Perluasan Inovasi Padi Apung Terkendala Biaya Tinggi
Inovasi padi apung berhasil dikembangkan dalam skala kecil di lahan rawa pasang surut Desa Sampurna, Barito Kuala, Kalsel. Namun, pengembangannya dalam skala luas masih terkendala biaya produksi yang tinggi. Perawatannya terbilang rumit. Tanaman padi apung dengan media tanam pot plastik dan styrofoam menghijau di lahan rawa pasang surut, di samping rumah Suparlan (55), warga Desa Sampurna, Senin (20/5). Desa ini berjarak 35 km dari Banjarmasin. Ia menuturkan, padi apung yang ditanamnya itu baru berusia satu bulan. Tahun 2024 merupakan tahun keduanya mengembangkan padi apung dengan bantuan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel. Jenis padi yang ditanamnya adalah siam madu.
”Padi ini bisa panen dalam usia tiga bulan. Kalau tidak ada kendala, dalam dua bulan ke depan, Juli, sudah bisa panen,” ujar Suparlan. Pada tahun pertama uji coba padi apung di desanya, hanya Suparlan yang berhasil panen pada Mei 2023. Dari 630 rumpun padi yang ditanam menggunakan 30 lembar styrofoam berukuran 1 x 2 meter, Suparlan dapat 12 kaleng padi atau 240 kg. ”Kalau sebagian hasilnya tidak dijual, hasil panen padi apung tahun lalu itu cukup untuk makan kami bertiga di rumah selama setahun,” katanya. Namun, karena hasil panennya sangat bagus, banyak petani setempat yang meminta agar Suparlan menjualnya sebagai benih. ”Hasil panen padi apung tahun lalu itu setara hasil panen padi di sawah 2 borong (340 meter persegi),” ujarnya.
Menurut Suparlan, padi apung cocok dikembangkan di lahan rawa pasang surut setelah dirinya dan banyak petani di desanya kerap gagal panen pascabanjir besar di Kalsel tahun 2021. Namun, pengembangannya saat ini terkendala biaya besar di awal, khususnya untuk media tanam. ”Saya terbantu karena sudah dua tahun ini mendapat bantuan media tanam dari pemerintah. Tahun ini, saya menggunakan 76 lembar styrofoam dengan lebih dari 1.500 pot padi apung,” ucapnya. Meskipun modal awal besar, Suparlan menyebut biaya perawatan padi apung lebih ekonomis dibandingkan perawatan padi di sawah. Hal itu karena tanaman padi apung tidak membutuhkan banyak pupuk dan pestisida. (Yoga)
Beni Yusana dan Qonny Ilma Nofianti Asa Baru dari Ayam Sentul
Beni Yusana (54) kerap jatuh bangun saat menjalani kehidupan. Namun, ternak ayam sentul Kabupaten Ciamis membangkitkannya. Kini, bersama anaknya, Qonny Ilma Nofianti (28), mereka tidak hanya berbisnis, tetapi turut melestarikan ayam khas itu. ”Di sini enggak ada ayam yang stres. Sehat,” ucap Beni saat menunjukkan puluhan ayam sentul di Qomafi Farm, Jumat (3/5). Letaknya di Desa Sukasari, Kecamatan Tambaksari, 36 km dari pusat kota Ciamis, Jabar. Dari sela-sela kandang, beberapa ayam jantan bertengger memperlihatkan dada besar yang dibalut bulu berwarna abu-abu. Ayam sentul punya modal untuk pamer. Posturnya mirip ayam petarung. Kini, ayam plasma nutfah Jabar ini dipelihara 1.200 peternak yang tersebar di 11 kabupaten.
Abah, sapaan Beni, mengenal ayam sentul seperti memahami dirinya sendiri. Ayam sentul menjadi jawaban atas jeratan utang. Keberadaannya sekaligus harapan keluarganya menghadapi masa depan. Awalnya Beni mencoba bertani dan berkebun dengan modal lahan 5.400 meter persegi dan sawah 700 meter persegi. Kelompok Tani Taruna Guna Bhakti besutannya mendapat program penanaman jagung seluas 6 hektar. ”Kami dapat penghargaan dari Pemprov Jabar hingga Tambaksari ditetapkan sebagai kecamatan jagung di Ciamis,” ucapnya. Tahun 2009, pendapatannya ia gunakan untuk beternak sapi. Kala itu, ia menginvestasikan Rp 300 juta untuk membeli puluhan sapi unggul.Tahun 2012, usahanya mandek, bahkan bangkrut.
Muncullah ide ternak ayam sentul, yang lebih murah dan daya tahannya lebih bagus. Ayam sentul merupakan turunan ayam hutan asal Ciamis yang telah didomestifikasi. Belajarlah ia ke Edi Diana, pelopor peternak ayam sentul di Ciamis. Edi memberinya dua ayam. Tiga ekor lainnya ia beli dengan harga Rp 600.000 per ekor. Kandang sapi dijadikan tempat ternak ayam. Istrinya, Teti, berjualan pakaian untuk menambah pemasukan. Setahun pertama, ia fokus pada pemeliharaan ternak untuk menghasilkan bibit yang sesuai. Dari upaya itu, ia mendapatkan 173 ekor ayam. ”Tahun 2013-2014, abah sudah bisa hasilkan DOC (anak ayam) 1.700-2.800 ekor per bulan,” katanya.
Akhirnya, perekonomian keluarganya membaik. Utang pun terbayarkan pada 2015. Namun, pada 2017, ia kena tipu. Hasil panen empat kali dengan produksi 1,4 ton ayam hilang. Uang puluhan juta rupiah hangus. Hanya tersisa 11 ekor ayam pejantan di kandang. Titik cerah datang ketika ia mendapat bantuan bibit ayam 200 ekor dari Pemprov Jabar. Anak semata wayangnya, Qonny Ilma Nofianti, pulang kampung dari merantau di Jakarta. Dengan kreativitasnya, Qonny membawa ayam sentul ke jalur penjualan daring. Ketika banyak usaha ambruk saat pandemi Covid-19, Qonny dan abahnya justru meraup cuan. Sejumlah warga yang sebelumnya merantau seperti Qonny kini mulai pulang kampung beternak ayam. ”Anak yang pulang dari kota sekitar 49 orang. Kami fasilitasi bibit, DOC, dan bayarnya bisa setelah panen.
Rumah-rumah yang ditinggal penghuninya terisi lagi,” ujar Beni. ”Belgia saja nantangin, kalau bisa pasok 42.000 ekor per bulan, dia mau buka konsulat di Bandara Kertajati (Majalengka). Padahal, permintaan 12.000 ekor se-Jabar saja baru terealisasi 0,091 %,” ungkapnya. Bahkan, permintaan ayam sentul di tempatnya saja mencapai 1.000 ekor per hari dengan bobot 0,9-1,2 kg. Hingga kini ia dan Qonny baru bisa memenuhi 267 ekor ayam per hari. Kini, di bawah bendera Qomafi Farm, mereka memiliki 7.500 anakan, 250 induk, dan 9.800 pedaging. Permintaannya juga bertambah menjadi sekitar 150 ekor per hari dengan omzet puluhan juta rupiah. Dia bekerja sama dengan 32 mitra yang men jual karkas hingga beragam jenis kuliner. (Yoga)
Menuai Hasil Investasi Besar Saham Freeport
Neraca Pembayaran Defisit US$ 6 Miliar
Bank Indonesia (BI) mencatat neraca pembayaran Indonesia (NP) pada kuartal I 2024 defisit sebesar US$ 6 miliar. Defisit ini dinilai tetap rendah meskipun ekonomi global melambat. Di sisi lain transaksi modal dan finansial mencatat defisit yang terkendali akibat peningkatan ketidakpastian di pasar keuangan global. Asisten Gubernur Bank Indonesia Erwin Haryono dalam keterangan resminya, Senin (20/5/2024) menyampaikan, cadangan devisa pada akhir maret 2024 tetap tinggi di angka US$ 140,4 miliar.
Nilai tersebut setara dengan pembiayaan impor selama 6,2 bulan dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Sementara itu, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar US$ 2,2 miliar (0,6% dari PDB), lebih tinggi dibandingkan defisit US$ 1,1 miliar dolar AS (0,3% dari PDB) pada kuartal IV 2023. Neraca perdagangan nonmigas masih membukukan surplus, meskipun lebih rendah dari triwulan sebelumnya akibat penurunan kinerja ekspor non migas sesuai dengan perlambatan ekonomi global. (Yetede)
Kenaikan Biaya Dana Tekan Profitabilitas Perbankan
OJK mencatat adanya kontraksi pertumbuhan profitabilitas perbankan. Di mana per Februari 2024 laba bersih perbankan nasional sebesar Rp39,36 triliun, terkoreksi 1,77% dibandingkan dari periode Februari 2023 sebesar Rp40,07 triliun. Kepala Ekskutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, penurunan laba tersebut terlihat karena biaya dana perbankan yang mengalami tren peningkatan. "Meningkatnya dana biaya yang tidak diimbangi dengan peningkatan suku bunga kredit. Namun demikian, ROA (return on aset) dan NIM (net interest margin) masih tergolong cukup tinggi," ujar Dian.
Adapun ROA perbankan per Maret 2024 berada di level 2,62%, angka ini lebih rendah dibandingkan posisi tahun lalu di angka 2,77%. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh penurunan NIM dari sebesar 4,77% pada Maret 2023 menjadi 4,59% per Maret 2023 menjadi 4,59% per Maret 2024. Menurunnya NIM perbankan lantaran bank menahan suku bunga kreditnya yang berdampak pada profitabilitas perbankan yang akan ada dalam tren melambat. (Yetede)
Harapan Baru Emiten Batu Bara
Hasil kinerja emiten batu bara yang kurang memuaskan pada kuartal I-2024, menurunkan minat investor terhadap sahamnya. Meski demikian, ekspektasi membaiknya harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan peningkatan volume produksi, membawa harapan baru terhadap kinerja emiten emas hitam tersebut di kuartal dua ini. Hal itu pula yang tampaknya telah dilihat sebagai pelaku pasar, yang terbukti dari harga saham sejumlah emiten batu bara mulai beranjak naik.
Hasil kinerja emiten produsen batu bara pada kuartal I-2024 relatif beragam, meskipun ASP lebih baik dari asumsi kami. Kami melihat potensi pemulihan volume penjualan di kuartal II-2024," kata Analis Indo Premier Sekuritas Reggie Parengkuan dan Ryan Winipta dalam riset terbarunya, Senin (20/5.2025). Dalam catatan reggie dan Ryan, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) mempu mencatatkan kinerja di atas konsensus masing-masing 37% dan 27% terhadap estimasi sepanjang 2024. (Yetede)
Butuh Komitmen Bersama Atasi Air dan Sanitasi
Presiden RI Jokowi menyatakan persoalan air dan sanitasi akan semakin berat di masa mendatang. Untuk itu dibutuhkan komitmen bersama dalam pengolahan air yang inklusif dan berkelanjutan. Presiden mengungkapkan bahwa 72% permukaan bumi tertutup dan hanya 1% yang bisa diakses sebagai air minum dan keperluan sanitasi. Kekhawatiran ini akan berdampak pada pertanian. "Di tahun 2050, 500 juta petani kecil sebagai penyumbang 80% pangan dunia di prediksi paling rentan mengalami kekeringan. Tanpa air tidak ada makanan, tidak ada perdamaian, tidak ada kehidupan.
No water no life, no growth," kata Jokowi. Presiden berharap dengan diadakannya Forum Air Sedunia ini dapat memperkuat komitmen kolaborasi antar negara dalam mengatasi masalah terkait air. "Indonesia berharap dunia dapat saling bergandengan tangan secara berkesinambungan untuk dapat memperkuat komitmen kolaborasi dalam mengatasi tantangan global terkait air. Let's preserve our water today for shared prosperity tomorrow," jelasnya(Yetede)









