Perbankan Syariah Memiliki Kinerja Lebih Tinggi
Hingga semester I-2024, sejumlah perbankan syariah mencatat kinerja lebih tinggi dibanding perbankan nasional, baik dari sisi aset, pembiayaan, maupun dana pihak ketiga. Hal ini, didukung upaya menjaga kualitas pembiayaan dengan menyasar sektor-sektor tertentu, menghimpun dana murah, dan optimalisasi teknologi di tengah tantangan ekonomi global. Mengutip data OJK, industri perbankan syariah pada Juni 2024 mencatat pertumbuhan pembiayaan sebesar 13,58 % secara tahunan, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) 10,41 %, serta pertumbuhan aset 9,07 %.
Sementara, aset perbankan nasional tumbuh 8,96 %, dengan pertumbuhan kredit 12,24 %, serta pertumbuhan DPK 8,43 %. Direut PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mengatakan, data tersebut menunjukkan industri perbankan syariah tumbuh lebih baik dibandingkan industri perbankan secara nasional. Salah satunya dialami BSI dengan mencetak laba bersih pada semester I-2024 sebesar Rp 3,39 triliun atau tumbuh 20,2 % secara tahunan. Capaian tersebut ditopang oleh fungsi intermediasi BSI, yakni penyaluran pembiayaan sebesar Rp 256,77 triliun atau tumbuh 15,99 % secara tahunan dan penghimpunan DPK sebesar Rp 296,69 triliun atau tumbuh 17,5 %.
Di sisi lain, kualitas pembiayaan BSI menunjukkan perbaikan tecermin dari rasio nonperforming financing (NPF) bruto per Juni 2024 sebesar 1,99 %, turun dibanding periode Juni 2023, di 2,31 %. ”Di tengah kondisi makroekonomi yang menantang, BSI memilih menumbuhkan pembiayaan pada segmen serta sektor yang tepat karena kalau kita salah masuk, artinya khawatir dengan kualitas dari pembiayaan itu sendiri. Pertama, kita fokus pada segmen yang profitable, utamanya segmen consumer, seperti Gria dan Mitraguna, kemudian ritel, dan UMKM, termasuk produk gadai dan cicil emas,” katanya dalam konferensi pers Kinerja BSI Triwulan II-2024 secara daring, Senin (2/9). (Yoga)
Beasiswa Vatikan, menjembatani Mahasiswa Lintas Iman
Deni Iskandar (30) tak pernah bermimpi bisa berkuliah sampai Vatikan. Dengan latar belakang ekonomi keluarga yang pas-pasan, ia sudah puas meraih gelar sarjana studi agama dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun, tiba-tiba, ia ditawari seorang pastor Keuskupan Bogor untuk melanjutkan pendidikan di Vatikan. ”Waktu itu, saya mikirnya, ini tidak mungkin. Siapa saya? Saya enggak pernah terpikir sampai Vatikan, apalagi saya Muslim. Vatikan, kan, pusat Gereja Katolik seluruh dunia. Tapi, saya tersemangati karena banyak orang mendukung saya supaya kuliah di sana,” ujar Deni, Minggu (1/9). Deni merupakan salah satu penerima beasiswa dari Nostra Aetate Foundation, lembaga milik Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, yang mempromosikan dialog antaragama untuk perdamaian melalui pendidikan.
Skripsi Deni berjudul Potret Kebebasan Hak Beribadah Umat Katolik di Labuan, Pandeglang, Banten. Ia memilih tema itu karena kekagumannya terhadap toleransi antarumat beragama di pandeglang, kota sejuta santri. Meski Pandeglang diisi mayoritas umat Muslim, mereka tetap hidup berdampingan dengan umat Katolik. Skripsi itu menjadi faktor dia mendapat beasiswa tersebut. Nilai-nilai toleransi antar umat beragama itu yang kemudian Deni dalami ketika belajar di Pontifical University of Saint Thomas Aquinas-Angelicum dan Pontificia Universitas Gregoriana. Di sana, ia belajar mulai dari Teologi Katolik hingga Ensiklik Gereja Konsili Vatikan II. Ia pun mulai memahami intra-religious dialogue dalam konsep Gereja Katolik.
Kebahagiaan Deni semakin memuncak setelah berhasil bertemu secara langsung dengan Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada 28 Juni 2023. Dewi Kartika Maharani Praswida (28) sejak mengenyam bangku kuliah di Universitas Negeri Semarang di Jateng, pada 2013-2017, sudah aktif dalam dialog lintas agama. Setelah rampung kuliah, pertengahan Maret 2018, ia terpilih untuk mengikuti pertemuan anak muda dari sejumlah negara, Presynode Meeting, di Vatikan. Seluruh delegasi diminta mengumpulkan masukan yang nantinya akan disampaikan dalam Synodal Meeting pada Oktober 2018 dengan para uskup seluruh dunia dan diketuai oleh Paus.
Dewi kemudian mendapatkan informasi seleksi program beasiswa dari Nostra Aetate Foundation dan mengikuti proses seleksinya. Setelah dinyatakan lolos, ia mulai berkuliah di Pontifical University of Saint Thomas Aquinas-Angelicum dan Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies (PISAI), pada Juni 2019. Dewi bersyukur karena sekali waktu diberi kesempatan bertemu secara singkat dengan Paus Fransiskus di Alun-alun Santo Petrus, tepat di depan Basilika Santo Petrus, 2019 silam. Fotonya heboh di media sosial karena Dewi terlihat satu-satunya perempuan berhijab yang bersalaman dengan pemimpin Gereja Katolik Roma tersebut. (Yoga)
Warga Asing hingga Artis Teperdaya Penipuan Berkedok Investasi
Dalam dua bulan terakhir, ada tiga kasus penipuan berkedok investasi yang terungkap di kawasan Jabodetabek. Korbannya beragam, mulai dari warga negara asing hingga artis. Warga diminta jeli dan berhati-hati terhadap tawaran investasi. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi, Senin (2/9) mengungkap, penipuan berkedok investasi marak terjadi akhir-akhir ini. Kasus terkini dialami JJ yang merugi Rp 565 juta karena tertipu praktik jual-beli tanah fiktif. Pelaku bernama Ihwan Subandi menawarkan tanah di Kabupaten Bogor, Jabar. Korban JJ membeli tanah tersebut seharga Rp 4,4 miliar. Sebagai tanda jadi, korban memberi uang muka Rp 565 juta. Sisanya dilunasi setelah sertifikat tanah selesai.
Pelaku membuat akta perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) no11 tertanggal 16 November 2022, dibuat oleh Aden Dahri, selaku notaris di Kabupaten Bogor. Namun, setelah setahun, sertifikat tanah itu tak kunjung rampung. Korban melalui kuasa hukumnya memeriksa, ternyata PPJB No 11 tanggal 16 November 2022 tak terdaftar dan bukan produk Kantor Notaris Aden Dahri. ”PPJB itu diduga palsu dan tanah tersebut hingga saat ini masih dikuasai pemilik,” ujar Ade. Penipuan berkedok investasi juga dialami artis Bunga Zainal yang merugi Rp 6,2 miliar. Suaminya pun turut tertipu. Total kerugian Bunga Zainal dan suami mencapai Rp 15 miliar. Saat datang ke Polda Metro Jaya, Jumat (30/8), Bunga mengaku trauma, sebab kerugian yang dia alami cukup besar. Bahkan, korban penipuan itu tak hanya di Jakarta, tapi sampai ke Bali.
Akibat kejadian ini, Bunga akan mengintrospeksi diri untuk tidak mudah percaya dengan orang yang menawarkan investasi. Penipuan berjenis investasi juga pernah mendera WNA. Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya menangkap warga negara India yang terlibat penipuan berkedok investasi perdagangan valuta asing (foreign exchange/forex) emas pada Jumat (26/7). Korban, sesama warga negara India tertipu hingga Rp 3,5 miliar. Wakil Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Hendri Umar menuturkan, pelaku berinisial VVS diduga menggelapkan atau menipu rekannya sendiri, yakni GRN, yang juga warga negara India, berkedok investasi perdagangan valuta asing (forex) emas. VVS menjanjikan keuntungan 5 % untuk setiap modal yang ditanamkan. Namun, pada bulan kesembilan, keuntungan tidak pernah diberikan VVS. (Yoga)









