan vaksin dari pemerintah.
Namun, penjualan sapi di lapak-lapak akan meningkatkan risiko penularan penyakit pada hewan ternak. Karena itu, peternak tetap menyimpan sapinya di kandang. Mereka memanfaatkan media sosial untuk menawarkan sapi. ”Kami memilih cara yang lebih aman. Jadi biar pembeli yang datang langsung ke kandang untuk melihat kondisiternaknya,” katanya. Saatini, harga jual sapi hidup di tingkat peternak berkisar Rp 48.000-Rp 60.000 per kg, bergantung pada bobot sapi. Untuk sapi dengan bobot 300 kg, harga jual sapi berkisar Rp 18 juta-Rp 22 juta, untuk yang bobotnya 400 kg, harga jual sapi berkisar Rp 25 juta-Rp 35 juta per ekor. Sarjono mengaku sudah mendapatkan banyak pes anan sapi untuk kebutuhan kurban dari wilayah Jabodetabek dan Sumatera. Namun, peternak juga harus membatasi penjualan untuk menjaga stok sapi di kandang. ”Stok sapi yang ada di desa kami untuk kebutuhan kurban ada sekitar 250 ekor,” katanya. (Yoga)
Desa Wisata Cibuntu: Indah Alamnya, Ramah Warganya
Di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jabar, pengunjung tidak hanya merasakan keindahan alamnya, tetapi juga keramahan warganya. Tidak mengherankan, daerah bekas galian C ini menjelma jadi desa wisata dan menjadi salah satu penginapan terbaik di Asia Tenggara. Wajah Kumairah (70) berseri menyambut tamu di rumahnya, di Desa Cibuntu, Rabu (1/5) pukul 17.00 WIB. Ia langsung mempersilakan mereka duduk, di atas meja tersaji biskuit dan air mineral. Kumairah pun telah menyiapkan dua tempat tidur untuk tamunya yang akan menginap. Setiap kamar bisa ditempati dua orang dewasa. Selimut dan bantal tertata rapi di ruangan 3 x 4 meter tersebut. Kamar itu terasa sejuk tanpa AC karena lokasinya di kaki Ciremai, gunung tertinggi di Jabar dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut.
Kesejukan juga datang dari keramahan pemilik rumah terhadap tamunya. Warga Cibuntu menjadikan rumahnya penginapan pada 2012, seiring penetapan Desa Wisata oleh pemkab setempat. Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti turut melatih warga menyambut tamu. ”Kami mendapat pelatihan menyambut tamu hingga menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan tamu dengan memadai dan bersih. Sekarang, kalau ada tamu, (saya) sudah biasa, enggak grogi lagi,” ucap Kumairah. Een Ratnasih (48), warga yang mengoordinasi pembagian penginapan, mengatakan, awalnya hanya ada 15 penginapan di Cibuntu. Kini, dari 200 rumah di desa, sekitar 60 rumah adalah penginapan. Di dindingnya tertulis homestay. Syarat menjadi penginapan yang penting rumahnya bersih dan penghuninya ramah. Fasilitas lainnya, ada kamar khusus tamu.
Bahkan, Homestay Teratai 3 milik Bu Narjo masuk dalam ASEAN Homestay Standard 2017-2019. Rumah singgah ini membawa Cibuntu meraih peringkat kelima terbaik di tingkat Asia Tenggara pada 2016 di bidang homestay. Penginapannya punya parkiran, pintu dan ruang tamu khusus, dan satu lantai ada lima kamar. Menariknya, warga sepakat menerapkan sistem pemerataan. Jika Bu Narjo mendapatkan tamu hari ini, pada pemesanan berikutnya giliran penginapan warga yang lainnya. Itu sebabnya, semua pengunjung yang ingin menginap harus melalui BUMDes. Harganya pun standar, Rp 250.000 per malam per kamar dengan sarapan. Selain menikmati penginapan di rumah warga, pengunjung juga bisa merasakan tidur di tenda dengan suasana alam terbuka Cibuntu.
Paket kemah ini beragam, dari Rp 200.000 hingga Rp 350.000 per orang. Di tenda terdapat bantal, selimut, tempat tidur, listrik, dan penerangan. Wisatawan bisa mengakses kolam renang di area perkemahan. ”Tenda kami bisa menampung 120 orang. Tapi, kalau mau lebih interaksi dengan warga, kami tawarkan ke homestay,” ucap Adang Sukanda, Direktur BUMDes Cibuntu. Homestay juga bisa menampung hingga 300 orang, seperti saat Cibuntu kedatangan sejumlah sekolah dari Bandung. Selain menginap, pengunjung juga bisa mengikuti tur kampung. Seperti ke Situs Bujal Dayeuh yang berisi peti kubur batu, kapak genggam, gelang, dan kelenting, yang diperkirakan berasal dari kebudayaan megalitikum, 3.500 SM. Wisatawan bisa menuju mata air kahuripan, kampong domba, hingga trekking ke Curug Gongseng, air terjun setinggi 15 meter. (Yoga)
Iim Ibrahim Lawan ”Pinjol” lewat Desa Wisata
Tangan dingin Iim Ibrahim (47) membuat BUMDes Arya Kamuning di Desa Kaduela, Kuningan, Jabar menjadi ladang rezeki warga. Kiprahnya selama empat tahun terakhir berhasil mengembangkan potensi Kaduela menjadi salah satu desa wisata terbaik di Indonesia. Matahari bersinar terik di Wisata Kolam Renang Side Land di Desa Kaduela, Rabu (1/5) siang. Di kawasan seluas 1 hektar itu, ada lima kolam renang di Side Land dengan kedalaman 50-150 cm. Ada juga perosotan menghadap terasering. Jumlah pengunjung bisa mencapai 150 orang per hari. Seperti para pengunjung yang bahagia, Iim Ibrahim juga merasakan hal yang sama. Jerih payahnya membesarkan Side Land bersama warga tidak sia-sia. Iim adalah Direktur BUMDes Arya Kamuning sejak 2020, yang mengelola dua tempat wisata, yaitu Side Land dan Telaga Biru Cicerem. Jarak keduanya 800 meter.
Kawasan Cicerem, luasnya 2,7 hektar. Mengandalkan air telaga yang biru, rata-rata pengunjung mencapai 500 per hari. Jumlahnya bisa membeludak berkali-kalilipat saat hari libur. ”Pemasukan dari Telaga Biru Cicerem dan Side Land Rp 50 juta per bulan,” katanya. Pendapatan itu memberi manfaat pada warga. Ada 12 pegawai tetap Side Land dan 35 pegawai tetap di Telaga Biru Cicerem. Tenaga lepasnya hingga 200 orang. Semuanya warga Kaduela. Pekerja lepas dibayar Rp 85.000 per hari, sedangkan pegawai tetap dibayar UMK Kuningan, Rp 2 juta. Setelah Iim terpilih menjadi Direktur BUMdes Arya Kamuning pada 2020. Ia merevitalisasi dan menambah fasilitas di Telaga Biru Cicerem, hasilnya memuaskan.
Sukses di Cicerem, Iim merintis Kolam Renang Side Land pada Maret 2021., yang memanfaatkan lahan milik desa yang terbengkalai. Tantangan ketika membangun Side Land adalah minimnya modal hingga pesimis sejumlah warga. ”Saya sampai pinjam uang menggadaikan sertifikat rumah di bank,” ujarnya. Kerja keras dan inovasi Iim membawa dampak besar bagi BUMdes Arya Kamuning dan masyarakat setempat. Kini BUMdes Arya Kamuning berkontribusi penting bagi pendapatan asli desa. ”Pada 2022, jumlahnya mencapai Rp 523 juta. Di tahun 2023, saat beragam pembangunan dilakukan, kami masih bisa menyumbang Rp 355 juta,” katanya.
Di tangan Iim, BUMDes tidak hanya memberi uang. Kehadirannya ikut membantu literasi keuangan warga. ”Sebagian warga pernah terjerat pinjaman online (pinjol) hingga rentenir. Lewat unit bisnis simpan-pinjam, kami coba melawan praktik itu,” katanya. September 2021, BUMDes Arya Kamuning mendapatkan modal awal dari pemerintah desa Rp 100 juta, yang digunakan untuk menjalankan unit usaha simpan-pinjam. BUMDes memberikan pinjaman Rp 1 juta kepada warga dengan bunga 1,5 % per bulan. Bila meminjam Rp 1 juta, warga membayar Rp 115.000 per bulan selama 10 bulan. Mulanya, hanya 10 nasabah di unit usaha ini. ”Sekarang, sudah ada 200 nasabah. Sebagian pernah terjerat pinjol dan rentenir. Sekitar Rp 250 juta bergulir di masyarakat,” ujarnya. (Yoga)
Peran Strategis Freeport
Keberadaan perusahaan tambang tembaga, PT Freeport Indonesia, sangat strategis, tidak saja bagi provinsi dan kabupaten di Papua Tengah juga bagi negara Indonesia. Selain berkontribusi langsung secara ekonomi melalui pajak dan royalti, Freeport juga memberikan dampak tidak langsung berupa penciptaan ribuan lapangan pekerjaan, serta multiplier effect lainnya. Berkat Freeport pula, Indonesia bakal memiliki pabrik atau fasilitas pengolahan dan permunian (smelter) tembaga terbesar di dunia.
Tercatat, sepanjang 2023 Freeport menyetor sekitar Rp3,35 triliun dari laba bersihnya untuk Pemerintah Provinsi Papua Tengah, kabupaten penghasil, dan kabupaten lain di provinsi Papua Tengah, yakni Kabupaten Nabire, Paniai, Puncak, Puncak Jaya, Dogiyai, Deiyai, dan Intan Jaya masing-masing mendapatkan Rp 160 miliar. Pada 2023, produksi tembaga Freeport sebanyak 1,65 miliar pound, serta 1,97 juta ounces emas. Dari kinerja operasi tersebut, PFTI berhasil mencetak laba bersih US$ 3,16 miliar atau setara Rp48,79 triliun. (Yetede)
WWF Diharapkan Sepakati Proyek Strategis Rp 150 Triliun
IHSG Berpeluang lanjutkan Tren Penguatan
Bisa Go Public, OJK Terbitkan Aturan BPR dan BPRS
Technology Decoupling dan Freindshoring
Bima Sakti Alterra Sukses Digitalisasi 100 Perusahaan Air Minum
Pacu Konektivitas, Trayek Tol Laut Tumbuh 11% Per Tahun
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengakomodasi arahan Presiden RI Joko Widodo terkait pembangunan infrastruktur transportasi berkelanjutan. Proyek-proyek tersebut meliputi peningkatan pembangunan bandara dan sektor penyebrangan, pembangunan terminal pelabuhan hingga stasiun kereta api. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pembangunan sektor transportasi menunjukkan angka pembangunan infrastruktur dan transportasi yang relatif meningkat.
Pembangunan tersebut secara umum meliputi pembangunan dan revitalisai terminal tipe A yang lebih luas dan modern, pengembangan bandara serta pelabuhan yang mampu menampung volume yang paling besar, termasuk pembaruan sistem transportasi massal seperti bus listrik, MRT, LRT, serta Kereta Api Cepat. "Kita lihat 10 tahun terakhir ini terjadi serangkaian proses pembangunan transportasi di perkotaan dan seluruh Indonesia. Semua relatif naik. Laut paling tinggi, lalu sektor perkeretaapian, bandara, serta penyebrangan," kata Budi Karya. (Yetede)









