;

Beni Yusana dan Qonny Ilma Nofianti Asa Baru dari Ayam Sentul

Ekonomi Yoga 21 May 2024 Kompas (H)
Beni Yusana dan Qonny Ilma Nofianti
Asa Baru dari Ayam Sentul

Beni Yusana (54) kerap jatuh bangun saat menjalani kehidupan. Namun, ternak ayam sentul Kabupaten Ciamis membangkitkannya. Kini, bersama anaknya, Qonny Ilma Nofianti (28), mereka tidak hanya berbisnis, tetapi turut melestarikan ayam khas itu. ”Di sini enggak ada ayam yang stres. Sehat,” ucap Beni saat menunjukkan puluhan ayam sentul di Qomafi Farm, Jumat (3/5). Letaknya di Desa Sukasari, Kecamatan Tambaksari, 36 km dari pusat kota Ciamis, Jabar. Dari sela-sela kandang, beberapa ayam jantan bertengger memperlihatkan dada besar yang dibalut bulu berwarna abu-abu. Ayam sentul punya modal untuk pamer. Posturnya mirip ayam petarung. Kini, ayam plasma nutfah Jabar ini dipelihara 1.200 peternak yang tersebar di 11 kabupaten.

Abah, sapaan Beni, mengenal ayam sentul seperti memahami dirinya sendiri. Ayam sentul menjadi jawaban atas jeratan utang. Keberadaannya sekaligus harapan keluarganya menghadapi masa depan. Awalnya Beni mencoba bertani dan berkebun dengan modal lahan 5.400 meter persegi dan sawah 700 meter persegi. Kelompok Tani Taruna Guna Bhakti besutannya mendapat program penanaman jagung seluas 6 hektar. ”Kami dapat penghargaan dari Pemprov Jabar hingga Tambaksari ditetapkan sebagai kecamatan jagung di Ciamis,” ucapnya. Tahun 2009, pendapatannya ia gunakan untuk beternak sapi. Kala itu, ia menginvestasikan Rp 300 juta untuk membeli puluhan sapi unggul.Tahun 2012, usahanya mandek, bahkan bangkrut.

Muncullah ide ternak ayam sentul, yang lebih murah dan daya tahannya lebih bagus. Ayam sentul merupakan turunan ayam hutan asal Ciamis yang telah didomestifikasi. Belajarlah ia ke Edi Diana, pelopor peternak ayam sentul di Ciamis. Edi memberinya dua ayam. Tiga ekor lainnya ia beli dengan harga Rp 600.000 per ekor. Kandang sapi dijadikan tempat ternak ayam. Istrinya, Teti, berjualan pakaian untuk menambah pemasukan. Setahun pertama, ia fokus pada pemeliharaan ternak untuk menghasilkan bibit yang sesuai. Dari upaya itu, ia mendapatkan 173 ekor ayam. ”Tahun 2013-2014, abah sudah bisa hasilkan DOC (anak ayam) 1.700-2.800 ekor per bulan,” katanya.

Akhirnya, perekonomian keluarganya membaik. Utang pun terbayarkan pada 2015. Namun, pada 2017, ia kena tipu. Hasil panen empat kali dengan produksi 1,4 ton ayam hilang. Uang puluhan juta rupiah hangus.  Hanya tersisa 11 ekor ayam pejantan di kandang. Titik cerah datang ketika ia mendapat bantuan bibit ayam 200 ekor dari Pemprov Jabar. Anak semata wayangnya, Qonny Ilma Nofianti, pulang kampung dari merantau di Jakarta. Dengan kreativitasnya, Qonny membawa ayam sentul ke jalur penjualan daring. Ketika banyak usaha ambruk saat pandemi Covid-19, Qonny dan abahnya justru meraup cuan. Sejumlah warga yang sebelumnya merantau seperti Qonny kini mulai pulang kampung beternak ayam. ”Anak yang pulang dari kota sekitar 49 orang. Kami fasilitasi bibit, DOC, dan bayarnya bisa setelah panen.

Rumah-rumah yang ditinggal penghuninya terisi lagi,” ujar Beni. ”Belgia saja nantangin, kalau bisa pasok 42.000 ekor per bulan, dia mau buka konsulat di Bandara Kertajati (Majalengka). Padahal, permintaan 12.000 ekor se-Jabar saja baru terealisasi 0,091 %,” ungkapnya. Bahkan, permintaan ayam sentul di tempatnya saja mencapai 1.000 ekor per hari dengan bobot 0,9-1,2 kg. Hingga kini ia dan Qonny baru bisa memenuhi 267 ekor ayam per hari. Kini, di bawah bendera Qomafi Farm, mereka memiliki 7.500 anakan, 250 induk, dan 9.800 pedaging. Permintaannya juga bertambah menjadi sekitar 150 ekor per hari dengan omzet puluhan juta rupiah. Dia bekerja sama dengan 32 mitra yang men jual karkas hingga beragam jenis kuliner. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :