Pengusaha Hotel Kaji New Normal
Pebisnis
perhotelan siap beroperasi kembali di tengah kondisi new normal atau
kenormalan baru yang mulai digulirkan pemerintah. Namun pengusaha perhotelan
masih mencari prosedur operasional hotel yang sesuai dengan konsep new
normal. Andhy Irawan, CEO Dafam Hotel Management (DHM) menyatakan masih fokus
merancang standar operasional dimana harus meningkatkan kebersihan, aspek
higienis dan memperkuat pencegahan dari penyebaran virus korona. DHM juga tak
buru-buru membuka hotel yang tutup akibat pandemi korona. Sejauh ini, Dafam
hanya menutup sementara satu hotel di Gili, Lombok. PT Menteng Heritage Realty
Tbk (HRME) juga masih mengkaji konsep new normal untuk operasional
hotel ke depan sebagaimana dikonfirmasi Corporate Secretary HRME, Jessica.
HRME masih menutup sementara operasional The Hermitage hingga situasi kondusif
namun tetap membuka operasional hotel bintang 3, Pomelotel, dengan fokus
membuka dapur dan jasa pesan-antar makanan untuk perkantoran yang masih
beroperasi di masa PSBB.
Indonesia Akan Cetak Lagi Utang Baru Rp 990 Triliun
Pemerintah akan menerbitkan utang baru senilai Rp 990,1 triliun untuk menutupi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Sebagai gambaran, defisit anggaran tahun ini yang diprediksikan mencapai Rp 1.028,5 triliun atau setara 6,27% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Total utang baru itu akan dipenuhi dari penerbitan Surat Utang Negara (SUN) untuk kebutuhan anggaran periode Juni - Desember 2020. Nilai itu akan dipenuhi melalui lelang di pasar domestik, private placement, dan SUN skema khusus sesuai perjanjian pemerintah dengan Bank Indonesia (BI). Direktur Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemkeu Lucky Alfirman tak menampik adanya rencana penerbitan SUN di sisa tahun ini termasuk pembiayaan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Ujian Sesungguhnya bagi Perbankan Segera Datang
Efek pukulan pandemi Covid-19 masih terlihat minim di catatan kinerja perbankan Tanah Air sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Setidaknya, sejumlah bank besar, terutama bank swasta, masih sukses menorehkan pertumbuhan laba tinggi. Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan kenaikan laba bersih menjadi Rp 6,58 triliun. Penyaluran kredit juga masih naik menjadi Rp 612,16 triliun. Pendapatan operasionalnya menjadi Rp 19,6 triliun. CIMB Niaga dan Bank Danamon, juga berhasil meraup pertumbuhan laba. Laba CIMB Niaga naik 11,8%. Sedangkan Bank Danamon mencetak pertumbuhan laba sebesar 33% menjadi Rp 59,7 triliun.
Sebaliknya, kinerja bank plat merah di bawah harapan. Hanya Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang belum mempublikasikan kinerja kuartal I-2020. Laba Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), turun menjadi Rp 8,17 triliun. Adapun laba Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menjadi Rp 723 miliar. Bank BNI Tbk (BBNI) masih tumbuh 4,3%. Hans Kwee, Direktur Anugerah Mega Investama berpendapat, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) baru berlaku Maret, sehingga dampaknya baru akan terlihat di kuartal II dimana laba bank kemungkinan turun, namun akan sedikit tertahan dengan relaksasi dan restrukturisasi kredit. Para banker, termasuk Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA mengatakan menyadari besarnya tekanan yang dihadapi bisnis bank sehingga memilih bersikap wait and see sebelum memacu ekspansi, serta selektif dalam penyaluran kredit.
Tahun Ini, Pasar Mobil Bakal Macet
Laju industri mobil semakin tersendat. Bahkan, penjualan mobil nasional menurun secara ekstrem sejak kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) bergulir. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, volume penjualan pada April lalu hanya mencapai 7.871 unit. Angka itu merosot hingga 90% dari 84.056 unit terjual di bulan yang sama tahun sebelumnya. Meski saat ini dengan relaksasi PSBB industri otomotif masih pesimistis hal tersebut langsung berdampak positif bagi pasar karena tidak serta merta meningkatkan daya beli masyarakat. Gaikindo memproyeksikan volume penjualan mobil penurunan 43% pada semester ini. Marketing Director PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra, bahkan memperkirakan pasar otomotif kembali anjlok lebh tajam di bulan Mei. Dia memprediksikan pasar mobil baru kembali terungkit sedikit pada Juni 2020.
Di sepanjang semester pertama tahun ini, Daihatsu menargetkan bisa menjaga pangsa pasar ritel di level 17%. Pada April 2020, Daihatsu bertengger di posisi kedua pasar mobil nasional sebanyak 1.330 unit. Namun volume penjualan itu turun hingga 91% dibandingkan penjualan di bulan yang sama tahun lalu sebanyak 16.126 unit. Selain faktor PSBB, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor, Anton Jimmi Suwandi, menilai permintaan mobil bergantung pada beberapa hal, mulai dari perekonomian nasional hingga kemudahan pengajuan kredit kendaraan bermotor.
Oleh karena itu, Toyota saat ini fokus menjaga perolehan pangsa pasar, alih-alih mengejar pertumbuhan volume penjualan. "Target kami adalah posisi nomor satu dengan market share yang cukup baik di atas 31%," ujar dia. Selama empat bulan pertama tahun ini, Toyota berhasil mengamankan pangsa pasar dengan volume penjualan 77.419 unit. Namun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, volume penjualan tersebut menyusut 27%. Langkah senada akan diterapkan PT Honda Prospect Motor (HPM) dengan mempertahankan pangsa pasar di sepanjang tahun ini. Sampai April 2020, Honda mencatatkan volume penjualan 37.401 unit, turun 7,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 40.476 unit. Direktur Marketing HPM, Yusak Billy, berharap pasar di semester kedua lebih bergairah seiring relaksasi PSBB. Sementara itu Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Ernando Demily, menyoroti beberapa hal yang mempengaruhi pasar otomotif, khususnya kedisiplinan penanganan wabah serta eksekusi stimulus ekonomi dari pemerintah. Soal target penjualan, Isuzu tak mematok angka muluk-muluk selain mencoba menyamai pangsa pasar tahun lalu.
Industri Makanan Menjadi Primadona Investasi
Sektor manufaktur mengalami tantangan sekaligus lompatan yang besar di era kemajuan teknologi digital dan internet, atau kerap kali disebut era industri 4.0. Ada lima sektor industri yang menjadi tulang punggung, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronik. Selama lima tahun terakhir (2015 s.d Triwulan I 2020) realisasi investasi di sektor manufaktur mencapai Rp 1.348,9 triliun. Sektor utama yang paling diminati dan oleh investor adalah Industri Makanan yang investasinya mencapai Rp 293,2 triliun dengan persentase total investasi sebanyak 21,7%.
Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Farah Indriani optimistis sektor manufaktur berpotensi meningkat lagi. Dengan kemajuan teknologi dan internet, proses produksi akan lebih efisien. Ia juga mengatakan angka-angka ini menjadi refleksi bahwa tidak bisa dipungkiri jika pasar domestik Indonesia adalah magnet investasi, khususnya industri makanan dan minuman. Industri ini porsi modal dalam negerinya lebih besar dari penanaman modal asing
Sektor CPO dan Telekomunikasi Cetak Kinerja Terbaik
Sebanyak 135 emiten telah merilis laporan keuangan kuartal I-2020 terlihat sejumlah sektor tertekan pandemi korona. Meski begitu, sejumlah sektor masih mampu mencatatkan pertumbuhan tinggi di tiga bulan pertama tahun ini bahkan mencatat pertumbuhan laba bersih rata-rata hingga mencapai dua digit, yaitu sektor perkebunan serta sektor telekomunikasi.
Perkebunan mencapai pertumbuhan pendapatan 18,1% year on year (yoy) dan bahkan laba bersih 136,2% yoy yang ditopang utamanya oleh PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan laba bersih AALI naik 891,9%. Emiten sektor telekomunikasi dan menara telekomunikasi mencatatkan rata-rata pertumbuhan pendapatan 13,8% yoy dan rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 361,4% yoy. EXCL mencetak pertumbuhan laba bersih tertinggi di sektor ini, mencapai 2.557,2% secara yoy.
Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony menilai, kenaikan kinerja pada sektor agrikultur terdorong peningkatan harga jual CPO. Akan tetapi, sepanjang 2020, Chris melihat, kinerja emiten CPO bisa kembali turun. Sementara kinerja emiten sektor telekomunikasi terdongkrak efek kebijakan physical distancing. Kebijakan ini membuat interaksi online meningkat sehingga mendorong penggunaan data.
Sementara sektor aneka industri mencetak rata-rata penurunan pendapatan terdalam, yakni mencapai 26,5% yoy. Sedangkan penurunan rata-rata laba bersih terdalam ditorehkan sektor pariwisata dan perhotelan, yakni 1.934,40% yoy. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) mencetak lonjakan rugi bersih hingga 7.611,5% yoy, dari Rp 51,57 juta pada kuartal I-2019 menjadi Rp 3,98 miliar pada kuartal I-2020.
Kepala Riset MNC Sekuritas Thendra Crisnanda bahkan memprediksi, laba bersih emiten sektor yang tertekan pandemi Covid-19 masih bisa terus turun tahun ini. Secara rata-rata, penurunan laba bersih bisa mencapai 30%. Tapi Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilanus Nico Demus menyebut, investor juga bisa melirik saham perbankan seperti BBNI, BBRI, BBCA dan BMRI yang mampu menjaga stabilitas meski kinerjanya juga terpengaruh kredit bermasalah akibat pandemi.
Harga BBM & Tarif Listrik Murah untuk Industri Dulu
Masyarakat harus mengulur sabar untuk bisa menikmati penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik. Pasalnya, pemerintah memilih akan memangkas harga BBM dan tarif listrik untuk pebisnis dan industri terlebih dulu, rencana ini sudah masuk menjadi salah satu program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk membantu pelaku usaha yang terpapar pandemi korona.
Askolani, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemkeu) memastikan kebijakan ini akan berlaku di tahun ini. Pemerintah akan terus berusaha menjaga stabilitas perekonomian. Askolani mengatakan, saat tarif BBM dan tarif listrik turun, arus kas perusahaan terjaga. Dengan begitu, harapannya, perusahaan bisa mempertahankan karyawannya. Namun, rencana ini masih dalam proses finalisasi dan akan diterapkan setelah mendapat persetujuan dari Presiden Joko Widodo.
Ade Sudrajat, Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengatakan, rencana itu akan membantu pelaku usaha. Penurunan harga BBM bisa menolong pebisnis bidang logistik serta menambah cadangan BBM untuk pembangkit listrik. Sedang penurunan tarif listrik bisa mengurangi besaran tagihan listrik yang ditanggung industri. Persoalannya, pengusaha juga membutuhkan daya beli masyarakat naik sedangkan arus kas cuma bisa untuk bertahan bulan depan saja. Menurutnya, dana kompensasi bagi dua BUMN sebaiknya diubah jadi bantuan langsung tunai untuk mendongkrak daya beli. Saat daya beli naik permintaan produk ke industri ikut terkerek.
Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, tren penurunan harga minyak dunia dan Indonesia Crude Price (ICP) seharusnya diikuti dengan penurunan harga BBM dan tarif listrik serentak bukan cuma untuk industry agar bisa meringankan dan mendongkrak daya beli masayarakat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, sebelumnya, menyatakan penurunan harga BBM menunggu harga minyak mentah dunia serta nilai tukar rupiah stabil.
Jual Beli Online Semakin Ramai
Berbeda dengan tahun sebelumnya, momentum Ramadan dan Lebaran tidak serta merta mengerek penjualan ritel. Pasalnya, banyak toko dan mal atau pusat perbelanjaan yang tutup menyusul penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus korona. Di sisi lain, terjadi perubahan pola belanja dan jenis produk selama pandemi Covid-19. Tak pelak, pebisnis online atau e-commerce mendulang berkah lantaran transaksi penjualan yang melonjak.
Misalnya di Shopee. Direktur Shopee Indonesia, Handika Jahja menyebutkan, pihaknya mendapatkan antusiasme luar biasa dari pengguna aplikasi Shopee selama Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini. Setidaknya adanya empat kategori favorit, busana muslim, perlengkapan rumah, makanan dan minuman, serta kebutuhan bayi yang naik empat kali lipat sejak 15 Mei.
Tokopedia juga mencatat produk kesehatan, keperluan rumah tangga, makanan dan minuman masih menjadi kategori yang paling dicari oleh pelanggan. Ekhel Chandra Wijaya, External Communications Senior Lead Tokopedia menyebutkan, kategori perawatan kesehatan dan pribadi, misalnya, mengalami pertumbuhan transaksi hampir tiga kali lipat selama periode Maret hingga Mei 2020. CEO Bukalapak, Rachmat Kaimuddin mengatakan kenaikan transaksi lebih dari 10% selama Ramadan dibandingkan momentum yang sama tahun lalu. Kenaikan tercatat untuk transaksi pada kategori perlengkapan ibadah, fesyen pria, wanita, dan anak-anak, bahan-bahan makanan seperti beras, kurma dan minuman instan.
Gas Murah Siap Mengalir ke Industri
Pemerintah berupaya mengimplementasikan kebijakan harga gas US$ 6 per mmbtu untuk industri tertentu dan sektor kelistrikan. Dari sisi hulu, empat Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan 11 pembeli gas bumi telah meneken 14 Perjanjian Penyesuaian Harga Gas Bumi. Anggota Komite BPH Migas Jugi Prajogio mengungkapkan, untuk mendukung kebijakan tersebut pihaknya telah inisiatif melakukan penyesuaian agar bisa menekan biaya toll fee, bahkan jauh sebelum Permen (ESDM) terbit. Menurut Jugi, review toll fee juga telah dilakukan terhadap sebagian besar ruas pipa transmisi yang dikelola BPH Migas. Termasuk empat ruas yang bertarif di atas US$ 1 per mscf, yakni pipa transmisi Arus-Belawan, SSWJ1, SSWJ2, dan KJG. Dengan begitu, kajian dan penyesuaian ruas pipa transmisi yang telah dialiri gas sudah selesai. Sebagai informasi, menurut perhitungan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dalam pembentukan harga gas hingga ke pengguna akhir, biaya di hulu berkontribusi paling dominan, yakni 70%. Sedangkan sisanya adalah biaya transmisi dengan porsi 13% dan biaya distribusi 17%.
Tarif Cukai Menggerus Pasar Rokok
Kenaikan cukai hasil tembakau turut mendorong harga produk rokok eceran menjadi semakin mahal. Menurut produsen, rata-rata kenaikan harga produk rokok di ritel saat ini mencapai 35%-45% dibandingkan saat cukai belum naik. Kondisi itu mengakibatkan konsumsi rokok terus menurun.
Mengutip riset Nielsen, Head of Government Affair PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA), Iwan Kendrawaran Kaldjat mengatakan, pada kuartal I 2020 permintaan produk hasil tembakau melemah hingga 7% year on year (yoy). Penurunan permintaan ikut mempengaruhi penyerapan produk rokok Bentoel serta pergeseran konsumsi segmen rokok berpindah ke produk tembakau dengan harga murah karena gap harga yang semakin besar. Situasi tersebut mendorong manajemen RMBA menerapkan strategi dan penyesuaian. Salah satunya mengurangi isi rokok dalam satu bungkus, misalnya, dari semula 20 batang menjadi 16 batang saja.
Produsen rokok PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) juga harus merasakan pangsa pasarnya tertekan akibat kenaikan harga jual eceran rokok. Selama tiga bulan pertama tahun ini, pangsa pasar HM Sampoerna menyusut menjadi 30,4%. Berdasarkan informasi yang dipublikasikan Philip Morris International Inc, induk usaha HMSP, pangsa pasar mereka di Indonesia pada tahun lalu sebesar 32,7% atau 22,1 miliar unit rokok. Menurut Mandugas Trumpaitis, Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk. Selain wabah korona yang juga berpeluang menekan industri tembakau, penjualan terimbas dengan adanya kenaikan tarif cukai eksesif dengan rata-rata sebesar 24%, serta kenaikan harga jual eceran eksesif dengan rata-rata sebesar 46%.









