Tarif Trump Bikin Komoditas Global Goyah
Penerimaan Pajak LTO Masih Kedodoran
Erajaya Makin Kinclong Berkat iPhone 16
Bisnis Bank Digital Cetak Laba Tinggi
Strategi Baru di Tengah Kredit yang Lesu
Bank Indonesia (BI) merevisi target pertumbuhan kredit tahun 2025 dari proyeksi awal 11%–13% menjadi hanya 8%–11% akibat kondisi makroekonomi yang melemah dan perlambatan penyaluran kredit. Meski demikian, mayoritas bank tidak langsung mengubah rencana bisnis bank (RBB) mereka karena telah mengantisipasi situasi ini sejak awal tahun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka ruang bagi revisi RBB pada pertengahan tahun jika diperlukan.
Beberapa bank seperti CIMB Niaga dan Bank Tabungan Negara memilih pendekatan konservatif dengan menurunkan target pertumbuhan kredit atau mempertahankan target tahun sebelumnya, sambil mengoptimalkan sumber pendapatan nonbunga dan menegakkan prinsip “liquidity first” karena persaingan dana pihak ketiga yang ketat. Sementara itu, Citibank Indonesia berencana melakukan penyesuaian RBB pada akhir Juni 2025 untuk menyesuaikan target kredit berdasarkan kinerja ekonomi kuartal I dan II.
Dalam menghadapi perlambatan kredit dan likuiditas, BI juga menurunkan suku bunga acuan dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memangkas tingkat suku bunga penjaminan simpanan guna mengurangi biaya dana perbankan dan melonggarkan persaingan likuiditas. Meski kompetisi dana tetap ada, terutama jika bank menargetkan pertumbuhan kredit tinggi, persaingan tersebut diperkirakan masih dalam tingkat yang terkendali (manageable).
Secara keseluruhan, langkah BI merevisi target kredit disikapi dengan hati-hati oleh industri perbankan yang lebih fokus pada konservatisme, efisiensi biaya, dan diversifikasi sumber pendapatan di tengah tantangan ekonomi saat ini.
Bank Kembali Dorong Kredit Meski Lambat
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk memangkas target pertumbuhan penyaluran kredit tahun 2025 menjadi rentang 8% hingga 11%, lebih rendah dibandingkan proyeksi awal sebesar 11%—13%. Penurunan target ini disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan kredit perbankan yang tercatat hanya 8,88% secara tahunan hingga April 2025, seiring dengan pelambatan pertumbuhan ekonomi domestik yang mencapai 4,87% pada kuartal I/2025.
Kondisi ekonomi yang lesu membuat bank-bank cenderung berhati-hati dalam menyalurkan kredit, terutama kredit modal kerja yang tumbuh rendah, menandakan pengurangan aktivitas produksi korporasi. Meskipun kredit investasi masih tumbuh dua digit, manfaatnya bersifat jangka panjang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih mempertahankan target kredit sekitar 9%—11% dan memberikan kesempatan revisi target di tengah tahun mengikuti dinamika ekonomi.
BI telah menurunkan suku bunga acuan untuk merangsang pertumbuhan, namun efek stimulus moneter diperkirakan baru akan terasa pada tahun berikutnya. Di sisi lain, tanpa dukungan stimulus fiskal yang kuat dan efektif, pertumbuhan kredit sebagai penggerak utama perekonomian sulit didorong. Stimulus fiskal diharapkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat dan kapasitas produksi, bukan sekadar insentif sementara seperti diskon listrik.
Jika bank ‘dipaksa’ menyalurkan kredit dalam kondisi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya pasca-Covid-19, risiko memburuknya kualitas aset perbankan akan meningkat. Oleh karena itu, keputusan BI memangkas target kredit adalah langkah prudensial untuk menjaga stabilitas perbankan di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.
PLTU Pensiun Dini Masih Simpang Siur
Rencana pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara yang sempat digagas pada era Presiden Joko Widodo masih belum terwujud dalam RUPTL PLN 2025–2034. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah bersedia menghentikan operasional PLTU, namun realisasinya sangat bergantung pada dukungan pendanaan yang hingga kini belum tersedia, terutama dari lembaga keuangan dengan bunga rendah. Tanpa pendanaan tersebut, penghentian PLTU justru bisa menjadi beban bagi negara dan masyarakat.
Sementara itu, pemerintah masih merencanakan pembangunan PLTU baru sebesar 6,3 GW, meski sudah ada Peraturan Menteri ESDM No. 10/2025 tentang peta jalan transisi energi menuju net-zero emission pada 2060. Pensiun dini PLTU hanya dapat dilakukan jika didahului dengan kajian teknis, hukum, dan komersial oleh PLN atas penugasan Menteri.
Anggota DPR Ramson Siagian menilai pemerintah kemungkinan hanya akan melakukan phase down PLTU secara bertahap demi menjaga ketahanan energi. Sedangkan Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira mengkritik pemerintah karena tetap membiarkan PLTU yang merugikan negara beroperasi dan lebih fokus pada solusi semu seperti co-firing.
Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa mengingatkan Menteri Bahlil untuk memastikan kelanjutan implementasi Just Energy Transition Partnership (JETP), menjaga komitmen internasional, dan mempercepat transisi energi dengan menyiapkan proyek energi terbarukan yang layak didanai.
Secara keseluruhan, ketidakjelasan dana dan kebijakan yang belum konsisten menjadi kendala utama dalam pelaksanaan pensiun dini PLTU, meskipun komitmen transisi energi terus digaungkan.
Kejagung Lelang Aset, Total Capai Rp4,5 Miliar
Kejaksaan Agung melalui Kepala Pusat Penerangan Hukum Harli Siregar telah berhasil melelang tiga bidang tanah milik terpidana korupsi Benny Tjokrosaputro di Desa Muncung, Tangerang, Banten, dengan total nilai penjualan sebesar Rp4,54 miliar. Lelang dilakukan melalui KPKNL Tangerang I lewat situs resmi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara.
Harli Siregar menegaskan bahwa seluruh hasil lelang tersebut telah disetor ke kas negara sebagai bagian dari pemulihan kerugian negara akibat kasus korupsi yang melibatkan Benny Tjokro, yang merupakan terpidana dalam dua skandal besar, yakni Jiwasraya dan Asabri.
Langkah ini mencerminkan komitmen Kejaksaan Agung dalam menindaklanjuti eksekusi aset hasil tindak pidana korupsi serta memperkuat upaya penegakan hukum dan pemulihan keuangan negara.
Daya Beli Disokong Stimulus, Tapi Belum Stabil
Pemerintah Bahas Pajak Kekayaan untuk Keadilan Fiskal
Pilihan Editor
-
Warga Asing Bisa Punya Hak Milik Apartemen
08 Oct 2020 -
Jalan Berliku Energi Ramah Lingkungan
25 Sep 2020 -
Membaik, Belanja Iklan Tembus RP 122 T
27 Aug 2020









