Tertinggal dari Vietnam The Rising Dream
Beberapa tahun terakhir ini, bahkan dalam beberapa bulan belakangan, banyak pengamat yang menyoroti pertumbuhan ekonomi Vietnam sebagai the Rising Dream, tidak saja dilingkungan ASEAN tetapi juga di Asia bahkan di antara sesama negara berkembang. Hal ini dapat dilihat dari peretumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam antara tahun 2016 hingga 2024 meski sempat melemah di tahun 2020 dan 2021 karena merebaknya pandemi Covid-19. Pertumbuhan PDB Vietnam sejauh ini sangat ditopang oleh investasi di sektor manufaktur untuk mendorong ekspor ke negara-negara yan secara langsung atau tidak langsung terjebak dalam geopolitik dan geo-ekonomi duia sejak tahun 2018.
Dalam hal ini, beberapa pengamat meyakini bahwa partisipassi Vietnam dalam sejumlah perjanjian perdagangan telah memainkan kunci perdagangan telah memainkan kunci keberhasilan ekonomi Vietnam. Dua dari sejumlah perjanjian perdagangan yang dimiliki atau diikuti Vietnam patut mendapatkan sorotan. Pertama adalah European Union-Vietnam FTA atau EVFTA. Pada tahun 2012, ketika ASEAN bersama enam mitra FTA-nya baru membahas konsep Regional Comprehensive atau RCEP, secara pararel Vietnam memulai perundingan EVFTA dengan EU (efektif berlaku tanggal 1 Agustus 2020). Dan kedua, di waktu hampir bersamaan, Vietnam juga ikut merundingkan Trans Pacific Partnership atau TPP, yang kemudian diubah menjadi Comprehensive and Progressive Trans Pacific Partnership atau CPTPP setelah AS keluar dari TPP pada Januari 2017 (efektif berlaku tanggal 30 Desember 2018). (Yetede)
Super App Jadi Mesin Pendapatan Perbankan
Progam MBG Wujudkan Hak Anak Agar Gizinya Menjadi Seimbang
Kementerian Lingkungan Hidup Meluncurkan Perdagangan Karbon Internasional Perdana untuk Pasar Wajib
Prabowo Targetkan RI Tak Impor BBM Lagi
Menteri Agraria Nusron Wahid Beberkan Fakta Pagar Laut di Perairan Tangerang Punya Sertifikat HGB
Baleg DPR Ngotot Kebut Revisi UU Minerba Hari Ini
Pekerjaan 2030 yang Akan Diprediksi Tumbuh
Pagar Laut yang Karut-marut
Startup RI: Tantangan dan Peluang di Tengah Kompetisi
Perjalanan bisnis startup di Indonesia, terutama setelah melakukan penawaran umum saham perdana (IPO), seringkali menghadapi berbagai tantangan. Menurut analis Richard Jonathan Halim, kinerja saham startup yang kurang memuaskan disebabkan oleh strategi "bakar duit" yang digunakan untuk mempercepat pertumbuhan dan mempertahankan daya saing, terutama di industri yang sudah matang. Hal ini mengakibatkan banyak startup yang belum mencapai profitabilitas.
Analis lain, Niko Margaronis, menekankan pentingnya GMV (Gross Merchandise Value) dalam mengukur kinerja startup, namun mengingatkan bahwa GMV besar tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan. Selain itu, stabilitas biaya operasional dan kemampuan mencapai profitabilitas jangka panjang dianggap sebagai indikator kunci keberhasilan startup.
Handito Joewono, Ketua Asosiasi Startup Teknologi Indonesia, juga menyoroti adanya upaya ekstrem untuk meningkatkan valuasi perusahaan startup yang seringkali menghasilkan bubble di pasar saham Indonesia. Oleh karena itu, ia menyarankan perlunya ekosistem keuangan yang lebih mendukung bagi startup, termasuk adanya bursa saham yang mirip dengan Nasdaq.
Di sisi lain, terdapat optimisme terkait ekosistem startup di Indonesia, seperti yang disampaikan oleh Pandu Sjahrir, pendiri AC Ventures. Dia mencatat bahwa meskipun ada tantangan, sektor-sektor seperti transisi energi dan kecerdasan buatan (AI) menawarkan peluang investasi yang menarik bagi investor global.
Melalui berbagai upaya perbaikan, baik dari sisi strategi bisnis maupun dukungan kebijakan pemerintah, diharapkan ekosistem startup Indonesia dapat tumbuh dan berkembang, meskipun menghadapi kondisi pasar yang menantang.









