PT Green Power Group Tbk Langsung Tancap Gas Menggarap Bisnis Baterai Kendaraan Listrik
PT Green Power Group Tbk (LABA) langsung tancap gas dalam menggarap bisnis baterai kendaraan listrik (elektric vehicle/EV) setelah berganti pemegang saham pengendali pada akhir Juni 2024. Emiten yang sebelumnyu bernama PT Ladang Baja Murni Tbk dan bergerak di bidang produksi baja tersebut, memutus untuk mengganti care business dari produksi baja ke bisnis baterai EV setelah diakuisisi PT Nev Stored dan bergerak di bidang kepemilikan saham sebanyak 50,75%.
Langkah itu tampaknya mendapat responn positif dari pasar, yang terlihat dari lonjakan sahamnya sehingga 1.000% ke level Rp550. Manajemen Green Power menegaskan bisnis perseroan ke depannya akan mengacu pada produksi baterai lithium, penyewaan baterai, pembangunan jaringan stasiun penukaran baterai, serta investasi dan pengoperasian stasiun tenaga surya. Terbaru, perseroan membentuk tiga perusahaan dengan mitra strategis untuk pengembangan ekosistem baterai EV. (Yetede)
BSI Mengadopsi Sistem Payroll
PT Bank Muamalat Indonesia Mencatat Kinerja Solid dalam Pembiayaan Emas Melalui Produk Solusi Emas Hijrah
Pelabuhan Menjadi Jalur Tikus Narkoba
Janji Tinggal Janji Jokowi
Jokowi pada Pekan ini Meresmikan Produksi Awal dari Tiga Smelter Sekaligus
Jokowi Meresmikan Produksi Awal Tiga Fasilitas Pengolahan atau Smelter
IHSG Menunggu Katalis Penggerak Baru
Pasar saham Indonesia, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dipengaruhi oleh beberapa faktor utama seperti kebijakan pelonggaran moneter dari Federal Reserve dan Bank Indonesia, serta sentimen positif yang diharapkan muncul dari faktor domestik dan global. Adrian Joezer, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, menyebutkan bahwa aksi profit-taking di pasar adalah wajar dan tetap ada potensi penguatan IHSG jika aliran modal asing berlanjut. Selain itu, stimulus dari pemerintah China diperkirakan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.
Adityo Nugroho, Senior Investment Information dari Mirae Asset Sekuritas, menyoroti agenda politik di kuartal IV/2024, seperti pelantikan Presiden Terpilih Prabowo Subianto dan pembentukan kabinet baru yang bisa mempengaruhi pasar. Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo, juga optimis bahwa stabilitas politik akan mendorong penguatan IHSG, dengan prediksi IHSG bisa mencapai level 7.920 hingga 8.080 hingga akhir tahun. Selain itu, sektor-sektor potensial seperti perbankan, properti, dan ritel diperkirakan akan mendapatkan keuntungan dari situasi politik dan ekonomi tersebut.
APBN 2025: Mengawal Masa Transisi Pemerintahan
Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2025 telah disepakati oleh Pemerintah dan DPR dalam Sidang Paripurna pada 19 September 2024. APBN ini dirancang untuk mendukung transisi pemerintahan yang efektif serta menjaga kestabilan fiskal. Berbagai program prioritas yang bermanfaat bagi masyarakat akan dilanjutkan dan diperkuat, seperti program makan bergizi gratis, pemeriksaan kesehatan gratis, revitalisasi sekolah, dan lumbung pangan nasional.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa APBN 2025 difokuskan pada tiga prinsip utama: stabilitas, inklusivitas, dan keberlanjutan. APBN ini juga menjadi pilar penting dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045 dengan menjaga keberlanjutan reformasi struktural dan kebijakan fiskal yang kredibel. Asumsi dasar ekonomi yang disepakati meliputi pertumbuhan ekonomi 5,2%, inflasi 2,5%, dan nilai tukar Rp16.000/US$.
Pemerintah optimis bahwa kinerja fiskal yang membaik, dengan defisit sebesar 2,53% dari PDB, akan memberikan fondasi yang kuat bagi perekonomian di tengah ketidakpastian global, seperti tensi geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.
Perusahaan Tingkatkan Kapasitas PLTP untuk Energi Baru Terbarukan
Sejumlah perusahaan Indonesia sedang gencar mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sejalan dengan upaya pemerintah dalam transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT). Target dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN adalah mencapai 60% bauran EBT pada 2025-2035.
Beberapa perusahaan besar berkomitmen dalam investasi panas bumi, termasuk Star Energy Geothermal, bagian dari Grup Barito melalui PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), yang berencana meningkatkan kapasitas dari 886 MW menjadi 988,6 MW. PT Ormat Geothermal Indonesia dan PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) juga sedang mengejar izin panas bumi untuk proyek di Toka Tindung dengan kapasitas 40 MW.
Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), bersama dengan Chevron New Energies Holdings Indonesia Ltd., telah memulai eksplorasi panas bumi di wilayah Way Ratai, Lampung, dengan komitmen investasi sekitar Rp437,22 miliar. Menurut Direktur Utama PGEO Julfi Hadi, perusahaan ini berkomitmen mengejar target kapasitas 1 GW dalam dua tahun ke depan melalui berbagai proyek panas bumi, termasuk PLTP Lumut Balai Unit 2.
Sementara itu, PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA), bagian dari Grup Sinar Mas, menyiapkan investasi sebesar US$400 juta untuk pengembangan dua blok panas bumi di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur. CEO Barito Renewables Hendra Tan menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi pembangkit panas bumi guna memastikan masa depan energi bersih di Indonesia.









