Ratusan Juta Rupiah dipalak Kampus dari Mahasiswa KIP
Kemendiktisaintek memastikan adanya pihak kampus yang memeras mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar atau KIP di Baubau, Sultra. Mahasiswa dipungut bayaran jutaan rupiah per orang. Pihak kampus wajib mengembalikan pungutan, tetapi belum ada sanksi keras atas kejadian ini. Ketua Tim Kerja KIP Kuliah dan Afirmasi Pendidikan Tinggi, Muni menyatakan telah melakukan supervisi penggunaan anggaran di Institut Kesehatan dan Teknologi (IKT) Buton Raya, Sultra. Tim melakukan wawancara dan pendalaman terkait dugaan permintaan uang mahasiswa penerima beasiswa KIP. ”Seperti yang diberitakan sebelumnya, kami temukan ada permintaan biaya atau pemalakan terhadap mahasiswa. Jumlahnya seperti yang juga dibahas di berita, yaitu Rp 9 juta-Rp11 juta per orang. Totalnya ratusan juta rupiah,” kata Muni yang dihubungi dari Kendari, Kamis (19/6).
Berdasarkan temuan itu, pihaknya telah memerintahkan kampus untuk mengembalikan uang mahasiswa secara utuh. Selain itu, tidak boleh ada lagi cerita adanya pungutan liar kepada mahasiswa atau bentuk permintaan lainnya. ”Untuk sanksi itu, kami telah koordinasikan ke pimpinan karena di luar kewenangan kami. Pihak kampus tak boleh lagi melakukan hal ini,” kata Muni. Sebelumnya, sejumlah mahasiswa di IKT Buton Raya mengadukan pemalakan yang dilakukan pimpinan kampus. Mereka dipalak jutaan rupiah dengan alibi untuk mendapat beasiswa KIP. Padahal, pemberian beasiswa KIP bagi mahasiswa tidak mampu itu tak dipungut biaya apa pun. Sebagian mahasiswa ketakutan hingga pulang kampung, berhenti kuliah dan mengalami trauma.
S (21) korban pemerasan, kini berhenti kuliah dan terpaksa pulang kampung akibat kejadian ini. Ia juga mendapat teror karena mengungkap kasus. Ia bahkan berkali-kali diminta untuk mengembalikan uang yang telah ditransfer ulang ke rekeningnya oleh pihak kampus. Imbasnya, ia sempat trauma dan memilih meninggalkan sementara cita-citanya menjadi perawat. Ia telah melaporkan teror dan pemerasan tersebut ke Kepolisian Resor Baubau. Namun, ia kesulitan karena berada jauh. ”Sekarang saya sudah mau pindah kampus. Tapi sepertinya sulit dapat surat mutasi. Apalagi kemarin ada pihak yang minta cabut laporan,” katanya. Menurut dia, kasus ini masih jauh dari selesai. Meski uang miliknya telah dikembalikan, sebagian temannya belum mendapat pengembalian. Para penerima beasiswa KIP yang diperas tersebut diancam supaya tidak banyak bicara. (Yoga)
Seribu Alasan untuk Kembali ke Jakarta Fair
Ada ribuan alasan untuk kembali ke Jakarta Fair Kemayoran. Rasanya belum lengkap jika tak menyempatkan diri untuk menikmati kuliner hingga berbururagam diskon di pameran multi produk yang berlangsung 19 Juni hingga 13 Juli 2025. Arena pameran Jakarta Fair Kemayoran di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakpus ramai sejak Kamis (19/6) sore. Yeni Fitria (41) dan keluarga naik taksi dari Jakbar ke JIExpo. Mereka menyempatkan membeli jajanan sebelum menuju panggung utama, lokasi pembukaan pameran sekaligus pesta kembang api. ”Banyak promo makanya datang terus setiap tahun,” tutur Yeni. Keluarganya selalu mencari american donat. Donat khas berbentuk panjang yang hanya dijual saat Jakarta Fair Kemayoran. ”Ini kesempatan berburu diskon. Jakarta Fair dari tahun ke tahun selalu ramai, semarak,” kata Yeni. Endang (60) juga datang bersama keluarga dari Jakpus, menemani anak dan cucunya berbelanja produk dengan harga spesial.
Pelaksanaan Jakarta Fair Kemayoran 2025 lebih singkat dari tahun lalu. Namun, penyelenggara menyiasatinya dengan tambahan jam operasional agar pengunjung dan nilai transaksi tidak turun signifikan. Senin sampai Kamis pameran dimulai pukul 15.00 hingga 22.30. Pada Jumat hingga pukul 23.00 dan Sabtu-Minggu mulai pukul 10.00 hingga 23.00. Jakarta diikuti 2.550 perusahaan dengan 55 % sektor swasta dan 45 % sektor UMKM, menampilkan produk dalam 1.550 stan. Dirut JIExpo, Siti Hartati Murdaya menyebut, Jakarta Fair Kemayoran sejak masih bernama Pekan Raya Jakarta, bukan hanya pameran niaga, tapi, juga kebangkitan industri kreatif nasional. ”Jakarta Fair mendorong daya saing produk lokal dan roda perekonomian,” ujar Siti. Jakarta Fair Kemayoran 2024, mencatat nilai transaksi hingga Rp 7,5 triliun dengan 6,3 juta pengunjung selama 33 hari. Menurut Siti, hal ini baik di tengah ketidak pastian ekonomi, terutama bagi sektor pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran atau MICE. (Yoga)
Tuntaskan PR Penggangu Terciptanya Kepastiaan Berusaha
Generasi Muda Target Pasar Rumah Subsidi Mini
Kemenlu Siapkan Evakuasi WNI di Iran
Berburu Saham Murah CDIA
Aksi penawaran umum perdana (public initial offering/IPO) saham PT Chandra Daya Investasi atau CDIA menjadi salah satu IPO calon emiten raksasa (lighthouse) yang akan banyak diburu tahun ini. Membandroli harga IPO sebesar Rp170-190 per saham, valuasi CDIA dinilai murah. Valuasi murah CDIA ini terefleksi setelah membandingkan dengan emiten sejenis industri seperti saham HGII, PGEO, bahkan saham emiten sesama Grup Barito seperti BREN yang rata-rata valuasinya premium. Sebut misalnya, price-to-earning ratio (PER) rata-rata industri di 14,5x. Belum lagi, price-to-sale value (PBV) CDIA yang berada di 1,5x-1,6x, lebih rendah ketimbang rata-rata industri di 18,3x.
Sementara dilihat dari net profit margin (NPM), CDIA berada di 30% atau lebih tinggi daripada industri yang rata-rata di 21%. Kemudian, return on equity (RoE) sebesar 3% alias di bawah industri yang 9%, dan debt-to-equity ratio CDIA berada di 0,37x, jauh dibawah rata-rata industri yang berada 1,6x, sebagaimana Indonesia (KSI) yang disusun Analis Senior KSI Sukarno Alatas, Kamis (19/6/2026). Sebaliknya, jika dikomparasikan dengan PER saham lain yang tercatat di IHSG, PER Chandra Daya Investasi terbilang premium. Karena umumnya PER perubahaan lain yang sudah tercatat di BEI berada di 10-20x. Merujuk pada riset Agloresearch, valuasi IPO CDIA yang PER-nya dihargai tinggi oleh pasar. Ini tidak lepas dari prospek CDIA yang dipandang menjanjikan. (Yetede)
NIM yang Terus Mengalami Tekanan
Tekanan Konsumsi Membayangi Pemulihan
Tekanan terhadap konsumsi rumah tangga di Indonesia semakin jelas terlihat, ditandai dengan penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) ke level terendah sejak 2022 dan tingginya kredit macet (NPL) sektor rumah tangga sebesar 2,23% per Maret 2025. Kondisi ini mencerminkan menurunnya daya beli masyarakat dan memicu kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Lani Darmawan, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga, dan Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan Bank Oke Indonesia, menegaskan bahwa perbankan menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit demi menjaga kualitas aset. Sementara itu, Ryan Kiryanto dari LPPI menyarankan agar pemerintah memperkuat sisi permintaan dengan stimulus fiskal dan percepatan realisasi belanja negara, yang baru mencapai 25,7% dari pagu per Mei 2025.
Dari sisi program, David Sumual dari BCA menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan industri dan perdagangan, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sedangkan Teuku Riefky dari LPEM UI menyoroti iklim investasi yang belum kondusif akibat tingginya biaya ekonomi, buruknya administrasi, dan ketidakpastian hukum.
Di pasar saham, Jessica Leonardy dari OCBC Sekuritas dan Wawan Hendrayana dari Infovesta menilai bahwa stimulus fiskal dan insentif pajak, khususnya bagi kelas menengah, serta penguatan rupiah dan pelonggaran suku bunga dapat membantu mendorong konsumsi.
Secara keseluruhan, menjaga daya beli masyarakat menuntut tindakan terkoordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan reformasi struktural agar konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Misi Besar Hidupkan Lagi Industri Gula RI
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertanian yang dipimpin oleh Menteri Amran Sulaiman, menargetkan produksi gula konsumsi sebesar 2,59 juta ton pada 2025, dengan tujuan jangka panjang swasembada gula konsumsi pada 2028 dan gula industri pada 2030. Meskipun target ini menunjukkan ambisi besar untuk memperkuat ketahanan pangan, realitas menunjukkan masih adanya defisit 850.000 ton yang harus dipenuhi lewat impor.
Amran menegaskan enam strategi utama dalam mencapai swasembada, mulai dari penguatan penyuluhan petani, kemudahan akses pupuk, hingga perluasan lahan oleh PTPN Group seluas 176.000 hektare dalam tiga tahun ke depan. Namun, berbagai tantangan klasik seperti rendahnya produktivitas, masalah benih, distribusi pupuk, tata niaga, dan konflik lahan masih menjadi hambatan besar.
Keberhasilan program ini juga sangat bergantung pada kerja sama lintas sektor, termasuk peran BUMN pupuk dan benih serta penggunaan teknologi digital dan kultur meristem. Validasi data, pemetaan lahan yang “clean and clear,” dan skema pembiayaan seperti KUR menjadi kunci percepatan implementasi.
Amran optimistis bahwa dengan komitmen, inovasi, dan koordinasi yang baik, Indonesia dapat keluar dari ketergantungan impor dan mencapai kedaulatan gula nasional lebih cepat dari target yang ditetapkan.
Kenaikan Biaya Logistik Mulai Picu Kekhawatiran
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel menimbulkan kekhawatiran serius terhadap disrupsi logistik global, terutama jika terjadi blokade Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia. Ketua Institut ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi mengingatkan bahwa gangguan di wilayah tersebut dapat memicu lonjakan harga energi dan logistik, yang pada akhirnya melemahkan daya saing ekspor-impor nasional.
Yukki menegaskan bahwa pelaku usaha logistik telah mulai menghitung risiko dan menyusun mitigasi, namun tetap mengkhawatirkan efek berantai ke wilayah strategis lain seperti Laut Merah. Menurutnya, kenaikan biaya operasi dan waktu transit akan menambah tekanan terhadap sektor transportasi dan logistik di tengah perlambatan ekonomi global 2025.
Menanggapi ancaman tersebut, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan simulasi dampak perang terhadap stok bahan baku impor dan ekspor nasional. Pemerintah terus berupaya menjaga kelancaran rantai pasok dalam negeri agar tidak terganggu secara signifikan.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyoroti bahwa ketegangan geopolitik telah berkontribusi pada kontraksi sektor manufaktur global. Ia menyebutkan bahwa kondisi dunia yang rapuh dan rentan secara geopolitik turut mendorong inflasi, fluktuasi nilai tukar, dan tekanan terhadap kegiatan ekspor-impor Indonesia.
Keseluruhan situasi ini menuntut kesiapsiagaan dan kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.
Pilihan Editor
-
Harga Batu Bara Acuan, Rekor Emas Hitam Terhenti
09 Dec 2021 -
UE Ingin Bentuk Kekuatan Dagang Baru
09 Dec 2021 -
Visa Luncurkan Layanan Konsultasi Kripto
09 Dec 2021 -
Jasa Keuangan Paling Banyak Dikeluhkan
10 Dec 2021









