;

Megap-megap Penerimaan Pajak

Megap-megap Penerimaan Pajak
MELESETNYA penerimaan pajak pada semester pertama tahun ini menjadi alarm bahaya bagi pemerintah. Perlu ada langkah mitigasi untuk menekan pelebaran defisit anggaran dengan cara menggenjot diversifikasi penerimaan nonpajak. Penerimaan pajak pada paruh pertama tahun ini hanya Rp 893,8 triliun atau 44,9 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2024 sebesar Rp 1.988,9 triliun. Perolehan itu turun 7,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, yang sebesar Rp 970,2 triliun atau 56,5 persen dari target Rp 1.718 triliun.

Kontraksi yang cukup dalam ini sekaligus mengakhiri “bulan madu” penerimaan pajak yang selalu positif sepanjang tiga tahun terakhir, dari 2021 hingga 2023. Penyebab utama anjloknya penerimaan pajak kali ini adalah penurunan harga komoditas, seperti minyak sawit mentah (CPO) dan batu bara, yang menuju level normal. Ini bisa terlihat dari jebloknya penerimaan pajak penghasilan (PPh) badan yang mencapai 34,5 persen.  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mesti mengambil sejumlah langkah strategis guna mengerem dampak buruk dari melesetnya penerimaan pajak. Bila tidak segera ditanggulangi, bahaya lebih besar akan datang, yaitu defisit anggaran yang membesar dan membuat kondisi fiskal tak sehat. 

Apalagi tren ekonomi global masih tidak kondusif, terlihat dari kurs rupiah yang masih melemah dan tak sedikit yang memprediksi kondisinya belum akan membaik hingga tahun depan. Saat ini nilai tukar rupiah berada di kisaran 16.200 per dolar Amerika Serikat atau melampaui target asumsi makro APBN 2024 di angka 15.000 per dolar. Laju inflasi di angka 2,5 persen kian mendekati target pemerintah di angka 2,8 persen dan daya beli masyarakat yang belum benar-benar pulih juga harus jadi perhatian serius pemerintah. (Yetede)
Tags :
#Pajak
Download Aplikasi Labirin :