PT Geo Dipa Energi Menargetkan Bauran Energi Geothermal Mencapai 260 GW dalam Dua Tahun ke Depan
Oktober, Realisasi Penerimaaan Pajak Mencapai Rp1.517,53 triliun
Efek Kemenangan Donald Trump untuk Indonesia
Ketika Partai Politik Campur Tangan Pemilihan Kepala Desa
Tata Kota dan Perubahan iklim Menjadi Tema Pamungkas Debat Ketiga Pemilihan Gubernur Jakarta 2024, yang Akan Digelar pada Ahad
Pasar Finansial Indonesia Tertekan
Kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) menjadi mimpi buruk pasar finansial Indonesia. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) roboh, imbal hasil (yield) surat utang negara beri benchmark naik, dan rupiah terkapar. Tekanan ke pasar finanasial diprediksi masih kuat dalam jangka pendek. Jika capital outflow terus berlanjut, IHSG diorpyeksikan bisa menyentuh levell 7.000, sedangkan rupiah bisa bertengger di level Rp16 ribu per dolar AS. Meski begitu, analisis dan pelaku pasar menilai, masih ada peluang di pasar finansial domestik.
Sebab, berkaca pada pengalaman 2016-2020 saat Trump menjadi Presiden AS, IHSG terbukti masih bisa tumbuh. Artinya, indeks berpeluang bangkit begitu sentimen negatif mereda. Itu sebabnya, investor diminta lebih agresif melihat peluang dipasar dengan memborong saham-saham unggulan yang kini sedang murah (buy on weakness/BoW). Pada titik ini, saham bank besar berfundamental solid yang selama ini menjadi pengerak IHSG patut dicermati, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Investor juga bisa melirik salah defensif seperti TKLM dan konsumer. (Yetede)
China Ingin Memperbaiki Hubungan dengan AS
Pemerintah China akan mengedepankan pentingnya kerja sama perdagangan yang lebih besar dengan Amerika Serikat (AS), di tengah ancaman kenaikan tarif impor setelah terpilihnya kembali Donald Trump sebagai presiden AS. "Pihak China bersedia, atas dasar saling menghormati, hidup berdampingan secara damai dan kerja sama yang saling menguntungkan, untuk meningkatkan komunikasi dengan AS, memeprluas kerja sama dan menyelesaikan perbedaan," ujar Juru Bicara Kementerian Perdagangan China He Yongqian. Dalam kesempatan itu, He juga menanggapi pertanyaan tentang pandangan dan rencana tindakan balasan dari China, mengingat potensi kenaikan tarif AS dan pembatasan teknologi canggih.
"Bersama-sama (kita dapat) mendorong hubungan ekonomi dan perdaganagn China-AS ke arah yang stabil sehat, dan berkelanjutan, demi kepentingan kedua negara dan dunia," tambah dia. Komentar itu senada dengan yang disampaikan Presiden Xi Jinping saat menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan Trump. Pada pesan tersebut, ia menyisipkan catatan penting manfaat kerja sama bilateral. "Sejarah mencatat bahwa kedua negara akan memperoleh keuntungan dari kerja sama dan menuai kerugian dari konfronstasi. Hubungan China-AS dengan pembangunan yang stabil, sehat, dan berkelanjutan akan melayani kepentingan bersama kedua negara serta memenuhi harapan masyarakat internasional" kata Xi. (Yetede)
China Ingin Selesaikan Perbedaan dengan AS
Ekspor China melonjak tajam hingga mencapai laju tercepat dalam dua tahun lebih pada Oktober 2024. Pabrik-pabrik di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut memacu pengiriman untuk mengantisipasi tarif lebih besar dari Amerika Serikat, dan juga Uni Eropa. Hal ini menggaris bawahi ancaman meletusnya kembali perang dagang antara China dan AS. Negara ekonomi terbesar dunia. Kemenangan besar Donald Trump dalam pemilihan presiden (pilpres) AS 5 November 2024 langsung mencuatkan janji kampanyenya untuk mengenakan tarif pada impor lebih dari 60% atas produk-produk China.
Ancaman ini kemungkinan akan memacu perpindahan stok ke gudang-gudang di pasar ekspor nomor satu di China. Ancaman tatif Trump menguncang pemilik pabrik maupun para pejabat Pemerintahan China. Karena jika ancaman tersebut berlaku, barang ekspor yang mencapai sekitar US$ 500 miliar setiap tahunnya akan berdampak. Pada saat yang sama, ketegangan perdagangan UE, yang tahun lalu mengambil barang-barang dari China senilai US$ 466 miliar, juga telah meningkat. Sehingga momentum ekspor telah menjadi satu titik cerah bagi negara Tirai Bambu. Di saat ekonominyua berusaha bangkit dari rendahnya kepercayaan konsumen maupun sektor bisnis, yang terpuruk oleh krisis properti berkepanjangan. (Yetede)









