;

China Ingin Memperbaiki Hubungan dengan AS

Yuniati Turjandini 08 Nov 2024 Investor Daily (H)

Pemerintah China akan mengedepankan pentingnya kerja sama perdagangan yang lebih besar dengan Amerika Serikat (AS), di tengah ancaman kenaikan tarif impor  setelah terpilihnya kembali Donald Trump sebagai presiden AS. "Pihak China bersedia, atas dasar saling menghormati, hidup berdampingan secara damai dan kerja sama yang saling menguntungkan, untuk meningkatkan komunikasi dengan AS, memeprluas kerja sama dan menyelesaikan perbedaan," ujar Juru Bicara Kementerian Perdagangan China He Yongqian. Dalam kesempatan itu, He juga menanggapi pertanyaan  tentang pandangan dan rencana tindakan balasan dari China, mengingat potensi kenaikan tarif AS dan pembatasan teknologi canggih.

"Bersama-sama (kita dapat) mendorong hubungan ekonomi dan perdaganagn China-AS ke arah yang stabil sehat, dan berkelanjutan, demi kepentingan kedua negara dan dunia," tambah dia. Komentar itu senada dengan yang disampaikan Presiden Xi Jinping saat menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan Trump. Pada pesan tersebut, ia menyisipkan catatan penting manfaat kerja sama bilateral. "Sejarah mencatat bahwa kedua negara akan memperoleh keuntungan dari kerja sama dan menuai kerugian dari konfronstasi. Hubungan China-AS dengan pembangunan yang stabil, sehat, dan berkelanjutan akan melayani kepentingan bersama kedua negara serta memenuhi harapan masyarakat internasional" kata Xi. (Yetede)

China Ingin Selesaikan Perbedaan dengan AS

Yuniati Turjandini 08 Nov 2024 Investor Daily (H)

Ekspor China melonjak tajam hingga mencapai laju tercepat dalam dua tahun lebih pada Oktober 2024. Pabrik-pabrik di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut memacu pengiriman untuk mengantisipasi tarif lebih besar dari Amerika Serikat, dan juga Uni Eropa. Hal ini menggaris bawahi ancaman meletusnya kembali perang dagang antara China dan AS. Negara ekonomi terbesar dunia. Kemenangan besar Donald Trump dalam pemilihan presiden (pilpres) AS 5 November 2024 langsung mencuatkan janji kampanyenya untuk mengenakan tarif pada impor lebih dari 60% atas produk-produk China.

Ancaman ini kemungkinan akan memacu perpindahan stok ke gudang-gudang di pasar ekspor nomor satu di China. Ancaman tatif Trump menguncang pemilik pabrik maupun para pejabat Pemerintahan China. Karena jika ancaman tersebut berlaku, barang ekspor yang mencapai sekitar US$ 500 miliar setiap tahunnya akan berdampak. Pada saat yang sama, ketegangan perdagangan UE, yang tahun lalu mengambil barang-barang dari China senilai US$ 466 miliar, juga telah meningkat. Sehingga momentum ekspor telah menjadi satu titik cerah bagi negara Tirai Bambu. Di saat ekonominyua berusaha bangkit dari rendahnya kepercayaan konsumen maupun sektor bisnis, yang terpuruk oleh krisis properti berkepanjangan. (Yetede)

Lima Bank Besar Memelihara Profitabilitasnya

Yuniati Turjandini 08 Nov 2024 Investor Daily (H)
Lima bank besar di Indonesia hingga kuartal III-2024 masih menjaga kinerjanya sesuai dengan target tahun ini. Meskipun pertumbuhan dari laba bersih tidak bisa lebih  tinggi dibandingkan dengan tahun lalu, namun beban bunga  ditekan perbankan untuk menjaga profitabilitas. Kepala Ekskutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, laba perbankan 2024 diperkirakan masih tumbuh. "Perubahan kebijakan moneter global yang lebih dovish bisa memberikan dampak positif ke profit dengan penurunan cost of fund. Sehingga, kebijakan moneter bisa menurunkan beban bunga dan pada akhirnya bank mempertahankan NIM sesuai target yang ditetapkan," tutur Dian. Dari sisi laba bersih, secara bank only yang terbesar adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) yang meraup RP41,67 triliun tumbuh 6,85% secara year on year (yoy) pada September 2024. Sedangkan, secara konsolidasi laba bersih yang dapat diartibusikan kepada pemilik (PATMI) mencapai Ro 45,06 triliun, naik 2,43% (yoy), ini juga masih menjadi yang terbesar. (Yetede)

Agresif, Petrindo Agresif Mencaplok Tambang Batu Bara

Yuniati Turjandini 08 Nov 2024 Investor Daily (H)
Emiten pertambangan milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) makin agresif melakukan ekspansi anorganik dengan terus menambah portfolio baru. Kali ini, emiten Grup Barito tersebut mengakuisisi 100% saham perusahaan tambang batu bara di kalimantan Tengah. "Pada tanggal 6 November 2024, perseroan dan PT Kreasi Jasa Persada (KPJ), anak perusahaan yang dimiliki 99,99% oleh perseroan, telah menandatangani perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) saham PT Borneo Berkat Kutai (BBK) dan PT Intan Bumi Persada (IBP)," kata Corporate Secretary Petrindo Jaya Kreasi Robertus Maylando Siahaya. Robertus mengatakan, IPB merupakan perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan Batu Bara (IUP) dengan wilayah kerja di kalimantan Tengah. Sedangkan BBK merupakan pemilik 80% saham di dalam IPB. Dia menjelaskan, perseroan bersama KJP menekan PPJB sehubungan dengan penjualan atas 25 juta lembar saham atau 100% saham BBK dan Herry Hermanto. Pada saat bersamaan, Petrindo dan KJP juga menandatangani PPJB Saham Lunas sehubungan dengan penjualan atau 2.400 lembar saham atau 20% saham IBP milik PT Herlindo Prima Jaya. (Yetede)

Mempersiapkan Diri Menghadapi Gejolak Bursa

Hairul Rizal 08 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024 memicu ketidakpastian baru di pasar modal global, termasuk di Indonesia. Kemenangan Trump menciptakan gejolak pasar yang ditandai dengan aksi jual besar-besaran oleh investor asing, yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mengalami penurunan signifikan. Menurut Direktur Perdagangan BEI, Irvan Susandy, kebijakan proteksionisme Trump dan kemungkinan perang dagang dengan China dapat berdampak pada ekonomi Indonesia, mengingat hubungan dagang yang erat dengan kedua negara tersebut.

Namun, meskipun ada ketidakpastian, beberapa analis masih melihat peluang dalam kebijakan ekonomi Trump yang berfokus pada penguatan ekonomi domestik AS. Misalnya, Head of Research NH Korindo Sekuritas, Liza Camelia, berpendapat bahwa Trump kemungkinan akan menaikkan suku bunga dan menerapkan kebijakan yang bisa meningkatkan inflasi dan daya beli masyarakat AS. Selain itu, kebijakan proteksionis Trump yang mungkin menaikkan tarif impor terhadap produk Indonesia juga bisa membatasi ekspor ke AS.

Sementara itu, ekonom lain, seperti Maximilianus Nicode-muus dari Pilarmas Investindo, mencatat bahwa kebijakan Trump yang kontroversial, seperti proteksionisme, dapat mengganggu pemulihan ekonomi global dan menyebabkan aliran dana asing keluar dari pasar Indonesia. Meski demikian, masih ada harapan pada kebijakan ekonomi dalam negeri yang dapat menjaga stabilitas, serta program-program dari pemerintah Indonesia yang dapat mendukung kepercayaan pasar.

Dalam jangka menengah, Satria Sambijantoro dari Bahana Sekuritas optimis bahwa Trump mungkin akan mencapai kesepakatan geopolitik yang dapat menurunkan harga minyak dan inflasi global, yang pada gilirannya bisa menurunkan suku bunga The Fed. Investor disarankan untuk fokus pada saham defensif dan perusahaan berpenghasilan dolar AS, sementara saham-saham seperti BBCA, ADRO, dan MYOR diprediksi akan unggul di pasar.

Secara keseluruhan, meskipun kemenangan Trump memunculkan tantangan dan ketidakpastian, masih ada peluang bagi Indonesia untuk mengelola dampaknya melalui kebijakan domestik yang tepat dan strategi investasi yang hati-hati.



Bayangan Trump di Pasar Modal

Hairul Rizal 08 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024 memicu kekhawatiran di banyak negara, termasuk Indonesia, terkait dengan potensi kebijakan ekonomi yang lebih agresif, khususnya dalam hal tarif impor. Trump telah mengisyaratkan untuk menerapkan tarif universal 10% terhadap seluruh barang impor, dengan tarif 60% khusus untuk barang dari China. Kebijakan ini dapat memicu perang dagang lebih lanjut, terutama antara AS dan China, yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global, termasuk ekonomi Indonesia yang bergantung pada kedua negara tersebut sebagai mitra dagang utama.

Jika kebijakan ini benar-benar dijalankan, dampak langsung bagi Indonesia dapat terlihat dalam perlambatan ekspor, terutama ke China dan AS, yang akan menyulitkan sektor manufaktur domestik. Selain itu, tarif yang lebih tinggi akan mengarah pada inflasi global, yang berisiko meningkatkan suku bunga di banyak negara, termasuk Indonesia. Suku bunga yang tinggi berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sudah melambat, tercermin dari angka pertumbuhan PDB yang hanya mencapai 4,95% pada kuartal III/2024.

Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah-langkah antisipatif jangka panjang, terutama dalam kebijakan ekspor. Perluasan kemitraan dagang dengan negara-negara non-tradisional dapat menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan pada mitra dagang utama yang terpengaruh kebijakan Trump. Selain itu, Indonesia juga perlu meningkatkan daya saing untuk menarik lebih banyak investasi asing langsung, meskipun dengan kebijakan proteksionisme Trump, investasi dari AS kemungkinan akan terbatas.

Secara keseluruhan, Indonesia harus menavigasi ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik dengan langkah-langkah strategis, seperti diversifikasi mitra dagang dan meningkatkan daya tarik investasi, agar tetap menjaga stabilitas ekonomi dan pertumbuhan di tengah situasi yang penuh tantangan.



UEA Jadi Target Besar Bagi Investor Migas

Hairul Rizal 08 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Pentingnya kolaborasi antara pemerintah Indonesia, melalui SKK Migas, dengan perusahaan migas kelas dunia untuk mengoptimalkan potensi sumber daya migas di Indonesia. Dalam menghadapi meningkatnya kebutuhan energi nasional yang diperkirakan akan mencapai 1.012 juta ton setara minyak (MTOE) pada 2025, dengan 43,5% di antaranya harus dipenuhi oleh migas, kerja sama global dianggap krusial. Hudi Suryodipuro, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, menegaskan bahwa kemitraan internasional dapat mempercepat penemuan cadangan baru, transfer teknologi, serta mendukung inovasi dan pengembangan kapasitas nasional.

Selain itu, Dwi Soetjipto, Kepala SKK Migas, mengungkapkan bahwa masih terdapat potensi besar di sektor hulu migas Indonesia yang dapat dikembangkan, termasuk 301 struktur yang memiliki potensi sekitar 1,8 miliar barel minyak dan 13,4 triliun kaki kubik gas, serta potensi peningkatan produksi melalui teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan waterflood. Pembaruan regulasi kontrak bagi hasil juga bertujuan untuk menarik lebih banyak investasi dengan memberikan kepastian bagi hasil yang lebih menguntungkan bagi kontraktor.

Di sisi lain, perusahaan seperti Medco E&P dan Pertamina Hulu Energi terus berfokus pada pengembangan potensi migas di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi canggih untuk meningkatkan produksi dan efisiensi. PT Pertamina Hulu Energi, misalnya, berhasil mencatatkan produksi sebesar 1,04 juta barel setara minyak per hari pada 2024, berkat penerapan teknologi seperti multi-stage fracturing dan artificial intelligence. Mubadala Energy juga menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan Blok South Andaman dengan rencana eksplorasi yang matang dan pengembangan pada tahun 2028.

Kesimpulannya, sektor hulu migas Indonesia memiliki potensi besar yang dapat dimaksimalkan melalui kemitraan strategis dengan perusahaan internasional, penerapan teknologi modern, serta kebijakan yang mendukung keseimbangan kepentingan antara pemerintah dan kontraktor. Semua upaya ini diharapkan dapat memastikan ketahanan energi nasional di masa depan.


Harga Saham Banyak Dijual, Jangan Terburu Diskon

Hairul Rizal 08 Nov 2024 Kontan (H)
Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat memberikan dampak negatif pada pasar saham Indonesia, terutama dengan meningkatnya aksi jual oleh investor asing. Total nilai jual bersih asing mencapai Rp 1,62 triliun, dengan saham-saham bank berkapitalisasi besar menjadi target utama. Saham Bank Central Asia (BBCA) mencatat net sell terbesar senilai Rp 551,04 miliar, menyebabkan penurunan harga saham sebesar 2,63% ke level Rp 10.175. Selain itu, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga mengalami aksi jual asing sebesar Rp 385,35 miliar, dengan harga saham turun 1,09% ke Rp 4.550. Saham lainnya seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) juga dilepas dengan nilai masing-masing Rp 268,48 miliar dan Rp 86,51 miliar.

Meski demikian, Bank Syariah Indonesia (BRIS) tetap menunjukkan kenaikan harga saham sebesar 63,79% sejak awal tahun, meskipun mengalami aksi jual asing senilai Rp 12,35 miliar kemarin. Menurut Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, dampak aksi jual ini hanya sementara, karena kinerja bank besar secara umum masih positif.

Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa kemenangan Trump dapat memengaruhi kebijakan moneter AS, dengan kemungkinan suku bunga Federal Reserve tetap tinggi. Jika Trump benar-benar menurunkan tarif pajak perusahaan, inflasi AS mungkin tidak dapat dinormalisasi sepenuhnya, yang mendorong Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Saat ini, Fed Fund Rate berada di kisaran 4,75%-5,00%, dan pasar memperkirakan penurunan suku bunga hingga akhir 2025.

Audi merekomendasikan beberapa saham perbankan seperti BBCA, BMRI, dan BRIS untuk dikoleksi. Ia menilai saham BRIS menarik karena pembiayaannya meningkat 15,32% per September 2024, meskipun telah naik tajam sejak awal tahun. Target harga yang direkomendasikan untuk BRIS adalah Rp 3.140 per saham, sementara BBCA dan BMRI masing-masing ditargetkan di Rp 11.150 dan Rp 7.200.

Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, juga mendukung pembelian saham-saham bank KBMI 4, termasuk BNGA, BRIS, dan ARTO, dengan syarat fundamental yang kuat. Namun, ia mengingatkan pentingnya memastikan valuasi saham untuk potensi jangka panjang.

Adityo menyarankan investor untuk berhati-hati dan mengambil pendekatan wait and see, terutama jika kondisi pasar eksternal tetap tidak stabil hingga akhir tahun. Capital outflow yang terus berlanjut dapat memberikan tekanan tambahan pada pasar saham domestik.

Kemenangan Trump Tantang Kekuatan Rupiah

Hairul Rizal 08 Nov 2024 Kontan
Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024 menambah tantangan bagi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Meski begitu, BI masih memiliki cadangan devisa yang cukup kuat untuk mendukung stabilitas ekonomi. Pada akhir Oktober 2024, cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 151,2 miliar, naik dibandingkan bulan sebelumnya. Menurut Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, cadangan devisa ini mendukung ketahanan sektor eksternal dan stabilitas sistem keuangan.

Namun, tantangan global makin meningkat. Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menjelaskan bahwa ketidakpastian global setelah kemenangan Trump memicu sentimen risk-off, yang berpotensi membatasi arus modal masuk. Selain itu, kebijakan proteksionisme Trump dapat memicu perang dagang dan perang mata uang baru, yang menyebabkan inflasi AS meningkat. Kondisi ini kemungkinan besar akan membuat Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya, meningkatkan daya tarik aset dolar AS, serta mendorong pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Saat ini, nilai tukar rupiah berada di Rp 15.840 per dolar AS, posisi terendah dalam tiga bulan terakhir.

Josua juga mencatat bahwa agenda pemotongan pajak Trump dapat memperlebar defisit fiskal AS, meningkatkan imbal hasil US Treasury, dan memperkuat dolar AS. Meski begitu, Josua optimistis BI dapat menggunakan cadangan devisa untuk menstabilkan pasar valas dan nilai tukar rupiah. Ia memperkirakan cadangan devisa Indonesia akan berada di kisaran US$ 148 miliar–US$ 153 miliar pada akhir 2024, lebih tinggi dibandingkan akhir 2023 sebesar US$ 146,38 miliar.

Pandangan serupa diutarakan oleh Myrdal Gunarti, Global Markets Economist Maybank Indonesia, yang memprediksi cadangan devisa Indonesia dapat naik hingga US$ 3,6 miliar pada akhir tahun ini. Peningkatan tersebut didorong oleh masuknya modal asing ke pasar keuangan, tren penurunan suku bunga global, surplus neraca dagang yang konsisten, serta kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam yang lebih intensif.

Perubahan Indeks MSCI Disorot Investor

Hairul Rizal 08 Nov 2024 Kontan
Hasil evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk indeks Global Standard, Small Cap, dan Micro Cap Index menunjukkan rotasi yang memengaruhi tiga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). PT Avia Avian Tbk (AVIA) masuk ke dalam MSCI Indonesia Small Cap Index, sementara PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dikeluarkan dari indeks tersebut. Perubahan ini akan berlaku efektif pada 26 November 2024.

Menurut Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, peningkatan likuiditas dan kinerja fundamental AVIA yang solid menjadi faktor utama masuknya emiten cat milik taipan Surabaya Hermanto Tanoko ini ke dalam indeks MSCI. Dampaknya, saham AVIA melonjak 4,34% menjadi Rp 505 pada perdagangan 7 November 2024.

Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menambahkan bahwa rotasi ini menarik perhatian investor asing. Meski AVIA sempat mencatat aksi jual asing pekan lalu, prospek pembelian kembali oleh investor institusi asing menjadi lebih besar setelah masuknya saham ini ke MSCI. Sebaliknya, BTPS dan SCMA menghadapi tekanan jual jangka pendek karena investor yang berorientasi pada indeks MSCI kemungkinan akan mengurangi kepemilikan mereka.

Masuknya AVIA ke MSCI Indonesia Small Cap mencerminkan kinerja fundamental yang kuat dan prospek pertumbuhan di sektor konstruksi. Menurut Budi Frensidy, perubahan ini dapat meningkatkan minat investor asing dan domestik pada saham AVIA. Sebaliknya, keluarnya BTPS dan SCMA dari MSCI menciptakan tekanan jual jangka pendek, tetapi kedua saham ini tetap memiliki prospek jangka panjang yang menarik menurut Hendra Wardana. Rebalancing indeks MSCI menunjukkan pentingnya evaluasi kinerja fundamental dan likuiditas dalam menarik perhatian investor institusi.

Pilihan Editor