Emiten Barang Konsumsi Tunjukkan Kinerja Stabil
Kinerja saham emiten di sektor consumer non cyclicals terus menunjukkan penguatan sepanjang tahun ini, meskipun sempat mengalami penurunan harian sebesar 0,07% pada 28 Oktober 2024. Sejak awal tahun, indeks ini telah menguat sebesar 6,37%.
Vinko Satrio Pekerti dari Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai bahwa stabilnya permintaan barang konsumsi di tengah berbagai kondisi ekonomi menjadi katalis positif bagi sektor ini. Sub-sektor makanan dan minuman, seperti ICBP, INDF, dan CPIN, serta emiten ritel seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), menjadi pendorong utama. Ia menegaskan bahwa konsumsi rumah tangga yang kuat, didukung oleh stabilitas harga bahan pokok, dapat memastikan kinerja solid sektor ini hingga akhir tahun.
Andhika Cipta Labora dari Kanaka Hita Solvera menambahkan bahwa saham-saham di indeks barang konsumsi sedang dalam tren naik, dengan peluang pertumbuhan dobel digit hingga akhir 2024. Ia merekomendasikan beli saham PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan CPIN, didukung oleh kenaikan harga komoditas minyak sawit mentah (CPO) dan turunnya harga jagung.
Secara fundamental, Vinko mencermati saham ICBP dan AMRT. Meskipun ICBP dianggap memiliki ekosistem bisnis yang terintegrasi dan brand equity kuat, ia merekomendasikan jual ICBP dengan peluang akumulasi kembali di harga Rp 12.200–Rp 12.300 per saham. AMRT juga direkomendasikan untuk sell dengan akumulasi kembali di target harga Rp 3.330–Rp 3.370 per saham.
Tekanan Penurunan Margin pada Laba Emiten
Agar Petani Untung Karena Swasembada
Menyingkronkan sumber saya alam (SDA), teknologi dan petani-terutama generasi milenial- melalui tranformasi dari pertanian tradisional ke modern, diyakini bisa mengantarkan Indonesia untuk menggapai status swasembada pangan, bahkan menjadi lumbung pangan dunia, seperti yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Presiden ingin, status ini terwujud paling lambat dalam 4-5 tahun, sedangkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ingin lebih cepat, yakni dalam tiga tahun. Melalui transformasi ke pertanian modern dengan memanfaatkan teknologi tinggi, sektor pertanian yang menguntungkan karena lebih efisien. Dengan itu, sektor pertanian akan makin diminati, termasuk kalangan milenial, sehingga produksi pangan, tak terkecuali beras, akan meningkat. Dengan produksi yang meningkat. Jalan menuju swasembada pangan pun menjadi kian lapang. "Petani itu sederhana, buat dia untung, maka dia berproduksi sehingga swasembada tercapai. Tapi, manakala petani jalan sendiri, swasembada bisa gagal," ujar Amran kepada Pemimpin Redaksi Investor Daily (B-Universe) Djaka Susila. (Yetede)
Pemutihan Utang Petani dan Nelayan Masih jadi Wacana
Grup Bakrie Akuisisi Blok Gas Strategis
Kinerja PT Energi Persada Tbk (ENRG) diproyeksikan kian cemerlang ke depannya, seiring rampungnya akuisisi 100% Blok Gas Sangkang, Sulawesi Selatan. Emiten migas Grup Bakrie ini diyakini bakal menikmati manisnya dampak keuangan dari akuisisi blok gas startegis itu. Prospek cerah tersebut, diikuti pergerakan sahamnya yang masih berpotensi melesat hingga menyentuh Rp 720. Pada 25 Oktober 2024, anak usaha perseroan yakni PT EMP Energy jaya (EEJ) telah menyelesaikan transaksi pemberlian 51% kepemilikan di blok KKS Sengkang di Sulawesi Selatan. Sebelumnya, perseroan melalui anak perushaannya yakni PT Energi Maju Abadi (EMA) sudah memiliki 49% saham di Sengkang.
Setelah menyelesaian transaksi pembelian tersebut, 100% dari kinerja produksi keuangan Sengkang dapat dikonsolidasikan oleh perseroan melalui beberapa anak perusahaannya. "Dampak dari aksi ini akan positif bagi kinerja perusahaan, terutama dengan adanya peningkatan produksi harian dan peluang pertumbuhan dari sisi pendapatan (topline)," kata Head of Equity Research Kiwooon Sekuritas Sukarno Alatas kepada Investor Daily. Sejalan dengan kinerja keuangan yang bakal moncer, Sukarno menilai, prospek sahan ENRG juga masih menarik meskipun berada di tengah ketidakpastian global. Dari sisi valuasi, harga saham ENRG saat ini tergolong undervalue, dengan rasio P/E estimasi 6,24x dan PBV 0,61x. (Yetede)
Bergegas untuk Selamatkan Sritex
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan menyiapkan beberapa opsi penyelamatan terhadap PT Sri Rezeki Isman Tbk atau Sritex (SRIL) dari kondisi pailit seperti yang ditetapkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menerangkan, pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan Sritex dan menyiapkan dua strategis guna menyelamatkan raksasa tekstil tersebut. Pemerintah berkomitman untuk menjaga keberlangsungan operasional Sritex serta memastikan tidak ada PHK. "Kami membahas dua kemungkinan: jika kasasi Sritex menang atau kalah.
Pemerintah memiliki komitmen yang sama dalam dua skenario, yaitu menyelamatkan tenaga kerja dan menjaga agar perusahaan tetap produksi tanpa ada PHK. Jika kasasi kalah, Sritex masih memiliki opsi hukum lanjutan berupa Peninjauan Kembali (PK)," ucap dia. Adapun langkah yang harus segera dilakukan yaitu memastikan perusahaan tekstil tersebut tetap dapat mengirimkan barangnya ke konsumen di luar negeri. "Merekakan tetap berproduksi, tapi barang tidak bisa keluar dari pabrik, tidak bisa keluar dari kawasan berikat. Itu bagaimana pemerintah bisa memastikan dalam hal ini. Bea Cukai bahwa barang-barang yang diproduksi oleh mereka itu bisa keluar, bisa diekspor" ujar Agus. (Yetede)
Makelar Hukum Tak Putus-putus
KEJAKSAAN Agung sedang menelusuri peran Zarof Ricar yang coba menyuap hakim agung agar mengabulkan vonis bebas Gregorius Ronald Tannur, terdakwa pembunuhan Dini Sera Afrianti. Pengadilan Negeri Surabaya membebaskan anak mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat itu meski bukti penganiayaan dan pembunuhan telak. Zarof Ricar, mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung, menerima Rp 5 miliar dari pengacara Ronald, Lisa Rachmat. Lisa menjanjikan imbalan untuk Zarof Rp 1 miliar dan sisanya untuk para hakim agung. Namun, karena uang suap itu belum terdistribusi, hakim agung menolak putusan bebas Ronald Tanur dan menghukumnya lima tahun bui.Dari penggeledahan rumah Zarof, tim penyidik kejaksaan menyita uang tunai hampir Rp 1 triliun dan pecahan rupiah serta berbagai mata uang asing. Uang tersebut diduga imbalan yang dia terima selama menjadi makelar kasus dari 2012 hingga 2022. Sebelum Zarof Ricar, banyak pejabat Mahkamah Agung maupun hakim agung yang terjerat penegak hukum karena menjadi mafia-hukum. Dengan beragam modus, para pejabat dan hakim agung bahu membahu mengakali hukum sesuai pesanan pemberi suap. Siapa saja jaringan Zarof Ricar?. (Yetede)
Penemuan Atefak Logam di Situs Gua Harimau
PENEMUAN artefak logam di situs Gua Harimau, Sumatera Selatan, menjadi bukti kuat bahwa Pulau Sumatera memegang peran penting dalam kebangkitan zaman logam di Nusantara. Artefak-artefak ini diperkirakan berasal dari abad ke-4 Sebelum Masehi hingga abad ke-1 Masehi, menjadikannya sebagai artefak logam tertua di Indonesia. Dengan demikian, temuan ini bukan penemuan arkeologi biasa, melainkan simbol perubahan besar dalam kehidupan masyarakat purba. Pada masa ini, teknologi logam mulai dikenal dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Gua Harimau menjadi saksi sejarah yang membawa Indonesia memasuki era logam. Gua Harimau adalah salah satu situs prasejarah di kawasan karst Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan. Hasil penggalian arkeologi yang saya lakukan bersama tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang melebur ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN) selama kurang-lebih tujuh tahun sejak 2008 hingga 2015 menunjukkan bahwa gua ini telah dihuni sejak 22 ribu tahun lalu.
Penelitian kami menemukan artefak batu dan sisa-sisa fauna yang menandai masa Palaeolitik dan Pra-Neolitik. Lalu, ketika zaman beralih ke periode Neolitik dan Palaeometalik, penemuan peninggalan sejarah lain, seperti tembikar, alat-alat tulang, dan sisa-sisa pembakaran, menambah petunjuk aktivitas manusia di sana. Pada lapisan Palaeometalik ditemukan perubahan besar: 12 artefak logam, yang terdiri atas 8 artefak perunggu dan 4 artefak besi. Temuan ini mengindikasikan awal kebangkitan zaman logam di wilayah tersebut. Salah satu temuan yang paling menarik adalah kapak bersoket dari perunggu. Kapak ini ditemukan sebagai bekal kubur dalam beberapa pemakaman di Gua Harimau. Bekal kubur adalah benda-benda yang ditempatkan bersama jenazah, yang dipercaya memiliki makna simbolis atau religius dalam kehidupan setelah kematian—mirip tradisi memberikan barang-barang berharga kepada orang yang dikasih. (Yetede)
Sengkarut Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)
KOALISI Kawal Pendidikan Jakarta (Kopaja) dan tim Tempo menggelar diskusi panel tentang sengkarut Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di ruangan 3.1 lantai 3 gedung Tempo, Jalan Palmerah Barat, Jakarta Barat, pada 19 September 2024. Diskusi ini mengulas kecurangan PPDB tahun ajaran 2024/2025 yang terjadi di sejumlah daerah. Kopaja, gabungan sejumlah lembaga non-pemerintah, sudah lama menelusuri berbagai kecurangan PPDB di banyak daerah. Mereka terdiri atas Indonesia Corruption Watch (ICW), Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), dan Koloni 8113. “Kecurangan akan terus terjadi selama skema PPDB tak diperbaiki,” kata Almas Sjafrina, peneliti ICW.
Diskusi dengan Kopaja ini merupakan tahap awal liputan jurnalisme konstruktif untuk mengungkap dan mencari solusi kecurangan penerimaan siswa baru di sekolah.Tiga bulan sebelumnya, terungkap kecurangan PPDB di Kota Depok, Jawa Barat. Sebanyak 51 siswa lulusan Sekolah Menengah Pertama Negeri 19 Depok terbukti menggelembungkan nilai rapornya hingga 20 persen agar dapat lolos PPDB jalur prestasi di sekolah menengah atas negeri. Awalnya tim Tempo mendapat informasi kecurangan PPDB di beberapa daerah dari sejumlah narasumber. Namun informasi terserak dan sepotong-sepotong. Mereka juga tak bersedia membeberkan identitas serta sekolah lokasi terjadinya kecurangan. (Yetede)
Agar Penghilirian Tak Sekedar Hembusan Angin
RENCANA pemerintah memperluas program penghiliran terhadap 26 komoditas di bidang sumber daya non-mineral, terutama sektor kelautan, perikanan, dan kehutanan, bisa menjadi angin segar bagi perekonomian nasional. Namun perlu ada kajian mendalam terhadap risiko pasar dan investasi, perubahan preferensi, serta perkembangan teknologi agar program tersebut tidak meleset. Buruknya program "hilirisasi" di era Joko Widodo yang berdampak buruk bagi perekonomian dan lingkungan dapat menjadi pelajaran. Misalnya dalam program hilirisasi nikel untuk baterai kendaraan listrik, yang bisa menimbulkan risiko disrupsi teknologi ketika preferensi pasar bergeser ke bahan baku lain, seperti lithium iron phosphate. Imbasnya, permintaan nikel di masa depan akan berkurang sehingga penghiliran di sektor ini perlahan-lahan bakal sia-sia. Jokowi juga jorjoran menggenjot penghiliran berbagai barang tambang lain, tapi hanya menyentuh turunan pertama dan kedua. Padahal investor asing—yang "ditunggangi" pejabat cum pebisnis—telah mendapat pelbagai insentif fiskal. Semua produk hasil setengah penghiliran itu diekspor ke luar negeri. Imbasnya, penghiliran di Indonesia tidak mampu memberi daya ungkit yang signifikan terhadap perekonomian. Justru negara-negara tujuan ekspor produk tersebut yang mendapat keuntungan melimpah. Industrialisasi mereka tumbuh pesat. Sedangkan industri manufaktur di Indonesia justru melempem.
Menurut data Kementerian Keuangan, kontribusi manufaktur terhadap pendapatan pajak terus menurun pada periode kedua pemerintahan Jokowi. Pada 2017, kontribusi manufaktur terhadap rasio pajak di Indonesia mencapai 32 persen. Angkanya makin merosot pada 2023 yang hanya mencapai 27,4 persen dan terus menunjukkan tren turun. Hingga Juli 2024, kontribusi manufaktur terhadap rasio pajak hanya sebesar 25,3 persen. Berkaca pada kegagalan program penghiliran era Jokowi, rencana memperkuat penghiliran di sektor sumber daya non-mineral ini sejatinya bisa menjadi langkah strategis dalam menggenjot perekonomian. Apalagi industri sektor pertanian, perikanan, dan kelautan biasanya membutuhkan banyak tenaga kerja. Di samping itu, keterampilan yang dibutuhkan industri di sektor ini juga relatif lebih mudah diakses oleh masyarakat dengan pendidikan menengah ke bawah. Maka peluang penduduk lokal terserap sebagai tenaga kerja di industri tersebut jauh lebih besar jika dibandingkan dengan sektor tambang. Dengan demikian, program penghiliran di bidang sumber daya non-mineral ini bakal mempercepat pertumbuhan ekonomi, terutama di perdesaan. (Yetede)









