;

Industri Ritel Modern, Kekuatan 'Super' Toko 'Mini'

B. Wiyono 14 Apr 2019

Perubahan pola berbelanja masyarakat Indonesia yang menjadi kian serba praktis membuat pertumbuhan ritel modern segmen pasar swalayan kecil semakin moncer pada 2019. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan, pola berbelanja masyarakat saat ini telah berubah. Konsumen saat ini, cenderung berbelanja dengan memperhatikan tiga aspek, yakni dekat, cepat, dan akurat. Perubahan pola masyarakat tersebut menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya tren penutupan gerai pasar swalayan besar maupun pasar swalayan dalam beberapa tahun terakhir. Tren penutupan ini bukan merupakan akibat dari penurunan daya beli masyarakat, melainkan peralihan gaya berbelanja. Nilai total omzet yang diperoleh seluruh gerai toko kelontong modern yang terdaftar sebagai anggota Aprindo mencapai Rp8 triliun s.d. Rp16 triliun per tahunnya. Adapun, berdasarkan riset dari Fitch Ratings, perusahaan yang bergerak di segmen pasar swalayan kecil akan menikmati pertumbuhan industri dan pendapatan yang signfikan pada tahun ini. Kondisi itu berbanding terbalik dengan peritel segmen pasar swalayan dan pasar swlayan besar. Nilai perdagangan ritel modern secara total pada 2019 diperkirakan dapat mencapai setidaknya Rp256 triliun, atau tumbuh sekitar 10% dibandingkan dengan tahun lalu.

Digitalisasi UMKM Diusulkan Masuk RPJMN

Ayu Dewi 12 Apr 2019 Republika

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop-UKM) menargetkan 50% badan usaha mikro,kecil dan menengah (UMKM) bisa masuk ke sektor ekonomi digital pada tahun 2024. Hal itu akan dituangkan pada RPJMN 2020-2024. Mengacu data pada Kemenkop-UKM, terdapat 62 juta badan usaha di Indonesia, usaha menengah sebanyak 58 ribu unit, usaha kecil 757 ribu unit dan usaha skla mikro 62 juta unit.

Direktur Kemitraan Institut Teknologi Surabaya Arman Hakim mengatakan, pihaknya mendorong pemerintah untuk bisa berkolaborasi dengan banyak pihak, dimulai dari perusahaan telekomunikasi hingga pasar (market place). Hal itu agar UMKM dapat menjembatani ke teknologi sehingga setidaknya bisa bersaing di pasar nasional. Dengan kata lain, UMKM didorong agar bermitra dengan para penyedia terknologi serta diberi pelatihan yang menunjang.

Tantangan Ekonomi Menanti Presiden Terpilih

Budi Suyanto 12 Apr 2019 Kontan

Berdasarkan pebisnis yang dihubungi KONTAN, setidaknya ada enam pekerjaan rumah bidang ekonomi dan bisnis yang menanti presiden terpilih. Pertama, bidang perpajakan meliputi: penyederhanaan aturan yang ramah pengusaha, membentuk Badan Penerimaan Negara, ekstensifikasi basis data pajak khususnya sektor informal, dan meningkatkan kesadaran lewat edukasi dan sosialisasi. Kedua, bidang investasi mencakup integrasi perizinan satu pintu pemerintah pusat dan daerah, insentif tax holiday dan tax allowence.

Ketiga, bidang ekspor mencakup membuka akses pasar baru dan menekan bea masuk, membuka akses pembiayaan bagi para eksportir. Keempat, bidang energi meliputi: konsistensi perencanaan dan implementasi sektor energi, membenahi peraturan tumpang tindih, memanfaatkan potensi sumber daya energi dalam negeri untuk menjaga ketahanan energi.

Kelima, bidang industri antara lain: kemudahan perizinan berusaha dengan menghindari segala jenis pungutan liar, membuka akses impor bahan baku industri yang tak tersedia di dalam negeri. Keenam, bidang ketenagakerjaan, meningkatkan produktivitas lewat kebijakan upah yang produktif, membenahi regulasi yang menghambat daya saing.

OECD Tak Sepakat Kontrol Arus Moda

Budi Suyanto 12 Apr 2019 Kontan

OECD menilai keinginan empat bank sentral di kawasan Asia Tenggara untuk membuat kebijakan pengelolaan lalu lintas modal alias capital flow management (CFM) kurang tepat. Menurut Head of Asia Desk Development Centre, Kensuke Tanaka, isu arus modal asing keluar (outflow) akan mereda. Justru tantangan saat ini muncul dari transaksi e-commerce dan fintech. Kebijakan makroprudensial dalam jangka panjang mesti bisa menangkap masalah perlindungan data dan cyber security.

OECD Tak Sepakat Kontrol Arus Modal

Budi Suyanto 12 Apr 2019 Kontan

OECD menilai keinginan empat bank sentral di kawasan Asia Tenggara untuk membuat kebijakan pengelolaan lalu lintas modal alias capital flow management (CFM) kurang tepat. Menurut Head of Asia Desk Development Centre, Kensuke Tanaka, isu arus modal asing keluar (outflow) akan mereda. Justru tantangan saat ini muncul dari transaksi e-commerce dan fintech. Kebijakan makroprudensial dalam jangka panjang mesti bisa menangkap masalah perlindungan data dan cyber security.

Ekonomi Indonesia Belum Terbuka Dibandingkan ASEAN

Budi Suyanto 12 Apr 2019 Kontan

Gejolak nilai tukar dan defisit neraca dagang disebabkan karena perekonomian Indonesia belum sepenuhnya terbuka. Pandangan itu terungkap dalam diskusi Economics Outlook for Southeast Asia, China and India 2019, Kamis (11/04). Keterbukaan ekonomi Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Malaysia yang rasionya mencapai 136%, Thailand 123%, dan Vietnam 200%.

Untuk meningkatkan keterbukaan ekonomi, Indonesia perlu meningkatkan investasi asing langsung (foreign direct investment). Sebab, semakin kecil arus modal atau investasi yang masuk, perputaran makin kecil dan pasar menjadi tipis. Selain itu, perlu upaya menahan portofolio kelua, salah satunya dengan insentif  reverse tobin tax. Saat ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang meningkatkan daya saing, antara lain simplifikasi ekspor, percepatan perizinan melalui Online Single Submission (OSS), pembangunan infrastruktur, hingga pemberian tax holiday bagi industri pionir dan substitusi impor.

Kerja Sama di Sektor Properti, Investor Dubai Biayai Megaproyek Tommy Suharto

B. Wiyono 12 Apr 2019 Bisnis Indonesia

Konglomerat Bin Zayed Group asal Dubai siap menggelontorkan dana US$3 miliar-US$5 miliar untuk membiayai proyek perumahan yang dikembangkan oleh perusahaan properti milik Tommy Suharto, PT Berkarya Makmur Sejahtera. Rencananya, dalam proyek kerja sama itu, kedua pihak menargetkan untuk membangun 500.000 hingga 1 juta rumah per tahun. Selain menggarap bisnis properti, kedua belah pihak juga tidak menutup kemungkinan untuk menjalin kerja sama di bidang lainnya.

Ekspansi Bisnis, Geliat Manufaktur Berlanjut

B. Wiyono 12 Apr 2019 Bisnis Indonesia

Gelian industri manufaktur akan terus berlanjut hingga kuartal kedua tahun ini, ditopang oleh peningkatan permintaan menjelang pemilihan umum dan bulan Ramadhan. Pengusaha akan terus meningkatkan kapasitas produksi yang sejalan dengan kenaikan konsumsi. Pemerintah juga meyakini manufaktur bakal tumbuh hingga 5,4% pada tahun ini. Geliat bisnis di industri manufaktur juga tercermin dari Prompt Manufacturing Index (PMI)-BI yang tercatat sebesar 52,65% pada kuartal pertama tahun ini. Ekspansi kinerja industri pengolahan terutama terjadi pada subsektor industri kertas dan barang cetakan serta industri makanan, minuman, dan tembakau. Kendati secara umum industri manufaktur menggeliat, beberapa sektor masih tertekan, salah satunya industri logam dasar besi dan baja. Industri baja nasional tidak akan berkembang jika stok baja impor belum habiz dan izin impor baja masih diberikan. Pemerintah diharapkan melarang dan menghilangkan baja yang diimpor dengan cara-cara yang curang. 

Strategi Bisnis Rintisan, Bisnis Penjual Kopi 'Mengepul' Via Aplikasi

B. Wiyono 12 Apr 2019 Bisnis Indonesia

Gaya hidup masyarakat urban yang mementingkan kecepatan dan efisien waktu turut mendorong bisnis perusahaan rintisan kopi berbasis aplikasi dengan konsep penjualan langsung ke konsumen (direct to customer) tumbuh pesat. Perkembangan teknologi di Indonesia membuat masyarakat semakin sensitif terhadap tingkat kecepatan dan pelayanan instan. Hal inilah yang menjadi latar belakang lahirnya bisnis kopi berbasis aplikasi. Salah satunya Fore Coffe. Co-Founder dan CEO Fore Coffee Robin Boe menyatkan, siap membuka 100 gerai pada akhir Juni 2019 berkat kesuksesan aplikasinya. Kehadiran aplikasi mobile mempermudah proses pemesanan untuk para pelanggan. Pada putaran pendanaan Seri A di bulan Januari 2019, Fore Coffee berhasil mengumpulkan total Rp134 miliar. Fore Coffe mencatat pesanan 10.000 gelas kopi sehari. Sejak aplikasinya diluncurkan pada pekan kedua Desember 2018, Fore Coffee berhasil mencatat pertumbuhan penjualan dari 19.000 menjadi 300.000 gelas kopi per bulan. Terpisah CEO Kopi Kenangan James Prananto juga merilis aplikasi sebagai salah satu strategi ekspansi perusahaan yang berambisi tumbuh empat kali lipat tahun ini. Sejauh ini, pihaknya telah melayani rata-rata 750.000 gelas per bulan, dan diharapkan dapat tumbuh mencapai 3 juta gelas per bulan hingga akhir tahun ini. 

Bersaing Gaet Peritel Mikro

Ayu Dewi 11 Apr 2019 Kompas

Dengan platfrom teknologi, perusahaan rintisan perdagangan secara elektronik atau e-dagang serta peritel konvesional skala besar berusaha mempertahankan dan mengembangkan pasar. 

Indogrosir unit usaha PT Indomarco Prismatama dibidang perkulakan, mengembangkan laman dan aplikasi pemesanan barang. Sementara PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk pengelola gerai Alfamart menerapkan konsep daring ke luring (O2O) serta melatih dan membekali pedagang ritel/kelontong dengan pelatihan bisnis dan teknologi finansial.

Pilihan Editor