;

Negosiasi AS–China Bisa Jadi Penentu Harga Emas

Hairul Rizal 11 Jun 2025 Bisnis Indonesia

Harga emas global mengalami fluktuasi di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Di bursa berjangka Comex, harga emas untuk pengiriman Agustus 2025 tercatat turun tipis 0,18% menjadi US$3.349 per troy ons, sementara di pasar spot naik tipis 0,04% menjadi US$3.327 per troy ons. Pergerakan ini dipengaruhi oleh menurunnya permintaan terhadap aset safe haven karena adanya kemajuan negosiasi dagang antara AS dan China.

Delegasi kedua negara, yang menggelar pembicaraan di London, menunjukkan tanda-tanda konsesi timbal balik. Amerika Serikat, misalnya, mengindikasikan pelonggaran pembatasan ekspor teknologi sebagai imbalan atas kelonggaran China dalam ekspor tanah jarang. Menurut Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas di TD Securities, hasil positif negosiasi bisa menekan harga emas, meski ekspektasi inflasi dan pelemahan ekonomi global tetap menopang minat terhadap logam mulia ini.

Di sisi lain, konflik militer Rusia di Ukraina, ketegangan perdagangan global, dan ketidakpastian ekonomi terus memperkuat posisi emas sebagai lindung nilai (safe haven). Hal ini tercermin dari kenaikan sekitar 26% harga emas sepanjang 2025, mendekati rekor tertinggi US$3.500 per ons yang dicapai pada April lalu. Bahkan, Francisco Blanch, Kepala Penelitian Komoditas dan Derivatif di Bank of America, memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$4.000 pada 2026, jika terjadi guncangan besar di pasar.

Langkah Bank Sentral China (PBOC) yang secara konsisten menambah cadangan emas selama tujuh bulan berturut-turut juga menjadi faktor pendukung harga. Pada Mei 2025, PBOC menambah 60.000 troy ons, meningkatkan total cadangan menjadi 73,83 juta troy ons, sebagai bentuk diversifikasi dari dominasi dolar AS. Cadangan devisa China pun naik menjadi US$3.285 triliun, mencerminkan kebijakan yang mendukung ketahanan finansial nasional.

Di Indonesia, harga emas Antam juga menunjukkan tren naik. Harga emas ukuran 1 gram naik menjadi Rp1.909.000, sedangkan ukuran 0,5 gram naik ke Rp1.004.500. Namun, kinerja saham emiten emas seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) sempat menurun pada penutupan perdagangan terakhir, meskipun keduanya sudah mencetak lonjakan tahunan, masing-masing 113,77% dan 72,32%.

Secara keseluruhan, harga emas tetap berada dalam tren positif, didorong oleh ketidakpastian global, konflik geopolitik, dan kebijakan moneter longgar. Namun, perkembangan perundingan dagang AS-China dan data ekonomi seperti Indeks Harga Konsumen AS akan menjadi penentu arah harga emas ke depan.


KPK Selidiki Praktik Lama di Direktorat Pajak

Hairul Rizal 11 Jun 2025 Bisnis Indonesia

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Muhammad Haniv, mantan pejabat tinggi Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, sebagai tersangka dalam kasus dugaan gratifikasi. Haniv, yang pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah DJP Banten (2011–2015) dan DJP Jakarta Khusus (2015–2018), hadir memenuhi panggilan penyidik di Gedung Merah Putih KPK pada Selasa (10/6).

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menjelaskan bahwa penetapan tersangka dilakukan berdasarkan sprindik yang diteken pada 12 Februari 2025. Haniv juga telah dicegah bepergian ke luar negeri sejak 19 Februari 2025.

Dalam perkara ini, Haniv diduga memeras dua perusahaan wajib pajak (WP) dengan dalih sponsorship untuk mendukung acara fashion show anaknya pada akhir 2016. Dana yang diminta disebut mengalir ke rekening anaknya, baik dari lingkungan WP di Kanwil DJP Jakarta Khusus maupun dari pegawai KPP Penanaman Modal Asing. Total gratifikasi yang diterima Haniv mencapai sekitar Rp804 juta.

Kasus ini kembali menegaskan pentingnya integritas dalam jajaran pejabat perpajakan. KPK menunjukkan komitmennya untuk menindak tegas praktik korupsi di lingkungan fiskal, yang sangat strategis bagi penerimaan negara.

Program Sosial Pemerintah Berpotensi Alami Perubahan Besar

Hairul Rizal 11 Jun 2025 Kontan (H)
Perubahan standar garis kemiskinan oleh Bank Dunia telah memberikan gambaran yang jauh lebih suram terkait kondisi kemiskinan di Indonesia. Jika sebelumnya, berdasarkan standar Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk miskin Indonesia pada September 2024 hanya sebesar 8,57%, kini dengan standar internasional baru, angka itu melonjak drastis. Kemiskinan ekstrem naik dari 1,26% menjadi 5,44%, dan kategori lower middle income mencapai 19,9%, menggambarkan bahwa dua dari tiga penduduk Indonesia berpotensi masuk kategori miskin.

Menurut Arief Anshory, anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), lonjakan ini bukan disebabkan oleh memburuknya kondisi ekonomi, melainkan karena penyesuaian standar internasional. Ia menilai standar garis kemiskinan nasional sebesar Rp 590.000 per bulan sudah terlalu rendah dan nyaris setara dengan batas kemiskinan ekstrem internasional. Arief memperingatkan bahwa standar yang terlalu rendah dapat menyesatkan arah kebijakan pemerintah, sehingga menyarankan agar pemerintah menetapkan standar baru minimal Rp 750.000 dan menerapkan dua versi data kemiskinan selama masa transisi agar masyarakat tidak bingung.

Senada, Eko Sulistyo, ekonom dari Indef, menekankan perlunya intervensi langsung ke akar masalah. Ia menyarankan pemerintah mendorong konsumsi rumah tangga, menjalankan program padat karya, dan memperluas akses pembiayaan UMKM sebagai solusi konkret mengatasi kemiskinan yang lebih luas.

Sementara itu, Wijayanto Samirin, ekonom dari Universitas Paramadina, mengkritik program-program sosial pemerintah seperti bantuan sosial dan Kartu Prakerja, yang dinilainya tidak produktif dan terlalu bergantung pada APBN. Ia menilai pendekatan tersebut cenderung bersifat gimmick dan formalitas, dan tidak menyentuh persoalan struktural ekonomi.

Revisi standar garis kemiskinan oleh Bank Dunia mengungkap fakta baru bahwa kemiskinan di Indonesia jauh lebih tinggi dari yang selama ini tercatat secara resmi.

Gejolak Global Ganggu Stabilisasi Devisa

Hairul Rizal 11 Jun 2025 Kontan
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2025 tercatat sebesar US$ 152,49 miliar, menunjukkan kondisi yang stagnan dibandingkan April 2025 (US$ 152,47 miliar), meskipun terdapat sejumlah upaya positif seperti penguatan rupiah dan penerbitan Samurai Bond oleh pemerintah.

Menurut Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), stagnansi ini disebabkan oleh kombinasi penerimaan pajak dan devisa migas, namun diimbangi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri serta intervensi stabilisasi nilai tukar rupiah. Kendati demikian, cadangan tersebut dinilai masih sangat aman, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor dan 6,2 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri, jauh di atas standar internasional.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menambahkan bahwa musim pembayaran dividen dan bunga utang luar negeri juga turut menekan cadangan devisa. Namun demikian, arus modal asing senilai US$ 2,77 miliar selama Mei 2025—terutama ke obligasi pemerintah dan SRBI—telah membantu menopang posisi cadangan. Josua menyebut negosiasi dagang AS dan mitranya menjadi faktor pendorong positif, meskipun ia memperingatkan risiko dari kebijakan proteksionis Donald Trump dan stagnasi ekonomi China yang bisa memicu gejolak pasar ke depan.

Ke depan, Josua memperkirakan cadangan devisa akhir 2025 akan berada di kisaran US$ 153–157 miliar, dengan kurs rupiah bergerak di rentang Rp 16.100–16.400 per dolar AS.

Sementara itu, David Sumual dari Bank Central Asia menyoroti tambahan risiko dari jatuh tempo SRBI senilai Rp 350,4 triliun pada Juni–Agustus 2025 dan eskalasi perang dagang global. Ia menyarankan pemerintah untuk mengeksplorasi instrumen alternatif seperti dimsum bond dan kangaroo bond untuk memperkuat devisa, serta mendorong repatriasi devisa hasil ekspor (DHE) melalui pengetatan aturan.

Proyek Nasional Bisa Jadi Motor Kinerja Emiten

Hairul Rizal 11 Jun 2025 Kontan
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tengah menyusun berbagai strategi untuk memperkuat kinerjanya, dengan menargetkan sektor hilir dan pasar kendaraan listrik (EV) sebagai pendorong utama pertumbuhan jangka panjang. Salah satu langkah strategis yang sudah dimulai adalah penjualan bijih nikel, yang berhasil menyumbang pendapatan US$ 2,54 juta pada kuartal I-2025 dan mendorong lonjakan laba sebesar 252% yoy menjadi US$ 21,79 juta.

Menurut analis Phintraco Sekuritas, Lisya Anxellin dan Valdy Kurniawan, penjualan bijih nikel merupakan bagian dari penguatan strategi komersial INCO, sekaligus menjadi katalis pertumbuhan ke depan. Meskipun begitu, pendapatan total INCO turun 10,18% yoy akibat penurunan volume dan harga jual nikel matte, yang menjadi tantangan jangka pendek.

Indrawan Sitorus dari BNI Sekuritas menyoroti bahwa pengajuan RKAB 2025, termasuk izin penjualan bijih ke smelter eksternal, berpotensi disetujui pada kuartal II atau III tahun ini, yang akan memperkuat operasional. Ia juga mencatat efisiensi operasional INCO, meski proyek-proyek terkait EV masih dalam tahap konstruksi. Indrawan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 4.000 per saham.

INCO juga gencar mengembangkan proyek Indonesia Growth Project (IGP) di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako, yang ditargetkan menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP) mulai 2026-2027, guna mendukung rantai pasok baterai EV. Dalam risetnya, Rizal Rafly dari Ajaib Sekuritas menilai potensi proyek MHP sangat besar, dengan kapasitas produksi gabungan 240 ktpa pada 2027. Namun ia menggarisbawahi bahwa adopsi EV masih lambat dan belum berdampak besar terhadap kinerja tahun ini.

Meski bisnis EV belum menghasilkan kontribusi signifikan dalam jangka pendek, para analis tetap optimis. Lisya, Valdy, Rizal, dan Indrawan kompak memberikan rekomendasi beli (buy) terhadap saham INCO, dengan proyeksi laba bersih naik 22% yoy menjadi US$ 71 juta pada 2025, serta target harga berkisar Rp 3.560–4.000 per saham.

Dengan strategi diversifikasi penjualan bijih, efisiensi operasional, dan investasi besar dalam proyek EV, serta dukungan mitra global seperti Ford dan Huayou, INCO dinilai prospektif untuk pertumbuhan jangka menengah hingga panjang, meski harus tetap mewaspadai fluktuasi harga nikel dan lambatnya adopsi kendaraan listrik.

Tingginya Spread Bank Digital Jadi Sorotan

Hairul Rizal 11 Jun 2025 Kontan
Perbankan digital di Indonesia saat ini mencatat Net Interest Margin (NIM) yang sangat tinggi dibandingkan rata-rata industri, yang hanya sebesar 4,45%. Beberapa bank digital seperti Bank Amar (24,93%), SeaBank (19,28%), Bank Neo Commerce (15,84%), dan Allo Bank (9,88%) menunjukkan margin yang mencolok, terutama karena fokus pada segmen UMKM dan masyarakat unbanked yang memiliki risiko kredit tinggi.

Namun, sejumlah tokoh memperingatkan bahwa NIM yang terlalu tinggi bisa menjadi sinyal inefisiensi dalam sistem perbankan digital. Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital Celios, menyebut tingginya NIM bisa berasal dari lemahnya analisis risiko kredit dan bisa membebani nasabah dengan bunga tinggi. Ia mendorong bank digital untuk meningkatkan efisiensi dan memperketat credit scoring, agar bunga pinjaman tetap kompetitif dan mendorong pertumbuhan nasabah secara sehat.

Senada, Doddy Ariefianto, ekonom dari Universitas Bina Nusantara, menegaskan bahwa bank digital harus menekan NIM untuk tetap kompetitif, idealnya mendekati standar bank konvensional antara 4,5% hingga 7%. Ia juga menekankan pentingnya memilih debitur berkualitas agar rasio kredit bermasalah (NPL) bisa ditekan di bawah 5%.

Sementara itu, dari sisi pelaku industri, Indra Utoyo, Direktur Utama Allo Bank, menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit ritel lewat paylater menjadi penyumbang utama NIM tinggi, dengan tetap menjaga efisiensi biaya. Rasio BOPO Allo Bank berhasil ditekan hingga 69,4%, lebih baik dari rata-rata industri, berkat efisiensi operasional dan produk tabungan biaya rendah.

Dari Bank Amar, David Wirawan menyatakan bahwa meski mereka fokus ke segmen UMKM lewat produk Tunaiku, risiko tetap dikelola menggunakan AI dan machine learning. Namun, NPL Bank Amar masih tinggi di 10,89%, menunjukkan perlunya pengetatan lebih lanjut dalam manajemen risiko.

Meluasnya Penolakan terhadap Aktivitas Tambang Nikel

Yoga 10 Jun 2025 Kompas (H)

Penolakan terhadap aktivitas pertambangan nikel di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, kian meluas. Selain warga, elemen masyarakat dan pegiat pariwisata turut menyatakan keprihatinan terkait dugaan pencemaran lingkungan di Raja Ampat akibat pertambangan nikel. Kristian Sauyai (41) warga asli sekaligus pegiat pariwisata Raja Ampat, mengungkapkan keprihatinan terhadap aktivitas pertambangan nikel di Raja Ampat. Pemerintah harus melihat secara menyeluruh potensi dampak dari aktivitas pertambangan, sebab ekosistem pulau-pulau kecil yang mengitari Raja Ampat merupakan kesatuan yang saling terkait. Kekayaan bahari Raja Ampat sudah sejak lama menjadi penopang perekonomian warga asli setempat. Selain memanfaatkan geliat pariwisata, masyarakat juga menggantungkan nasib pada hasil laut Raja Ampat yang masih terjaga. Namun, munculnya aktivitas pertambangan di Raja Ampat, merusak keindahan alam dan ekosistem yang selama ini menjadi kebanggaan.

Sementara kesadaran masyarakat setempat untuk melindungi lingkungan masih terbatas. ”Kami belum pastikan yang kemarin bersuara (mendukung tambang) warga asli atau bukan. Namun, kalau bekerja di tambang, pasti mereka menolak tambang ditutup. Di sisi lain, masyarakat harus sadar dampak yang lebih besar nanti,” ucap Kristian, Senin (9/6). Ronisel Mambrasar (33), tokoh pemuda yang tergabung dalam Aliansi Jaga Alam Raja Ampat (Aljara) berharap, masyarakat sadar bahwa kehadiran tambang lebih banyak mendatangkan dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat. Dampak lingkungan dan kesehatan yang buruk akibat aktivitas pertambangan di daerah lain dapat menjadi pelajaran di Raja Ampat. ”Perlu kita suarakan bersama bahwa ada dampak yang besar di masa depan berkepanjangan. Dari berbagai penelitian ebih banyak dampak buruknya,” ujar Ronisel. (Yoga)


Pemerintah Mempermudah Ketentuan Sertifikasi Dosen

Yoga 10 Jun 2025 Kompas

Penyelenggaraan sertifikasi dosen tahun ini ditingkatkan jumlahnya dari 9.000 dosen menjadi 15.000 dosen. Dengan regulasi baru yang lebih fleksibel dalam eligibilitas, pemeringkatan dan batas usia, diharapkan terjaring lebih banyak lagi dosen profesional yang kompeten. Sertifikasi dosen dilakukan pemerintah setiap tahun dengan menetapkan kuota dosen dan perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi dosen. Para dosen pegawai negeri dan swasta yang lolos program ini akan mendapat tambahan kesejahteraan sebesar satu kali gaji pokok per bulan. Koordinator Nasional Aliansi Dosen ASN di Lingkungan Kemendiktisaintek Seluruh Indonesia (Adaksi) Anggun Gunawan, mengatakan, sertifikasi dosen semestinya menjadi cara untuk meningkatkan kompetensi dosen sehingga memiliki kemampuan mengajar berkualitas.

”Sayangnya, berbagai persyaratan selama ini bukan hanya menyulitkan, melainkan sekadar formalitas,” kata Anggun, Senin (9/6) di Jakarta. Sertifikasi dosen tidak boleh dipahami sekadar penambah pendapatan, melainkan merupakan pelatihan berkala untuk meningkatkan metode pembelajaran dan profesionalitas pengajaran dosen. Hal lain yang disoroti ialah seberapa besar komitmen pemerintah menanggung anggaran sertifikasi dosen untuk lebih dari 300.000 dosen. ”Seharusnya, sertifikasi dosen dipisahkan dari aspek finansial. Penyelenggaraannya lebih difokuskan pada peningkatan kualitas pengajaran. Harusnya kesejahteraan untuk dosen tak perlu embel-embel sertifikasi dosen, tapi menjadi item tersendiri sesuai performa dosen,” tuturnya. (Yoga)


Data Pribadi Bocor Terus Karena Nihilnya Lembaga Pengawas

Yoga 10 Jun 2025 Kompas

Dua tahun sejak UU No 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi ditetapkan pada 17 Oktober 2022, lembaga pengawas pelindungan data pribadi belum terbentuk. Akibatnya, jutaan data pribadi masyarakat bocor terus setiap tahun. Pasal 58 UU No 27 Tahun 2022 mengamanatkan pembentukan lembaga pelindungan data pribadi paling lama dua tahun sejak UU berlaku. Sesuai Pasal 60 UU No27/2022, lembaga pengawas pelindungan data pribadi memiliki 15 kewenangan, di antaranya menetapkan kebijakan, pengawasan kepatuhan pengendali data pribadi, menerima aduan dugaan pelanggaran, dan menjatuhkan sanksi administratif. Peneliti Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) Parasurama AT Pamungkas, Senin (9/6) di Jakarta, berpendapat, tidakjelasnya kapan lembaga terbentuk berdampak pada pemenuhan hak-hak subyek data. Standar kepatuhan pelindungan data pribadi yang wajib dipenuhi industri juga tak jelas.

”Apabila standar kepatuhan belum jelas dan belum ada lembaga yang menjelaskan hal tersebut, pemenuhan terhadap hak-hak subyek data menjadi dipertanyakan. Ketidakjelasan ini membuat penegakan hukum relatif lebih sukar,” ujarnya. Sejak UU No 27 Tahun2022 berlaku, sedikitnya 668 juta data pribadi bocor, yang berasal dari enam pengendali data, baik penyelenggara sistem elektronik (PSE) privat maupun publik. Dari 668 juta data bocor itu, 44 juta data pribadi diduga berasal dari aplikasi My Pertamina yang bocor pada November 2022. Ada pula 15 juta data bocor pada insiden Bank Syariah Indonesia pada Mei 2023. Kebocoran data lainnya adalah 35,9 juta data pada My Indihome pada Juni 2023 dan 34,9 juta data pada Ditjen Imigrasi pada Juli 2023. Sebanyak 337 juta data bocor pada Kemendagri, Juli2023 dan 252 juta data bocor dari sistem informasi daftar pemilih KPU pada November 2023 (Kompas,21/8/2024). (Yoga)


Naiknya Kredit Berisiko

Yoga 10 Jun 2025 Kompas

Rasio kredit bermasalah industri perbankan cenderung meningkat seiring pelemahan daya belimasyarakat. Kondisi ini patut dicermati dan diantisipasi agar tak menimbulkan risiko sistemik yang akan menyumbat perekonomian. Pada April 2025, rasio kredit macet atau nonperforming loan(NPL) industri perbankan tercatat sebesar 2,24 %, sedikit naik dibanding Maret 2025, di 2,17 %. Meski lebih rendah secara tahunan, rasio kredit bermasalah cenderung merangkak naik sejak akhir 2024, di 2,08 %. Pengamat perbankan Paul Sutaryono berpendapat, kenaikan NPL industri perbankan menandakan perekonomian yang sedang melambat. Peningkatan kredit bermasalah juga terjadi pada sektor UMKM serta kredit konsumsi, seperti kredit pemilikan rumah (KPR).

”Ini menjadi simbol daya beli (purchasing power) masyarakat semakin turun. Diakrenakan makin tingginya PHK saat ini,” katanya, Senin (9/6). Data Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI) menunjukkan, rasio kredit macet UMKM bertahantinggi di kisaran 4 % selama setahun terakhir. Per Maret 2025, rasio NPL kredit UMKM tercatat sebesar 4,14 %, utamanya berasal dari segmen menengah yang mencapai 5,19 %. Peningkatan NPL juga terjadi pada sektor rumah tangga yang pada April 2025 sebesar 2,33 %, meningkat dibanding April 2024, di 1,99 %. Penyumbang utamanya berasal dari KPR yang mencapai 3,07 %. Kualitaskredit yang memburuk itu sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi domestik. (Yoga)