Ratusan Daerah Terancam Terlambat Dapatkan Pupuk Subsidi Tahap Kedua
Ratusan daerah, termasuk sentra-sentra beras nasional, terancam terlambat mendapatkan pupuk subsidi tahap kedua. Alokasi awal atau tahap pertama pupuk subsidi di daerah-daerah tersebut telah dan akan habis pada Juli 2024. Penyaluran tahap kedua atau setelah ada penambahan anggaran subsidi pupuk masih belum dapat dilakukan lantaran masih menunggu pencairan dana dari Kemenkeu. Jika problem itu tak segera diatasi, produksi beras nasional tahun ini bisa terhambat. Masalah itu mengemuka dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta, Senin (15/7) dan dipimpin Mendagri Tito Karnavian.
Dirut PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi mengatakan, tahun ini, alokasi pupuk subsidi bertambah dari 4,7 juta ton menjadi 9,55 juta ton. Per 12 Juli 2024, realisasi penyalurannya baru 3,41 juta ton atau 35,7 % dari total alokasi pupuk subsidi. ”Namun, jika mengacu pada alokasi awal, yakni 4,7 juta ton, realisasi penyalurannya sudah 65,2 %. Tanpa ada tambahan alokasi menjadi 9,55 juta ton, kuota awal pupuk subsidi itu bakal habis pada Agustus 2024,” ujarnya. Dalam rapat tersebut terungkap bahwa pengadaan dan penyaluran tambahan alokasi pupuk subsidi tengah terkendala dana. Meski telah disetujui parlemen dan pemerintah, Kemenkeu belum mencairkan dana tambahan subsidi pupuk.
Hal itu menyebabkan ratusan daerah yang sudah dan akan kehabisan pupuk subsidi pada Juli 2024 berpotensi terlambat mendapatkan pupuk. Pupuk Indonesia baru bisa menyalurkan kembali jika dana tambahan itu sudah dicairkan. Rahmad menjelaskan, ada 478 kabupaten penerima alokasi awal pupuk NPK dan urea bersubsidi. Untuk pupuk NPK, 32 kabupaten telah kehabisan alokasi awal dan 88 kabupaten akan kehabisan alokasi pada akhir Juli 2024. Untuk urea, ada 12 kabupaten yang kehabisan alokasi awal pupuk tersebut. Selain itu, ada 71 kabupaten yang bakal kehabisan alokasi pada akhir Juli 2024. ”Sembari menunggu dana tambahan cair, kami usulkan untuk merealokasi pupuk subsidi dari daerah lain. Namun, harus disertai dasar hukum yang kuat,” ucap Rahmad. (Yoga)
Tren Pertumbuhan Positif IHSG Belum Diiringi Kenaikan Kinerja Sektor Konsumen
Indeks Harga Saham Gabungan telah terpompa ke level 7.200-7.300 dalam sebulan terakhir dari level 6.700. Namun, pertumbuhan indeks belum diikuti perbaikan kinerja saham sektor konsumen. Per Senin (15/7) IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup pada level 7.278,863. Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memprediksi, dengan kondisi pasar saat ini, IHSG akan menguji area psikologisnya di area 7.369-7.403 selama pecan ini. ”Jika data sepekan ke depan sesuai ekspektasi pasar, ada kemungkinan IHSG akan menembus area psikologis tersebut dan akan menguji level berikutnya di 7.454,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin. Tren dan prediksi pertumbuhan IHSG, menurut dia, ditopang sentimen kebijakan suku bunga, khususnya dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan CME FedWatch, yang mengukur tingkat kemungkinan penurunan suku bunga oleh The Fed, 86,4 % responden optimistis The Fed mulai akan memangkas suku bunganya pada September 2024, meningkat dibanding beberapa hari sebelumnya yang hanya 70 %. Hal ini didasarkan pada inflasi tahunan AS yang turun ke level 3 % secara tahunan pada Juni 2024. Tingkat inflasi ini sudah turun tiga bulan berturut-turut dan terendah sejak Juli 2023. Dari sisi inflasi inti, yang tidak memperhitungkan variabel energi dan makanan, juga mengalami penurunan ke level 3,3 %, terendah selama tiga tahun terakhir.
Menurut analis Mirae Asset Sekuritas, Abyan Yuntoharjo, dalam laporannya, sektor konsumen sebenarnya masih menghadapi banyak kendala. ”Perusahaan konsumen nonsiklikal (consumer non-cyclical/barang konsumen primer menghadapi lingkungan yang menantang dengan prospek pertumbuhan yang terbatas. Meskipun ada peristiwa besar, sebagian besar perusahaan di sektor ini berkinerja buruk,” kata Abyan. Sektor konsumen siklikal, yang menyangkut produk selain kebutuhan primer, juga masih mengalami perlambatan karena harga bahan baku yang tidak stabil dan rupiah yang melemah. (Yoga)









