China Ingin Memperbaiki Hubungan dengan AS
Pemerintah China akan mengedepankan pentingnya kerja sama perdagangan yang lebih besar dengan Amerika Serikat (AS), di tengah ancaman kenaikan tarif impor setelah terpilihnya kembali Donald Trump sebagai presiden AS. "Pihak China bersedia, atas dasar saling menghormati, hidup berdampingan secara damai dan kerja sama yang saling menguntungkan, untuk meningkatkan komunikasi dengan AS, memeprluas kerja sama dan menyelesaikan perbedaan," ujar Juru Bicara Kementerian Perdagangan China He Yongqian. Dalam kesempatan itu, He juga menanggapi pertanyaan tentang pandangan dan rencana tindakan balasan dari China, mengingat potensi kenaikan tarif AS dan pembatasan teknologi canggih.
"Bersama-sama (kita dapat) mendorong hubungan ekonomi dan perdaganagn China-AS ke arah yang stabil sehat, dan berkelanjutan, demi kepentingan kedua negara dan dunia," tambah dia. Komentar itu senada dengan yang disampaikan Presiden Xi Jinping saat menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan Trump. Pada pesan tersebut, ia menyisipkan catatan penting manfaat kerja sama bilateral. "Sejarah mencatat bahwa kedua negara akan memperoleh keuntungan dari kerja sama dan menuai kerugian dari konfronstasi. Hubungan China-AS dengan pembangunan yang stabil, sehat, dan berkelanjutan akan melayani kepentingan bersama kedua negara serta memenuhi harapan masyarakat internasional" kata Xi. (Yetede)
China Ingin Selesaikan Perbedaan dengan AS
Ekspor China melonjak tajam hingga mencapai laju tercepat dalam dua tahun lebih pada Oktober 2024. Pabrik-pabrik di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut memacu pengiriman untuk mengantisipasi tarif lebih besar dari Amerika Serikat, dan juga Uni Eropa. Hal ini menggaris bawahi ancaman meletusnya kembali perang dagang antara China dan AS. Negara ekonomi terbesar dunia. Kemenangan besar Donald Trump dalam pemilihan presiden (pilpres) AS 5 November 2024 langsung mencuatkan janji kampanyenya untuk mengenakan tarif pada impor lebih dari 60% atas produk-produk China.
Ancaman ini kemungkinan akan memacu perpindahan stok ke gudang-gudang di pasar ekspor nomor satu di China. Ancaman tatif Trump menguncang pemilik pabrik maupun para pejabat Pemerintahan China. Karena jika ancaman tersebut berlaku, barang ekspor yang mencapai sekitar US$ 500 miliar setiap tahunnya akan berdampak. Pada saat yang sama, ketegangan perdagangan UE, yang tahun lalu mengambil barang-barang dari China senilai US$ 466 miliar, juga telah meningkat. Sehingga momentum ekspor telah menjadi satu titik cerah bagi negara Tirai Bambu. Di saat ekonominyua berusaha bangkit dari rendahnya kepercayaan konsumen maupun sektor bisnis, yang terpuruk oleh krisis properti berkepanjangan. (Yetede)
Lima Bank Besar Memelihara Profitabilitasnya
Agresif, Petrindo Agresif Mencaplok Tambang Batu Bara
Mempersiapkan Diri Menghadapi Gejolak Bursa
Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024 memicu ketidakpastian baru di pasar modal global, termasuk di Indonesia. Kemenangan Trump menciptakan gejolak pasar yang ditandai dengan aksi jual besar-besaran oleh investor asing, yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mengalami penurunan signifikan. Menurut Direktur Perdagangan BEI, Irvan Susandy, kebijakan proteksionisme Trump dan kemungkinan perang dagang dengan China dapat berdampak pada ekonomi Indonesia, mengingat hubungan dagang yang erat dengan kedua negara tersebut.
Namun, meskipun ada ketidakpastian, beberapa analis masih melihat peluang dalam kebijakan ekonomi Trump yang berfokus pada penguatan ekonomi domestik AS. Misalnya, Head of Research NH Korindo Sekuritas, Liza Camelia, berpendapat bahwa Trump kemungkinan akan menaikkan suku bunga dan menerapkan kebijakan yang bisa meningkatkan inflasi dan daya beli masyarakat AS. Selain itu, kebijakan proteksionis Trump yang mungkin menaikkan tarif impor terhadap produk Indonesia juga bisa membatasi ekspor ke AS.
Sementara itu, ekonom lain, seperti Maximilianus Nicode-muus dari Pilarmas Investindo, mencatat bahwa kebijakan Trump yang kontroversial, seperti proteksionisme, dapat mengganggu pemulihan ekonomi global dan menyebabkan aliran dana asing keluar dari pasar Indonesia. Meski demikian, masih ada harapan pada kebijakan ekonomi dalam negeri yang dapat menjaga stabilitas, serta program-program dari pemerintah Indonesia yang dapat mendukung kepercayaan pasar.
Dalam jangka menengah, Satria Sambijantoro dari Bahana Sekuritas optimis bahwa Trump mungkin akan mencapai kesepakatan geopolitik yang dapat menurunkan harga minyak dan inflasi global, yang pada gilirannya bisa menurunkan suku bunga The Fed. Investor disarankan untuk fokus pada saham defensif dan perusahaan berpenghasilan dolar AS, sementara saham-saham seperti BBCA, ADRO, dan MYOR diprediksi akan unggul di pasar.
Secara keseluruhan, meskipun kemenangan Trump memunculkan tantangan dan ketidakpastian, masih ada peluang bagi Indonesia untuk mengelola dampaknya melalui kebijakan domestik yang tepat dan strategi investasi yang hati-hati.
Bayangan Trump di Pasar Modal
Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024 memicu kekhawatiran di banyak negara, termasuk Indonesia, terkait dengan potensi kebijakan ekonomi yang lebih agresif, khususnya dalam hal tarif impor. Trump telah mengisyaratkan untuk menerapkan tarif universal 10% terhadap seluruh barang impor, dengan tarif 60% khusus untuk barang dari China. Kebijakan ini dapat memicu perang dagang lebih lanjut, terutama antara AS dan China, yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global, termasuk ekonomi Indonesia yang bergantung pada kedua negara tersebut sebagai mitra dagang utama.
Jika kebijakan ini benar-benar dijalankan, dampak langsung bagi Indonesia dapat terlihat dalam perlambatan ekspor, terutama ke China dan AS, yang akan menyulitkan sektor manufaktur domestik. Selain itu, tarif yang lebih tinggi akan mengarah pada inflasi global, yang berisiko meningkatkan suku bunga di banyak negara, termasuk Indonesia. Suku bunga yang tinggi berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sudah melambat, tercermin dari angka pertumbuhan PDB yang hanya mencapai 4,95% pada kuartal III/2024.
Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah-langkah antisipatif jangka panjang, terutama dalam kebijakan ekspor. Perluasan kemitraan dagang dengan negara-negara non-tradisional dapat menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan pada mitra dagang utama yang terpengaruh kebijakan Trump. Selain itu, Indonesia juga perlu meningkatkan daya saing untuk menarik lebih banyak investasi asing langsung, meskipun dengan kebijakan proteksionisme Trump, investasi dari AS kemungkinan akan terbatas.
Secara keseluruhan, Indonesia harus menavigasi ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik dengan langkah-langkah strategis, seperti diversifikasi mitra dagang dan meningkatkan daya tarik investasi, agar tetap menjaga stabilitas ekonomi dan pertumbuhan di tengah situasi yang penuh tantangan.
UEA Jadi Target Besar Bagi Investor Migas
Pentingnya kolaborasi antara pemerintah Indonesia, melalui SKK Migas, dengan perusahaan migas kelas dunia untuk mengoptimalkan potensi sumber daya migas di Indonesia. Dalam menghadapi meningkatnya kebutuhan energi nasional yang diperkirakan akan mencapai 1.012 juta ton setara minyak (MTOE) pada 2025, dengan 43,5% di antaranya harus dipenuhi oleh migas, kerja sama global dianggap krusial. Hudi Suryodipuro, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, menegaskan bahwa kemitraan internasional dapat mempercepat penemuan cadangan baru, transfer teknologi, serta mendukung inovasi dan pengembangan kapasitas nasional.
Selain itu, Dwi Soetjipto, Kepala SKK Migas, mengungkapkan bahwa masih terdapat potensi besar di sektor hulu migas Indonesia yang dapat dikembangkan, termasuk 301 struktur yang memiliki potensi sekitar 1,8 miliar barel minyak dan 13,4 triliun kaki kubik gas, serta potensi peningkatan produksi melalui teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan waterflood. Pembaruan regulasi kontrak bagi hasil juga bertujuan untuk menarik lebih banyak investasi dengan memberikan kepastian bagi hasil yang lebih menguntungkan bagi kontraktor.
Di sisi lain, perusahaan seperti Medco E&P dan Pertamina Hulu Energi terus berfokus pada pengembangan potensi migas di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi canggih untuk meningkatkan produksi dan efisiensi. PT Pertamina Hulu Energi, misalnya, berhasil mencatatkan produksi sebesar 1,04 juta barel setara minyak per hari pada 2024, berkat penerapan teknologi seperti multi-stage fracturing dan artificial intelligence. Mubadala Energy juga menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan Blok South Andaman dengan rencana eksplorasi yang matang dan pengembangan pada tahun 2028.
Kesimpulannya, sektor hulu migas Indonesia memiliki potensi besar yang dapat dimaksimalkan melalui kemitraan strategis dengan perusahaan internasional, penerapan teknologi modern, serta kebijakan yang mendukung keseimbangan kepentingan antara pemerintah dan kontraktor. Semua upaya ini diharapkan dapat memastikan ketahanan energi nasional di masa depan.









