Tiupan Angin Segar dari The Fed
The Federal Rserve (The Fed) memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 4,50%-4,75%, pada Kamis (07/11/2024). Keputusan ini sesuai harapan pasar, terbukti dengan menguatnya bursa di sejumlah negara termasuk Indonesia. Pemangkasan suku bunga ini diprediksi akan diiukuti oleh bank sentral negara lainnya. Bank Indonesia juga diharapkan segera menurunkan suku bunga sehingga segera menurunkan sektor rill di Tanah Air. Tercatat bursa saham Asia naik secara umum pada perdagangan di hari Jumat (08/1102024), mengkuti kenaikan wall street yang memecah rekor tertingginya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tutup di zoona hijau.
IHSG berjalan konsisten di zona positif hingga ditutup bertambah 43 poin atau 0,60% menjadi 7.287. Kenaikan IHSG hari ini mengakhiri pelemahan selama 2 hari sebelumnya, yang tertekan akibat hasil Pilpres AS 2024 yang dimenangkan oleh Donald Trumph. Saat IHSG menguat, pasar saham Asia bervariasi. Nikkei 225 Index (Jepang) menguat 0,30% dan Straits Times (Singapura) bertambah 1,39%. Sementara indeks S&P 500 naik 0,7%, melanjutkan tren positif dari hari sebelumnya setelah terpilihnya kembali Donald Trump sebagai presiden AS. Indeks Dow Jones hampir tidak berubah, hanya turun tipis di bawah basis poin walaupun sebelumnya sempat menguat lebih tinggi 80 poin yang bertengger di level Rp15.672 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp15.740 per dolar AS. (Yetede)
Kemenkeu Buka Suara Terkait Perubahan Nomenklatur Esalon 1
Saham Grup Barito Kembali Rebound IHSG Setelah Mengalami Penurunan Tajam
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali rebound setelah mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir, imbas kencangnya arus keluar (outflow) asing pasca kemenangan kandidat Partai Republik Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS), IHSG yang sebelumnya terus berada di zona merah, mampu kambali hijau di akhir pekan ini, dan ditutup menguat 0,6% ke posisi 7.287. Faktor penopang kenaikan IHSG, salah satunya berasal dari saham-saham Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu yang kompak menguat. "IHSG akhirnya berhasil rebound setelah mengalami koreksi selama sepekan, dengan saham-saham dari grup Prajogo Pangestu menjadi pendorong utama," kata Founder Stocknow.id Hendra Wardana. Tercatat, saham-saham Grup barito seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (CUAN), dan PT Petrosea Tbk (PTRO) serentak menghijau pada penutupan perdagangan Jumat (8/11/2024). Saham BRPT mampu menguat 5,62% ke Rp 940, disusul TPIA yang naik 8,58 ke Rp 7.275, BREN melesat 14,58 ke Rp 7.000,dan PTRO naik 2,67% ke Rp18.250. Dua saham Barito bahkan masuk dalam 10 besar kapitalisasi pasar di BEI, yakni BREN dengan market cap Rp 920 triliun dan TPIA Rp 629 triliun. "Dengan kapitalisasi pasar yang besar, BREN menjadi penopang IHSG yang signifikan, apalagi setelah OJK memberikan klarifikasi bahwa tidak ada masalah terkait konsentrasi kepemilikan BREN meskipiun sahamnya sebelumnya gagal masuk indeks FTSE Russel karena aturan free float. Hal ini memperkuat sentimen positif terhadap BREN dan menarik minat investor," ungkap Hendra. (Yetede)
Reaslisasi Penerimaaan Pajak Baru Mencapai Rp 1.517,53 triliun
PT Geo Dipa Energi Menargetkan Bauran Energi Geothermal Mencapai 260 GW dalam Dua Tahun ke Depan
Oktober, Realisasi Penerimaaan Pajak Mencapai Rp1.517,53 triliun
Efek Kemenangan Donald Trump untuk Indonesia
Ketika Partai Politik Campur Tangan Pemilihan Kepala Desa
Tata Kota dan Perubahan iklim Menjadi Tema Pamungkas Debat Ketiga Pemilihan Gubernur Jakarta 2024, yang Akan Digelar pada Ahad
Pasar Finansial Indonesia Tertekan
Kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) menjadi mimpi buruk pasar finansial Indonesia. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) roboh, imbal hasil (yield) surat utang negara beri benchmark naik, dan rupiah terkapar. Tekanan ke pasar finanasial diprediksi masih kuat dalam jangka pendek. Jika capital outflow terus berlanjut, IHSG diorpyeksikan bisa menyentuh levell 7.000, sedangkan rupiah bisa bertengger di level Rp16 ribu per dolar AS. Meski begitu, analisis dan pelaku pasar menilai, masih ada peluang di pasar finansial domestik.
Sebab, berkaca pada pengalaman 2016-2020 saat Trump menjadi Presiden AS, IHSG terbukti masih bisa tumbuh. Artinya, indeks berpeluang bangkit begitu sentimen negatif mereda. Itu sebabnya, investor diminta lebih agresif melihat peluang dipasar dengan memborong saham-saham unggulan yang kini sedang murah (buy on weakness/BoW). Pada titik ini, saham bank besar berfundamental solid yang selama ini menjadi pengerak IHSG patut dicermati, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Investor juga bisa melirik salah defensif seperti TKLM dan konsumer. (Yetede)









