Menunggu Realisasi Kesepakatan RI-Prancis US$ 11 Miliar
Dividen Jumbo Perusahaan Gas Negara
Laba BTN Tembus Rp 1 Triliun
Suzuki Investasi Rp 1 T
Tekan Biaya Logistik untuk Kebijakan Zero ODOL
Duel Big Tech AS Serok Pasar Cloud RI
Dividen BUMN Jadi Mesin Pendorong Ekonomi
Pembagian dividen jumbo oleh sejumlah emiten BUMN seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), dan PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR) menjadi sentimen kuat yang diperkirakan akan mendongkrak kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek serta membuka peluang cuan bagi investor.
Tokoh seperti Fath Aliansyah Budiman dari Maybank Sekuritas dan Felix Darmawan dari Panin Sekuritas menilai bahwa pembagian dividen tersebut mencerminkan kinerja keuangan yang sehat dan fundamental perusahaan yang solid. Hal ini juga memicu optimisme di kalangan investor, termasuk terhadap saham-saham BUMN perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BBNI.
IDX BUMN20 pun tercatat tampil paling kinclong dibandingkan indeks utama lainnya, tumbuh 11,37% dalam sebulan terakhir, menandakan bahwa saham-saham BUMN saat ini semakin prospektif. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset dan Indy Naila dari Provina Visindo juga menyoroti bahwa momentum ini memberi peluang besar tidak hanya dari capital gain, tetapi juga dari hasil dividen.
Selain menguntungkan investor, kebijakan dividen jumbo ini turut memperkuat peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai sovereign wealth fund baru yang akan mengelola dan menginvestasikan kembali dana dari dividen BUMN, menciptakan siklus positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Tokoh dari kalangan emiten, seperti Arsal Ismail (Direktur Utama PTBA) dan Nicolas D. Kanter (Direktur Utama ANTM), juga menegaskan bahwa pembagian dividen merupakan bentuk tanggung jawab kepada pemegang saham sekaligus strategi berkelanjutan yang mempertimbangkan tantangan jangka panjang seperti net zero emission dan perubahan iklim ekonomi global.
Dengan demikian, dividen jumbo BUMN saat ini bukan sekadar distribusi laba, tetapi menjadi instrumen strategis yang memperkuat pasar modal domestik, mendukung fiskal negara melalui Danantara, serta menjadi daya tarik investasi, baik bagi investor lokal maupun asing.
Kolaborasi BUMN dan Fiskal Kunci Pemulihan
Musim dividen tahun ini menampilkan semangat baru, terutama dari emiten BUMN, dengan pembagian dividen jumbo yang mencerminkan soliditas fundamental dan kesehatan arus kas perusahaan. PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) menjadi sorotan utama setelah mengumumkan dividen besar, masing-masing sebesar Rp21,04 triliun (89% dari laba bersih) dan Rp4,4 triliun (80%), menyusul tren serupa dari bank-bank Himbara.
Kebijakan dividen ini langsung berdampak positif terhadap pasar saham, dengan kenaikan signifikan pada saham-saham BUMN seperti BBRI, BBNI, TLKM, dan PGAS. Menurut artikel ini, pasar merespons dengan optimisme karena melihat sinyal keberlanjutan bisnis dan tata kelola yang sehat.
Lebih jauh, pemerintah memanfaatkan sebagian dana dividen untuk memperkuat modal awal Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), sebuah sovereign wealth fund baru. Hal ini, menurut pandangan media dan pelaku pasar, menunjukkan adanya sinergi antara strategi korporasi BUMN dan kebijakan fiskal nasional, yang berpotensi menjadi motor penggerak reformasi korporasi sekaligus memperkuat struktur pasar keuangan domestik.
Kebijakan ini mendapat dukungan dari tokoh Agus Harimurti Yudhoyono selaku pejabat pemerintah di bidang infrastruktur dan pengelolaan aset strategis negara, serta sinyal dukungan dari Presiden Prabowo Subianto dalam konteks pembangunan nasional jangka panjang melalui penguatan institusi keuangan negara.
Namun, tantangan seperti fluktuasi harga komoditas, risiko geopolitik, dan kebutuhan transformasi energi tetap harus diantisipasi. Oleh karena itu, strategi dividen yang berkelanjutan harus disertai dengan penguatan fundamental perusahaan—baik melalui efisiensi, digitalisasi, maupun diversifikasi.
Dengan tata kelola yang transparan dan kebijakan yang konsisten, dividen bukan hanya menjadi sarana distribusi keuntungan, tetapi instrumen strategis untuk membangun kepercayaan pasar dan daya saing ekonomi Indonesia di mata investor, baik lokal maupun global.
Proyek Tanggul Raksasa Dibuka untuk Investor Asing
Pemerintah akan menawarkan proyek pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall) kepada investor dalam ajang International Conference on Infrastructure (ICI) pada 11–12 Juni 2025. Proyek ini telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Perpres No. 12/2025 dalam RPJMN 2025–2029.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menegaskan bahwa proyek giant sea wall merupakan mega proyek jangka panjang yang memerlukan pendanaan kredibel, signifikan, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pemerintah tengah menyusun skema pendanaan yang tidak hanya menarik bagi investor, tetapi juga menjamin keuntungan bagi mereka.
Presiden Prabowo Subianto turut menegaskan komitmennya untuk segera memulai pembangunan proyek yang akan membentang dari Banten hingga Gresik tersebut. Ia juga memberi kepercayaan penuh kepada Agus Harimurti Yudhoyono untuk mengoordinasikan pembangunan giant sea wall sebagai salah satu tugas strategis dan berat di pundaknya.
Dengan kombinasi komitmen politik dan upaya menarik investor global, proyek ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi ancaman banjir rob dan perubahan iklim di wilayah Pantai Utara Jawa, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui pembangunan infrastruktur berskala besar.
KPK Siap Monetisasi Barang Sitaan Lewat Lelang Massal
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menggelar lelang serentak barang rampasan dari tindak pidana korupsi sebagai upaya untuk memaksimalkan setoran ke kas negara. Sepanjang Januari hingga Maret 2025, hasil lelang yang berhasil disetorkan telah mencapai Rp53 miliar.
Menurut Mungki Hadipratikto, Direktur Pelacakan Aset, Pengelolaan Barang Bukti dan Eksekusi KPK, masih ada sejumlah barang rampasan yang belum terjual, terutama properti mewah dan aset bernilai tinggi seperti unit apartemen eksklusif dan tanah di kawasan strategis Jakarta. KPK telah mengevaluasi kendala yang menghambat penjualan tersebut, di antaranya harga limit lelang yang terlalu tinggi dan minimnya informasi yang diterima calon peserta.
Sebagai respons, KPK kini tengah berupaya menurunkan nilai limit harga agar lebih kompetitif dan dapat menarik minat pasar. Langkah ini merupakan bentuk adaptasi strategi KPK dalam mempercepat proses pemulihan aset hasil kejahatan korupsi sekaligus meningkatkan penerimaan negara.
Inisiatif lelang serentak ini tidak hanya menunjukkan keseriusan KPK dalam mengoptimalkan pengembalian kerugian negara, tetapi juga menggambarkan pentingnya transparansi dan efisiensi dalam pengelolaan barang rampasan negara.
Pilihan Editor
-
Ekspor Perikanan Rp 72,8 T
10 Feb 2021 -
China Masih Dominasi Ekspor Impor RI
16 Feb 2021 -
Ekspor Pertanian Rp 451 T
09 Feb 2021









