ALARM KETAHANAN EKONOMI
Soal ketahanan ekonomi nasional, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) masih memiliki pekerjaan rumah yang tidak mudah. Pasalnya, rambatan ekonomi di negara mitra dagang dan ketidakpastian di pasar keuangan mendorong neraca transaksi berjalan serta transaksi modal dan finansial defisit pada kuartal I/2024. Secara terperinci, transaksi berjalan terpantau defisit US$2,2 miliar yang dipicu oleh jebloknya kinerja ekspor nonmigas yang terpukul pelambatan ekonomi global, terkhusus ekonomi di negara mitra niaga utama. Adapun, transaksi modal dan finansial defisit US$2,3 miliar lantaran derasnya modal asing yang keluar (capital outflow) di pasar surat utang domestik, yang juga tersengat ketidakpastian dunia.Tak ayal, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I/2024 defisit US$6 miliar. Kondisi ini berbalik dibandingkan dengan kuartal IV/2023 yang eksis di area surplus. Neraca transaksi berjalan diukur dari kinerja ekspor, lalu lintas devisa, serta lalu lintas jasa. Sementara itu, neraca transaksi modal dan finansial mencakup investasi portofolio dan investasi langsung. Defisit NPI pun patut dijadikan alarm bagi pemangku kebijakan. Sebab apabila tak direspons cepat, maka rupiah melemah, inflasi meningkat, dan pada ujungnya bank sentral harus mendorong suku bunga acuan naik lebih tinggi. Jika dicermati, kans bagi otoritas moneter dan pemerintah untuk menciptakan stabilitas NPI tak bisa dibilang mudah. Dalam konteks neraca transaksi berjalan, kinerja ekspor diekspektasikan cukup tertekan sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, transaksi modal dan finansial dihadapkan pada tren capital outfl ow akibat adanya perubahan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan oleh pelaku pasar. Tak pelak, stabilitas pasar keuangan masih amat bergantung pada investor domestik. Baik pemerintah maupun otoritas moneter pun bukannya abai dengan kondisi ini. Meski mayoritas penekan bersumber dari eksternal, kuda-kuda tetap disiagakan dalam guna stabilitas pasar keuangan dan ketahanan eksternal. Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan bank sentral terus mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi NPI. Dalam kaitan neraca transaksi berjalan, BI memperkirakan masih defi sit sekitar 0,1%—0,9% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini. Perihal performa NPI yang mengkhawatirkan, pemerintah juga telah menyiapkan siasat terutama dalam memperkuat neraca transaksi berjalan. Strategi yang dilakukan adalah memacu investasi pada sektor yang berorientasi ekspor. Di antaranya penghiliran yang mendukung rantai pasok kendaraan listrik, energi terbarukan, serta pengembangan industri teknologi tinggi.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu, mengatakan prioritas kebijakan untuk mendukung NPI adalah memprioritaskan pengembangan industri penghiliran.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan eksportir sejatinya telah berupaya memacu kinerja dagang di tengah kondisi ekonomi global yang melambat dan permintaan ekspor yang tertahan. Di antaranya mengupayakan diversifikasi pasar, khususnya eksportir besar yang memiliki modal lebih untuk mengeksplorasi pasar nontradisional. "Tetapi kesuksesannya terbatas karena pelaku usaha yang bisa proaktif menciptakan upaya tersebut secara mandiri juga sangat terbatas," katanya.
Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira mengatakan defisit NPI mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah, karena makin lebar defisit makin besar pula kebutuhan valuta asing (valas).
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023