Pemberdayaan Desa, Pilar Ekonomi Masa Depan
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih muncul sebagai respons strategis negara untuk membangun kedaulatan ekonomi rakyat dari tingkat akar rumput, di tengah tantangan globalisasi dan desentralisasi yang tidak merata. Gagasan ini bukanlah sekadar proyek politik jangka pendek, melainkan koreksi atas ketimpangan struktural yang selama ini menjadikan desa sebagai objek pembangunan semata.
Tokoh penting dalam narasi ini adalah Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia, yang semangatnya menjadi inspirasi untuk menjadikan koperasi sebagai instrumen rakyat dalam memperkuat kemandirian ekonomi. Pemerintah, melalui berbagai kebijakan dan skema, menunjukkan tekad untuk memperkuat peran desa dalam sistem ekonomi nasional. Namun demikian, seperti disampaikan oleh CELIOS, kritik terhadap desain dan potensi risiko koperasi ini tidak boleh diabaikan. Justru evaluasi harus dijadikan bahan perbaikan, bukan alasan pembatalan.
Pemerintah disarankan tidak hanya menekankan target kuantitatif semata, seperti pencapaian 80.000 unit koperasi, melainkan juga memperkuat aspek tata kelola, partisipasi warga, dan penyesuaian terhadap potensi lokal. Rekomendasi penting meliputi penguatan checks and balances di tingkat desa, fleksibilitas bentuk usaha koperasi, dan penerapan pembiayaan yang lebih adaptif seperti blended finance.
Dengan pendekatan inklusif dan berbasis komunitas, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dapat menjadi platform struktural yang merevitalisasi ekonomi perdesaan—bukan dengan menyeragamkan, tetapi menyediakan pijakan bagi desa untuk tumbuh dan tersambung ke jaringan pasar nasional. Program ini belum sempurna, namun layak diperjuangkan sebagai jembatan menuju transformasi ekonomi yang berpihak pada rakyat.
Strategi Jitu Menjaga Arus Ekspor Nasional
Pemerintah Indonesia, melalui sejumlah tokoh kunci seperti Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri, Menteri Perdagangan Budi Santoso, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengambil langkah strategis guna menahan laju penurunan kinerja ekspor nasional. Salah satu upaya konkret dilakukan Kemendag dengan menggelar misi dagang ke Jepang pada 9–13 Juni 2025 untuk memperluas pasar dan memperkuat jejaring bisnis. Selain Jepang, pemerintah juga mempercepat penyelesaian perundingan perjanjian IEU–CEPA dengan Uni Eropa untuk mendorong pertumbuhan ekspor lebih dari 50% dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, kinerja ekspor nasional tetap menghadapi tantangan serius. Penurunan ekspor pada April 2025 sebesar 10,77% dibandingkan bulan sebelumnya dipengaruhi oleh faktor musiman (libur Lebaran) dan ketidakpastian global, terutama dari negosiasi tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump. Menteri Budi Santoso menyoroti bahwa banyak eksportir menunggu kejelasan kebijakan tarif tersebut, yang turut memperlambat ekspor ke sejumlah negara. Sementara itu, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal memperkirakan surplus perdagangan Indonesia akan menyusut lebih lanjut karena tekanan dari tarif tinggi dan hambatan perdagangan.
Secara keseluruhan, meskipun pemerintah aktif memperluas akses pasar dan memperkuat kemitraan global, kondisi eksternal dan faktor musiman tetap menjadi hambatan yang memerlukan strategi lanjutan dan kolaborasi lintas sektor.
Kejagung Periksa Saksi Terkait Kasus Besar
Kejaksaan Agung (Kejagung), melalui Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Harli Siregar, mengambil langkah tegas dalam penyelidikan kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek pada periode 2019–2022 yang menelan anggaran sebesar Rp9,982 triliun. Penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) telah memanggil tiga mantan staf khusus Mendikbudristek Nadiem Makarim berinisial FH, JT, dan IA sebagai saksi. Ketiganya telah dicekal karena dua kali mangkir dari panggilan pemeriksaan. Selain itu, Kejagung telah melakukan penggeledahan di apartemen mereka dan menyita sejumlah barang bukti elektronik serta dokumen penting. Langkah ini menunjukkan keseriusan Kejagung dalam mengusut tuntas dugaan penyimpangan dalam proyek pengadaan berskala besar tersebut.
Angka Kemiskinan Naik, Pemerintah Perlu Bertindak
Harga BBM Subsidi Perlu Kajian Ulang
Dividen Tambang Masih Menggiurkan Investor
Strategi Emiten: Naikkan Harga, Hadirkan Inovasi
Indonesia Diharapkan Optimalkan Perdagangan Eropa
Maskapai Tanah Air Membutuhkan Banyak Armada
Bank Berburu Dana Non-DPK
LPS mencatatkan tren penguatan signifikan pada sumber dana non-dana pihak ketiga (DPK) perbankan per April 2025. Ini sejalan dengan kondisi DPK yang hanya tumbuh 4,55% secara tahunan (yoy), alhasil bank mencari sumber lain DPK. Hingga posisi April 2025, sumber danan non-DPK yang dihimpun perbankan mencapai Rp677,26 triliun, tumbuh 14,95% (yoy). Tren ini terus meningkat dibandingkan posisi Aoril 2023 yang naik 3,2% (yoy), kemudain per April 2024 tumbuh 7,89% (yoy). Peningkatan sinifikan ini membuktikan bahwa penghimpunan DOK menjadi tantangan perbankan, sebab, pertumuhan sumber dana non-DPK melesat tiga kali lipat dari DPK.
Dengan penyaluran kredit yang tumbuh 8,8% (yoy) per April 2025, tidak heran bank berburu dana segar di luar giro, tabungan, dan deposito. Berdasarkan data LPS, komposisi sumber dana non-DPK. Dengan penyaluran kredit yang tumbuh 8,8% (yoy) per April 2025, tidak heran bank berburu dana segar di luar giro, tabungan dan, deposito. Berdasarkan dana LPS komposisi sumber dana non-DPK dikontribusikan oleh pinjaman diterima sebesar Rp 413,76 triliun atau setara 61,09% dari total sumber dana segar di luar giro, tabungan, dan deposito. Berdasarkan data LPS, komposisi sumber dana non-DPK. Berikutnya, surat berharga diterbitkan sebesar Rp158,72 triliun (23,44%) dan kewajiban bank lain sebesar Rp158,72 triliun (23,44), dan kewajiban bank lain sebesar Rp 104,77 triliun (15,47%)
Pilihan Editor
-
Gratis PPnBM Mobil Diperpanjang
14 Jun 2021 -
Wacana Pengenaan PPN Sembako Bikin Resah
14 Jun 2021 -
Model Baru Misi Dagang
14 Jun 2021 -
Waspada Varian Delta Mengancam Dunia
16 Jun 2021 -
Suap Pelayanan Publik Meningkat
16 Jun 2021









