NILAI TAMBAH NIKEL : MENDORONG PERAN PENGHILIRAN
Kesuksesan penghiliran mineral mentah di dalam negeri membuat pemerintah makin percaya diri menjadikan kebijakan tersebut sebagai salah satu andalan perekonomian nasional. Dibekali dengan sumber daya yang melimpah, target ekspor hasil penghiliran nikel terus dikerek naik. Penghiliran nikel tidak lagi sekedar upaya yang digunakan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok kendaraan listrik. Keberhasilan kebijakan tersebut menempatkannya menjadi salah satu komoditas ‘jagoan’ untuk menopang kinerja ekspor nasional. Kinerja moncer nikel dan produk turunannya bisa terlihat dari 2022 yang mencapai US$5,93 miliar, naik signifi kan dari capaian pada 2021 yang sebesar US$1,27 miliar. Bahkan, pada tahun lalu ekspor komoditas itu mencapai US$34 miliar. Kondisi tersebut sudah cukup untuk menjadi modal bagi pemerintah untuk melanjutkan kebijakan tersebut, bahkan memperluasnya kepada komoditas lain. Terlebih, Indonesia memiliki beragam kekayaan alam yang bisa diandalkan di tengah peningkatan tren kendaraan listrik.
Agus Tjahajana, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan bahwa Indonesia sedang serius-seriusnya mengembangkan rantai pasok ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir. Bahkan, sudah ada industri baterai kendaraan listrik roda empat yang beroperasi berkapasitas 10 gigawatt hour (GWh) di Karawang, Jawa Barat.Tidak hanya dimanfaatkan di dalam negeri, sembari menunggu industri turunannya terbangun, produk hasil penghiliran nikel juga diekspor ke pasar global. Dalam kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan optimistis ekspor hasil penghiliran nikel dari Indonesia bisa mencapai US$70 miliar pada 2030. Kepercayaan diri Luhut ditopang oleh tren positif ekspor hasil penghiliran nikel yang sudah berlangsung sejak ekspor bijih nikel dilarang pada 2020. “Saya percaya dengan ekosistem nikel, pada 2030 ekspor kita akan menjadi sekitar US$70 miliar,” tegasnya. Meski demikian, pemerintah juga tetap harus waspada dengan perkembangan dan persaingan global. Menariknya industri penghiliran nikel, membuat banyak pihak tertarik untuk melakukan hal serupa. Amerika Serikat (AS) dan Filipina diketahui sedang menjajaki kerja sama trilateral dengan menggandeng negara pihak ketiga untuk menyaingi penghiliran nikel di Indonesia yang saat ini banyak dilakukan oleh investor asal China.
Nantinya, Filipina bakal memasok bahan baku nikel, AS menyediakan pembiayaan, sedangkan negara pihak ketiga seperti Jepang, Australia, atau Korea Selatan bakal membawa teknologi yang diperlukan untuk pengolahan komoditas itu. “Filipina siap bermitra dengan seluruh negara yang mengupayakan keamanan energi bagi semua orang di dunia dengan prinsip rendah karbon,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Filipina Maria Antonia Yulo Loyzaga, dikutip dari Bloomberg.
Para pejabat AS mengatakan bahwa nikel menjadi sangat penting bagi dorongan Presiden Joe Biden dalam melaksanakan transisi energi. Potensi kemitraan dengan Filipina pun menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap mineral penting yang diproduksi China.
Saat ini hanya terdapat dua pabrik pengolahan nikel di Filipina. Keduanya dioperasikan oleh Nickel Asia Corp. yang sebagian dimiliki oleh Sumitomo Metal Mining Co. Jepang.
Urgensi Jaksa Agung Bukan dari Partai Politik
Peningkatan Kualitas SDM di Daerah Tambang
PT Freeport Indonesia (PTFI) selain berkontribusi nyata di bidang ekonomi, juga memiliki komimen kuat mendukung program pemerintah dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal ini tercermin dalam program pengembangan masyarakat di sektor pendidikan, kesehatan, pengembangan masyarakat, dan infrastruktur. Sejak 1992-2023, dana yang PTFI keluarkan untuk investasi sosial dalam hal pengembangan masyarakat mencapai US$ 2,1 miliar. "Pada 2023, nilai investasi sosial PTFI mencapai hampir Rp 2 triliun dan akan terus bertambah sekitar US$ 100 juta dolar AS per tahun sampai dengan 2041.
Menurut studi LPEM UI tahun 2018, operasional PTFI berkontribusi terhadap 79,27% PDRB Kabupaten Mimika dan 33% PDRB Provinsi Papua," kata EVP External Affairs PTFI Agung laksamana kepada Investor Daily. Dikatakannya PTFI adalah bagian dari Papua. Ia menerangkan komitmen PTFI adalah untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat Papua, dan secara umum tentunya berkontribusi bagi bangsa dan negara Indonesia. PTFI tidak hanya meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar, tapi juga meningkatkan kualitas SDM. (Yetede)
Menggairahkan Bursa Karbon
Sudah lebih dari enam bulan sejak peluncuran bursa karbon, namun bursa ini belum memperlihatkan perannya dalam membantu mencapai target penurunan emisi karbon nasional. Kesimpulan ini terlihat dari sepinya transaksi di bursa karbon yang berakibat tidak terjadinya proses pembentukan harga. Keberadaan bursa karbon seharusnya tidak hanya memenuhi formalitas sebatas cheklist kelengkapan terkait perangkat dalam mencapai tercapai penurunan karbon nasional.
Bursa karbon memiliki peran strategis dalam mendorong pelaku usaha (terutama pada sektor penghasil emisi karbon kelas berat) untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari aktivitas operasinya. Peran strategis tersebut dapat terpenuhi jika bursa karbon yang aktif terbentuk. Logika pembentukan bursa karbon sangatlah sederhana dan mudah dipahami. Masalah perubahan iklim yang saat ini terjadi merupakan bentuk kondisi eksternalitas. Secara sederhana eksternalitas terjadi saat pihak yang melakukan tindakan negatif tidak menanggung konsekuensi secara langsung dampak negatif dari tindakannya. (Yetede)
Jumlah BPR IPO Diperkirakan Masih Sedikit
Jokowi: Orang Tua Hanya Bisa Mendoakan
Saham Vale Indonesia Kian Berkilau
PT Vale Indoenesia Tbk (INCO) makin yakin menatap masa depan, setelah adanya kepastian divestasi 14% saham ke MIND ID, yang membuat pemerintah Indonesia akhirnya memberikan restu perpanjangan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) hingga 28 Oktober 2035. Dorongan tambahan juga datang dari harga nikel dunia yang mencapai posisi tertinggi selama setahun terakhir. Tak ayal, saham perseroan berkode INCO ini telah melesat 12,47% dalam satu pekan terakhir, dan diperkirakan berlanjut menuju Rp5.850. "Kami meningkatkan rekomondasi untuk saham INCO dari hold menjadi buy dengan target harga yang lebih tinggi di Rp 5.850," kata Analis Indo Premier Sekritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan.
Ryan mengungkapkan, harga nikel di London Metal Exchange (LME) naik menjadi US$ 21 ribu per ton, yang merupakan posisi tertinggi dalam setahun. Lonjakan harga komoditas ini disebabkan sangsi terhadap nikel Rusia dan kerusuhan sosial yang terjadi baru-baru ini di Kaledonia Baru, pemasok 2% nikel global. "Kerusuhan itu cukup menyulitkan, sehingga menurut kami harga komoditas (termasuk nikel) akan tetap kuat, karena kita berada dalam fase siklus akhir komoditas akhir, dengan nikel LME sebagai preferensi utama kami," ujar dia. (Yetede)









