;

Laju Bursa Dipengaruhi Arah Kebijakan Suku Bunga

Hairul Rizal 11 Nov 2024 Kontan
Pemangkasan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 bps ke level 4,5%-4,75% pada pertemuan FOMC 6-7 November 2024 memberikan sentimen positif bagi pasar saham Indonesia. IHSG berhasil rebound sebesar 0,60% ke level 7.287,19 pada Jumat (8/11). Namun, tekanan jual asing yang menghasilkan net sell sebesar Rp 4,50 triliun sepanjang pekan lalu tetap menjadi pemberat, menyebabkan IHSG mencatat penurunan mingguan 2,91%.

Menurut Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas, pemangkasan FFR membuka peluang arus dana asing kembali ke pasar saham Indonesia. Ia juga memproyeksikan kemungkinan The Fed memangkas FFR lebih lanjut sebesar 25-50 bps pada akhir 2024. Namun, ketidakpastian ekonomi global, terutama setelah kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS, dapat menahan FFR di level tinggi lebih lama dari ekspektasi pasar.

Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas, menilai pelemahan IHSG pekan lalu merupakan yang terdalam di Asia Tenggara, meski masih unggul dari PSEi Filipina. Ia memprediksi IHSG akan bergerak dalam rentang support 7.150 dan resistance 7.370 pada pekan ini.

William Hartanto, Praktisi Pasar Modal, memperkirakan IHSG akan bergerak mixed dengan potensi pelemahan terbatas. Ia mematok support pada 7.195 dan resistance di 7.400. Menurutnya, efek kemenangan Trump terhadap IHSG diperkirakan minimal, karena saat kepemimpinan Trump sebelumnya, pasar saham hanya terdampak secara signifikan akibat pandemi Covid-19.

Audi menambahkan bahwa fluktuasi harga komoditas, terutama minyak dan permintaan dari China, akan menjadi faktor kunci pergerakan IHSG. Ia merekomendasikan saham big bank yang masih undervalued sebagai pilihan menarik bagi investor.

Obligasi Bersaing Ketat dengan SRBI

Hairul Rizal 11 Nov 2024 Kontan
Kepemilikan pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terus meningkat, didorong oleh imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah maupun korporasi. Berdasarkan data PHEI, yield SRBI tenor satu tahun naik dari 6,8% menjadi 7%, lebih menarik dibandingkan yield obligasi pemerintah tenor satu tahun (6,3%) dan obligasi korporasi rating AAA (6,7%).

Menurut Ahmad Nasrudin, Analis Fixed Income Pefindo, SRBI memiliki risiko yang setara atau lebih rendah dibandingkan obligasi pemerintah karena diterbitkan oleh Bank Indonesia, sehingga lebih menarik secara risk-adjusted return. Namun, pemilihan instrumen investasi tetap harus disesuaikan dengan target return, toleransi risiko, dan horizon investasi.

Alvaro Ihsan dari Sucorinvest Asset Management menambahkan, meskipun SRBI menawarkan yield menarik, karakteristiknya sebagai produk pasar uang dengan jatuh tempo di bawah satu tahun berbeda dengan obligasi pemerintah yang lebih likuid dan memiliki tenor beragam. Ia juga mengingatkan bahwa pemangkasan suku bunga, seperti yang baru dilakukan The Fed sebesar 25 bps, dapat mendorong penurunan yield lebih lanjut.

Di sisi lain, obligasi korporasi tetap menarik karena menawarkan yield lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah, terutama untuk obligasi dengan peringkat AAA. Namun, investor harus memperhatikan fundamental perusahaan dan rating kredit untuk mengurangi risiko.

Sumber pasar keuangan menjelaskan bahwa penerbitan SRBI tergantung pada respons BI terhadap stabilitas rupiah, sehingga nilainya fluktuatif. Namun, SRBI tidak secara langsung mendorong peningkatan yield obligasi korporasi karena likuiditas investor masih besar.

Pilkada, Natal, dan Tahun Baru, Pengaruhi Pasar

Hairul Rizal 11 Nov 2024 Kontan
Emiten barang konsumsi diprediksi akan mencatatkan kinerja positif pada kuartal IV 2024, didorong oleh momentum Natal, Tahun Baru, dan pilkada serentak. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menilai pilkada sering diiringi peningkatan belanja pemerintah, memperkuat daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan sektor konsumsi. Hal ini dapat membawa pertumbuhan ekonomi ke 5%, menunjukkan resiliensi perekonomian Indonesia.

Andhika Audrey, Analis Panin Sekuritas, menyebut PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) akan mendapatkan dampak positif dari pilkada, meskipun kuartal IV biasanya dikenal sebagai low seasonality. Penjualan ICBP diperkirakan tetap solid.

Selain itu, Putu Chantika Putri dari Ciptadana Sekuritas optimistis terhadap PT Mayora Indah Tbk (MYOR), yang tidak hanya diuntungkan oleh penjualan lokal tetapi juga ekspor, terutama ke China menjelang Tahun Baru Imlek. Kinerja MYOR juga akan didukung oleh peluncuran produk baru dan strategi pemasaran yang bijaksana.

James Stanley Widjaja, Analis Buana Capital, menilai PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) masih menunjukkan kinerja kuat berkat inovasi produk yang konsisten. Emiten ini diyakini akan tetap bertumbuh di akhir tahun.

Namun, sektor ini masih menghadapi tantangan, seperti suku bunga yang meski telah dipangkas, tetap relatif tinggi. Abdul Azis Setyo Wibowo dari Kiwoom Sekuritas mencatat, fluktuasi nilai tukar juga bisa membebani keuangan emiten melalui kenaikan biaya bahan baku.

Kendati demikian, Azis optimistis momentum pilkada, Natal, dan Tahun Baru akan menjadi katalis positif. Ia merekomendasikan saham sektor konsumsi, dengan ICBP dan CMRY sebagai pilihan utama.

Menjaga Arus Hulu Migas Tetap Lancar

Hairul Rizal 09 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Pemerintah Indonesia berusaha keras untuk meningkatkan produksi energi fosil dalam rangka mencapai swasembada energi, tantangan besar masih membayangi industri hulu migas, terutama dalam pencapaian target lifting minyak. Hingga November 2024, produksi minyak Indonesia masih jauh dari target yang ditetapkan, yakni 635.000 barel per hari, dengan capaian hanya 603.152 barel per hari. Sebaliknya, produksi gas sedikit melebihi target, namun capaian keseluruhan tetap belum optimal untuk memenuhi ambisi pemerintah pada 2030 yang menargetkan 1 juta barel minyak dan 12 miliar kaki kubik gas per hari.

Para pelaku industri, seperti Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Migas Moshe Rizal, menyarankan perlunya kebijakan yang lebih menarik dan kompetitif agar Indonesia dapat bersaing dengan negara penghasil migas lainnya. Pemerintah, melalui Kementerian ESDM dan SKK Migas, terus berupaya mempercepat monetisasi cadangan migas dan menyederhanakan birokrasi yang menghambat produksi. Pergantian Kepala SKK Migas diharapkan menjadi momentum untuk mempercepat realisasi target lifting migas.

Dalam upaya meningkatkan produksi, PT Pertamina, yang mengelola sebagian besar Wilayah Kerja (WK) migas di Indonesia, berkomitmen untuk lebih agresif dalam mencari lapangan migas baru dan meningkatkan produksi. Namun, perbaikan dalam kebijakan dan iklim investasi yang lebih mendukung tetap menjadi kunci untuk mencapainya.


Tantangan Meraih Kemandirian Energi

Hairul Rizal 09 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Indonesia, meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan produksi dan lifting minyak serta gas bumi (migas). Produksi migas Indonesia terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir akibat berkurangnya cadangan dan tantangan teknis dalam eksplorasi, yang berdampak pada ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, berfokus untuk mencapai target produksi 1 juta barel minyak dan 12 BCF gas per hari pada 2030.

Salah satu tantangan utama adalah kondisi lapangan minyak yang sebagian besar sudah berumur tua dan membutuhkan teknologi mahal seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk meningkatkan produktivitasnya. Selain itu, sektor hulu migas di Indonesia juga menghadapi kendala regulasi dan birokrasi, dengan iklim investasi yang kurang kompetitif dibandingkan negara-negara tetangga. Pemerintah terus berupaya memperbaiki iklim investasi dengan menyederhanakan perizinan, memberikan insentif pajak, dan merumuskan regulasi yang lebih fleksibel, namun implementasi yang konsisten masih diperlukan.

Selain fokus pada peningkatan produksi migas, Indonesia juga perlu mempersiapkan langkah-langkah konkret untuk diversifikasi energi dengan mengembangkan sumber energi terbarukan seperti panas bumi, surya, dan angin. Transisi menuju energi terbarukan memerlukan waktu, biaya, dan sumber daya yang besar, sehingga dalam jangka pendek, produksi dan lifting migas tetap menjadi prioritas utama.

Secara keseluruhan, ketahanan dan kemandirian energi Indonesia memerlukan kerja sama antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat. Meskipun tantangan besar dihadapi, dengan komitmen dan kolaborasi yang kuat, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi bangsa yang mandiri secara energi.


APBN 2025: Peluang Perubahan yang Menanti

Hairul Rizal 09 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Menteri Keuangan Sri Mulyani membuka peluang reformulasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2025 untuk menyesuaikan dengan dinamika pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto. Sri Mulyani menjelaskan bahwa meskipun APBN 2025 sudah disusun pada era pemerintahan Joko Widodo, perubahan dalam struktur kementerian dan lembaga yang terjadi setelah pelantikan Presiden Prabowo memerlukan penyesuaian anggaran. Oleh karena itu, pemerintah memiliki ruang untuk menerbitkan APBN-P 2025 yang akan disetujui oleh DPR, terutama untuk memenuhi kebutuhan anggaran kementerian dan lembaga yang baru.

Selain itu, adanya kritik dari anggota DPR seperti M. Sarmuji dan Anis Byarwati mengenai pengurangan anggaran untuk beberapa kementerian, seperti Kementerian Investasi, menambah urgensi untuk penerbitan APBN-P 2025. Sarmuji menyarankan agar dana cadangan yang sudah disiapkan bisa digunakan untuk menambah anggaran kementerian/lemaga jika APBN-P diterbitkan pada pertengahan tahun 2025. Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto dalam pidato perdana kabinetnya menekankan pentingnya efisiensi dalam belanja negara dan menghindari proyek-proyek yang tidak produktif.


AI Mulai Mengubah Cara Konsumen Berbelanja

Hairul Rizal 09 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Pemanfaatan AI (Kecerdasan Buatan) dan GenAI (Generative AI) memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan belanja online di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Teknologi ini meningkatkan pengalaman belanja dengan memberikan rekomendasi produk yang lebih personal, meningkatkan efisiensi pencarian produk, serta membangun kepercayaan dan loyalitas pelanggan melalui pengalaman yang dipersonalisasi.

Menurut riset yang dilakukan oleh Kantar dan Lazada, ditemukan bahwa 64% konsumen Indonesia menggunakan chatbot untuk membantu mereka dalam proses belanja online, sementara 54% memanfaatkan AI untuk mendapatkan rekomendasi belanja yang lebih personal. Ummu Hani, Associate Director Kantar Indonesia, menjelaskan bahwa AI membantu pelanggan menemukan produk dengan cara yang lebih efisien dan sesuai dengan preferensi pribadi mereka. Selain itu, Ajie Santika, AI Expert dan Co-Founder Feedloop.ai, menjelaskan bahwa tren ini didorong oleh kemampuan GenAI dalam menyederhanakan proses belanja, memberikan rekomendasi yang lebih tepat, dan mempelajari pola interaksi pengguna.

Amelia Tediarjo, Head of Operations Lazada Indonesia, juga mengungkapkan bahwa AI Lazzie, asisten belanja berbasis GenAI yang dikembangkan oleh Lazada, membantu pelanggan menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka, memberikan rekomendasi produk yang lebih terpersonalisasi, dan meningkatkan konversi penjualan. Inovasi ini sejalan dengan komitmen Lazada untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang dengan beradaptasi dan terus meningkatkan pengalaman berbelanja.

Selain itu, AI juga berperan penting dalam meningkatkan kualitas layanan pelanggan di sektor lainnya, seperti yang dilakukan oleh Joel Djuwadi, Founder HERA.CX.ai, yang mengintegrasikan otomatisasi dengan empati dalam memberikan layanan pelanggan. Teknologi ini berfungsi untuk mengurangi customer churn dan memastikan layanan yang lebih efisien dan berkualitas.

Secara keseluruhan, AI dan GenAI tidak hanya mendorong pertumbuhan dalam e-commerce, tetapi juga meningkatkan pengalaman konsumen dan mendorong pertumbuhan bisnis melalui efisiensi dan personalisasi.


Investor Asing Ragu Melanjutkan Investasi

Hairul Rizal 09 Nov 2024 Kontan (H)
Divestasi yang dilakukan oleh sovereign wealth funds (SWF) seperti Temasek dan GIC di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan sikap hati-hati investor asing terhadap pasar domestik. Temasek, misalnya, kini hanya memiliki 19,99% saham di PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND) setelah sebelumnya menjual 23,39% saham di PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP) senilai Rp 563,58 miliar. GIC juga mengurangi kepemilikan di beberapa emiten, termasuk PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan mempertimbangkan divestasi saham lainnya, seperti di Bukalapak (BUKA) dan Elang Mahkota Teknologi (EMTK).

Namun, aksi investasi tetap terjadi, seperti yang dilakukan oleh Siam Cement Group (SCG) dari Thailand, yang mengakuisisi 44,48% saham PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) senilai Rp 9,98 triliun. Langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menarik bagi investor dengan strategi tertentu. Wawan Hendrayana, Vice President Infovesta Utama, menilai daya tarik bursa Indonesia tetap kuat berkat stabilitas ekonomi dan potensi pasar domestik yang besar.

Di sisi lain, pengamat pasar modal Teguh Hidayat dan Budi Frensidy mencatat bahwa sikap investor asing masih dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan pemerintah baru. Mereka cenderung mengadopsi pendekatan wait and see, apalagi dengan volume transaksi harian yang relatif kecil di bursa Indonesia. Agus Pramono, pengamat pasar modal, menyoroti bahwa karakteristik dan strategi investasi institusi besar berbeda-beda. Contohnya, GIC lebih fokus pada pengembalian investasi jangka menengah, sedangkan SCG lebih bersifat strategis untuk mengembangkan sinergi bisnis.

Wawan mengingatkan bahwa investor lokal sebaiknya tidak asal mengikuti jejak investor besar, karena faktor-faktor seperti likuiditas saham sering menjadi pertimbangan mereka yang mungkin berbeda dengan kebutuhan investor ritel. Secara keseluruhan, meskipun beberapa investor asing mengerem langkahnya, potensi pasar Indonesia tetap menarik dengan strategi yang tepat.

Defisit Anggaran Didorong Belanja Negara yang Meningkat

Hairul Rizal 09 Nov 2024 Kontan
Kementerian Keuangan mencatat anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2024 defisit sebesar Rp 309,2 triliun hingga Oktober tahun ini. Angka defisit tersebut melebar dibandingkan Agustus 2024 yang tercatat Rp 153,7 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, defisit anggaran per Oktober 2024 setara 1,37% terhadap produk domestik bruto (PDB).Defisit APBN ini lantaran pendapatan negara lebih rendah dibandingkan kebutuhan belanja negara yang terus meningkat. Sri Mulyani bilang, pendapatan negara per Oktober 2024 mencapai Rp 2.247,5 triliun atau naik 0,3% dibandingkan periode sama tahun lalu. Realisasi ini setara 80,2% target APBN 2024.

Sedangkan realisasi belanja negara senilai Rp 2.556,7 triliun atau meningkat 14,1% dibandingkan periode sama tahun lalu. Pencapaian ini setara 76,9 dari target APBN 2024. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengungkapkan, pelebaran defisit APBN pada 2024 dipicu tiga faktor utama yang saling berkaitan. Kondisi itu perlu dicermati serius karena dapat berefek pada stabilitas fiskal dan ekonomi ke depan.

Faktor pertama, pelebaran defisit APBN disebabkan perlambatan pendapatan negara dibandingkan tahun sebelumnya. Bhima menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah penurunan drastis pada Pendapatan Pajak Penghasilan (PPh) Migas yang disebabkan oleh penurunan harga minyak global.  Faktor kedua adalah lemahnya kinerja sektor industri manufaktur, yang berimbas pada penurunan pendapatan pajak dari sektor ini. Pajak dari industri manufaktur melemah 7,87% secara tahunan atau year on year (yoy). Faktor ketiga adalah membengkaknya belanja pemerintah, terutama terkait belanja modal untuk infrastruktur. Selain itu, meskipun tidak disebutkan secara rinci, Bhima mengingatkan kenaikan beban belanja bunga utang juga turut berkontribusi pada peningkatan defisit APBN.

Kendati begitu, dia memperkirakan defisit APBN 2024 masih lebih rendah dibandingkan outlook pemerintah sebesar 2,7% PDB. Bhima memprediksi, defisit APBN tahun ini berkisar 2%-2,4% PDB. Ekonom Universitas Indonesia, Teguh Dartanto menyebut defisit anggaran pada Oktober 2024 merupakan sebuah pola umum yang terjadi setiap tahun. Kondisi ini biasanya terjadi menjelang akhir tahun ketika banyak program dan proyek pemerintah sudah memasuki tahap penyelesaian, sehingga mendorong adanya lonjakan pembayaran.

BUMN Konstruksi Berupaya Pulihkan Kondisi

Hairul Rizal 09 Nov 2024 Kontan
Empat emiten BUMN Karya mencatatkan kinerja beragam pada kuartal III-2024, dengan hanya PT PP Tbk (PTPP) yang berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih. PTPP meraih pendapatan Rp 14,54 triliun, naik 14,54% secara tahunan, dan laba bersih meningkat 11,49% menjadi Rp 267,28 miliar. Joko Raharjo, Sekretaris Perusahaan PTPP, mengungkapkan peningkatan laba bersih terutama didukung kenaikan laba ventura bersama sebesar Rp 482 miliar dan divestasi aset senilai Rp 31 miliar.

Di sisi lain, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatatkan penurunan pendapatan usaha sebesar 19,97% yoy menjadi Rp 9,16 triliun. Namun, laba bersih ADHI melesat 194,51% yoy berkat pendapatan dari proyek joint operation (JO) yang meskipun tidak tercatat secara langsung, tetap signifikan jika digabungkan, mencapai Rp 17 triliun. Rozi Sparta, Sekretaris Perusahaan ADHI, menegaskan kontribusi besar dari proyek non-JO dan laba ventura bersama.

Sementara itu, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengalami penurunan pendapatan 16,78% yoy. Namun, efisiensi dan pengelolaan utang yang baik berhasil mengembalikan posisi WIKA dari kerugian menjadi laba. Agung Budi Waskito, Direktur Utama WIKA, menyatakan bahwa upaya pembenahan internal menjadi faktor utama perbaikan kinerja.

Sebaliknya, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatatkan kerugian yang semakin membesar, dengan pendapatan turun 13,22% yoy menjadi Rp 6,78 triliun. Menurut Nafan Aji Gusta Utama dari Mirae Asset Sekuritas, masalah tata kelola dan lambatnya restrukturisasi utang menjadi penyebab utama kerugian WSKT.

Meski masih ada tantangan, Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas melihat tren perbaikan kinerja BUMN Karya, didukung perolehan kontrak baru dan pembenahan internal. Namun, ia menyarankan investor untuk "wait and see" atau melakukan trading sell hingga terdapat dukungan harga saham yang ideal.

Pilihan Editor