;

Perlu Revitalisasi Pendidikan Vokasi

Perlu Revitalisasi
Pendidikan
Vokasi

Menjawab sulitnya Gen Z mencari kerja di sektor formal, pemerintah berdalih ada ketidaksesuaian kompetensi angkatan kerja baru dengan pasar kerja. Faktor lainnya adalah digitalisasi, tekanan ekonomi, gelombang PHK di industri manufaktur, hingga perubahan regulasi ketenagakerjaan. Menurut Menaker Ida Fauziyah, Senin (20/5) di Jakarta, pemerintah berusaha mendorong agar masalah miss match kompetensi lulusan SMA / Kejuruan dan perguruan tinggi dengan pasar kerja lekas teratasi. Salah satu solusi yang sudah ada, yaitu melakukan revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasional berorientasi dengan pasar kerja.

”Payung hukumnya adalah Perpres No 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan dan Pelatihan Vokasi. Lewat Perpres ini, Kadin kami libatkan,” kata Ida seusai mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Gen Z dengan usia 18-24 tahun yang menganggur adalah mereka yang baru lulus sekolah atau kuliah. Praktisi SDM, Samuel Ray, berpendapat, porsi penyerapan tenaga kerja di sektor formal yang cenderung naik dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya digitalisasi, tekanan ekonomi, gelombang PHK di industri manufaktur, hingga perubahan regulasi ketenagakerjaan.

Profesi-profesi baru, seperti ojek daring, creator konten, dan live streamer, muncul karena pesatnya perkembangan teknologi. ”Belakangan, lowongan karyawan tetap memang terbatas. Tren untuk membuat program management trainee seperti sepuluh tahun silam sudah tidak lagi jadi prioritas bagi korporat karena ongkos tinggi. Banyak korporat beralih mengambil program permagangan, yang mana program-program ini juga sudah difasilitasi oleh pemerintah di antaranya lewat kebijakan Kampus Merdeka,” ujarnya. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :