Pemerintah Diminta Segera Bentuk Satgas PHK
Indonesia Melakukan Perundingan dengan AS
Kompetisi Pasar Otomotif di Tanah Air Kian Sengit dengan Menjamurnya Mobil Listrik
Manufer BTN Syariah Jadi Bus Terbesar Kedua
Anak Usaha Garuda GMFI Bidik Pendapatan 6,7 Triliun
Daya Beli Masyarakat Harus Ditingkatkan
Pensiunan dan ASN di Minta Hati-hati Modus Penipuan
Keuangan Syariah Didorong Jadi Motor Ekonomi
Proses pemisahan unit usaha syariah (UUS) menjadi bank umum syariah (BUS) menunjukkan progres positif yang diprediksi mampu menghidupkan kembali dinamika industri perbankan syariah nasional yang selama ini stagnan. Tokoh-tokoh utama dalam transformasi ini antara lain Sutan Emir Hidayat dari KNEKS, Trioksa Siahaan dari LPPI, Nixon LP Napitupulu selaku Direktur Utama BTN, serta Dian Ediana Rae dari OJK.
Sutan Emir Hidayat menekankan bahwa spin off UUS akan memberi kemandirian strategis bagi bank syariah, memungkinkan mereka menjalankan misi sesuai prinsip syariah tanpa bergantung pada bank induk. Ia juga melihat potensi pengembangan bisnis syariah yang luas, termasuk sektor perumahan, pendidikan, hingga ekosistem haji dan umrah.
Senada, Trioksa Siahaan menilai bahwa menjadi BUS akan mendorong bank syariah lebih agresif dalam memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, dan memberikan manfaat langsung bagi nasabah, meskipun tantangan permodalan dan kesiapan SDM tetap harus diantisipasi.
Salah satu langkah konkret ditunjukkan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) yang telah mengakuisisi Bank Victoria Syariah sebagai bagian dari strategi spin off. Nixon LP Napitupulu menargetkan BUS hasil pemisahan BTN akan menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia setelah BSI. Untuk mendukung pertumbuhan ini, BTN menyiapkan right issue senilai Rp1 triliun dari total target modal Rp6 triliun, dengan visi menjadikan calon BUS sebagai bank syariah digital yang inklusif, efisien, dan berbasis nilai.
Dari sisi regulator, Dian Ediana Rae menyatakan bahwa langkah BTN sejalan dengan upaya OJK dalam mendorong konsolidasi industri perbankan syariah melalui spin off, merger, maupun akuisisi. Ia berharap BUS hasil pemisahan BTN dapat memperkuat struktur industri syariah secara keseluruhan, khususnya di segmen pembiayaan perumahan.
Secara keseluruhan, proses spin off UUS dinilai sebagai langkah strategis dan struktural yang dapat meningkatkan pangsa pasar, daya saing, serta tata kelola industri perbankan syariah, sekaligus mendukung agenda pemerintah dalam mendorong inklusi dan digitalisasi keuangan syariah nasional.
Fenomena Pengangguran di Kalangan Terpelajar
Indonesia tengah menghadapi paradoks serius dalam dunia ketenagakerjaan, di mana semakin tinggi pendidikan, justru semakin sulit memperoleh pekerjaan. Data terbaru BPS (Februari 2025) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi meningkat menjadi 6,23%, berbanding terbalik dengan kelompok pendidikan lain yang mengalami penurunan. Fenomena ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam menyerap tenaga kerja terdidik, dan diperparah oleh fenomena NEET (Not in Employment, Education, or Training) yang mencakup 21,4% pemuda Indonesia, angka yang lebih tinggi dari rata-rata global.
Tokoh yang menonjol dalam analisis ini adalah Jamie Khoo, CEO DayOne, yang dalam konteks berbeda menekankan pentingnya pengembangan infrastruktur digital seperti pusat data sebagai bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi baru. Namun, artikel ini justru menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama dua dekade terakhir tidak diiringi penciptaan lapangan kerja berkualitas, yang seharusnya menjadi bagian dari pendekatan menyeluruh terhadap transformasi ekonomi.
Masalahnya bukan semata keterampilan, tetapi struktur ekonomi yang cacat: Indonesia melewati fase industrialisasi secara prematur dan langsung masuk ke sektor jasa. Sektor manufaktur, yang seharusnya menjadi penyerap tenaga kerja utama, tidak berkembang optimal. Akibatnya, lulusan perguruan tinggi berada dalam kondisi terlalu terampil untuk pekerjaan informal namun tidak cukup kompeten untuk pekerjaan modern.
Selain itu, transformasi teknologi dan otomasi menjadi faktor global yang memperburuk pengangguran terdidik, seperti yang juga terjadi di Amerika Serikat. Bahkan lulusan jurusan pertumbuhan tinggi seperti ilmu komputer kini terancam tergantikan oleh AI. Di Indonesia, lulusan IT mulai mengalami kesulitan serapan meskipun sebelumnya sangat dibutuhkan.
Upaya pemerintah seperti program vokasi dan Kartu Prakerja belum menjawab akar persoalan karena terlalu fokus pada pelatihan, padahal jumlah pekerjaan berkualitas tidak mencukupi. Ketidaksinergisan antar kementerian serta fokus berlebihan pada industri 4.0 justru dapat mempercepat pengangguran melalui otomasi.
Secara keseluruhan, Indonesia terjebak dalam "jebakan pendidikan", di mana investasi besar dalam pendidikan tidak menghasilkan imbal balik ekonomi, dan ini memperkuat risiko “jebakan pendapatan menengah.” Diperlukan transformasi besar-besaran yang menyatukan strategi industrialisasi, pendidikan, dan ketenagakerjaan secara terintegrasi agar Indonesia tidak kehilangan satu generasi pembangunan secara sia-sia.
Dukungan Perbankan Asing untuk Infrastruktur Digital
PT Bank DBS Indonesia dan PT Bank UOB Indonesia memberikan fasilitas pinjaman senilai Rp6,7 triliun untuk mendukung pembangunan kampus pusat data baru di Nongsa Digital Park, Batam, yang merupakan kolaborasi antara DayOne dan Indonesia Investment Authority (INA). Proyek ini menjadi investasi perdana INA di sektor pusat data sekaligus langkah awal DayOne masuk ke pasar Indonesia.
Lim Chu Chong, Presiden Direktur Bank DBS Indonesia, menekankan bahwa ekspansi pusat data ini akan mempercepat transformasi digital di Asia Tenggara melalui dukungan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), layanan cloud, dan pemrosesan real-time. Menurutnya, proyek ini merupakan investasi strategis untuk masa depan ekonomi digital regional, mengingat tingginya permintaan akan daya komputasi.
Sementara itu, Harapman Kasan, Direktur Wholesale Banking UOB Indonesia, menyatakan bahwa proyek ini mendukung ambisi Indonesia menjadi pusat digital kawasan, dan menyoroti peran Batam sebagai gerbang utama menuju Singapura. Ia juga menekankan pentingnya menghubungkan modal dengan infrastruktur inovatif dan berkelanjutan untuk pertumbuhan inklusif di ASEAN.
Dari pihak operator, Jamie Khoo, CEO DayOne, menjelaskan bahwa ini merupakan pinjaman dalam denominasi rupiah terbesar untuk proyek pusat data di Indonesia. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun dan mengoperasikan tiga pusat data dengan kapasitas 72,4MW, atau sekitar 5% dari total kapasitas pusat data Asia Tenggara pada 2029.
Secara keseluruhan, proyek ini menandai langkah besar dalam penguatan ekosistem digital Indonesia, sekaligus menjadikan Batam sebagai titik strategis dalam konektivitas digital antara Indonesia dan Singapura.
Pilihan Editor
-
Kapal Tangkap Ikan Indonesia Ditertibkan
17 Jun 2021 -
Biaya Tarik Tunai ATM Link Dibatalkan
17 Jun 2021 -
Setoran Dividen BUMN Bisa Rp 35 Triliun
16 Jun 2021 -
Pelaku Kebocoran Data BPJS Diidentifikasi
16 Jun 2021









